
Kini mereka berdua sudah berada di atas kasur yang sama, Sania dan juga Arlan tidur saling bersampingan, tak ada jarak di antara mereka berdua saat ini, karena mereka berdua sudah sahabat menjadi sepasang suami-istri.
''Sayang-,'' panggil Arlan terhenti.
''Kenapa Mas?'' tanya Sania menatap wajah suami nya dengan tanpa berkedip karena terpukau oleh ketampanan laki-laki yang sudah menyandang suami.
''Kapan kita nya kamu siap sayang,'' tanya Arlan lirih.
Sania yang tak tega pun hanya bisa menjawab dengan perasaan gugup. ''Ka-kapan pun Ma-mas siap, Sania juga si-siap,'' jawab nya gugup, dan jangan lupa detak jantungnya pun sudah berdetak sangat kencang.
''Aku mau nya sekarang sayang?'' bisik Arlan, yang emang sengaja menghembuskan nafas hangat nya di belakang telinga Sania, membuat bulu kuduk Sania berdiri mendengar bisikan dan hembusan nafas suami nya.
''Lebih baik kita sholat saja dulu Mas?'' ajak Sania kepada suaminya. Arlan mengangguk dan beranjak dari tempat tidur nya. ''Mas duluan saja ambil air wudhu nya,'' kata Sania lembut seraya mengembangkan senyuman manis nya pada sang suami tercinta nya.
Arlan mengangguk dan turun dari ranjang nya menuju ke kamar mandi yang adandi dalam kamar nya, tak butuh waktu lama Arlan untuk mengambil air wudhu, dia sudah keluar dengan membawa sajadah, sarung, baju koko dan juga peci nya.
''Sudah, kamu ambil air wudhu nya sekarang, Mas tunggu kamu di sini?'' Ucap Arlan lembut seraya membentangkan sajadah nya di lantai yang beralaskan karpet warna hijau.
Sania melangkah ke kamar mandi guna mengambil wudhu, namun setelah selesai mengambil air wudhu, Sania di kejutkan dengan rasa hanya dari area kewani**an nya. Sania pun langsung mengecek dan benar saja, dia datang bulan malam ini, betapa kecewanya sang suami kalau dia tau sang istri tercinta nya malah mengecewakan dia.
''Mas,'' panggil Sania dengan rasa bersalah nya, sedangkan Arlan yang tengah menunggu sambil membaca Al-Qur'an di buat terkejut oleh panggilan suami nya.
__ADS_1
''Sudah, ayo sayang cepat?'' balas Arlan dengan seulas senyum di bibir tebal nya.
''Maaf Mas, Sania datang bulan?'' sela Sania menundukkan kepala nya, karena Sania tidak akan tega melihat wajah kekecewaan dari suami nya.
''Nggak apa apa kok, kamu santai saja. Ya sudah kalau gitu kamu istirahat saja dulu, Mas sholat dulu ya,'' sahut Arlan terus mengembangkan senyuman nya, agar istri nya tidak merasa bersalah kepada nya.
''Mas nggak marah sama Sania?'' tanya Sania lagi, Arlan menggelengkan kepalanya pelan, seraya beranjak dari duduk nya dan menaruh Al-Qur'an yang tadi ia baca.
''Nggak apa apa kok. Lagian kenapa juga Mas harus marah sama kamu sayang, ya sudah Mas sholat dulu,'' jawab nya dan melakukan sholat sunnah dua rakaat, tak lupa juga dia meminta kesembuhan buat sang istri, agar ia senantiasa menemani di setiap hari hari Arlan.
Sania hanya menatap ke arah Arlan yang tengah berdo'a, di saat Arlan menyelesaikan do'a nya, Sania pun pura pura tidur, dia menutup mata nya di saat Arlan mencium kening nya.
'Maafin Sania Mas, Sania tak bermaksud mengecewakan kamu, tapi alam berkehendak lain,' kata Sania dalam hati.
Di sisi lain Sania tengah menangis melihat suami nya tidak marah sama sekali pada nya, dia selalu sabar dan telaten merawat nya selama 3 hari ini. ''Apa aku pantas untuk mu Mas, aku yang banyak kekurangan, dan aku juga yang ber penyakitan,'' gumam Sania pelan sehingga tak ada yang mendengar nya, kecuali dirinya sendiri.
Arlan tak tau kalau istri kecil nya tengah menangis, dia masih sibuk membaca Ayat demi ayat yang ada di dalam Al-Qur'an tersebut.
Arlan menghentikan membaca Al-Qur'an nya karena mendengar ponsel nya berdering, Arlan mengernyit kan dahinya melihat nama pemanggil.
