
Barra menunggu Laura sampai selesai dia juga menyimpan handphone Laura kembali.
Barra begitu sangat tidak sabar sekali ingin mengetahui apa yang dia lihat ketika Laura di pertemuan kembali dengan Rivan.
Barra tersenyum manis kepada Laura seakan tidak rencana yang dia lakukan untuk istri nya tersebut.
Sampai akhirnya Laura dengan sangat cantik sekali memakai gaun yang sudah di pilih oleh nya.
Barra menghampiri Laura yang terlihat sangat cantik sekali.
"Kamu sangat cantik sekali malam ini Laura, semoga saja kamu tidak membuat aku kecewa."
Barra pun mengandeng tangan Laura untuk menuju ke mobil nya, perlakuan Barra kepada Laura sungguh sangat manis sekali sehingga membuat Laura sangat bahagia sekali ketika bersama dengan Bara.
Di perjalanan menuju ke tempat tersebut, Laura tersenyum manis kepada Barra.
"Terimakasih banyak atas semua yang kamu berikan untuk aku yaa Mas, semoga saja kita bisa selalu bahagia seperti ini dan melupakan masa lalu yang pernah kita lakukan."
Barra memandangi wajah Laura dan tersenyum.
"Masa lalu ku adalah menikah dengan Adik Ipar ku sampai bisa mempunyai Tiara, tapi itu tidak bisa aku lupakan Laura. Begitu juga dengan masalalu yang pernah kamu lakukan."
Laura pun terdiam dia seakan tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Barra.
Sampai akhirnya mereka berdua pun sampai di tempat yang sudah di siapkan oleh Barra.
Laura keluar dari mobil nya dan melihat banyak sekali mawar putih dan merah.
"Lihat bunga-bunga yang sangat indah sekali, mawar merah dan putih sudah ku ukir dengan sangat indah sekali."
Laura pun pun berjalan menuju ke tempat yang sudah di sediakan, alunan suara biola membuat Laura dan Barra pun berdansa. Laura merasa sangat bahagia sekali sampai dia memeluk erat tubuh Barra.
"Ini adalah sebuah kebahagiaan untuk anak ke dua kita Mas, aku sangat senang sekali Mas."
Laura terus saja memandangi wajah tampan Barra dia seperti tidak ingin kehilangan suami nya itu.
"Kamu adalah suami terbaik ku, dan aku tidak mau kehilangan kamu Mas. Tidak mau, kami hanya milik aku Laura Renita."
Laura begitu sangat mencintai Barra walaupun dia tahu dia sudah berselingkuh dengan Rivan di belakang Barra.
Ketika Laura dan Barra sedang menikmati waktu kebersamaan mereka berdua.
Rivan merasa sangat ragu sekali ketika dia hendak bertemu dengan Laura.
"Haruskah aku pergi bertemu dengan Laura, aku hanya takut ini hanya kemarahan Laura kepada kuu saja. Laura bertemu dengan kuu karena hanya untuk melampiaskan kekesalannya pada Barra."
Rivan pun yang sudah siap dia hanya duduk kembali sambil memandangi wajah Kenzo.
"Kenzo sayaaaaang, Papa pergi dulu yaa untuk bertemu dengan Mama Laura. Semoga Mama Laura bisa segera bersama dengan kita di sini."
Rivan terus saja memandangi wajah Kenzo sampai akhirnya Rivan memutuskan untuk pergi bertemu dengan Laura.
"Semoga ini adalah hal yang terbaik untuk kita berdua Laura."
Rivan pun langsung memanggil Suster Mirna untuk menjaga Kenzo.
"Suster Mirna, saya pergi dulu yaa tolong jaga Kenzo baik-baik yaa."
Rivan pun langsung pergi meninggalkan Apartemen nya.
Barra belum juga melihat kedatangan Rivan, dia terus saja memperhatikan pintu gerbang.
"Laura, bisakah kamu melepaskan pelukan erat mu ini. Aku akan menyiapkan sesuatu untuk kamu yaa."
Barra pun pergi meninggalkan Laura sendiri, Laura tidak memiliki kecurigaan terhadap Barra.
