
Barra dan Gisella sampai di depan toko perlengkapan bayi, genggaman tangan Barra tidak pernah terlepas.
Mereka berdua pun berjalan menuju tempat khusus bayi perempuannya.
Barra melepaskan genggaman erat tangan nya, dia mulai mencari perlengkapan bayi.
Tapi Gisella yang merasa pusing memilih untuk duduk saja sambil melihat Barra.
Barra pun menghampiri Gisella, dia takut Gisella merasa lapar atau haus.
"Gisell, apakah kamu haus atau lapar?."
Barra duduk di samping Gisella sambil memperhatikan nya.
"Tidak, aku tidak ingin makan atau minum. Aku hanya ingin duduk saja. Silahkan Kak Barra saja yang memilih barang-barang nya yaa, aku di sini saja menunggu."
Barra pun tersenyum dia merasa sangat senang sekali ketika dia yang harus memilih barang-barang serta perlengkapan bayi.
"Baiklah Gisell, jika itu keinginan kamu dan memang aku pun sangat menginginkan nya."
Barra seketika saja langsung meninggalkan Gisella, dia memang begitu sangat bersemangat sekali.
"Kak Barra, baru kali ini aku melihat dia bahagia seperti ini."
Setelah merasa sangat puas sekali, Barra memilih untuk mengantarkan semua barang-barang yang dia beli langsung di antarkan ke rumah Gisella.
Barra menuliskan alamat rumah nya, dan dia pun mengajak Gisella untuk makan.
"Sudah selesai, dan sekarang ayo kita makan."
Barra kembali memegang tangan Gisella, sudah tidak ada lagi rasa gugup atau canggung diantara mereka.
Tapi Gisella pun selalu menyadari jika hubungan mereka berdua sudah berakhir dan Barra itu adalah milik Laura.
Barra membawa Gisella di Restoran yang sangat mewah sekali.
Tampa mereka berdua sadari jika Erlangga Rangga sedang bersama dengan keluarga di Restoran yang sama.
Awalnya Rangga pun tidak menyadari kehadiran Gisella, tapi karena dia melihat Barra dia pun langsung penasaran dengan siapa Barra pergi.
"Itu adalah Barra, tapi dengan siapa yaa. Body Kak Laura itu sangat kecil sekali. Ini siapa yaa."
Veronica yang melihat Rangga yang seperti sedang memperhatikan seseorang pun langsung bertanya.
"Hey Rangga, kamu sedang memperhatikan siapa sih. Serius sekali seperti itu."
Rangga tetap terdiam dia terus saja memperhatikan Barra.
Sampai akhirnya Gisella membalikkan badannya dan Rangga pun melihat wajah Gisella.
"Gisella, dia bersama dengan Barra. Ini tidak mungkin terjadi."
Rangga yang merasa sangat cemburu sekali dia langsung menghampiri Gisella yang sedang menunggu Barra memesan makanan.
"Gisella, sedang apa kamu di sini Gisella dan dengan siapa kamu di sini."
Tatapan Rangga begitu sangat tajam sekali kepada Gisella.
"Ini kan Restoran yang pasti aku sedang menunggu makanan, aku datang bersama dengan Kak Barra. Karena hari ini dia mengajak aku untuk membeli perlengkapan bayi karena mungkin antara akhir bulan atau awal bulan aku sudah melahirkan."
Rangga seketika saja langsung terdiam ketika Gisella mau pergi bersama dengan Barra.
"Kenapa kamu mau pergi bersama dengan Barra,? sedangkan hubungan kalian berdua itu kan sudah berakhir."
Gisella tersenyum manis kepada Rangga.
"Ya, hubungan ku memang sudah berakhir dengan Kak Barra. Tapi hubungan antara anak dan Ayah tidak akan pernah bisa berakhir, apalagi sekarang Kak Barra sedang bersedih karena harus kehilangan anak nya."
Melihat Rangga yang menghampiri Gisella, Barra pun langsung berjalan cepat menuju mereka.
__ADS_1
"Maaf yaa Rangga, ada perlu apa kamu mendekati Gisella."
Rangga tersenyum ketika melihat kedatangan Barra.
"Hey, tidak usah emosional. Saya hanya ingin memastikan bahwa Gisella nyaman atau tidak bersama dengan Anda."
Veronica merasa sangat hawatir sekali ketika melihat Rangga yang menghampiri Gisella.
"Astagaaaa Rangga, untuk apalagi sih kamu menghampiri Gisella. Seperti nya itu adalah suami nya Gisella, memalukan sekali sih anak itu."
Veronica pun langsung menghampiri Rangga.
"Aku merasa sangat nyaman kok pergi bersama dengan Kak Barra, apalagi dia itu adalah Ayah dari anak ku ini. Dan kita berdua juga pergi ke Dokter Specialis Kandungan bersama untuk melihat bayi yang akan segera lahir ini."
Gisella tersenyum manis sambil mengelus perut besar nya dan Veronica merasa sangat malu sekali.
"Erlangga, Mama kamu dan calon istri kamu itu pernah datang ke rumah ku. Mereka meminta penjelasan kenapa aku sampai menampar pipi Fransisca berkali-kali dia bilang kalau aku ini akan merebut kamu dari dia."
Rangga yang tidak mengetahui hal tersebut pun merasa sangat kaget sekali.
"Dan sekarang Tante Veronica lihat sendiri kan yaa, bukan aku yang mendekati Erlangga tali Erlangga yang masih saja mengikuti saya dan selalu mencoba untuk perhatian kepada saya."
