
Laura mulai beraktifitas di kantor nya, dia begitu sangat bersemangat sekali. Ini adalah hari pertama nya dia kembali masuk ke kantor setelah sekali lama dia cuti karena kesehatan kandungan nya.
Laura mempercayai semua pekerjaan kantor nya kepada Asisten pribadi nya.
Kedatangan Laura membuat para pegawai nya sangat terkejut sekali, karena dia datang di jam istirahat.
Laura pun langsung masuk ke dalam ruangan pribadi nya, dia melihat data penjualan produk kosmetik nya.
"Ahhhhhh, sudah ku duga kan. Penjualan menurun drastis seperti ini."
Laura melemparkan berkas tersebut ke atas meja kerja nya.
"Apa jadinya jika aku tidak ada terus di kantor ini, bisa bangkrut produk kosmetik ku ini."
Laura tidak bisa menyalahkan asisten pribadi nya, dia pun mulai harus bisa bekerja keras kembali untuk menstabilkan kembali penjualan produk kosmetik nya.
"Aku harus lebih semangat lagi mempromosikan produk kosmetik ku di media sosial, ahhhh semoga saja kandungan ku kuat dan tidak terjadi apa-apa."
Laura memegang terus kandungan nya.
"Maafkan Mommy yaa Nak, kita harus berkerja sedikit keras. Kamu sehat-sehat yaa di kandungan Mommy."
Laura mulai seperti dari nol kembali, dia mengumpulkan semua pegawai nya untuk melakukan rapat dadakan.
Laura membicarakan tentang penurunan penjualan produk kosmetik nya.
Selesai rapat Laura merasa sangat kelelahan sekali, dia pun tidak berdaya di kursi kerja nya.
"Apa yang harus aku lakukan yaa, agar penjualan ku bisa meningkatkan kembali. Apakah aku harus mengeluarkan varian yang baru atau produk skincare untuk kulit sensitif."
Laura terus-menerus memikirkan apa yang dia lakukan, sampai akhirnya Laura ketiduran di kursi kerja nya.
Barra memilih untuk pulang ke Apartemen Laura, dengan menggunakan kunci ganda nya.
Barra melihat Apartemen Laura yang sepi dan kosong.
"Laura, dia pergi ke mana yaa. Jika dia pergi ke kantor ini sudah waktunya dia pulang dari kantor."
Barra mencoba untuk menghubungi nomer handphone Laura, karena Laura yang terlalu kelelahan dia pun tidak menyadari handphone yang berdering kencang berkali-kali.
Tidur Laura begitu sangat pulas sekali, dia tidak mendengar dering telepon yang sangat kencang.
Sampai akhirnya Asisten pribadi Laura, mendengar dering telephone tersebut.
"Astaga, seperti itu panggilan telephone dari suami nya. Bu Laura ketiduran seperti nya dia sangat kelelahan sekali."
__ADS_1
Asisten pribadi Laura pun masuk ke dalam ruangan pribadi Laura, dia merasa sangat kasihan jika dia harus membangunkan Laura.
"Lebih baik aku, yang jawab panggilan telephone ini saja."
****Hallo, selamat sore Pak Barra. Ini saya dengan asisten pribadi nya Bu Laura Renita.*
*Oh, Lalu Laura nya sedang apa yaa?. kenapa dia belum pulang juga.*
*Bu Laura , ketiduran di ruangan Pak. Dia kelihatan sangat kecapean sekali. Saya tidak berani untuk membangun kan ibu Laura nya.*
*Oke, baiklah saya yang akan ke sana membawa Laura untuk pulang.*
*Baiklah Pak***.*
Barra mengakhiri panggilan telephone dia langsung bergegas pergi ke kantor Laura.
"Laura, sudah di bilang jangan terlalu cape tidak baik untuk kesehatan kandungan nya."
Di perjalanan menuju ke kantor Laura, Barra merasakan kepanikan yang luar biasa.
"Semoga saja kandungan Laura baik-baik saja, kandungan Laura selalu sehat dan kuat."