Laura duduk dengan sangat manis sambil menunggu kedatangan Barra.
Barra terus saja memandangi gerbang sampai akhirnya mobil Rivan pun datang.
"Itu dia yang ku tunggu-tunggu akhirnya dia datang juga, Dokter Rivan."
Barra memperhatikan Rivan yang terus berjalan menuju ke kursi Laura, dan Barra pun mencoba untuk semakin mendekat karena ingin sekali mendengar pembicaraan mereka berdua.
Rivan tersenyum manis kepada Laura dengan penampilan yang sangat cantik sekali.
"Laura, kamu cantik sekali ketika memakai gaun putih seperti pengantin."
Laura merasa sangat terkejut sekali ketika dia mendengar suara yang mirip dengan Rivan.
Laura pun langsung membalikkan badan nya dan berdiri ketika melihat Rivan yang ads di hadapan nya.
__ADS_1
"Rivan, kenapa kamu ada di acara kebersamaan ku dengan suami kuu."
Rivan pun tersenyum ketika mendengar perkataan Laura.
"Laura Renita, bukan kah kamu yang mengajak aku untuk datang ke sini untuk bertemu mu. Kenapa kamu jadi pura-pura seakan kamu tidak tahu apa-apa Laura."
Laura terdiam bagaimana mungkin dia menghubungi Rivan sedangkan nomor handphone Rivan dia sudah memblokir nya.
Barra mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Dari cara mereka berdua berbicara seperti ada sesuatu diantara mereka berdua, dan aku sangat yakin sekali."
Laura merasa sangat kebingungan sekali dan Rivan pun memilih untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan.
"Wahh, Laura kamu menyiapkan ini semua untuk kita berdua. Aku tidak pernah menyangka kamu begitu sangat Romantis sekali."
Laura menarik Rivan untuk berdiri kembali.
"Pergi lah dari tempat ini Rivan, bagaimana jika suami ku mengetahui nya. Dia pasti sangat marah besar kepada ku, aku sudah memulai kembali keharmonisan bersama dengan nya dan aku mohon pergi sekarang juga."
Laura memaksa Rivan untuk segera pergi dari tempat tersebut.
"Barra ada di sini,? maksud kamu apa Laura. Kamu ingin mempertemukan kita berdua di sini dan aku akhirnya akan memilih aku untuk menjadi pengganti Barra di kehidupan sehari-hari muu."
Barra semakin emosi ketika mendengar perkataan Rivan kepada Laura tapi Barra mencoba untuk menahan emosi nya. Karena ingin tahu dengan hubungan mereka berdua.
"Rivan kamu jangan bermimpi yaa, aku akan tetap bersama dengan suami ku aku tidak akan pernah bisa bersama dengan muu."
Rivan semakin mendekati Laura dia begitu sangat berani sekali dengan Laura.
Barra hanya bisa terdiam dan menahan emosi nya.
"Aku rasa semua sudah sangat jelas sekali bahwa Laura dan Rivan memang masih menjalani hubungan, lebih baik aku tinggalkan saja mereka berdua dan berpura-pura bodoh di hadapan Laura. Sampai kapan mereka berdua akan menutupi perselingkuhan mereka."
Barra mengeluarkan handphone nya dia berniat untuk mengirimkan pesan untuk Laura.
*Laura, maafkan aku sekarang aku sedang berada di kantor. Ada sesuatu yang lupakan di kantor. Bagaimana dengan kamu sekarang,? apakah aku harus kembali ke sana atau kamu yang pulang ke Apartemen.*
Laura mengambil handphone nya dan membaca pesan dari Barra.
Laura menghelakan nafas panjang nya dia seperti sangat lega sekali.
"Beruntung sekali suami ku sekarang sedang berada di kantor nya, bagai jika dia melihat kebersamaan kita berdua."
*Tidak apa-apa Mas jika itu sangat penting sekali, kamu lebih baik jangan kembali biarkan aku pulang ke Apartemen saja dan kita berdua bertemu di Apartemen.*
Barra menggelengkan kepalanya berkali-kali dia tidak menyangka demi Rivan dia rela melakukan apa pun.
