
Laura yang memilih untuk menyusul ke tempat pemotretan Gisella, datang di saat semua nya sedang berkumpul.
Semua mata tertuju pada mobil Laura, dan ketika Laura turun dari mobil nya dia sangat terkejut sekali ketika melihat Dokter Rivan ada di sana.
"Rivan, ada apa dia juga ke sini. Dia benar-benar datang di saat yang tidak tepat."
Karena mereka yang sudah terlanjur melihat Laura, Laura pun terpaksa harus menghampiri mereka semua.
"Ahhhhhhh, sial sekali. Jika tahu ada Rivan lebih baik aku tidak datang ke sini saja."
Gisella langsung menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya.
Mata Laura ter fokus pada Barra yang menggendong Tiara, melihat hal tersebut Gisella langsung menghampiri Tiara dan mencoba untuk menggendong nya tapi Tiara tidak mau dia memilih untuk menangis kencang.
"Sudahlah Gisella tidak apa-apa Tiara di gendong oleh Papa kandung nya, jangan di ganggu kebersamaan mereka berdua."
Ucap Rossalinda sambil melirikan mata nya kepada Laura.
Hal tersebut membuat Laura sangat emosional sekali.
"Laura, kamu terlihat sangat pucat sekali yaa. Apakah kamu lupa meminum obat penambah darah yang di anjurkan Dokter setiap hari?."
Ucapan Dokter Rivan membuat Laura bergetar, ucapan itu juga yang di katakan oleh Dokter Arman kepada nya.
"Ini hanya bawaan dari make up saja, karena kurang cerah warna yang aku pakai jadi terlihat nya seperti pucat."
Gisella meragukan kedatangan Laura untuk dirinya, dia terus saja memandangi semua properti yang ada di tempat tersebut.
"Kenapa kamu tidak memakai model internasional saja Gisella, agar produk mu ini bisa langsung terkenal."
Rossalinda tersenyum ketika mendengar perkataan dari Laura.
"Untuk apa memakai model internasional, jika wajah Gisella saja cantik seperti wanita blasteran seperti ini."
Laura merasa jika di sini semua berpihak kepada Gisella.
"Oh, begitu ya. Semoga saja langsung hoki yaa."
Gisella merasa kehadiran Laura hanya membuat suasana yang sebelumnya hangat sekarang menjadi hampa.
"Laura, apakah ada lagi seseorang yang memberikan muu bucket bunga lagu?. Ohhh seperti nya kamu mempunyai seorang pengagum rahasia."
Ucapan Barra kepada Laura yang sangat tidak pantas sekali karena berada di tempat umum.
"Apa maksud dari perkataan muu Mas, aku tidak punya pengagum rahasia yaa. Jangan pernah mencoba untuk menjatuhkan derajat kuu, karena aku setia hanya untuk hubungan rumah tangga kita ini."
Perkataan Laura yang membuat Rivan merasa sangat tidak di anggap.
"Aku setia kepada muu Mas, dan tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita di rumah tangga kita."
Laura tersenyum manis kepada Barra sambil memandangi wajah Barra.
"Semoga saja rumah tangga kalian berdua selalu damai yaa, karena rumah tangga yang damai adalah rumah tangga yang tidak pernah memberikan ijin masuk orang ke tiga ke dalam rumah tangga seseorang."
Laura terlihat sangat kesal sekali dengan ucapan Dokter Rivan.
Sedangkan Gisella memperhatikan Laura dengan Dokter Rivan yang seperti mempunyai sesuatu permasalahan atau hubungan pribadi.
"Yasudah Mas Barra, lebih baik sekarang kita pulang saja yaa. Karena seperti nya juga proses syuting dan pemotretan nya sudah selesai, untuk apa kita membuang-buang waktu kita untuk ini."
Mendengar perkataan Laura, Gisella memaksa mengambil Tiara dari gendongan Barra.
"Yasudah pergi saja Kak Laura, dan untuk Kak Barra terimakasih banyak atas dukungan Kak Barra. Aku akan terus berjuang keras sendiri."
