Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *162*


__ADS_3

Dokter Rivan kembali menemui Laura dia berada di samping Laura.


Dokter Rivan menemani Laura sampai akhirnya dia sadar.


Pandangan mata Laura sangat buram sekali, bayangan yang tidak terlalu jelas dia lihat.


Laura pun mencoba untuk membuka mata nya secara perlahan dan dia melihat dengan jelas wajah Dokter Rivan.


"Di mana aku, kenapa aku harus masuk kembali ke rumah sakit lagi."


Wajah Laura begitu sangat hawatir sekali dia pun memegang perut nya.


"Laura, sebenarnya kamu itu menginginkan tidak kehamilan mu ini. Sudah dua bulan kamu tidak pernah periksa kandungan kamu, kamu terlalu sibuk memikirkan perjalanan mu sehingga kamu lupa jika kamu harus makan yang bergizi dan memeriksa kandungan kamu."


Laura terdiam mendengar perkataan Dokter Rivan.


"Kamu mengalami pendarahan lagi, bahkan kamu sudah merasa kontraksi di usia kandungan kamu yang masih 6 bulan ini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi semoga saja selalu datang keajaiban besar untuk kamu Laura."


Laura menyesali apa yang sudah dia perbuat.


"Dokter Rivan, aku mohon sekali. Selamat anak kuu. Pertahankan janin yang ada di kandungan ku ini, aku sangat menginginkan nya."


Laura memohon kepada Dokter Rivan, sedangkan Dokter Rivan tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena pendarahan untuk ke dua kali nya di rasakan oleh Laura.


"Kita hanya bisa menunggu keajaiban saja, Oh iya Laura. Tahu kah kamu siapa yang membawa kamu ke sini?."


Dokter Rivan semakin mendekati dirinya kepada Laura.


"Mas Barra, dia yang pasti membawa ku ke sini."


Dokter Rivan tersenyum manis kepada Laura.


"Bukan Barra tapi Gisella."


Dokter Rivan pun langsung pergi meninggalkan Laura.


Dia ingin Laura bisa bersikap baik kepada Gisella.


"Tidak mungkin Gisella, pasti Mas Barra."


Laura tidak percaya dengan ucapan Dokter Rivan.

__ADS_1


Dan ketika dia hendak mengambil handphone nya.


Tiba-tiba saja pintu pun terbuka, datang lah Barra dan juga Mama Rossa.


Laura begitu sangat bahagia sekali ketika Barra dan Mama mertua nya datang, karena Laura merasa jika ibu nya sudah tidak peduli lagi kepada nya.


"Laura, kenapa bisa seperti ini lagi sih. Bagaimana dengan kondisi kandungan kamu sekarang."


Barra begitu sangat cemas sekali ketika dia melihat Laura yang terbaring kembali di rumah sakit.


"Aku mengalami pendarahan lagi Mas, aku tidak tahu kenapa kandungan ku ini begitu sangat lemah sekali."


Laura terlihat sangat sedih sekali dia pun langsung memeluk erat suami nya.


"Kamu yang sabar yaa Laura, mungkin ini adalah cara Tuhan menegur kamu agar bisa jauh lebih baik dan berhati-hati dalam menjaga kehamilan mu ini."


Laura memanggukkan kepala sambil menangis.


"Laura, maafkan aku yang tidak bisa menemani muu di saat kamu butuh pertolongan. Tadi Mas menyuruh Gisella yang datang ke Apartemen kita dan mungkin juga dia yang membawa kamu ke rumah sakit ini."


Laura masih tidak percaya jika Gisella yang menolong nya.


"Iya, Mas. Aku pikir kamu yang telah membawa aku ke rumah sakit ini."


"Laura, kamu jangan memikirkan lagi tentang perusahaan kita yaa. Rangga pasti tidak akan membocorkan rahasia pernikahan kontrak ini."


Laura pun hanya terdiam dia berharap hal tersebut benar-benar terjadi.


"Yasudah Laura, aku ingin sekali menemui Dokter Rivan. Aku ingin tahu bagaimana kondisi kamu sekarang."


