
Laura merasa jika orang tua nya pun lebih berada di pihak Gisella.
"Kenapa ibu lebih membela Gisella,? aku pun sebenarnya tidak mau berada di posisi seperti ini buu. Aku di tekan untuk bisa segera memberikan keturunan oleh Mama Rossa dan di saat itu hanya satu yang ada di pikiran kuu Buu, aku takut kehilangan suami kuu. Aku tidak mau perjuangan cinta aku langsung berakhir begitu saja hanya karena aku tidak bisa memberikan keturunan."
Air mata Laura mengalir deras di kedua pipinya, dia berbicara sambil menangis tersedu-sedu.
"Buuu, aku pun tidak menginginkan pernikahan ini. Jika aku tahu pada akhirnya aku pun bisa hamil tidak akan aku menyuruh Gisella untuk menikah dengan Kakak ipar nya sendiri."
Gisella hanya bisa menundukan kepalanya sambil meneteskan air mata nya dia mengelus perut nya.
"Lalu sekarang bagaimana Laura,? nasi sudah menjadi bubur. Sekarang Gisella sudah hamil anak Barra, apa yang kamu inginkan Laura jika kamu berniat untuk menyuruh Gisella untuk mengugurkan kandungan nya. Harus untuk menyelamatkan rumah tangga kamu lebih baik Gisella bersama dengan ibu dan ayah. Ibu dan ayah akan bertanggung jawab atas anak ini."
Laura tidak menyangka jika ibu nya bisa berpikir seperti jahat itu kepada dirinya.
"Buu, aku tidak mungkin berniat untuk seperti itu?. Aku tidak punya niat untuk menyuruh Gisella menggugurkan kandungan nya."
Riana mulai kehabisan kesabaran nya menghadapi sikap Laura.
"Lalu apa yang kamu inginkan Laura,? kamu ingin Gisella bercerita dengan Barra. Agar Barra tidak bertemu lagi dengan Gisella tidak memberikan perhatian kepada Gisella karena itu semua membuat kamu cemburu berat."
Gisella mencoba untuk menenangkan pikiran Ibunya.
"Buuu, sudahlah Buu sudah jangan seperti ini."
Riana menangis di hadapan Laura dan membuat Laura merasa sangat bersalah.
"Aku tau Kak , semua ini karena Kak Barra yang memilih untuk bermalam bersama dengan aku. Karena setiap aku bermalam bersama dengan Kak Barra masalah selalu saja bermunculan. Aku sekarang akan menemui Kak Barra dan juga Mama Rossa."
Gisella terlihat begitu emosional sekali dia pun berdiri dari tempat duduk nya.
"Aku cape Kak, berada di posisi yang selalu di salah kan. Aku seperti seorang pelakor saja padahal pernikahan ku ini di suruh oleh Kakak sendiri, sekarang aku akan pergi ke kantor Kak Barra."
Laura memegang tangan Gisella dia menahan Gisella untuk pergi menemui suaminya.
__ADS_1
"Kamu jangan pergi ke kantor Mas Barra, jika kamu pergi ke sana maka semuanya akan terbongkar."
Gisella melepaskan genggaman tangan Laura yang begitu sangat erat sekali.
"Lalu apa yang akan inginkan hah,? Kakak hanya ingin memarahi aku dan setelah puas Kakak pergi begitu saja tanpa memikirkan perasaan aku. Setelah itu tumbuh lagi cara cemburu Kakak dan Kakak datang lagi bertemu aku meluapkan lagi kekesalan dan selalu saja seperti itu."
Gisella menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Jangan hanya ingin menang sendiri, harga juga perasaan orang lain. Kita sekarang sama-sama sedang hamil kan jangan hanya memikirkan kesehatan kandungan Kakak sendiri."
Gisella pun langsung pergi dari toko bunga tersebut dia pun memilih untuk pergi ke kamar nya.
Karena percuma jika dia langsung bertemu dengan Barra dia masih sangat emosional sekali dan membuat pembicaraan pun tidak akan benar.
