
Gisella pun tiba-tiba saja teringat Rangga.
"Iyaa Buu, aku sudah sangat lelah sekali menghadapi ini semua nya."
Riana melepaskan pelukan erat nya dan menghapus air mata di pipi Gisella.
Ketika Rangga keluar dari rumah Gisella dia melihat Barra yang keluar dari mobil nya.
"Bukan nya itu suaminya Kak Laura, dia datang ke sini juga. Dia perhatian sekali yaa sama Gisella."
Barra sangat terkejut sekali ketika melihat Rangga yang keluar dari rumah Gisella.
Barra pun langsung menghampiri Rangga.
"Ada apa yaa kamu datang ke rumah Gisella?."
Tanya Barra dengan suara tegasnya.
"Saya baru saja melihat kondisi Gisella yang baru saja pulang dari rumah sakit."
Barra begitu sangat terkejut sekali ketika mendengar Gisella yang sakit.
"Gisella sakit,? dia sakit apa sampai harus di bawa ke rumah sakit."
Rangga merasa sangat aneh sekali ketika melihat ekpresi wajah Barra yang sangat berlebih-lebihan sekali.
Karena Gisella itu hanya adik ipar nya saja.
"Lebih baik langsung tanyakan saja pada Kak Laura, dia pun sempat datang ke rumah sakit untuk melihat Gisella."
Barra langsung berlari menuju ke dalam rumah Gisella.
"Ada apa sih ini sebenarnya, sikap Kak Barra kepada Gisella perhatian banget."
Rangga merasa sangat curiga dengan Barra.
"Ada apa antara Kak Barra dengan Gisella yaa, sebaiknya harus cari tahu sendiri."
Rangga pun memilih untuk langsung masuk ke dalam mobil nya karena Mama nya pasti sedang menunggu kedatangan nya.
Barra dengan cepat berjalan menuju ke kamar Gisella dan dia pun mulai membuka pintu kamar Gisella.
Kedatangan Barra membuat Gisella dan Ibunya sangat terkejut sekali.
"Gisella, kenapa kamu hah?. tadi kamu bilang kamu baik-baik saja tapi kenapa kamu sampai harus di rawat di Rumah Sakit."
__ADS_1
Wajah Barra terlihat sangat hawatir sekali kepada Gisella.
Riana memilih untuk keluar dari kamar tersebut biarkan Gisella yang menjelaskan semuanya.
"Ibu keluar dulu yaa sayaaaaang, kamu jelaskan semuanya jangan ada yang di tutupi yaa."
Riana menutup rapat pintu kamar Gisella dan berharap semua nya akan baik-baik saja.
"Aku kecapean Kak, dan memang dari aku sekolah tensi selalu saja rendah. Jadi Dokter menyarankan aku untuk lebih beristirahat total saja."
Barra merasa sangat bersalah sekali dia merasa mengabaikan istri yang sedang kesakitan seperti ini.
"Kenapa kamu nggak bilang sama Kakak, ingat Gisell kamu adalah istri setatus kita sekarang adalah suami istri. Kamu jangan memikirkan kalau kamu itu adalah istri bayaran atau istri kontrak yaa lupakan itu semua."
Barra memegang kening Gisella yang masih terasa demam nya.
"Kamu masih demam Gisella, jangan lupa untuk di minum obat nya yaa. Dan kamu juga harus beristirahat dulu yaa."
Barra mengelus rambut panjang Gisella sambil memandangi wajah Gisella.
"Kak, lebih baik kakak pulang saja yaa. Aku ada ibu dan ayah di sini, aku tidak mau Kak Laura menghawatirkan Kakak."
Gisella mencoba untuk menyatukan kembali Laura dan Barra karena niatan Laura yang sedang berusaha untuk program hamil.
"Kak Laura kan sekarang sedang menjalani program kehamilan, jadi lebih baik kalian berdua harus selalu bersama biar kalian berdua bisa secepatnya mempunyai keturunan."
"Jika sampai Laura hamil dan kamu juga hamil, Kakak berjanji akan bertanggung jawab juga dengan anak kita berdua. Kamu jangan ada pikiran negatif yaa jika Laura sampai hamil kamu akan terabaikan begitu saja."
