Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (101)


__ADS_3

Gisella sampai di depan rumah orang tua nya dan dia pun langsung turun dari taksi.


Kedatangan Gisella pun langsung di sambut oleh Riana, Riana memeluk erat tubuh Gisella.


"Kamu baik-baik saja kan sayang,? kamu sehat kan Nak?."


Gisella melepaskan pelukan erat tersebut dan tersenyum manis kepada ibunya.


"Aku baik-baik saja kok buu dan aku sehat."


Riana langsung membawa Gisella ke dalam rumah nya.


"Malam ini kamu menginap di rumah ini yaa Sayang, ibu sangat merindukan kamu."


Riana melihat wajah Gisella yang masih terlihat sangat pucat sekali.


"Iyaa Buu, aku akan menginap di sini."


Riana mulai ingin menceritakan semuanya kepada Gisella.


"Nak, Kakak kamu Laura dia sekarang sedang hamil. Dan mereka mengajak kita untuk datang di perayaan kehamilan nya itu."


Riana mencoba untuk memegang tangan Gisella.


Gisella pun sangat terkejut sekali ketika Laura sampai harus merayakan kehamilan nya.


"Aku sangat bahagia sekali jika Kak Laura hamil, penantian panjang untuk mereka berdua."


Riana melihat ekpresi wajah yang datar yang di perlihatkan Gisella ketika mengetahui Laura hamil.


"Sayang kamu baik-baik saja kamu tidak merasakan kesedihan."


Gisella tersenyum manis kepada Ibunya.


"Untuk apa aku harus sedih di saat Kakak ku sedang berbahagia, aku sangat senang sekali Buu mendengar nya."


Riana merasa sangat senang sekali ketika melihat Gisella yang begitu sangat baik sekali dengan Laura walaupun sikap Laura yang membenci Gisella.


Laura yang mempunyai pikiran negatif kepada Gisella yang seperti ingin mengambil Barra dari pelukan Laura.


"Yasudah yaa sayaaaaang, kamu istirahat yaa di kamar. Ibu akan menyiapkan makanan untuk kamu."


Gisella pun langsung memilih untuk masuk ke dalam kamar nya, dia merasakan kembali mual yang sangat hebat sekali.


"Aku harus segera pergi ke kamar aku seperti ingin muntah."


Gisella menutup rapat pintu kamar nya dia pun langsung berlari menuju ke kamar mandi yang ada di kamar nya.


Rasa mual pusing dan muntah sedang dia rasakan.

__ADS_1


"Ahhhhhh, aku sangat lemas sekali."


Gisella pun hanya bisa terdiam saja di dalam kamar nya.


Seketika saja Gisella pun langsung berpikir jika dia memiliki suami yang seutuhnya.


"Andai saja aku mempunyai suami milik ku sendiri, mungkin di saat aku seperti ini dia yang akan perhatian kepada kuu."


Gisella pun tersenyum manis sambil meneteskan air mata nya.


Gisella mendengar ketukan pintu kamar nya, dan dia pun langsung terbangun dan keluar dari kamar mandi nya.


Gisella membuka pintu kamar nya dan dia melihat Ibunya yang membawa kan teh manis hangat untuk nya.


"Gisella kenapa wajah mu semakin pucat seperti ini , dan kamu pun berkeringat seperti ini."


Riana menyimpan teh manis hangat nya dan mencoba untuk mengusap keringat yang bercucuran di wajah Gisella.


Gisella merasa ini adalah saat nya dia mengatakan semuanya kepada ibunya.


Gisella memegang tangan Riana ketika dia hendak mengusap keringat nya.


"Buuuu, sekarang aku bukan hanya Gisella seorang diri. Tapi aku Gisella yang sedang bersama dengan penerus kuu."


Riana merasa sangat kebingungan sekali maksud dari perkataan Gisella tersebut.


Gisella mengambil tangan Riana dan meletakkan nya ke atas perut nya.


"Aku sekarang sedang hamil Buu, usia kandungan ku sudah 8 Minggu."


Seketika saja Riana merasa sangat terkejut sekali mendengar nya.


