Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
154 Ciuman pertama


__ADS_3

Sania masuk ke dalam mobil nya, sebelum mobil melaju kencang Sania sempat melambaikan tangan nya kepada sang Ibunda nya, nampak air mata menetes dari pelupuk mata nya, membasahi kedua pipi mulus nya, Arlan yang melihat sang istri menangis pun segera menggenggam tangan istri nya seraya berkata.


''Jangan bersedih lagi ya, kita kan sudah janji akan sering main ke rumah Bunda, kenapa harus nangis gitu?''


''Sania sedih saja karena jauh dari Bunda?'' jawab Sania dengan nada lirih nya.


''Sayang, kamu kan bukan hanya sekarang saja jauh tinggal dari Bunda, kemarin kamu juga sempat kabur dari rumah, hanya karena menutupi penyakit kamu dari Bunda, terus lagi kamu kabur ke kantor cabang hanya untuk kabur dari ku kan? tapi kalau sudah Allah menakdirkan kita berjodoh pati akan di pertemukan kembali, walaupun kamu sempat menghindari ku karena penyakit yang kamu derita saat ini. Asal kamu tau Mas sangat sayang sama kamu? awal nya Mas ragu karena kamu nggak sederajat dengan Mas, Mas takut ditolak sayang,'' cerita Arlan, ''Tapi ya sudahlah jangan di ingat lagi, itukan sudah jadi masa lalu, tapi kini adalah depan ku bersama mu sayang?'' lanjutnya mengecup punggung tangan Sania.


Sania yang tersipu malu hanya bisa mengatakan kalau suami nya tengah ngegombal saja, Mas Arlan sekarang pintar ngegombal ya, Sania juga baru tau lho?'' sambung Sania yang juga menggenggam tangan besar suami nya.


''Gombal sama istri sendiri kan nggak apa apa sayang??'' balas Arlan menoel dagu sang istri


''Apa sich Mas, nyetir yang bener? aku mau selamat sampai tujuan lho,'' tukas Sania cemberut kepada Arlan. Arlan hanya terkekeh geli menatap sifat istri kecil nya yang kayak anak kecil.


Tak berapa lama mobil Arlan sudah memasuki parkiran apartement nya, Arlan mengeluarkan koper Sania dari bagasi mobil nya, sedangkan tangan kanan nya meraih tangan Sania, tangan yang kiri Arlan gunakan untuk menarik koper Sania untuk di bawa ke apartement nya di lantai 15.


''Mas masih lama nggak sampai nya?'' tanya Sania yang sudah pegal berjalan.


''Sebentar lagi sayang, kenapa??'' tanya Arlan lembut.


''Kaki Sania sudah pegel nich?'' rengek nya dan menghentikan langkah nya. ''Lagian Bunda sich nyuruh aku pakai ginian, bikin kamu Sania sakit dan juga pegel,'' gerutu Sania membuka Highhils nya.


''Sudah jangan menggerutu seperti itu lagi, maksud Bunda tuh baik lho nyuruh kamu memakai ini, biar apa coba,'' tanya Arlan lagi. Sania hanya menjawab dengan gelengan kepalanya saja.


''Biar kamu semakin cantik lah, biar apa lagi coba,'' jawab Arlan mengelus kepala Sania istri nya.


Dengan menenteng Highhils nya Sania masih merutuki kekesalan nya kepada sepatu yang emang sengaja di belikan oleh sang tante untuk nya.

__ADS_1


''Sudah ayo masuk, dan istirahat lah di kamar. Mas keluar dulu sebentar ya,'' pamit Arlan seraya mencium kening Sania.


''Mau kemana?''


''Beli makanan di bawah, sebentar kok? lagian kaki kamu lagi sakit kan, jadi lebih baik berbaring di sini saja dulu,'' terang Arlan yang langsung du angguki Sania.


Selepas kepergian Arlan, Sania tak langsung berbaring di tempat tidur nya, melainkan dia mengeluarkan baju baju nya dari dalam koper, dan segera menata baju baju tersebut ke dalam lemari yang berada tak jauh dari tempat tidur nya.


Sania juga pergi ke dapur yang ada di apartement suaminya, dan diapun membuka lemari pendingin untuk sekedar mengecek apa saja yang nada di dalam nya, ternyata di dalam hanya terdapat botol air mineral yang emang sengaja di taruh di sana.


