
Laura sampai di Rumah Sakit dan ternyata Dokter yang menangani Gisella itu adalah teman Dokter Rivan.
"Laura kamu langsung masuk saja duluan, aku akan membawa buah-buahan untuk Gisella."
Laura keluar dari mobil Rivan dia terlihat seperti orang yang kebingungan.
"Bagaimana nanti aku bertemu dengan Mas Barra, aku sangat bersalah besar sekali dengan nya."
Laura memutuskan untuk menunggu Rivan, dia merasa tidak berani untuk bertemu dengan Gisella sendiri.
Laura memakai kacamata hitam nya, dan dia terus saja menundukkan kepalanya. Dia merasa percaya diri nya telah hilang.
Rivan memperhatikan Laura yang ternyata masih ada di luar rumah sakit.
"Kenapa Laura tidak langsung masuk duluan yaa, dia menunggu aku."
Rivan pun langsung berjalan sangat cepat menuju ke Laura.
Melihat Rivan sudah datang Laura pun berdiri dan berjalan menuju ke dalam Rumah Sakit.
Laura yang berniat jahat kepada Gisella tiba-tiba saja seperti kehilangan kata-kata jahat nya untuk Gisella.
Rivan terus saja memperhatikan wajah Laura yang seperti kosong pikiran nya.
"Laura, bukan kah kamu bilang untuk mengganggap tidak terjadi apa-apa dengan kita berdua?. Tapi kenapa kamu seperti ini."
Laura mempercepat jalan nya dan bertemu dengan Barra dan Ibu nya.
Perasaan Laura seperti sakit sekali ketika melihat wajah Barra.
Bukan menghampiri suami nya, Laura memilih untuk memeluk erat ibu nya.
Barra pun tersenyum kepada Rivan.
"Terimakasih banyak yaa Dokter Rivan, sudah mau mengantarkan Laura ke sini."
Rivan merasa canggung dengan Barra tidak seperti biasa nya.
"Ohh, iyaa sama-sama."
Laura terus saja memeluk erat ibu nya dan membuat Barra merasa sangat hawatir sekali.
"Laura,? kamu baik-baik saja kan?. apa kamu sakit?."
Barra menghampiri Laura dan Laura pun melepaskan pelukan erat nya.
"Aku tidak apa-apa kok Mas, aku baik-baik saja."
Laura terus saja menundukan kepalanya terus-menerus.
"Mungkin Laura masih merasa sedih dan mengingat anak nya yang sudah tiada."
Ucap Rivan sambil memandangi wajah Laura.
"Ayo lihat dulu sana adik muu di dalam."
Riana menyuruh Laura untuk segera masuk ke dalam dengan terpaksa Laura, Barra dan Rivan masuk.
Gisella terlihat sedang mengendong bayi nya, Gisella tersenyum manis ketika melihat Laura yang datang.
"Gisella selamat yaa atas kelahiran putri pertama kamu, semoga selalu sehat dan menjadi anak kebanggaan orang tua nya."
Rivan menghampiri Gisella untuk melihat bayi nya.
"Terimakasih Dokter Rivan atas ucapan nya."
Rivan merasa sangat gemas sekali ketika dia melihat bayi cantik Gisella.
"Cantik sekali seperti ibu nya, boleh aku mengendong nya."
Gisella pun memberikan anak nya untuk di gendong oleh Dokter Rivan, dan membawa nya mendekati Laura.
"Selamat yaa Gisell."
Laura seperti tidak mau melihat putri cantik Gisella.
__ADS_1
"Iyaa terimakasih kaa, dan semoga saja Kak Laura pun bisa lebih hamil setelah ini. Semoga saja bayi nya kembar."
Laura begitu sangat terkejut sekali ketika melihat perkataan Gisella.
"Tidaaaaaak," ucap Laura dengan nada yang tinggi dan membuat Barra melirik mata nya.
"Kenapa tidak Laura, aku sangat menginginkan anak dari muu. Bukan kah itu adalah impian kita berdua."
Laura pun merasa tidak bisa mengatur emosi nya dia masih saja teringat dengan kejadian malam itu.
