Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (80)


__ADS_3

Laura masih saja memikirkan Barra bagaimana jika dia mengetahui Gisella sakit maka rencana honeymoon mereka berdua akan batal begitu saja dan Barra akan bersikap berlebih-lebihan kepada Gisella.


"Apakah ini tanda nya Gisella sudah hamil,? atau dia hanya sakit biasa kan bukan karena dia sedang hamil."


Laura begitu sangat serius memandangi wajah Ayah nya.


"Sekarang berikan alamat Rumah Sakit nya, aku akan pergi ke sana Yah."


Ayah Laura pun memberitahu Laura alamat Rumah Sakit nya dan Laura pun langsung berlari menuju ke mobil nya dengan membawa buah-buahan nya.


"Hati-hati Laura jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya."


Teriak Ayah Laura yang merasa sangat hawatir sekali dengan Laura.


"Hah, Gisella secepat ini kah dia bisa memberikan keturunan untuk Mas Barra. Jika ini terjadi maka Mas Barra akan lebih banyak meluangkan waktu nya untuk Gisella aku akan di lupakan begitu saja."


Laura begitu sangat ketakutan sekali tapi dia berpikir sejenak bukan ini yang dia tunggu-tunggu kehamilan Gisella.


"Kenapa aku bisa sebodoh ini ya, aku merasa jika aku mampu memberikan keturunan untuk Mas Barra tapi jika Gisella sampai hamil mungkin ini adalah sudah jalan takdirku."


Laura sampai di rumah sakit tersebut dan dia bertemu dengan Rangga.


Laura pun langsung berlari menghampiri Rangga.


"Rangga bagaimana dengan kondisi Gisella sekarang dia sakit apa,?"


Rangga merasa Laura begitu sangat panik sekali.


"Gisell, dia merasa pusing dan lemas. Tapi besok dia sudah mulai bisa pulang karena dia sudah membaik."


Mendengar kondisi Gisella dari Rangga, Laura pun memilih langsung masuk ke dalam Rumah Sakit dan mencari ruangan Gisella.


Setelah mencari dan bertanya akhirnya Laura menemukan kamar Gisella.


Laura pun membuka pintu tersebut secara perlahan-lahan dan ternyata benar saja Gisella yang sangat pucat sekali sedang terbaring lemah.


Gisella dan Ibu nya pun hanya bisa terdiam ketika melihat kedatangan Laura.

__ADS_1


"Gisell, kenapa kamu bisa sampai seperti ini?. Kamu harus menjaga kesehatan kamu."


Laura menghampiri Gisella dan Gisella pun mencoba untuk menyenderkan tubuhnya ke bantal.


"Dokter bilang Gisell kurang istirahat dan banyak pikiran, seperti nya Gisell memikirkan tentang rumah tangga nya bersama dengan Barra."


Laura merasa sangat terkejut sekali ketika mendengar perkataan tersebut dari Ibunya.


"Apa yang harus kamu pikirkan dengan hubungan kamu dengan Mas Barra,? tugas kamu hanya memberikan keturunan untuk keluarga Mas Barra sudah itu saja Gisella. Kamu tidak perlu memikirkan bagaimana cara melayani Mas Barra dan tidak perlu memikirkan apa pun tentang Mas Barra karena semua itu adalah tanggung jawab Kakak sebagai istri sah nya Mas Barra."


Gisella merasa kedatangan Laura hanya membuat kondisi nya menjadi menjadi lemah kembali.


"Laura, walaupun Gisell itu hanya wanita pengganti untuk bisa memberikan anak untuk Barra. Tapi Gisell juga adalah istri sah Barra juga dan Barra berhak bertanggung jawab atas kewajiban sebagai seorang suami memberikan nafkah lahir dan batin."


Riana merasa sangat kesal sekali dengan sikap keegoisan Laura.


"Makanya Laura kamu itu adalah wanita yang pintar kan, kenapa kamu dengan dengan mudah nya menginginkan pernikahan kontrak itu sedangkan kamu sendiri tidak memikirkan dampak ke depan nya seperti apa."