Barra sampai di depan kantor Laura, dia pun dengan sangat cepat berjalan menuju ke ruangan Laura.
Barra melihat Asisten pribadi Laura yang setia menemani Laura.
Asisten pribadi itu pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Barra melihat wajah kelelahan Laura, Barra pun mencari berkas penting milik perusahaan Laura.
Barra ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan perusahaan nya.
Barra membaca berkas penting tersebut dia melihat penurunan penjualan yang sangat drastis pada produk kosmetik skincare milik Laura.
Barra merasa Laura sangat berpengaruh terhadap nasib perusahaan nya, dan Asisten pribadi pun tidak mampu untuk mengganti kan posisi Laura.
"Lebih baik aku bawa pulang saja Laura sekarang juga."
Barra yang merasa sangat kasihan sekali melihat istrinya, dia memutuskan untuk menggendong Laura menuju ke mobil nya.
Barra yang tidak tega untuk membangunkan Laura yang sedang tertidur pulas.
Barra menidurkan Laura di kursi belakang mobil nya.
"Maafkan aku yaa Laura, semoga saja kamu tidak terbangun dari tidur lelap mu."
__ADS_1
Barra menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sangat rendah sekali, dia tidak mau istri sampai terbangun.
"Jika melihat dari hasil penjualan produk kosmetik Laura seperti ini, apa yang akan di lakukan oleh Laura. Dia pasti harus berkerja sangat keras sekali."
Laura tiba-tiba saja sangat terkejut sekali ketika dia membuka ke dua mata nya secara perlahan.
Dia sedang berada di dalam mobil sedangkan dia merasa jika dia sebelumnya masih di dalam ruangan nya.
Laura menutup kembali mata nya, pikiran pun langsung negatif.
"Kenapa aku tiba-tiba saja ada di sebuah mobil, apa jangan-jangan aku sedang di culik seseorang."
Ucap Laura di dalam hati nya dengan mata yang masih tertutup.
Barra melihat Laura yang masih tertidur pulas.
"Seperti nya aku harus mengendong Laura kembali, walaupun sebenarnya sangat berat sekali."
Mendengar suara suami nya, Laura pun terbangun dari tidurnya.
Ketika Barra membuka pintu mobil nya dia melihat Laura yang sudah duduk.
"Laura,? kamu sudah bangun. Kenapa sangat cepat sekali."
Dengan sangat hati-hati Laura pun keluar dari mobil nya.
"Aku tidak mau membuat kamu cape karena harus mengendong aku yang sangat berat sekali."
Laura pun berjalan mendahului suami nya sehingga dirinya sampai di Apartemen duluan.
Laura mencoba untuk tenang seperti tidak terjadi apa-apa di perusahaan nya.
Barra pun mulai ingin bertanya kepada Laura.
"Laura bagaimana dengan kondisi produk kosmetik mu, setelah di ambil alih sejenak oleh Asisten pribadi mu itu."
Laura tidak mau suami sampai tahu jika penjualan produk kosmetik menurun, Laura tidak mau Barra menyuruh Gisella untuk membantu dirinya.
"Semua nya baik-baik saja kok, sebenarnya yaa Aku mandi dulu yaa. Badan terasa sangat berkeringat begini."
Laura pun pergi meninggalkan Barra, dan Barra pun tidak menyangka kenapa istri nya harus berbohong kepada nya.
"Kenapa Laura harus berbohong kepada ku, apa yang dia pikirkan. Apa dia masih saja membahas tentang Gisella lagi."
Barra memilih untuk diam saja dia tidak mau harus selalu bertengkar dengan Laura. Apapun yang dilakukan oleh Laura dia pasti mendukung nya.
__ADS_1
Laura merasa ingin sekali bertemu dengan Dokter Rivan, dia ingin menceritakan semua keluh kesah nya.
Semenjak dirinya selalu bertengkar dengan Barra, Laura merasa sangat nyaman sekali berada di samping Dokter Rivan.