"Maksud tidak untuk sekarang karena luka ku ini, maksud aku seperti itu."
Rivan merasa Laura tidak fokus dalam semua hal.
"Barra seperti nya, Laura harus beristirahat. Bawa dulu saja dia pulang."
Barra merasa sangat berat sekali untuk meninggalkan putri cantik nya, tapi dia juga harus fokus dengan Laura.
Laura pun memilih untuk pergi keluar duluan, dan Barra pun berpamitan pulang dengan Putri cantik nya.
"Sayaaaaang, Baby Tiara. Papa pulang dulu yaa Nak. Nanti Papa pasti kembali lagi."
Barra mencium kening putri cantik nya.
"Gisella, aku pulang dulu yaa. Nanti sore kami sudah bisa pulang. Kakak sudah mempersiapkan supir pribadi untuk mengantarkan kamu pulang, kamu hati-hati yaa menjaga Tiara dan kamu juga harus banyak makan buah-buahan dan sayuran."
Gisella menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis kepada Barra.
Barra pun keluar dari ruangan tersebut.
Rivan melihat perhatian yang di berikan Barra kepada Gisella.
Rivan pun menghampiri Gisella sambil mengendong bayi nya.
"Gisella, apa yang kamu rasakan sekarang. Barra memberikan perhatian kepada kamu."
Gisella pun tersenyum sambil melamun.
"Jujur aku merasa sangat senang sekali ketika aku merasakan mempunyai suami di saat dia mengantar aku untuk periksa kandungan dia yang menyemangati aku di saat proses persalinan dia selalu ada untuk aku. Tapi aku tidak mau berlama-lama untuk tidur dan bermimpi lebih jauh, aku harus terbangun dari tidur ku dan menghapi kenyataan jika dia bukan suami kuu selama nya."
Rivan merasa sangat kagum sekali dengan Gisella yang tidak egois dia tetap ingat jika Barra itu milik Laura.
Rivan berniat ingin mempersatukan Gisella dengan Barra.
"Mungkin nanti tidak sekarang, karena belum tentu pasangan ku bisa menerima kehadiran anak kuu ini."
Rivan pun tersenyum sambil memberikan bayi itu kepada Gisella.
"Semoga secepatnya kamu bisa mendapatkan kebahagiaan itu yaa Gisella, kamu perempuan baik."
Dokter Rivan pun mencoba untuk mengupaskan buah Apple untuk Gisella.
Dan dia pun langsung menyuapi nya kepada Gisella.
Gisella terdiam sambil menutup rapat mulut nya.
"Buka mulut nya dan makan lah, kalau tidak seperti ini bagaimana kamu bisa makan banyak."
Ketika Dokter Rivan menyuapi Gisella datang lah Riana melihat mereka berdua.
Dokter Rivan tidak terkejut ketika Riana yang masuk secara tiba-tiba dia tetap bersikap tenang sambil menyuapi Gisella.
Riana mengabaikan apa dia lihat dia pun hanya fokus pada bayi Gisella.
"Sayaaaaang, sore ini kita pulang yaa. Kamar kamu yang sangat lucu sekali yang sudah di dekorasi oleh Ibu kamu."
Riana pun mengendong bayi Gisella sambil memperhatikan Gisella dan Dokter Rivan.
Tapi Dokter Rivan tetap saja menyuapi Gisella walaupun bayi nya sudah di gendong oleh ibu nya.
"Dokter Rivan, biarkan aku makan sendiri saja."
Gisella mengambil potongan appel yang ada di tangan Dokter Rivan.
"Oke baiklah, yasudah yaa Gisella. Semoga kamu secepatnya pulih yaa dan jangan lupa asupan makanan yang bergizi untuk kamu dan pertumbuhan bayi kamu juga. Saya pulang dulu yaa."
__ADS_1
Rivan menghampiri bayi Gisella.
"Om Dokter pergi dulu yaa sayaaaaang, anak cantik yang lucu sekali."
Rivan pun keluar dari ruangan tersebut dan Riana pun memperhatikan Rivan.
"Gisella, sikap Dokter Rivan begitu sangat perhatian sekali dengan kamu. Apakah kamu tidak curiga dia menyukai kamu."
