Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 60


__ADS_3

''Sania, Sania kamu masih di dalam kan? ayo dong cepat keluar, jangan bikin aku khawatir kayak gini dong?'' panggil Pinky seraya mengetuk pintu kamar pas yang di pakai Sania, Sania tak menghiraukan panggilan Pinky dari luar, dia masih asik dengan pikiran nya saat ini, Sania masih memikirkan sepatu apa yang akan ia kenakan ke acara ulang tahun teman kuliah nya.


Di luar Pinky masih terus mengetuk pintu nya. ''Ayo dong Sania cepat keluar sekarang, atau akan aku dobrak kalau dalam hitungan 3 kamu nggak keluar aku akan menyuruh orang untuk mendobrak pintu ini,'' pekik nya.


Sania berdecih dan membuka pintu sebelum ucapan Pinky benar adanya. ''Apa sich kak Pinky, orang di dalam sedang....?''


''Sedang tidur?'' potong Pinky geram dengan sikap Sania yang tak merasa bersalah padanya.


Sania lagi lagi berdecih ketika ucapan nya di potong kembali oleh Pinky, ''Ciihhh... kebiasaan dech kak Pinky selalu saja seperti itu, entar kalau ngomong sama suaminya malah motong motong perkataan suaminya bisa bisa di damprat lho sama dia,'' Sania mengingat kan, namun Pinky malah acuh tak acuh dengan ucapan Sania.


''Bodo amat,'' seru nya dan berjalan meninggalkan Sania yang sedang mematung di depan kamar pas nya.


''Ya elah malah di tinggal kan gue, anech dech kak Pinky? kayak orang lagi kesemsem atau mungkin dia sedang datang bulan ya?'' pikir Sania, dan mengikuti langkah kaki Pinky yang sudah mulai menjauh.


''Kak Pinky tungguin dong? main ninggalin orang begitu saja dech?'' teriak Sania, membuat Pinky menoleh ke asal suara dan langsung memelototi nya.


''Ini bukan hutan yang bebas teriak teriak kayak githu,'' sarkas Pinky memdaratkan bokong nya di kursi kerja nya. ''Apa lagi sich! bukan nya kamu sudah selesai dengan gaun nya, dan sekarang mau apa lagi coba!'' ketus Pinky yang kesal karena ulah Sania tadi.


''Kak Pinky kan sudah janji akan make-up pin Sania?'' Ucap Sania pelan seraya memainkan jari telunjuk nya.


''Nggak jadi, sudah ilang bad mood gue,'' jawab Pinky singkat.


''Kak Pinky gitu dech?'' dia mulai merajuk. ''Maafin Sania kak? tadi Sania hanya bingung saja dengan sepatu yang akan di pakai Sania nanti, so... Sania tak punya high heels,'' lanjutnya menjelaskan apa yang ia pikirkan waktu di kamar pas tadi.


''Harusnya kamu ngomong sama aku Sania, bukan nya membuat aku khawatir begitu, dan lagi? kamu nggak merasa bersalah saat keluar tadi, itu yang bikin aku tambah kesal tau nggak?!'' keluh Pinky, menghembuskan nafas nya dengan kasar.


''Iya iya, Sania minta maaf dech, sumpah bukan niat Sania bikin kak Pinky kesal kayak sekarang?'' Ujar Sania dengan lirih nya.

__ADS_1


Pinky membuang muka ke arah jendela, dia sudah tidak tahan lagi untuk tidak tertawa, Pinky menutup mulut nya agar tidak bersuara ketika tertawa, di rasa sudah cukup Pinky berbalik menatap ke arah Sania yang sedang memainkan handphone nya yang bermerk apel di gigit, atau apel di cokot.


Kok nggak di entekno yo apele iku,(kok nggak di habisin ya apel nya itu), cuma di gigit doang?


''Ayo sini aku make up pin kamu sekarang, entar yang ada kamu telat datang nya lagi,'' Ujar Pinky pelan, namun tak ada respon dari Sania, dia masih khusyuk dengan handphone nya. Sania masih sibuk nge-chat Karan yang ada di luar negeri.


''Sania! kamu dengar nggak sich,'' Ucap lagi dengan suara yang sudah naik satu oktaf.


''Ach...?'' kaget Sania yang langsung menatap ke arah Pinky.


''Maaf kak Pinky?'' gumam nya pelan seraya memasukkan handphone nya ke dalam tas selempang nya.


''Ayo ke sofa, aku make up pin sekarang.'' ajak nya, Pinky mengambil tas yang berisi dengan peralatan make up, dia pun beranjak dari kursi-nya menuju ke sofa di mana Sania sedang duduk sekarang.


'''Kak Pinky? kalau bisa jangan terlalu menor ya, bukan nya cantik? entar malah kayak ondel ondel lagi,'' celoteh Sania yang emang tak pernah merias diri nya sendiri.


''Sudah selesai, coba lihat wajah kamu di kaca ini,'' Pinky menyodorkan kaca pada Sania.


Sania nampak kaget setelah melihat dirinya di depan cermin, dia tak percaya kalau yang ia lihat sekarang adalah dirinya sendiri.


''Kak Pinky? ini beneran Sania kan?'' tanya nya, masih dengan wajah kaget sekaligus bingung nya.


''Iya lah, masak wajah orang lain yang kamu lihat sich!'' kesal nya, Pinky melipat kedua tangan ke dada nya.


''Sudah, liatnya? sekarang aku akan mengantarkan kamu ke tempat itu,''


''Tapi kak? entar Sania malah merepotkan lagi,'' gumam Sania pelan dan menundukkan kepala-nya.

__ADS_1


''Dari tadi sore sebenarnya kamu sudah merepotkan aku Sania, sekarang sudah telat untuk menyesali semua nya,'' jawab nya ketus.


''Tapi kak?''


''No debat, dan tak menerima penolakan juga,'' jawab nya berjalan ke arah lemari kaca yang ada di ruangan kerjanya. Pinky mengambil high heels nya yang emang sengaja di bawa ke butik nya, di sana ada beberapa high heels yang emang seukuran dengan nomor sepatu Sania.


''Nich pakek sekarang?'' titah Pinky, Sania melotot pada high heels yang di berikan pada nya.


''Kak Pinky jangan kebangetan githu dech? Sania kan nggak pernah pakek high heels setinggi itu kak?'' rengek Sania melihat high heels yang begitu tinggi.


''Lebih baik kamu pakek sekarang? dari pada lho telat ke tempat acara temen lho!'' titah nya lagi, tanpa menjawab perkataan dari Sania.


Dengan berat hati, Sania memakai high heels yang ada di hadapan nya sekarang, Sania terlihat seperti orang mabuk ketika berdiri dengan high heels yang ia pakai sekarang ini.


''Sebelum berangkat kita selfie dulu okey,'' gumam Pinky tersenyum melihat Sania yang terus mengomel pada diri nya.


''Sania lho harus nya berterima kasih pada ku, karena sudah membuat kamu cantik tak seperti biasanya, sekarang kamu terlihat cewek banget?'' ucap nya meledek Sania yang selalu berpenampilan tomboy.


''Nggak usah ngeledek githu, aku memang males untuk meriah wajah ku kak, tapi jangan lho ya? banyak cowok yang naksir sama Sania, walaupun Sania berpenampilan tomboy,'' Sania mulai menyombongkan diri sendiri.


''Masak?''


''Masak air,'' jawab Sania ketus.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2