Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *157*


__ADS_3

Laura begitu sangat putus asa sekali dia merasa sudah tidak ada lagi seseorang yang peduli kepada nya.



Laura seperti ingin mengakhiri hidup nya, tapi dia melihat ada masa depan Indah bersama dengan anak nya nanti.


"Aku sudah merasa tidak ada lagi yang sayang kepada ku, jika aku tidak mengingat anak yang ada di dalam kandungan ku ini. Untuk apa aku hidup di dunia ini."


Laura terus saja memegang perut nya, dia memikirkan bagaimana masa depan anak nya. Jika perusahaan nya yang bisa saja bangkrut.


"Jika sampai perusahaan ku bangkrut, aku lebih memilih untuk tinggal bersama dengan ayah dan ibu saja. Aku tidak mau kembali masuk ke dalam rumah itu."


Laura merasa sangat pusing sekali di saat dia berdiri dia seperti melayang.


"Tidak, Tidaaaaaak. Aku tidak mau kembali masuk ke rumah sakit, aku harus sehat aku tidak boleh lemah seperti ini."


Laura memilih untuk tetap duduk sampai merasa dirinya baik-baik saja.


***


Barra terus saja memikirkan bagaimana dengan kondisi Laura, dia menghawatirkan Laura.


"Aku tidak bisa menutupi rasa hawatir ku kepada Laura, tapi tidak mungkin menemui Laura dengan kondisi wajah yang seperti ini."


Barra memandangi wajah nya di cermin, memar di wajah nya yang tidak bisa dia tutupi rasa sakit nya.


"Laura, semoga saja kamu baik-baik saja di sana."


Barra membaringkan tubuh nya dia mendapatkan informasi jika perusahaan nya di ambil alih oleh Mama nya.


Rossalinda tidak mau terlalu percaya terhadap orang lain, walaupun itu adalah asisten pribadi Barra yang bisa di bilang sudah berkerja sama cukup lama.


Barra memegang handphone nya, dia berniat untuk mengirimkan pesan kepada Laura.


*Laura, kamu sedang berada di mana sekarang?. Kamu baik-baik saja kan di sana.*


Laura yang sedang merasakan sakit di kepalanya, dia pun membalas pesan dari suami nya tersebut.


*Mas, aku pusing sekali. Aku sekarang sedang berada di Apartemen. Kamu kapan pulang Mas,? aku sangat membutuhkan kamu saat ini Mas.*


Barra merasa sangat tidak tega membaca pesan dari Laura.

__ADS_1


"Yaa Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang. Di saat aku seperti ini istri ku juga membutuhkan aku di samping nya."


Barra merasa sangat kebingungan sekali dia harus bagaimana sedang memar yang ada di wajah belum juga sembuh.


"Jika aku menemui Laura dengan kondisi wajah ku yang seperti ini, Laura akan sangat panik dan di tambah jika Laura mengetahui jika Erlangga yang sudah melakukan nya dan dia juga mengetahui tentang pernikahan kontrak ini."


Barra membiarkan pesan dari Laura, dia belum bisa membalas pesan tersebut.


Barra masih sangat binggung apa yang harus dia katakan kepada Laura.


Laura menunggu balasan pesan dari suami nya tersebut, dia berharap besar suami nya bisa datang ke Apartemen nya.


"Mas, balas pesan dari ku ini Mas. Aku mohon Mas, pulang aku butuh pelukan hangat dari kamu."


Laura terus saja memandangi layar handphone yang ada di hadapannya.


Barra masih saja berpikir apa yang harus dia lakukan, dia tidak mau kabar ini membuat kondisi kesehatan kehamilan Laura terganggu dengan berita ini.


Barra membaringkan tubuh nya, dia mencoba untuk menenangkan pikiran nya tapi itu tidak bisa. Barra terus saja memikirkan Laura.


Laura menunggu balasan pesan dari Barra, dia pun membaringkan tubuh nya di sofa Apartemen nya.


Laura memejamkan mata nya dia berharap semua ini hanya mimpi di saat dia sedang tertidur lelap.