Barra memilih untuk pergi saja dan membiarkan mereka berdua bersama, Barra tidak menyangka jika di balik seorang Dokter dan Pasien ada cinta lama yang berseri-seri kembali.
Barra memilih untuk pulang ke Apartemen Gisella, dia merasa sangat nyaman sekali berada di dekat Gisella.
"Lebih baik aku pergi ke Apartemen Gisella saja dan menemani Tiara bermain untuk akan membuat ku lebih nyaman dan baik."
Barra pun langsung mengendarai mobil nya menuju ke Apartemen Gisella.
Sedangkan Laura masih bersama dengan Rivan di tempat itu.
"Rivan seperti nya aku harus pergi dari tempat ini, jika kamu masih ingin di tempat ini silahkan saja. Aku akan pulang ke Apartemen ku."
Ketika Laura hendak pergi, Rivan memegang tangan Laura.
"Tetaplah di sini bersama dengan ku Laura, kamu jangan berbohong kepada ku. Bilang saja jika pertemuan ini adalah keinginan mu Laura tapi kamu yang malu-malu untuk mengakui nya."
Laura melepaskan paksa genggam erat tangan Rivan dan dia pun mengambil handphone nya untuk memberitahu kepada Rivan jika tidak ada chatting terakhir dengan Rivan.
"Lihat saja nomber handphone kamu tidak ada di kontak handphone ku dan tidak juga bukti chatting terakhir kita berdua."
Rivan mengeluarkan handphone dia melihat kan pesan yang di kirimkan oleh Laura, tapi ternyata pesan tersebut sudah tidak ada dan membuat Laura mengabaikan Rivan.
Laura pun memilih untuk langsung pergi sedang kan Rivan langsung berpikir jika bukan Laura yang mengirimkan pesan kepada lalu siapa yang mengirimkan pesan kepada nya.
Rivan melihat Laura yang sudah berjalan menuju ke mobil dan masuk ke dalam mobil nya.
Sedangkan Rivan terdiam sambil berpikir.
"Seperti nya Barra yang mengirimkan pesan tersebut, Barra sudah mengetahui semuanya. Laura kamu begitu sangat bodoh sekali sampai kamu tidak berpikir ke arah sana."
Rivan tersenyum manis ketika dia mengetahui Barra yang sudah mengetahui semuanya.
"Barra sudah mengetahui ini semua, ini akan mempermudah Laura dan Barra berpisah. Baiklah Barra aku ikuti permainan yang sangat menguntungkan untuk aku agar bisa mendapatkan Laura dengan cepat."
__ADS_1
Rivan pun berjalan menuju ke mobil nya dia pun memilih untuk segera pergi dari tempat tersebut.
***
Barra berdiri di depan pintu Apartemen Gisella, dia menekan tombol bell tersebut dan Gisella pun dengan cepat langsung membuka pintu Apartemen nya.
"Kak Barra, silahkan masuk."
Barra masuk dengan wajah yang sangat lemas sekali, Barra berjalan menuju ke kamar dan mengendong Tiara.
Gisella menyiapkan minuman untuk Barra, Gisella melihat Barra yang seperti sedang mempunyai permasalahan.
"Kasihan sekali seperti Kak Barra mempunyai banyak perkerjaan di kantor nya."
Gisella pun membawa kan minuman untuk Barra, Gisella tidak berani menanyakan apa-apa kepada Barra.
Gisella lebih memilih untuk diam dan membiarkan Barra yang bercerita dengan sendirinya.
"Laura dan Rivan mereka berdua ternyata pernah berhubungan semasa mereka masih SMA, dan ternyata sampai sekarang mereka berdua masih mempunyai perasaan."
Gisella begitu sangat terkejut sekali ketika mendengar perkataan itu.
"Maksud nya,? apakah Kak Laura dan Dokter Rivan sampai sekarang mereka berdua masih menjalani hubungan spesial di belakang Kak Barra?."
Gisella begitu sangat tidak percaya dengan perkataan Barra.
