
Barra begitu sangat menghawatirkan sekali Laura, tidak biasa nya dia tidak memberikan kabar kepada nya.
Barra mencoba untuk menghubungi nomer handphone Laura tapi tidak ada jawaban nya.
Dan ternyata handphone Laura tertinggal di dalam mobil nya.
Dokter Rivan membelai rambut panjang Laura sambil tersenyum memandangi wajah cantik Laura.
Laura pun mulai sadar dia melihat wajah yang ada di hadapannya adalah Dokter Rivan bukan Barra.
"Syukurlah kamu sudah sadar sebentar lagi aku harus ke rumah sakit, ada panggilan mendadak."
Laura merasa sangat terkejut sekali ketika dia berada di kamar yang hanya berdua dengan Dokter Rivan.
"Rivan, apa yang sudah kamu lakukan kepada ku. Kenapa kita berdua berada di kamar ini."
Laura menarik selimut nya dan dia merasakan rasa sakit pada bagian perut nya.
"Bukan kah pakai mu memang seperti itu, aku hanya mengobati luka perut mu itu."
Laura mengingat kembali kejadian tadi siang.
"Tadi siang aku berniat untuk pergi ke perusahaan suami ku dan aku pun masuk ke dalam mobil tapi kenapa aku ada di sini."
Laura masih belum mengerti kenapa dia berada bersama dengan Dokter Rivan.
"Rivan, apakah kamu menculik kuu. Kau membuat aku tidak sadarkan diri lalu kamu membawa aku ke sini dan kamu melakukan sesuatu kepada kuu?."
Laura begitu sangat ketakutan sekali dia semakin menarik selimut nya.
"Aku tidak mungkin melakukan nya jika pasangan ku tidak menginginkan nya, lagipula lihat luka yang ada di perut mu itu. Aku mengobati nya dengan obat yang terbaik dan luka itu akan mudah sembuh."
Laura mencari handphone nya dia tidak menemukan handuk nya.
"Aku tidak menyembunyikan handphone mu, sekarang aku akan pergi ke rumah sakit."
Dokter Rivan lebih memilih untuk meninggalkan Laura sendiri di Apartemen nya.
Ketika melihat Dokter Rivan yang sudah pergi, Laura pun beranjak dari tempat tidurnya.
Dia begitu sangat berhati-hati sekali karena luka nya masih terasa sakit.
Ketika Laura keluar dari kamar tersebut dia masih melihat Dokter Rivan duduk sambil membuka laptop nya.
__ADS_1
Laura pun duduk di samping Dokter Rivan.
"Apakah maksud dari bucket bunga tersebut, dan apa maksud dari tulisan di kertas putih tersebut. Kau mau membahas tentang masa lalu kita berdua di saat aku yang sudah memiliki suami dan kau berniat untuk membuat rumah tangga kuu menjadi bermasalah."
Dokter Rivan memandangi wajah Laura.
"Apa yang kamu harapkan dari rumah tangga yang hambar bersama dengan Barra, rumah tangga kamu tidak akan bahagia di saat kamu memutuskan untuk melakukan pernikahan kontrak itu."
Laura tersenyum manis kepada Dokter Rivan.
"Pernikahan kontrak itu sudah selesai, sudah selesai. Dan aku akan memulai lagi lembaran baru di rumah tangga. Dan kamu jangan menjadi lelaki yang menginginkan cinta dari wanita yang sudah di miliki oleh orang lain."
Laura memilih untuk pergi dari Apartemen tersebut dia melihat banyak nya foto dirinya di sebuah ruangan.
Laura pun masuk ke dalam ruangan tersebut dia melihat foto-foto kebersamaan masa lalu bersama dengan nya.
"Dia masih menyimpan foto-foto kebersamaan ini, ini adalah foto-foto yang sudah sangat lama sekali."
Dokter Rivan pun menghampiri Laura.
"Aku menyimpan nya dengan sangat baik, hubungan kita berakhir karena aku yang harus meneruskan kuliah ku di luar negeri. Aku setia kepada mu Laura sampai aku selesai menyelesaikan kuliah ku di sana tapi ternyata kamu sudah menikah dengan lelaki lain."
Laura memandangi wajah Dokter Rivan dia merasa sangat bersalah, karena memang tidak ada kata perpisahan untuk hubungan hanya perpisahan karena Rivan akan pergi ke Amerika.
Laura mencoba pergi tapi Dokter Rivan memegang tangan Laura dan menarik nya.
Membuat mereka berdua saling berpelukan.
"Masih kah kamu mengingat nya, di saat kita pulang sekolah dan aku memeluk mu di saat kamu kedinginan karena hujan deras."
Dokter Rivan semakin erat memeluk Laura dan Laura tidak bisa melepaskan nya.
"Aku mohon lepaskan pelukan erat ini, aku tidak mau menghianati perasaan suami ku."
Laura melepaskan paskah pelukan erat tersebut dia memandang wajah Dokter Rivan.
"Aku pergi Rivan, jangan pernah ada di kehidupan aku lagi dan berterimakasih karena kamu sudah pernah membantu aku untuk melakukan program kehamilan."
Laura pun langsung pergi dari Apa tersebut dan Dokter Rivan pun membiarkan Laura pergi begitu saja.
"Laura, kamu pasti akan datang kembali ke dalam pelukan kuu. Lihat saja nanti."
Laura menangis di sepanjang jalan menuju ke mobil nya.
Dia membuat pintu mobil nya dan mencari handphone nya.
__ADS_1
Laura melihat jam sudah menunjukkan pukul 20:00 wib.
"Banyak sekali pesan yang masuk dari Mas Barra, aku harus bagaimana yaa. Dan aku tidak mungkin pulang dengan memakai dress hitam seperti ini."
Laura memilih untuk membeli baju dan menganti nya.
Laura begitu sangat ketakutan sekali ketika nanti dia melihat wajah suami nya.
"Laura, apa yang sudah kamu lakukan bersama dengan lelaki lain di sebuah Apartemen. Aku berpelukan dengan lelaki lain."
Laura merasa sangat tidak menyenangka dengan apa yang sudah dia lakukan.
Sampai akhirnya dia berada di depan pintu Apartemen nya.
Laura pun masuk ke dalam nya dan dia melihat Barra yang sedang menunggu nya.
"Laura kamu dari mana saja, dan kenapa rambut mu itu sangat berantakan sekali seperti itu."
Laura pun langsung memegang rambut nya dan merapikan nya.
"Maafkan aku yaa Mas, aku terlalu sibuk sampai aku lupa waktu jam pulang."
Barra menghampiri Laura semakin dekat.
"Sibuk apa,? aku datang ke kantor mu dan asisten pribadi mu bilang jam 12 siang kamu keluar dari kantor."
Laura merasa sangat gugup sekali apa yang harus dia katakan kepada Barra.
Barra terus saja memandangi wajah Gisella.
"Aku pergi untuk mengobati luka operasi ku ini, dan Dokter bilang dia memberikan obat yang sangat bagus sekali agar luka ku cepat sembuh."
Laura pun memilih untuk pergi menghindar dari Barra.
"Apa yang sedang dia sembunyikan, dia seperti sudah melakukan sesuatu."
Laura menutup rapat pintu kamar nya, dia pun masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci wajah nya berkali-kali sambil menangis.
"Maafkan aku Mas Barra, aku tidak bermaksud untuk berbohong dan menghianati perasaan muu."
Laura merasa sangat bersalah sekali ketika dia berduaan bersama dengan Rivan dan berpelukan sambil mengenang masa-masa indah bersama nya dulu di saat sekolah.
__ADS_1