
''Kayak nya dia hanya gadis yang beruntung saja, yang bisa mendapatkan hati dari Michael, laki-laki yang sangat aku cintai selama ini, dan sampai kapan pun aku akan merebut dia dari wanita tidak tau diri itu, aku tidak akan rela milikku bahagia dengan wanita lain, sedangkan aku tidak bisa mendapatkan kebahagia'an yang selama ini aku harapin,'' gumam nya pelan, dia adalah Laura yang sejak tadi sudah mengikuti dokter Michael dari rumah sakit, Laura sangat penasaran dengan apa yang di ucapkan dokter Michael kepada nya, yang bilang dengan istri.
Ponsel Riana yang biasa taruh di atas meja bergetar, di sana menampilkan nama sang Mama yang sedang menghubungi nya.
''Siapa Ria,'' tanya dokter Michael pelan seraya melihat layar ponsel Riana.
''Mama dokter?'' jawab nya dengan mengambil ponsel yang ada di atas meja.
-''Hallo assalamu'alaikum,'' Ucap Riana setelah menggeser layar ponsel nya.
-''Waalaikum Salam kak? kamu sekarang kamu ada di mana,'' tanya Mama Citra dengan lembut.
-''Riana sedang di restoran Ma, memang nya ada apa?'' tanya nya dengan penasaran, sedangkan dokter Michael mengernyitkan dahi nya melihat Riana yang sedang mengobrol dengan Mama Citra.
-''Kalau kamu sudah selesai makan, bisa nggak langsung pulang sekarang, ada yang Mama ingin bicarakan sama kamu, ajak dokter Michael juga ke rumah ya?'' sahut Mama Citra.
-''Baiklah Ma, kalau boleh Riana tau ada hal apa ya Ma, kok Mama bikin Riana penasaran sich?'' Ucap Riana pelan.
-''Lebih baik kamu pulang saja sekarang, biar kamu tau lebih jelas nya,'' sahut nya. ''Jangan lama lama, Mama sama Papa menunggu kamu, di sini juga ada kakak kamu sedang menunggu juga,'' tambah nya lagi.
-''Baiklah Ma, Riana habisin makanan dulu baru setelah itu pulang ke rumah,'' jawab nya dengan memutuskan sambungan telfon setelah mengucapkan salam kepada Mama Citra.
''Kenapa?'' tanya dokter Michael dengan mengangkat satu alis nya ke atas.
''Entahlah, Riana juga tidak tau ada apa,'' jawab nya seraya mengangkat kedua bahu nya ke atas.
''Ya sudah, lebih baik kita pulang sekarang, dari pada di telfon lagi kan?'' selalu dokter Michael dengan menatap wajah baby face Riana sang gadis.
''Baiklah,'' jawab nya sembari mengangguk kan kepala nya pelan.
Dokter Michael memanggil waiters untuk membayar makanan nya, setelah itu Riana dan dokter Michael segera menuju ke parkiran untuk mengambil mobil Riana, Riana sengaja memberikan kunci minil nya kepada dokter Michael agar dia saja yang membawa mibil nya sampai ke rumah besar nya, di perjalanan menuju ke rumah Riana, dokter Michael maupun Riana tidak berbicara sepatah katapun, mereka hanya berdiam sambil memikirkan ada apa sesungguhnya sehingga mereka berdua di suruh segera pulang oleh orang tua masing-masing.
Sesampainya di halaman rumah dokter Michael mengerutkan kening nya karena dia melihat mobil Papa terparkir rapi di teras rumah Riana.
''Kok ada mobil Papa di sinibya Riana?'' Ucap dokter Michael kepada Riana, Riana hanya mengedikkan bahu nya dan langsung turun dari mobil nya setelah membuka pintu nya.
Riana memang jalan dulu ke dalam rumah, tanpa menunggu dokter Michael terlebih dahulu.
__ADS_1
''Assalamu'alaikum Mama,'' Riana mengucapkan salam ketika pintu sudah ia buka, tapi Riana di buat terkejut ketika melihat tuan Bagas dan juga Nyonya Helena di dalam rumah nya, mereka berdua sedang mengobrol santai senantiasa bercanda tawa di dalam.