Laura merasa jika Gisella sudah mulai berani terhadap dirinya, Gisella sudah tidak sabar seperti dulu.
"Baiklah kita berdua pergi dulu yaaa semua nya."
Laura menggandeng tangan Barra sambil menyenderkan kepalanya ke pundak Barra.
Hal tersebut pun membuat Dokter Rivan terbakar api cemburu.
"Barra, jangan lupa kamu harus sering melihat Tiara. Dia butuh kasih sayang dari Papa nya."
Laura terkejut ketika mendengar hal tersebut.
"Yaa, tapi tidak harus setiap hari yaa karena berdua bertemu karena suami ku juga butuh waktu bersama dengan istri nya. Apalagi kita berdua berniat untuk memiliki anak yang ke dua dan kita harus ingin pergi honeymoon kembali."
Perkataan Laura semakin membuat Gisella merasa sangat jengkel sekali dengan Kakak nya tersebut.
"Jika pergi ke mana-mana jangan lupa yaa Kak Barra membawa minyak angin, karena cuaca sekarang sangat rawan masuk angin. Seperti mual-mual seperti itu yaa."
__ADS_1
Dokter Rivan melirikan mata nya kepada Gisella, dia merasa jika Gisella mengetahui tentang kehamilan Laura.
"Sudahlah, sangat tidak penting sekali perkataan mu Gisella. Kami berdua pamit pulang dulu yaa."
Laura menarik tangan Barra tapi Barra melepaskan genggaman tangan Laura.
Barra menghampiri Mama nya yang sedang menggendong Tiara.
"Tiara sayaaaaang, Papa pulang dulu ya sayang. Nanti besok kita bertemu kembali. Tiara baik-baik yaa jangan rewel kasihan ibu Gisella nya."
Laura memilih untuk berjalan duluan menuju ke dalam mobil nya, dia menunggu suaminya.
Setelah Barra berpamitan dia pun dengan terpaksa harus mengikuti apa keinginan Laura.
Laura membiarkan suami nya yang membawa mobil.
Barra melambaikan tangan nya ketika mobil hendak pergi, dia terus memandangi wajah Tiara.
Barra merasa masih ingin bersama dengan Tiara.
"Mas, tadi sebelum aku ke sini aku pergi untuk memeriksa kondisi kehamilan kuu Mas. Dan Dokter bilang semua sehat dan aku sangat senang sekali loh Mas."
Laura hanya melihat ekspresi wajah Barra yang datar ketika mendengar perkataan nya tentang kehamilan nya.
"Mas, aku berharap besar sih sebelum nya kalau bayi kita ini adalah kembar. Supaya kamu bahagia di sibuk dengan anak-anak kita nanti."
Barra tidak mengerti kenapa dia tidak merasa tidak senang ketika mendengar hasil dari pemeriksaan anak ke dua nya.
Tidak seperti di awal kehamilan Laura dia sangat antusias sekali.
Laura pun begitu sangat sedih sekali ketika melihat ekspresi wajah Barra yang biasa saja ketika dirinya menceritakan perkembangan bayi dalam kandungan nya.
Laura semakin ketakutan sekali jika ternyata bayi yang ada di kandungan itu adalah anak Rivan bukan Barra
"Semoga saja kehamilan kamu yang sekarang selalu sehat dan kuat sampai saat nya hari persalinan nanti."
Barra tidak melirikan mata nya sama sekali kepada Laura ketika dia mengatakan hal tersebut.
"Kamu kenapa sih Mas, kamu jadi berbeda seperti ini di kehamilan ku yang ke dua. Bersikap datar seperti ini tidak perhatian sama sekali tidak seperti dengan kehamilan yang pertama padahal kan ini juga sama anak kamu juga Mas."
Barra tiba-tiba saja langsung memberhentikan mobil nya.