"Aku menjebak mereka berdua dan ternyata cara mereka berkomunikasi itu sangat berbeda sekali seperti seorang yang sudah sangat dekat sekali. Dulu aku membiarkan mereka berdua sering bersama karena Laura yang ingin melakukan program kehamilan tapi ternyata mungkin kebersamaan mereka berdua membuat benih-benih cinta di masalalu kembali hadir kembali."
Gisella merasa sangat tidak menyangka jika Laura bisa berbuat seperti itu dengan Barra, Gisella yang sangat mengetahui sekali jika Laura yang sangat sayang sekali dengan Barra.
"Dan apakah Kak Laura mengetahui hal ini,? hubungan perselingkuhan nya terbongkar oleh Kak Barra?."
Barra menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis kepada Tiara.
"Tidak, Laura tidak mengetahui nya. Biarlah aku ingin tahu sampai kapan dia bisa menyembunyikan semua ini."
Gisella pun langsung berpikir ternyata ini alesan Dokter Rivan yang seperti mendekati nya ternyata dia memilih hubungan sesuatu dengan Laura.
"Tapi kenapa yaa aku merasa tidak percaya jika Kak Laura berselingkuh dengan Dokter Rivan, Kak Laura begitu sangat cemburu kepada ku ketika aku sedang bersama dengan Kak Barra."
Barra pun memandangi wajah Gisella.
"Kita lihat saja Gisella, semua ini akan berakhir seperti apa."
Barra lebih fokus pada Tiara dan Gisella pun lebih memilih untuk pergi ke dapur.
Gisella terus saja memikirkan perkataan Barra.
"Jika Kak Laura berselingkuh dengan Dokter Rivan, bagaimana itu semua bisa terjadi ketika sekarang Kak Laura itu sedang hamil dan dia berselingkuh dengan Dokter Rivan."
Gisella bersender di tembok dan sekarang dia memikirkan kehamilan Laura.
"Astagaaaa, pikiran ku langsung negatif terhadap kehamilan Kak Laura. Tidak mungkin kan Kak Laura hamil anak Dokter Rivan, Astaga Gisella pikiran mu sangat jahat sekali jangan lagi kamu berpikir seperti itu."
Gisella kembali dan dia melihat Barra yang sudah tertidur pulas dengan Tiara.
"Mereka tertidur pulas di sofa, dan Kak Barra menginap lagi di Apartemen ini bersama dengan aku. Hmmmmm bagaimana jika ada yang tahu mereka pasti berpikir negatif terhadap kita berdua."
Gisella memilih untuk mengambil Tiara dari gendongan Barra dan memindahkan nya ke kamar.
Gisella juga memilih untuk mengunci pintu kamar nya.
"Aku tidak boleh selalu bersama dengan Kak Barra, apalagi Kak Laura sampai tahu dia pasti akan membolak-balik kan fakta yang ada dia pasti menyebutkan jika aku yang menjadi selingkuhan Kak Barra."
Gisella pun mencoba untuk menenangkan pikiran nya, Gisella menarik selimut nya dan mencoba untuk memejamkan mata agar bisa segera tertidur pulas.
Ketika Gisella dan Barra yang sedang berada di Apartemen yang sama, Laura yang baru saja sampai di Apartemen nya.
Dia masuk ke dalam Apartemen nya tapi terlihat kosong tidak ada suami nya.
"Mas Barra kenapa dia tidak ada di Apartemen yaa, apakah dia masih berada di kantor nya."
Laura mengambil handphone nya dia mencoba untuk menghubungi nomer handphone suami nya.
Tapi panggilan telephone nya tidak ada terus jawaban dari suami nya.
"Nomber handphone nya aktif tapi kenapa tidak ada jawaban nya, sedang di mana yaa dua sebenarnya."
Laura seketika saja merasa sangat tidak nyaman dengan hati nya.
"Jangan sampai Mas Barra pergi untuk menemui Gisella, tidak mungkin itu tidak boleh terjadi karena Mas Barra yang sudah berubah sekarang dia pun menyiapkan makanan malam romantis bersama dengan ku."
__ADS_1
Laura merasa sangat hawatir sekali dengan suami nya tidak juga pulang ke Apartemen