Laura pun menundukan kepala nya ketika ibunya terus saja bicara kepada nya.


Gisella meneteskan air mata nya dan dia merasa sangat sedih sekali.


"Lebih baik sekarang Kak Laura pergi saja, sekarang aku sudah tahu jika Kak Laura menyesal telah menikah kan aku dengan Kak Barra dan kita lihat saja sampai akhir bulan. Bawa aku ke Dokter Specialis Kandungan untuk melihat kondisi rahim aku. Jika memang aku tidak hamil lebih baik kita akhiri saja pernikahan kontrak ini."


Gisella sudah merasa sangat kesal sekali dengan Laura.


"Yaa, ibu setuju dengan apa yang di katakan oleh Gisella. Agar Gisella bisa menggapai masa depan yang cerah tidak seperti ini kamu seperti hanya ini menghancurkan masa depan adik kandung kamu saja. Mempermainkan perasaan adik kamu."


Laura tidak bisa berkata-kata ketika Gisella sudah berkata seperti itu.


"Uang 100 juta belum aku pakai Kak, nanti akan aku kembalikan."


Laura merasa sangat tidak nyaman sekali berada di ruangan tersebut dan memilih untuk pergi.


"Laura meminta maaf kepada Buu, kalau begitu lebih baik Laura pergi saja. Dan kamu Gisella semoga kamu bisa secepatnya pulang."


Laura menaruh buah-buahan yang dia beli di meja dan dia pun langsung meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Melihat Laura yang sudah keluar dari ruangan nya, Gisella semakin yakin jika dirinya akan berniat untuk mencari pekerjaan setelah dia sembuh dari sakit nya.


"Buu, aku tidak bisa seperti ini terus. Aku akan mencoba untuk mencari pekerjaan karena aku tidak mau di sangka mengharapkan harta kekayaan dari keluarga Kak Barra."


Riana mengelus rambut panjang Gisella.


"Apapun itu ibu akan mendukung kamu Gisella, sekarang kamu harus sembuh dulu yaa Nak. Baru kamu memikirkan tentang rencana kamu kedepannya."


Laura merasa sangat marah sekali ketika mendengar perkataan tersebut.


"Ahhhhh,!!"


Laura menendang pintu mobil nya dengan penuh emosional.


"Jika Gisell mengakhiri pernikahan kontrak ini itu tandanya aku harus bisa hamil, karena jika tidak bagaimana kalau Mama Rossa mencari wanita lain."


Laura pun merasa sangat pusing sekali ketika dia memikirkan ke arah sana.


"Tidaaaaaak, ini tidak boleh terjadi. Aku harus hamil dan Gisella mengakhiri hubungan pernikahan ini. Sekarang lebih baik aku harus bertemu dengan Rivan untuk membicarakan semua nya, aku hanya jujur kepada Rivan tentang semua yang aku alami sekarang."


Laura pun mencari kartu nama Rivan Mahendra dia lebih memilih untuk pergi ke rumah nya.


"Seperti nya aku harus pergi ke rumah nya nanti malam semoga saja Rivan sudah berada di rumah nya sehingga aku bisa ke sana."


Laura begitu sangat ketakutan sekali dan tiba-tiba di saat seperti ini Barra menghubungi nya.


"Mas Barra, ada apa yaa dia telephone aku. Lebih baik aku abaikan saja. Sekarang aku fokus dulu dengan kelanjutan rumah tangga ku de depan nya."


Handphone Laura masih terus saja berdering kencang panggilan telephone dari Barra.


"Aduh bagaimana yaa ini, kenapa Mas Barra terus saja menelephone aku yaa."


Laura pun memberhentikan mobilnya dan dia memandangi handphone nya.


"Jawab jangan yaa panggilan telephone ini, sekarang aku sedang emosi sekali. Jangan sampai perkataan aku membuat permasalahan lagi di hubungan rumah tangga kuu sekarang ini."


Laura memilih untuk menonaktifkan handphone nya.

__ADS_1


__ADS_2