Gisella pun langsung tertawa mendengar perkataan ibu nya.
"Hahaha, ibu oh ibu. Itu tidak mungkin terjadi. Dokter Rivan perhatian mungkin karena aku adalah pasien nya saja dulu ketika aku periksa kandungan."
Dokter Rivan yang masih berada di depan pintu mendengar perkataan tersebut.
"Aku harus membuat mereka percaya jika aku mempunyai perasaan terhadap Gisella, maka itu akan menutup hubungan gelap ku dengan Laura."
Dokter Rivan bergegas pergi dari Rumah Sakit tersebut.
Dokter Rivan masih melihat mobil Barra yy belum juga pergi.
Barra merasa sangat aneh sekali dengan sikap Laura yang tidak seperti biasanya.
Laura pasti akan marah-marah tidak berhenti karena kejadian dinner romantis yang gagal.
Tapi sekarang Laura lebih banyak diam dan melamun.
"Laura,? apa kamu baik-baik saja?. Aku minta maaf atas kejadian malam itu dan bagaimana jika kita melakukan kembali dinner romantis tersebut."
Laura memandangi wajah Barra dia memegang tangan Barra dan mencium nya.
"Maafkan aku Mas, Maafkan kesalahan bodoh yang sudah aku perbuat."
Ucap Laura di dalam hati nya.
"Laura kamu ini sebenarnya kenapa sih,? kamu banyak diam dan melamun seperti ini. Membuat aku sangat hawatir sekali."
Laura semakin erat memegang tangan suami nya.
"Jika aku berbuat kesalahan, apakah kamu akan memaafkan kesalahan kuu ini."
Laura menatap wajah Barra dengan mata yang berkaca-kaca.
"Memang kesalahan apa yang kamu perbuat,? jelaskan dulu apa kesalahannya."
Laura langsung melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Ayoo kita pulang saja Mas, aku merasa sangat kelelahan sekali hari ini."
Barra pun mulai menyalakan mesin mobil nya dan mereka pun menuju untuk pulang ke Apartemen mereka.
Ketika semua nya pergi datang lah Rossalinda untuk melihat Jessica.
Kedatangan nya yang telat pun mendatang kan hadiah yang istimewa untuk Gisella.
Rossalinda membawa kan bucket bunga yang besar dan buah-buahan untuk Gisella.
Rossalinda merasa sangat bersemangat sekali ketika melihat cucu pertama nya.
Rossalinda membuka pintu ruangan Gisella, dan pun langsung menghampiri bayi Gisella yang sedang di gendong oleh Nenek nya.
"Ahhhhhhh, anak ku sayaaaaang. Kamu cantik sekali. Aku lebih menyayangi muu seperti anak saja."
Rossalinda terlihat sangat bahagia sekali dia mencoba untuk menggendong bayi tersebut.
Gisella begitu sangat bahagia sekali ketika Rossalinda yang akhirnya datang untuk menengok nya.
Riana pun memilih untuk pergi dan membiarkan Gisella berbicara dengan Rossalinda.
"Terimakasih banyak atas semua yang telah kamu berikan untuk keluarga kami, kamu melahirkan penerus perusahaan besar kita. Walaupun bayi ini perempuan tapi Mama sangat yakin sekali dia bisa memajukan perusahaan besar kita."
Rossalinda terus saja memandangi wajah cantik cucu pertama nya.
"Gisella, Mama tidak bisa memberikan hadiah yang mewah untuk kamu. Mama hanya bisa memberikan perubahan kosmetik yang akan kamu urus dengan baik. Setelah kamu melahirkan nanti kamu harus sudah memproduksi shampo yang sebelumnya sudah kamu buat desain bentuk nya dan varian aroma nya. Sukses usaha itu untuk masa depan kamu nanti."
Gisella merasa sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di berikan oleh Rossalinda kepada nya.
__ADS_1
Dia akan memiliki perusahaan sendiri yang dia rancang sendiri dari awal.
Gisella di buat tidak bisa berkata-kata dia hanya bisa meneteskan air mata nya.