Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 65 Menginap


__ADS_3

''Bodo amat!'' jawab Sania dengan ketus dan pergi meninggalkan Pinky begitu saja.


''Dasar bocah,'' gerutu Pinky yang bangun dari tidur nya dan duduk di sofa yang ia tempati sekarang. Sedangkan Arlan sudah mengikuti Sania dari belakang nya.


Arlan merasa sedih ketika mendengar Pinky meminjam high heels nya, Arlan ingin bertanya namun dia takut Sania tersinggung dengan apa yang dia ingin tanyakan. ''Maaf Sania, aku boleh bertanya?'' Arlan memulai pertanyaan nya.


''Tanya aja lah mas,'' jawab Sania yang kini sedang bersender di mobil Pinky.


''Kenapa kamu harus pinjam sepatu dan gaun Pinky, kamu kam bisa beli sendiri Sania?'' tanya Arlan hati hati agar Sania tidak salah faham.


''Tadinya sich mau beli mas? tapi Sania nyari gaun nya di butik kak Pinky, jadi kak Pinky ngasih gaun ini buat Sania, ya Sania ambil dong? kan rezeki tidak boleh di tolak,'' jawab Sania menaik turunkan alis nya.


''Dan masalah high heels, Sania tak terlalu suka dan waktunya juga sudah mepet banget, jadi kak Pinky pinjaman high heels nya untuk Sania??'' lanjut nya seraya memainkan jari jari tangan nya.


''Ach... sial lho semua, orang malah di tinggal githu saja?'' gerutu Pinky ketika sudah berada di depan Arlan dan juga Sania.


''Sudah ach Sania mau pulang? sudah malam banget nich kak?'' rengek Sania ketika melihat Pinky di hadapan nya.


''Kenapa kamu nggak minta anter saja sama dia, kenpa masih nungguin aku di sini,'' jawab Pinky ketus.


''Ayolah kak Pinky, Sania mau nya sama kak Pinky, bukan sama mas Arlan kak??'' Ujar Sania yang mulai merajuk.

__ADS_1


''Mas Arlan Sania balik dulu ya, papayy...?!'' celoteh Sania membuka pintu mobil Pinky, tanpa menunggu persetujuan dari sang empu.


''Kesel dech, punya adik tapi nggak punya telinga, otw budek!'' Gumam Pinky kesal, dan dia juga membuka pintu mobil nya juga. Pinky lalu menyalakan mesin mobil nya.


Sania melambaikan tangan nya ketika mobil sudah mulai melaju, Arlan tampak membalas lambaian tangan Sania.


''Benar benar cewek yang sulit untuk di tebak, apa yang dia mau dan apa yang dia ingin kan sulit untuk di tebak oleh akal manusia normal,'' gumam Arlan memasuki restoran nya yang mulai sepi, karena semua tamu yang mengadakan acara ulang tahun sudah banyak yang pulang. Para pelayan kini sedang membersihkan piring piring kotor dan juga gelas bekas pesta.


Cuma ada Gita dan kedua orang tuanya saja yang masih berada di dalam restoran, mereka menunggu sang manajer karena mau membayar sisa pembayaran nya yang kurang.


''Tuan, kami sedang menunggu anda sedari tadi, saya kira anda sudah pulang ?'' Ujar Papa Gita yang beranjak dari duduk nya, dan menghampiri Arlan yang sedang berjalan ke arah nya.


''Kalau boleh saya tau, anda menunggu saya ada apa ya tuan?'' lanjut Arlan yang bertanya balik pada papa nya Gita.


''Saya ingin membayar sisa uang yang kemarin itu tuan, dan saya juga minta maaf atas sikap kasar sepupu puteri saya yang sudah membuat kekacauan di restoran ini, dia memang keras kepala? tapi saya juga tidak tau kalau dia memiliki sifat seperti itu,'' jelas papa nya Gita.