Laura pun hanya bisa tersenyum tipis mendengar perkataan tersebut.
"Tapi jika bulan depan aku tidak hamil dan Kak Laura hamil, lebih baik kita akhiri pernikahan kontrak ini dan aku akan mengembalikan uang 100 juta tersebut."
Barra merasa sangat terkejut sekali ketika mendengar perkataan tersebut.
"Kenapa kamu ingin mengakhiri pernikahan ini Gisella, apa ini karena sikap Laura yang tidak menghargai kamu."
Gisella menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis kepada Barra.
"Tidak kaa, aku ingin mengakhiri saja pernikahan ini. Karena kalau sampai media tahu tentang pernikahan ini maka perusahaan Kak akan mendapatkan masalah besar aku tidak mau itu terjadi."
Barra ingin sekali mempertanyakan hal ini langsung kepada Laura.
"Yasudah yaa Gisella sekarang kamu istirahat saja yaa, kamu harus kembali sehat yaa."
Barra terus memberikan perhatian lebih terhadap Gisella, sampai akhirnya Gisella pun tertidur pulas.
__ADS_1
"Aku pergi dulu yaa Gisella, semoga kamu secepatnya sehat kembali."
Melihat Gisella yang sudah tertidur pulas Barra pun mencium kening Gisella dan keluar dari kamar Gisella.
Barra keluar dari kamar Gisella dan Riana pun menghampiri Barra.
"Lebih baik masalah ini di bicarakan kembali di rumah itu bersama dengan Ibu Rossa yang sudah memberikan uang kepada Gisella, kasihan Gisella dia ingin hidup normal seperti dulu."
Barra hanya tersenyum tipis kepada Riana dia memilih untuk meninggalkan rumah tersebut.
Barra merasa sangat pusing sekali dengan sikap Laura yang selalu saja berubah-ubah.
"Laura kenapa kamu membuat ku pusing oleh keinginan kamu yang berubah-ubah seperti ini, kamu seperti mempermainkan pernikahan ini kasihan Gisella yang menjadi korban nya."
Barra memilih untuk pergi ke kantor kosmetik Laura dia ingin membicarakan ini semua nya.
"Aku ingin sekali mempertemukan Laura, Gisella dan Mama. Biarkan mereka semua membicarakan tentang ini semua."
Barra pun akhirnya sampai di kantor Laura dan dia menuju ke ruangan pribadi nya, ketika Barra mau masuk ke ruangan Laura tiba-tiba saja asisten pribadi nya menghampiri Barra.
"Maaf Pak Barra, Bu Laura tidak sedang ada di ruangan nya. Dia sedang di luar."
Barra merasa sangat aneh kenapa sekarang Laura seperti sibuk sekali.
"Baiklah, terimakasih atas informasinya."
Barra mengambil handphone dia mencoba untuk menghubungi nomer handphone Laura.
"Jangan sampai dia tidak menjawab panggilan telephone ku ini, Laura rencana apa lagi yang akan kamu lakukan kepada Gisella."
Barra merasa sangat marah sekali ketika Laura mulai memiliki rahasia yang dirinya tidak mengetahui nya.
Barra memilih untuk segera pergi dari kantor Laura karena panggilan telephone nya tidak di jawab oleh Laura.
"Aku merasa semakin bosan menjalani hubungan pernikahan ku yang seperti ini, Laura seketika menjadi berubah seperti ini."
Barra pun langsung masuk ke dalam mobil nya, dan dirinya seperti ingin sekali menghabiskan waktu nya bersama dengan Gisella.
"Bayangan Gisella selalu ada di pikiran kuu, aku ingin sekali menemani nya di saat dia sakit seperti ini."
Barra memandangi foto Gisella yang ada di handphone nya, foto ketika Gisella menikah dengan nya.
__ADS_1
"Gisella aku tahun kamu melakukan ini semua karena terpaksa, dan aku pun sama. Kita berdua melakukan nya karena paksaan dari Laura."
Barra pun terus memperhatikan foto Gisella.