***


Gisella menutup rapat pintu kamar nya dan dia mengunci nya.


Gisella merasa tidak percaya dengan perkataan Rangga.


"Aku sangat takut sekali Barra mengatakan hal ini ke media massa, bisa-bisa perusahaan Kak Barra bangkrut. Karena CEO nya menikah dengan Adik Ipar nya sendiri."


Gisella pun memilih untuk mencoba menghubungi Barra.


"Aku harus tahu bagaimana dengan kondisi Kak Barra, aku seperti bukan karena aku perhatikan karena perasaan. Aku hanya hawatir sekali."


Gisella memberikan diri untuk menelephone Barra, walaupun dia merasa sangat takut ketahuan Laura.


***Hallo Kak Barra, aku sudah mengetahui semuanya. Rangga yang sudah memberitahu aku.


*Gisella, sekarang Kak Barra sedang berada di Hotel. Kakak tidak berani pulang karena jika Laura mengetahui nya dia akan menambah pikiran nya. Apalagi sekarang juga perusahaan kosmetik milik Laura sedang bermasalah**.

__ADS_1


Gisella pun mengingat kembali kedatangan Laura ke kantor Rossalinda.


"Pantaslah Kak Laura terlihat sangat emosional sekali ketika dia datang ke kantor Mama Rossa."


*Kenapa Kakak tidak pulang saja, setidaknya menemani Kak Laura. Dan jangan dulu menceritakan tentang Rangga yang sudah mengetahui semuanya.*


Barra tidak mungkin memberitahu Gisella, jika Rangga membuat dirinya babak belur.


Jika Gisell mengetahui nya dia pasti langsung menghubungi Rangga, dan masalah nya semakin panjang.


*Kak Barra, aku sudah bilang kepada Rangga. Agar dia mau merahasiakan permasalahan ini. Tapi aku juga tidak percaya 100% dia akan menjaga rahasia ini. Karena Barra yang sejak awal pernikahan dia memang sudah mencurigai pernikahan ini.*


Pikiran Barra menjadi sangat berat sekali, dia tidak tahu harus bagaimana lagi.


***Yasudah Gisella, kita bisa bicarakan lagi dengan Rangga tentang masalah ini dengan secara kekeluargaan. Sekarang lebih baik kamu istrirahat saja yaa, kamu jangan memikirkan masalah ini yaa Gisella.


*Baiklah Kak, kalau begitu aku istirahat dulu yaa**.


Gisella mengakhiri panggilan telephone nya, dia pun duduk di atas tempat tidur sambil melamun.


"Bagaimana jika Kak Laura mengetahui semuanya ini, di saat bisnis kosmetik nya sedang bermasalah dan perusahaan Kak Barra pun terancam permasalahan juga."


Gisella hanya bisa mengelus perut besar nya, dan Gisella pun langsung berpikir jika kemewahan tidak selamanya akan abadi.


"Ternyata hidup mewah tidak selamanya selalu mewah, semakin banyak harta kekayaan. Semakin besar juga beban kehidupan nya."


Gisella berjalan menuju ke jendela kamar nya, dia membuka gorden kamar nya.


Gisella melihat banyak nya bintang di langit malam.


"Apakah, aku akan bisa selalu bersinar menyinari kehidupan ku ini. Kehidupan yang penuh dengan drama seperti ini, dan apakah aku lagi yang akan di salahkan oleh kak Laura ketika permasalahan yang terus menerus datang pada keluarga Kak Barra."


Gisella menutup kembali gorden jendela kamar nya, dia kembali ke tempat tidur nya.


Gisella terbaring sambil memeluk boneka kesayangan nya.


"Semoga saja ini adalah sebuah mimpi yang ketika aku sudah terbangun dari tidur ku, semua permasalahan ini sudah selesai."


Gisella menarik selimut tebal nya, hati nya tidak bisa di bohongi.


Gisella seperti akan tahu perkataan - perkataan apa yang akan keluar dari mulut Laura.

__ADS_1


Ketika dia mengetahui Rangga mengetahui pernikahan kontrak ini.


__ADS_2