''Sudah lupakan saja tuan masalah yang tadi, saya tau kalau seseorang sedang berada di atas awan memang suka bersikap semena mena sama orang lain, saya mengerti soal itu. Lagian tuan nggak salah yang salah adalah artis tadi yang bersikap sombong pada semua pegawai ku,'' balas Arlan dengan dingin.


Akhirnya Papa Gita memberikan sebuah cek pada Arlan selalu manajer restoran.


...****************...

__ADS_1


Di rumah besar nya Bu Wati sedang menunggu puteri nya yang belum juga pulang ke rumah nya. Bu Wati mondar-mandir di di teras rumah nya seraya merasakan hembusan angin malam yang menusuk ke semua tulang tulang nya, Bu Wati melipat kedua tangan tangan ke dadanya, sesekali Bu Wati menggosok gosokkan tangan nya agar lebih hangat.


''Nyonya? sebaiknya nyonya tunggu non Sania di dalam saja, di luar sangat dingin? nanti nyonya bisa sakit karena terlalu di luar rumah,'' ujar kepala pelayan memperingati majikan nya.


''Tapi Bi, saya khawatir sekali, saya takut Sania kenapa napa Bi?'' sahut Bu Wati tanpa melihat ke arah sang asisten rumah tangga nya.


''Tidur akan terjatuh apa apa sama nona Sania nya? tuan Arzan menyuruh salah satu anak buah nya untuk selalu menjaga nona Sania tanpa sepengetahuan non Sania nya?'' jelas sang Bibi, yang di angguki oleh Bu Wati.


''Yang Bibi katakan ada benarnya, Arzan selalu menjaga anak anakku selama ini, dan dia juga yang sudah mengajarkan putera ku agar dia bisa sukses seperti almarhum ayah nya, dia sangat baik pada keluarga ku Bi, kadang aku selalu berpikir? bagaimana caranya membalas semua kebaikan adik adik almarhum suami saya Bi?'' Ucap nya lirih, ketika Bu Wati melihat semua kebaikan adik ipar beserta suami nya, Bu Wati selalu teringat dengan mendiang suaminya, karena sang suami adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhir nya, Bu Wati memilih untuk sendiri ketimbang menikah lagi dengan laki-laki yang mungkin menyukai Bu Wati, namun itu semua kembali lagi kepada hati seseorang, karena cinta tak bisa di paksa apalagi di lupakan, seperti itulah cinta Bu Wati pada mendiang suaminya tuan Candra Putra Sanjaya.


Bu Wati yang ingin masuk ke dalam rumah nya seketika di urungkan, ketika mendengar suara mobil yang masuk ke pekarangan rumah besarnya. Tak lama kemudian keluar lah gadis yang ditunggu tunggu Bu Wati sedari tadi.


''Assalamu'alaikum Ibu,'' Ucap Sania dan Pinky secara bersama'an.


''Waalaikum salam?'' Bu Wati menjawab salam kedua puteri nya. Mereka berdua mengambil tangan Bu Wati dan mencium punggung tangan nya dengan hitmat.


'Ini yang selalu membuat aku iri melihat Sania bersama Ibu nya, Bu Wati selalu bersikap hangat pada Sania, berbeda dengan Mama ku yang selalu cuek, bahkan ketika aku tidak pulang pun dia nggak pernah bertanya atau sekedar pura pura menegur ku saja? Mama nggak mau,'' Ucap Pinky dalam hati.


''Nak Pinky, ayo masuk ke dalam. lebih baik kak Pinky nginap di sini sana ya, ini juga sudah larut takutnya di jalan terjadi sesuatu sama kamu,'' Ucap Bu Wati yang membuyarkan lamunan Pinky. Bu Wati mengelus punggung Pinky lembut.


''Tapi Bu?'' ucap Pinky yang langsung di potong oleh Bu Wati, ibu Sania dan juga Karan.

__ADS_1


__ADS_2