''Kenapa dia nelfon malam malam, ada apa sebenarnya,'' gumam Arlan beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan menuju balkon kamar nya.
__ADS_1
-''Ada apa kau menelfon ku malam malam!'' tanya Arlan tho the poin, setelah menggeser icon warna hijau di layar ponsel nya.
-''Aku kangen sama kamu Mas Arlan? kenapa Mas Arlan lebih memilih wanita ber penyakitan itu ketimbang memilih aku sebagai istri kamu, sebenarnya aku kurang apa sich Mas? aku cantik, bohay dan juga sehat tentunya,'' jawab saudara sepupu dari mendiang Ibu nya, wanita itu memang suka sama Arlan yang begitu rupawan, dengan pekerjaan yang menjadi manager restoran dulu. Wajah tampan nya membuat saudara sepupu nya tergila gila kepada nya.
-''Maaf, kamu memang lebih dari segala nya, namun kekurangan mu adalah sifat mu yang tak patut untuk di cintai, namun Sania dengan segala kekurangan nya bisa membuat ku jatuh hati dan bahkan aku sudah menikahinya saat ini, jadi apa kamu pantas masih menggoda saudara sepupu mu ini, masih banyak laki-laki di luaran sana yang mau sama kamu, jadi aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah mengganggu kebahagia'an ku kali ini!'' tukas Arlan dengan kasar, dan Arlan pun segera mematikan sambungan telfon nya begitu saja.
Arlan yang kesal dengan kelakuan sang sepupu hanya bisa menghela nafas dan menghembuskan secara kasar, dia tidak tau lagi harus menjauh dari saudara sepupu nya yang gila itu.
Namun di sisi lain Sania mendengar semua percakapan Arlan dengan orang yang berada di sambungan telfon suami nya, ya walaupun dia tidak pernah mendengar dengan jelas apa yang di katakan orang yang menelfon suami nya, namun yang Sania tau?suami nya sudah membela nya dengan kata kata yang Sania tak mungkin di lupakan oleh nya.
Sania melihat Arlan keluar kamar, dan saat itu juga Sania mengikuti langkah suami nya ke balkon, namun Sania terpaku ketika dia sedang berbicara dengan seseorang di ponsel nya, dia pun ingin menghampiri sang suami namun langkah nya terhenti di saat suami nya mengatakan, ''Kamu memang lebih dari segalanya, namun sifat dan kelakuan kamu tak patut untuk di cintai.''
Sania langsung memundurkan diri nya satu langkah, dia sudah berpikir yang tidak tidak tentang suami nya, namun dia malah mendengar kata kata lagi yang membuat hatinya tersentuh. ''Namun Sania, dengan segala kekurangan nya bisa membuat ku jatuh hati dan bahkan aku sudah menikahinya saat ini,'' kata kata itu yang bisa membuat Sania terperangah dan langsung menatap wajah suami nya yang tengah kesal dengan saudara sepupu nya, 'Haruskah saudara sepupu bersikap seperti itu kepada Mas Arlan, apa mungkin saudara sepupu Mas Arlan malah mencintai nya, dan apakah Mas Arlan akan berpaling kepada saudara sepupu nya dan meninggal kan aku sendirian, haruskah aku merasakan sakit hati melihat suami ku yang pergi demi wanita lain?' gumam Sania dalam hati nya, Sania mulai menerka nerka apa yang ada di dalam otak nya saat ini.
Sania buru buru kembali ke kamar dan membaringkan kembali tubuh kurus nya, dia masih dengan pura-pura tidur nya di saat Arlan sudah menutup pintu balkon, karena angin yang nampak begitu kencang.
''Sayang? maafkan Mas ya, tapi Mas janji nggak akan menerima telfon dari orang ini lagi, Mas akan ganti nomor setelah ini agar kamu tidak salah faham terhadap Mas, sejujurnya Mas hanya mencintai mu seorang sayang, tak kan ada nama lagi di dalam hati Mas. Maka dari itu kamu harus sembuh dan sehat kembali? agar Mas selalu bisa bersama mu sampai Mas tiada sayang?'' bisik Arlan tepat di belakang telinga istri nya, Arlan mencurah semua isi hatinya kepada istri kecilnya.
Mungkin Arlan mengira Sania tidak mendengar semua ucapan nya, namun kenyata'an nya Sania mendengar semua yang di katakan suami nya saat ini.
Betapa leganya ketika mendengar penuturan dari suami nya, Sania berharap bisa lekas sembuh, dan mulai sekarang keinginan untuk sembuh lebih besar lagi setelah mendengar curahan hati suami tampan nya.
__ADS_1
Di dalam hati Sania menangis mendengar semua penuturan dari suami yang baru ia nikahi.