''Sayang, ayo masuk,'' sapa Mama Citra ketika melihat puteri nya masih berdiri di di tempat nya.
''Ach iya Ma?'' jawab Riana dengan mengulas senyuman manis nya.
Riana berjalan dengan pelan sehingga dokter Michael bisa mengejar dia ke dalam rumah nya.
''Och kalian datang bersama rupanya,'' sambung Nyonya Helena dengan nada lembut.
''Mama ada di sini?'' tanya dokter Michael heran.
'''Mama sudah dari tadi menunggu kalian berdua datang ke sini, tapi kalian berdua malah asik makan di luar, dan makan nya sangat lama lagi,'' celetuk Nyonya Helena dengan menatap wajah putera nya yang baru datang.
''Kan tadi waktu Papa nelfon Michael, Michael baru sampai di restoran itu Ma,'' kata dokter Michael membela diri nya.
Riana berjalan menghampiri mereka semua nya, dia mencium punggung tangan kedua orang tua nya dan juga tangan tuan Bagas dan juga Nyonya Helena.
''Sini sayang,'' panggil Mama Citra dengan menepuk sofa yang masih ada ruang di sana.
Riana hanya menuruti perkata'an Mama Citra, dia duduk di dekat sang Mama, sedang kan mata nya menatap kakak kembar nya dengan rasa penasaran, Riana meminta jawaban kepada kakak kembar nya, tapi Rian sang kakak malah mengabaikan tatapan dari Riana adik nya.
Rian tertawa didalam hati nya ketika dia sukses membuat Riana sang adik menjadi kesal kepada nya, sedangkan tuan Arzan sedang mengobrol dengan tuan Bagas.
''Sekarang semua nya sudah berkumpul di sini, jadi kita mulai saja ya,'' kata tuan Bagas kepada semua orang dirumah nya.
Sebelum nya tuan Bagas dan juga Nyonya Helena sudah mengutarakan maksud dari kedatangan nya ke rumah tuan Arzan yang menginginkan Riana puteri tuan Arzan.
''Saya datang ke sini untuk melamar puteri tuan Arzan, untuk di jadikan sebagai istri dari Michael putera saya,'' ucap nya ramah, tuan Bagas menatap wajah puas Riana karena dia tidak tau kalau saat ini dia akan di lamar begitu saja oleh kedua orang tua dokter Michael.
''Sayang apa kamu mau dengan dokter Michael,'' tanya Mama Citra dengan menggenggam telapak tangan Riana yang sudah mulai terasa dingin.
''Tapi Ma, Riana kan masih ada kerja'an yang harus di selesai kan dulu di luar sana,'' jawab nya, masih sama dengan jawaban yang kemarin.
''Kalau masalah pekerja'an itu bisa di urus oleh kakak kamu kan kak, jadi kamu mau Terima dokter Michael apa tidak? kak jangan membuat orang menunggu terlalu lama dengan jawaban yang akan kita terima, kakak sudah tau kan bagaimana rasanya kalau kita di suruh menunggu terlalu lama?'' sambung tuan Arzan dengan lembut kepada puteri kecil nya, tuan Arzan sudah sangat siap dengan jawaban yang akan di kasih oleh puteri nya.
''Tapi Pa--''
__ADS_1
''Adik masih belum terlalu percaya dengan dokter Michael Pa, dia seperti itu masih belum terlalu yakin mau menerima atau tidak,'' potong Rian dengan cepat, sehingga membuat Riana mengerutkan kening nya.
''Saya yakin putera saya akan setia dengan kamu nak Riana, kalau sampai dia macam macam sama kamu? dia akan bertatapan langsung dengan Papa nya, jadi kamu tenang saja,'' sambung tuan Bagas meyakinkan Riana yang masih merasa gamang dengan perasa'an nya kepada dokter Michael.
