
Barra membuka pintu kamar nya dan Laura pun langsung berdiri menghampiri suami nya.
Barra langsung memeluk erat Laura dan mencium kening nya.
Laura pun mengajak Barra untuk duduk di kasur sambil memegang tangan nya.
"Ada apa Mas,? apa yang di katakan oleh Mama Rossa."
Tatapan mata Laura begitu sangat serius sekali kepada Barra.
"Mama membicarakan tentang rencana pernikahan itu dan dia sangat berharap acara pernikahan tersebut harus privasi jangan sampai ada satu pun staf atau karyawan di perusahaan tau."
Laura pun langsung terdiam dia mengingat jika Gisell yang seperti sedang mempunyai permasalahan pribadi.
"Mas, tadi aku bertemu dengan Gisella di rumah. Aku berniat untuk membawa Gisella untuk menginap di sini tapi dia tampak seperti sangat kecewa dan sedih sekali, aku sangat ketakutan sekali dia membatalkan rencana pernikahan ini."
Wajah Laura terlihat sangat cemas sekali dia sangat ketakutan apa yang sudah dia rencana kan selama ini musnah begitu saja.
"Laura, di dalam pernikahan ini bukan hanya kamu dan aku yang mengobarkan cinta. Tapi juga Gisella dia juga pasti mempunyai seorang yang dia sayangi dan harus dia tinggalkan demi pernikahan ini."
Barra memegang erat tangan Laura sambil menatap wajah Laura.
"Laura, bisakah kamu jangan mempermudah semua ini. Kasihan Gisella jika harus selalu mengikuti apa yang kamu inginkan dia juga butuh waktu untuk beradaptasi dengan semua ini."
Laura menundukkan kepalanya dia merasa sangat bersalah sekali.
"Yasudah, lebih baik kamu sekarang istrirahat saja yaa. Aku masih ingin membicarakan sesuatu dengan Mama tentang masalah pernikahan besok."
__ADS_1
Barra mencium kening Laura dan meninggalkan Laura di kamar nya.
"Maafkan Kakak yaa Gisell, kakak egois yang hanya memikirkan keinginan Kakak saja. Tampa memikirkan bagaimana perasaan kamu."
Perasaan Laura begitu sangat ketakutan sekali.
"Bagaimana jika besok Gisella tidak datang dan dia memilih untuk pergi."
Laura mengambil handphone nya dia ingin menghubungi Gisella tapi dia pun merasa sangat bersalah.
"Gisella pasti sedang sedih sekali jika aku mencoba untuk menghubungi nya dia pasti sangat sedih sekali dan mungkin marah."
Laura merasa serba salah harus berbuat apa.
"Aku tidak mungkin bisa tidur nyenyak dengan pikiran kuu yang seperti ini, aku tidak mungkin bisa beristirahat dengan tenang pikiran kuu hanya memikirkan rencana pernikahan ini."
Barra melihat Laura keluar dari kamar nya.
"Ada apa dengan Laura,? kenapa dia tiba-tiba saja keluar dari kamar nya. Bukan kah biasanya ini adalah jam istirahat dia."
Rossalinda terus memperhatikan Laura yang berlari dari kamar nya.
"Apakah Mama sudah memberikan uang itu kepada Gisella,? dan apakah Mama yakin ini semua akan berjalan dengan lancar."
Barra mencoba untuk meminta pendapat Mama nya.
"Mama sudah mentransfer kan uang 100 juta kepada Gisella, dan Mama sangat yakin sekali jika dia pasti bertanggung jawab dan acara pernikahan ini akan berjalan dengan lancar."
__ADS_1
Rossalinda begitu sangat yakin sekali dengan Gisella dan dia seperti lebih menyukai Gisella dari pada Laura.
"Mama melihat Gisella itu lebih kuat dan tegar dari pada Laura dan dia seperti nya lebih pintar untuk berbisnis dengan perusahaan kita ini."
Barra sangat terkejut sekali ketika Mama nya sudah merencanakan sesuatu untuk Gisella kedepan nya.
"Mama berencana untuk memasukkan Gisella untuk berkerja sama dengan perusahaan kita,? apakah itu semua terjadi jika Gisella bisa memberikan keturunan untuk keluarga kita."
Pertanyaan Barra membuat Rossalinda melirikan mata nya.
"Yaa, karena Mama pasti sangat menghargai Gisella. Mama harus menghargai pengorbanan Gisella dan tidak mungkin Mama mengabaikan Gisella begitu saja dia harus sukses."
Barra langsung terdiam mendengar perkataan dari Mama nya.
"Yasudah Mam, seperti nya pembicaraan kita selesai. Aku ingin menyusul Laura dia pasti sangat butuh aku di samping nya."
Barra pun memilih untuk meninggalkan Mama nya dia langsung berlari menghampiri Laura.
"Aku tidak mengerti akan berakhir seperti apa hubungan ini. Mereka semua saling mengorbankan perasaan hati mereka, aku memang sangat menginginkan kehadiran cucu dari Barra tapi melihat dari untuk Laura yang sampai sekarang belum juga memberikan keturunan untuk keluarga ini rasa hawatir ku sangat tinggi sekali jika Laura tidak bisa memberikan keturunan untuk Barra."
Rossalinda memandangi Laura dan Barra yang sedang berada di luar rumah.
"Semoga saja Gisell bisa segera memberikan keturunan untuk kalian dengan sangat cepat sehingga kalian berdua bisa bahagia."
Rossalinda yang keras hati dan tegas pun bisa meneteskan air mata nya ketika melihat Laura.
Dia merasakan jika dirinya berada di posisi Laura.
__ADS_1