Riana pun memperhatikan Wajah Laura yang terdiam begitu saja ketika mendengar perkataan dari Gisella.
"Laura bukan ibu pilih kasih hanya memihak kepada Gisella, tapi coba kamu berpikir dengan tenang. Semua tidak akan pernah terjadi jika bukan kamu yang merencanakan nya."
Di toko tersebut hanya ada Laura dan juga ayah nya.
"Laura, Ayah berterima kasih sekali kepada kamu. Kamu yang mengangkat derajat keluarga ini dan kamu juga yang membiayai sekolah Gisella sampai dia lulus kuliah. Tapi Ayah mohon jangan seperti ini nak jangan."
Laura menyenderkan kepalanya kepada pundak Ayah nya.
"Ayah, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Apakah mungkin aku harus merelakan pernikahan ku ini. Karena dari awal pernikahan ku juga Mama Rossa tidak menyukai kuu sebagai istri Mas Barra."
Laura menangis di pelukan Ayah nya.
"Berjuanglah terus Nak, apalagi sekarang kamu di berikan kepercayaan untuk bisa menjadi seorang ibu dan mungkin ini akan membuat rumah tangga mu menjadi lebih baik lagi ke depannya."
Laura pun seketika langsung melamun memikirkan rumah tangga nya bersama dengan Barra.
"Laura, jika nanti kamu sudah menjadi seorang ibu. Kamu harus berada di rumah mengurus anak mu ini, kamu jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan muu. Karena kamu juga mempunyai suami yang bertanggung jawab yang bisa menyukupi kebutuhan muu."
__ADS_1
Laura pun mengangkat kepalanya dan langsung menatap wajah Ayah nya.
"Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku Ayah, pekerjaan ku itu aku adalah perjuangan ku. Karena aku tidak mau menjadi seorang istri yang meminta kepada suaminya."
Sikap keras kepala Laura terlihat kembali di hadapan orang tua nya.
"Ayah tau Nak, kamu itu sekarang menjadi seorang wanita yang sangat hebat sekali. Kamu sukses di produksi kosmetik kamu tapi kamu juga mempunyai keluarga suami dan anak kamu yang harus kamu perhatikan apalagi anak kamu nanti nya."
Laura pun langsung merenung dan memikirkan perkataan Ayah nya tersebut.
"Lalu jika aku fokus pada keluarga ku, bagaimana dengan kondisi perusahaan. Aku pasti bisa membagi waktu ku antara keluarga dan pekerjaan. Aku bisa membawa anak ku nanti di kantor aku tidak akan membiarkan nya di rumah."
Ayah Laura merasa jika anak ini tidak mau membiarkan perusahaan di pegang oleh orang lain.
"Semua terserah kamu saja Laura, Ayah hanya memberitahu kamu saja. Karena seorang suami itu ingin selalu di perhatikan oleh istrinya dan tidak ada suaminya yang menginginkan istri nya berkerja dengan keras jika dirinya merasa masih mampu berkerja untuk keluarga nya."
Ayah Laura pun meninggalkan Laura karena ada yang mau mengambil pesanan bucket bunga.
Laura pun merasa sudah dirinya sudah selesai dan memilih untuk pulang.
"Ayah, aku pulang sekarang yaa. Terimakasih atas semua nasihat ayah untuk aku."
Laura pun bersalaman dengan Ayah nya.
"Hati-hati Nak, perbanyak istirahat karena kandungan mu yang masih sangat muda sekali itu sangat rawan."
Laura menganggukkan kepalanya sambil melambaikan tangan nya.
Melihat kisah cinta kedua anak perempuan nya, dia merasa sangat sedih sekali.
"Kenapa semua nya harus seperti ini, kasihan Laura dan juga Gisella. Semoga nanti kalian berdua mendapatkan kebahagian masing-masing."
Laura terus saja memandangi wajah Ayah nya yang terlihat jelas sangat sedih sekali.
__ADS_1