"Yaa jelas anak aku memang anak siapa lagi, sudah Laura kamu jangan terlalu berlebih-lebihan seperti ini. Yang penting sekarang kamu harus fokus dengan kehamilan kamu tidak seperti yang pertama lebih mementingkan perusahaan dari pada kehamilan."
"Aku minta maaf Mas, tapi ada yang ingin aku bicara dengan kamu Mas."
Barra melirikan mata nya kepada Laura.
"Aku ingin kita pergi dari Apartemen itu Mas, atau kita jual saja Apartemen itu. Dan kita cari yang baru bagaimana Mas."
Laura ingin sekali melupakan apa yang sudah di lakukan bersama dengan Rivan di Apartemen itu.
"Kenapa harus sampai di jual,? dan kenapa kamu ingin pergi dari Apartemen itu. Itu adalah Apartemen kamu kan Laura dan kamu merasa nyaman dengan Apartemen itu kan."
Laura harus bisa menjelaskan dengan baik kepada Barra, dia tidak mau Barra mencurigai nya.
"Hmmmmm, yaa aku merasa sangat nyaman tapi aku ingin sekali suasana yang baru Mas. Aku ingin Aparat yang dekat dengan Kantor aku. Jadi aku tidak terlalu lama untuk pergi ke kantor."
Barra masih belum bisa menerima penjelasan dari Laura.
"Lalu sekarang kita akan pergi ke mana,? tetap ke Apartemen yang dulu kan."
Barra pun dengan cepat mengendarai mobil nya, agar secepatnya sampai di Apartemen nya.
Laura tidak ingin tinggal di Apartemen itu lagi, dia harus melakukan apa agar Barra mau pindah.
Mereka berdua pun berjalan menuju ke kamar mereka dan ketika Barra mau membuka pintu terdapat bucket bunga mawar putih di depan pintu.
Laura pun semakin ketakutan nya, bodoh nya dia tidak membuang bunga tersebut.
Barra mengambil bunga mawar putih tersebut, bunga yang masih sangat segar dan wangi.
Laura memilih menghindar dari Barra, dia memilih untuk mundur.
"Bunga ini seperti nya baru, Kamu mendapatkan bunga mawar putih dan Gisella mendapatkan bunga berwarna ungu. Apakah mungkin mereka orang yang sama?."
Laura merebut bunga tersebut dari tangan Barra dan melemparkan nya.
"Aku tidak menginginkan bunga mawar putih tersebut, dan lebih baik buang saja."
Barra pun terdiam ketika melihat sikap Laura yang salah tingkah seperti itu.
__ADS_1
Laura menghampiri Barra dia memegang tangan Barra.
"Aku mohon yaa jangan berpikiran negatif terhadap aku, aku sungguh tidak tahu siapa yang memberikan bucket bunga itu Mas."
Genggaman tangan Laura begitu sangat kuat sekali mata Laura pun berkaca-kaca, Laura sebelum nya tidak pernah seperti ini.
"Lepaskan genggaman tangan muu ini Laura, ini begitu sangat sakit ku rasakan. Lebih baik sekarang kita masuk saja ke dalam."
Laura tetap tidak mau melepaskan genggaman tangan nya, dia semakin ketakutan sekali.
"Laura apakah kamu tidak mendengar perkataan kuu, lepaskan genggaman tangan muu ini."
Laura menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil menangis.
"Tidak Mas, aku tidak akan pernah melepaskan genggaman tangan ini. Aku juga tidak akan pernah melepaskan mu dari hidup kuu."
Barra semakin mencurigai Laura, karena dia tidak pernah melihat Laura yang seperti ini.
Laura yang bisa nya bersuara lantang, tidak lemah seperti ini.
"Apa yang kamu sedang sembunyikan dari kuu Laura,? apa kamu sembunyikan. Sampai kamu seperti ini kamu seperti menutupi sebuah kesalahan atau kamu memiliki sebuah masalah besar?."
Barra terus menatap wajah Laura, dia begitu sangat memperhatikan Laura.
Laura menarik nafas nya dalam-dalam.