Barra meninggalkan Laura dan Mama Rossa berdua di ruangan tersebut.


Mama Rossa menatap wajah Laura dengan sangat sinis sekali.


"Kamu tidak suka jika Mama membuat bisnis bersama dengan adik kamu Gisella,? kamu merasa tersaingi oleh bisnis baru Mama?."


Laura pun menundukkan kepalanya dia tidak berani menatap wajah Mama Rossa.


"Laura, bisnis skincare kosmetik mu itu sangat besar sekali. Tidak usah takut tersaingi dengan apa yang sekarang Mama buat untuk Gisella, berpikir dan berpikir Gisella dia baik dengan kamu tapi kenapa kamu selalu jahat kepada nya."


Rossalinda mulai tidak bisa mengatur emosi nya.

__ADS_1


"Hah, yasudah lah. Lebih baik aku pergi saja dari sini. Dari pada membuat kondisi kamu semakin tidak stabil."


Rossalinda memilih untuk pergi dari ruangan Laura, dan Laura pun merasa bersalah sekali kepada Gisella.


"Kenapa aku tidak bisa baik seperti dulu lagi, kenapa selalu saja ada rasa benci ketika aku melihat Gisella yang sedang hamil anak Mas Barra. Jika awal nya mereka menolak dan tidak menginginkan pernikahan kontrak ini kenapa Gisella bisa hamil dan mereka berdua bisa melakukan nya."


Laura pun mencoba untuk mengatur nafas nya dan juga emosional nya.


***


Barra menemui Dokter Rivan di ruangan nya, dia langsung masuk dan duduk berhadapan dengan Dokter Rivan.


"Barra, aku tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran istri kamu. Dia sangat menginginkan bayi itu tapi dia sudah dua kali hampir membuat bayi yang ada di dalam kandungan itu tiada."


Dokter Rivan begitu sangat serius memandangi wajah Barra.


"Tapi dengan keajaiban yang telah Tuhan berikan, bayi itu begitu sangat kuat sekali di kandungan Laura. Dia masih selalu bertahan walaupun mungkin Laura mengabaikan untuk periksa kandungan setiap bulan, makan dengan teratur dan bergizi dan saya rasa Laura tidak pernah makan sehingga BBJ nya pun di bawah normal."


Barra tidak mengerti harus berkata apa kepada Dokter Rivan.


"Aku tahu Laura sekarang sedang fokus dengan perusahaan nya yang mengalami penurunan produksi, tapi apa itu lebih penting dari bayi yang dia tunggu-tunggu bertahun-tahun ini."


Dokter Rivan meresepkan obat dan makanan menuliskan makan-makan untuk bisa menambah BBJ untuk Laura.


"Ikut apa yang ada di tulisan ini, dan bilang kepada Laura. Cintai anak yang ada di dalam kandungan nya, jika sampai terjadi lagi sesuatu hal dengan kandungan nya dia akan menyesal seumur hidup nya."


Barra pun mengambil kertas putih tersebut dan segera keluar dari ruangan Dokter Rivan.


"Terimakasih banyak Dokter Rivan."


Langkah kaki Barra seperti melayang dia merasa apa yang selalu terjadi dengan kandungan istri itu adalah akibat dari Laura sendiri.


Laura yang membuat kandungan nya selalu bermasalah.


"Aku harus tegas dengan Laura, dia harus memilih antara keselamatan bayi nya atau perusahaan nya yang maju tapi dia hampir kehilangan anak nya."


Barra pun dengan langkah kaki yang cepat dia ingin segera menemui Laura.


Ketika Barra membuka pintu dia melihat Laura yang sedang melamun dengan memegang perut nya.


Laura terus saja menangis dan menangis sambil memegang perut nya.

__ADS_1


"Laura, sampai kapan kamu membuat anak kita hampir kehilangan nyawa nya. Aku mohon ini terakhir kali nya kamu masuk ke rumah sakit."


Laura seperti mengabaikan ucapan suami nya dia terus saja menangis sambil memegang perut nya.


__ADS_2