''Mungkin besok aku harus belanja, untuk mengisi kulkas dan juga keperluan lain nya, apa mas Arlan nggak pernah memasak selama tinggal di apartement nya,'' gumam Sania pelan, dia mengambil susu coklat yang ada di sana. ''Mungkin aku meminum ini dulu dech, buat peng ganjal perut ku dulu,'' lanjut nya mengambil gelas yang ada laci atas.


Sania menuangkan susu bubuk yang sudah tak ada bungkus nya tersebut, dia nggak tau kalau yang di minum sekarang adalah susu untuk para pria, lebih tepat nya untuk membentuk otot otot nya.


Arlan memasuki apartement nya tanpa suara, karena dia takut mengganggu sang istri yang mungkin sudah tertidur pulas di ranjang nya, namun Arlan kaget melihat Sania yang berada di dapur tengah meminum susu coklat nya.


''Sayang, kamu kok ada di sini sich, bukan nya di dalam kalau istirahat,'' Ucap Arlan menaruh kantong kresek yang ia bawa di atas meja.


''Aku bikin susu coklat Mas, karena perut Sania sudah mulai keroncongan jadi buat peng ganjal Sania bikin susu coklat saja,'' jawab Sania seraya mengembangkan senyum manis nya.


''Susu coklat?'' tanya Arlan memastikan, takut nya malah dia yang salah dengar lagi. ''Kamu ambil susu di wadah yang mana sayang?'' tambah Arlan masih menatap Sania yang masih santai meminum susu coklat nya secara perlahan, karena memang masih terasa sedikit panas.


''Di wadah ini,'' tunjuk Sania pada sadang yang berbentuk kotak tersebut.


''Sayang, itu susu buat Mas, harus nya kamu ambil wadah yang ini saja,'' sela Arlan sembari menepuk jidad nya melihat istri nya masih tetap santai meminum susu coklat nya.


''Sudah, buang saja,'' kata Arlan seraya mau mengambil gelas yang di pegang istri nya, namun Sania segera menghabiskan susu coklat nya sebelum gelas tersebut berhasil di rebut oleh suami nya.

__ADS_1


''Kok malah di habisan sich bukan nya di buang?'' Ucap Arlan menaikkan satu alis nya ke atas.


''Mubazir kalau di buang?'' jawab nya asal, Sania meraih kantong kresek yang ada di depan nya, sedangkan Arlan mengambil piring dan juga sendok untuk tatakan nasi bungkus nya.


''Maaf sayang, hanya nasi bungkus saja ada nya yang deket, nggak apa apa kan?'' ujar nya membuka nasi bungkus yang sudah di alasi dengan piring di bawah nya.


''Nggak apa apalah Mas, Sania bukan orang yang pemilih soal makanan, asal bisa kenyang ya aku makan?'' tutur nya lembut.


''Terima kasih ya sayang?''


''Terima kasih untuk apa?'' tanya Sania bingung.


''Terima kasih karena sudah mau mengerti,'' jawab nya menyuapi Sania dengan sendok yang ia pegang.


''Cepat makan, setelah itu baru minum obat nya,'' sela Arlan lagi, Sania yang tak paham pun hanya mengernyitkan kan dahinya.


''Mas ingin tidur sambil memeluk kamu sayang, tadi belum puas meluk nya sudah pada berisik semua orang orang di rumah kakek?'' ungkap Arlan yang memang merasa terganggu tidur nya saat masih berkumpul di sana.


''Itu semua saudara Sania Mas?'' potong Sania karena mengatakan orang orang.


''Kan mereka juga orang sayang, masak harus bilang embek,'' balas nya. Arlan langsung mendapatkan pukulan di pengn nya karena sang istri masih tidak terima dengan ucapan Arlan barusan.


''Iya, iya maaf,'' ungkap Arlan meminta maaf kepada Sania.


Sania terkekeh karena berhasil membuat suami nya kesal dengan kelakuan nya tadi. ''Aku juga cuma bercanda kok?'' tukas nya dengan kekehan kecil dari bibir tipis nya, Arlan yang gemas melihat istri nya yang usil segera menghampiri nya dan mencium tepat di bibir ranum Sania. Sania yang terkejut hanya membelalak kaget mendapatkan serangan tiba-tiba dari Arlan sang suami.


''Manis?'' Ucap Arlan membuat kesadaran Sania kembali.

__ADS_1


''Ciuman pertama ku?'' gumam Sania setelah sadar dari lamunan nya.


''Berarti pas banget dong, aku yang mengambil nya,'' kata Arlan bangga. Sedangkan Sania masih menampilkan wajah cemberut nya.


__ADS_2