"Aku tidak mau kehilangan muu, aku tidak mau kamu bersama dengan Gisella kembali."
Barra melepaskan paksa genggam erat tangan Laura, sampai dia merasa sakit.
"Apa hubungan dengan Gisella,? kenapa kamu selalu saja memasukkan Gisella di setiap permasalahan rumah tangga kita. Gisella tidak tahu apa-apa tentang ini."
Barra yang merasa sangat kesal dia memilih untuk meninggalkan Laura sendiri di Apartemen nya.
Melihat Barra yang sudah pergi dan menutup rapat pintu keluar.
Laura pun berjalan menghampiri cermin besar dan dia memandangi wajah nya.
"Aku takut jika kamu mengetahui perselingkuhan yang aku lakukan dengan Rivan, dan aku pun sangat takut jika ternyata bayi ini adalah bukan anak kamu dan kamu pasti akan lebih memilih meninggalkan kuu dan menghabiskan waktu bersama dengan Gisella."
Laura menangis di depan cermin sambil membayangkan kembali hal bodoh yang sudah dia lakukan.
"Laura, kenapa kamu serendah ini Laura. Kenapa harga diri mu begitu sangat murah sekali."
Laura menangis histeris sambil berteriak-teriak menjambak rambut panjang nya.
Barra memilih untuk mengambil bucket bunga mawar putih tersebut, dia akan kembali ke lokasi pemotretan Gisella.
Barra berharap jika Rivan masih ada di lokasi pemotretan tersebut.
"Apakah benar bunga ini Rivan yang memberikan nya, kenapa dia memberikan bunga kepada Laura dan juga Gisella. Apa maksud dari ini semua, dia menginginkan Laura dan juga Gisella secara bersamaan an."
Barra mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali, Barra seperti di buat lupa dengan emosional yang tinggi.
Dan akhirnya Barra pun sampai di tempat tersebut, dia pun berlari sambil membawa bucket bunga mawar putih yang sudah rusak karena di lempar oleh Laura.
Rivan melihat Barra yang membawa bucket bunga mawar putih yang sengaja dia berikan untuk Laura.
Dan Rivan pun berpikir jika Laura dan juga Barra sedang bertengkar.
Rivan memilih untuk mendekati dirinya dengan Gisella, Rivan pun memegang tangan Gisella.
Beruntunglah Rossalinda tidak berada di sana, dia yang memilih membawa Tiara untuk pergi melihat bunga-bunga.
Gisella sangat terkejut sekali ketika Rivan yang tiba-tiba memegang tangan nya.
Rivan pun tersenyum manis ketika melihat Barra datang.
"Apakah bunga ini adalah bunga pemberian dari muu untuk Laura,? begitu juga dengan bunga mawar merah yang sebelumnya sudah ada di depan pintu Apartemen."
Barra begitu sangat serius sekali tetapi dia melihat Rivan memegang tangan Gisella dan Gisella pun terdiam.
"Yaa, itu memang bunga pemberian dari ku untuk Laura. Hanya untuk sebagai tanda persahabatan karena Laura yang masih saja membenci kuu karena kehilangan anak nya."
Barra pun terus saja memandangi tangan Rivan, dan Gisella lebih memilih untuk diam saja.
"Aku lebih ingin dekat dengan Gisella, dari pada dengan Laura. Aku mengetahui jika Laura sekarang sedang hamil anak kedua kan, dia memilih memeriksa kehamilan dengan Dokter Arman sahabat kuu. Tidak mungkin kan aku mencintai wanita yang sedang hamil anak siapa."
Gisella terkejut ketika ketika mendengar perkataan Rivan yang mengatakan anak siapa.
Tapi Barra tidak menanggapi hal tersebut dia pun langsung melemparkan bunga mawar putih tersebut ke arah Rivan.
__ADS_1
"Jangan lagi memberikan bunga untuk Laura, itu hanya akan membuat ku marah."
Barra memilih untuk pergi dari tempat tersebut dan Gisella pun langsung melepaskan genggaman tangan Rivan.