"Gisella, kamu sekarang sedang hamil juga. Kenapa kamu baru memberitahu sekarang kepada Ibuu."


Riana terlihat sangat bahagia sekali ketika mendengar Gisella hamil.


"Aku ingin merahasiakan nya Buu, karena kandungan ku ini masih sangat muda sekali. Dan aku juga menjaga perasaan Kak Laura yang sebelumnya dia belum hamil."


Riana tidak menyangka jika Gisella memiliki hati yang sangat baik sekali, di saat dia menjaga perasaan Laura tapi di saat itu pula Laura seperti ingin memamerkan kehamilan kepada Gisella.


"Buuu, aku mohon jangan bahas masalah kehamilan ku di acara Kak Laura yaa. Biarkan saja semua nya mengalir seperti air."


Riana memeluk Gisella sambil memegang perut Gisella.


"Sayang, lebih baik kamu tinggal bersama dengan ayah dan ibu saja di saat kamu sedang hamil muda seperti ini."


Gisella meminum teh manis hangat buatan ibunya.


"Tidak Buu, aku akan tinggal di Apartemen saja. Aku tidak mau merepotkan ayah dan ibu."

__ADS_1


Ketika mereka sedang asyik mengobrol tiba-tiba saja handphone Gisella berdering kencang sekali.


Gisella mengambil handphone tersebut dan ternyata itu adalah panggilan telephone dari Laura.


Gisella pun langsung menarik nafas panjang nya ketika akan menjawab panggilan telephone tersebut.


*Hallo Kak, ada apa yaa tumben sekali Kakak telephone aku.*


Gisella memilih untuk berpura-pura tidak tahu.


*Yaa, Kakak ingin mengundang kamu besok datang ke rumah Kak Barra. Di sana nanti akan ada perayaan besar tentang kabar kehamilan Kakak.*


*Oh, begitu ya Kak. Baiklah aku akan datang.*


Laura merasa sangat terkejut sekali ketika melihat suara Gisella yang datar.


*Baiklah, sekarang Kakak dan Kak Barra akan menuju ke kantor Kak Barra mengundang mereka untuk datang ke acara tersebut.*


*Iyaa Kaa iyaa, sudah yaa aku sibuk sekali yaa.*


Gisella langsung mengakhiri panggilan telephone tersebut dan membuat Laura seketika emosional.


"Gisella kamu tidak apa-apa Nak?."


Gisella tersenyum manis kepada ibunya.


"Aku tidak apa-apa Buu, aku ingin beristirahat sebentar aku merasa sangat cape sekali."


Riana pun memilih untuk pergi dari kamar Gisella membiarkan Gisella agar bisa beristirahat dengan tenang.


Laura merasa sangat emosional sekali kepada Gisella.


"Gisella, dia langsung saja mengakhiri panggilan telephone begitu saja. Menyebalkan sekali dia lihat saja besok aku akan membuat Gisella sedih melihat aku dan Mas Barra sudah bahagia. Dia sudah tidak bisa lagi bersama dengan Mas Barra."


Laura pun memakai kacamata hitam nya dan keluar dari mobil nya untuk mengundang para karyawan yang ada di kantor suaminya.


"Dulu mereka semua selalu saja bertanya kapan aku hamil dan sekarang mereka akan mengetahui semuanya jika aku sudah hamil."


Laura begitu sangat bersemangat sekali ketika dia menyampaikan hal tersebut di depan para karyawan Barra.


Walaupun menurut para karyawan yang ada di sana, apa yang dilakukan oleh Laura itu sangat berlebih-lebihan sekali.


Tapi Laura tidak memperdulikan perkataan tersebut dia tetap saja ingin merayakan kehamilan nya tersebut.


Laura menghampiri Barra dan membuat para pegawai yang ada di sana melihat romantis nya mereka berdua.


"Mas, aku sekarang mau pergi ke kantor aku yaa. Mereka pun harus mengetahui kabar kehamilan ku ini."


Laura mencium pipi Barra dan langsung pergi meninggalkan Barra dengan penuh semangat.

__ADS_1


__ADS_2