Dokter Michael hanya diam dengan penuturan Rian sang kakak Riana, 'Ternyata Riana masih belum bisa menerima kehadiran ku untuk saat ini, tapi aku berjanji kalau Riana mau dengan ku, aku tidak akan membuat dia kecewa, aku akan selalu menjaga nya dengan baik, aku juga sudah sangat cinta kepada Riana, tidak ada wanita lain selain Riana yang ada di dalam hati ku saat ini,' Ucap dokter Michael di dalam hati nya.
''Sayang, kamu hanya perlu menjawab iya atau tidak, agar dokter Michael tau dan tidak pernah mengharapkan kamu lagi setelah dia mengetahui jawaban dari kamu,'' Ucap Mama Citra yang masih menggenggam jari puteri nya.
Riana mengangguk pelan sebagai jawaban nya kepada semua orang, dokter Michael mengembangkan senyuman nya ketika melihat Riana mengangguk kan kepalanya yang artinya dia mengiyakan ucapan tuan Bagas.
''Terima kasih sayang,'' seru Nyonya Helena dengan mengulas senyuman di bibir nya.
''Kapan kira kira kita bisa melakukan acara pernikahan nya,'' tanya tuan Bagas yang sangat senang dengan momen hari ini.
''Papa, kita saja belum lamaran? tapi Papa sudah membicarakan hari pernikahan sich,'' sela dokter Michael kepada tuan Bagas.
''Kata siapa Papa tidak melakukan acara lamaran, omongan tadi sekaligus acara lamaran kok?'' jawab nya dengan santai.
''Tapi di sini tak ada cincin nya Pa, mana mungkin di sebut acara lamaran sich,'' kata dokter Michael lagi.
''Mama kamu sudah menyiapkan cincin dan juga yang lain nya kok, kamu tinggal pakein saja kepada Riana sekarang?'' lagi lagi tuan Bagas menjawab ucapan putera nya dengan santai.
Nyonya Helena mengeluarkan kotak merah dari dalam tas nya, di sana terdapat kalung, gelang dan juga cincin di dalam kotak merah yang ia pegang, Nyonya Helena mengulurkan tangan nya memberikan kotak merah nya kepada putera tunggal nya, untuk di pasangkan kepada Riana menantu nya.
''Jadi Mama sudah merencanakan semua nya tanpa sepengetahuan Michael?'' tanya dokter Michael terkejut, melihat perhiasan yang di bawa oleh Mama nya.
''Sudah, kamu jangan banyak omong? lebih baik kamu pakaikan ini semua nya kepada calon mantu Mama yang cantik ini, dan jangan lupa nanti kamu segera kirim langsung uang nya kepada Mama ya, tranfer lebih mudah,'' jawab Nyonya Helena sedikit bercanda dengan putera nya.
''Jadi ini nggak gratis dong?'' ucap dokter Michael kaget, Nyonya Helena menggeleng pelan seraya terkekeh pelan melihat wajah putera nya yang sudah berubah masam.
''Kalau kamu nggak mau pakein semua nya, biar Mama sja yang pakein semua nya kepada Riana calon mantu Mama ini,'' tegur Nyonya Helena kepada dokter Michael, karena sejak tadi dokter Michael hanya berceloteh terus menerus tanpa memakai kan kalung yang sudah ada di tangan dokter Michael.
Dokter Michael beranjak dari duduk nya dan menghampiri Riana yang sedang duduk di dekat Mama Citra, Riana dengan gugup menghampiri dokter Michael yang memang di suruh oleh Mama Citra, agar mereka semua nya dapat melihat dengan jelas ketika dokter Michael memakai kan perhiasan yang tadi di bawa oleh Nyonya Helena.
Dokter Michael memakaikan kalung, gelang dan yang terakhir menyematkan cincin di jari manis Riana yang putih.
''Dicium tangan dokter Michael dong sayang,'' seru Mama Citra menyuruh puteri nya.
__ADS_1
Riana mencium tangan dokter Michael seperti yang di katakan oleh Mama Citra, semua nya bertepo tangan riuh setelah melihat adegan live yang sejatinua saling suka, tapi tiana terlalu gengsi untuk mengakui nya.