Veronica langsung menarik tangan Erlangga dia memaksa Rangga untuk segera pergi dari tempat tersebut.
"Ayo Erlangga kita pergi, kamu jangan membuat Mama malu."
Barra tersenyum ketika mendengar perkataan Gisella.
"Gisella aku tidak pernah menyerah untuk mendapatkan kamu kembali.'
Rangga masih saja belum puas dia ingin sekali bisa bersama dengan Gisella.
"Lebih baik sekarang kamu selesai dulu acara pernikahan kamu yaa, dan aku juga sekarang mau fokus mempersiapkan proses persalinan ku. Ingat yaa Rangga kamu sekarang mempunyai calon istri jadi jangan menggangu selalu seperti ini."
Veronica yang sudah merasa sangat malu sekali dia menarik tangan Rangga dengan paksa.
Rangga dengan sangat cepat meninggalkan Restoran tersebut.
Gisella pun menghelakan nafas panjang nya ketika melihat sikap Rangga yang tidak pernah berubah.
Barra pun memperhatikan wajah cantik Gisella.
Gisella yang terlihat sangat lelah sekali karena di ganggu oleh Rangga.
"Dia sangat cantik sekali dan dia juga sangat baik hati, hati nya begitu sangat lembut tapi dia bisa kuat dan tegar untuk menghadapi semua permasalahan yang ada. Pantas saja Rangga tidak pernah berhenti untuk bisa mendapatkan nya kembali."
Barra yang bicara di dalam hati kecil nya.
"Makan yang banyak yaa Gisella, abaikan saja kedatangan Rangga itu. Semoga saja tidak membuat nafsu makan mu menjadi berkurang."
Gisella pun mulai menikmati makanan tersebut.
"Gisella, apa kamu merasakan risih ketika Rangga yang terus menerus menghampiri kamu?."
Barra mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada Gisella.
"Aku merasa sangat risih sekali apalagi sekarang Rangga yang akan menikah dengan Fransisca. Aku tidak mau rencana pernikahan mereka berdua gagal hanya karena aku yang tidak tahu apa-apa."
Gisella terus saja menikmati makanan yang ada di hadapannya.
"Rangga itu begitu sangat mencintai muu Gisella, sampai dia masih mau mengharapkan kembali bersama dengan kamu walaupun kamu sedang hamil besar seperti ini."
Gisella pun tersenyum dan mengambil air mineral di hadapan nya.
"Hmmm, aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Rangga. Padahal sudah jelas-jelas aku bilang kepada nya jika aku lebih memilih untuk menjadi singel mother, aku akan berjuang sendiri untuk membesarkan anak ku sampai dia sukses."
Barra pun seketika saja langsung terdiam ketika mendengar Gisella yang lebih memilih untuk menjadi singel mother.
__ADS_1
"Gisella, aku pun berhak untuk bertanggung jawab atas semua yang di perlukan dari anak kita berdua ini. Yaa walaupun kita sudah tidak bisa lagi bersama tapi tetap saja dia adalah tanggung jawab aku seutuhnya."
Gisella merasa sangat senang sekali ketika mendengar perkataan tersebut dari Barra.
"Yaa, terimakasih banyak sekali Kak Barra."
Gisella merasa sudah kenyang sekali dan Barra pun pergi untuk membayar makanan tersebut.
"Yasudah Gisella ayo kita pulang sekarang yaa, kita dekorasi kamar kamu."
Barra kembali menggenggam erat tangan Gisella.
"Aku tidak mau kamu sampai terjatuh apalagi aku melihat kamu yang sudah kesulitan untuk berjalan."
Mereka pun saling bertatapan wajah ketika Barra kembali memberikan perhatian lebih terhadap Gisell.
Gisella pun tersenyum manis memandangi wajah Barra.
"Terimakasih banyak yaa atas semua perhatian yang di berikan untuk aku hari ini."
Ketika Barra dan Gisella baru keluar dari Restoran dia masih melihat Rangga bersama dengan ibu nya.
Mereka melihat mereka berdua seperti sedang bertengkar.
Veronica begitu sangat emosional sekali dengan sikap Rangga.
"Rangga bisakah kamu menerima kenyataan jika Gisella itu tidak akan pernah bisa bersama dengan kamu, dia yang sudah mempunyai suami dan sekarang sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka."
Rangga tetap saja tidak mau menerima kenyataan tersebut.
"Aku sangat mencintai Gisella Mam, aku tidak peduli dengan setatus Gisella yang sekarang. Dia memang sudah mempunyai suami tapi suami tidak akan pernah bisa membuat Gisella bahagia."
Rangga pun langsung memilih untuk pergi meninggalkan Mama nya sendiri.
"Rangga, bagaimana dengan rencana pernikahan kamu ini. Jika hati kamu hanya untuk Gisella bukan untuk Fransisca."
Veronica merasa sangat pusing sekali dengan sikap Rangga.
Dia pun memilih untuk pergi menggunakan taksi karena mobil pribadi nya di pakai oleh Rangga.
"Rangga, kamu mau pergi ke mana."
Veronica menyuruh supir taksi itu untuk mengikuti mobil Rangga.
Veronica merasa jika Rangga akan pergi ke rumah Fransisca.
"Seperti nya Rangga akan pergi ke rumah Fransisca, dia pasti akan menanyakan tentang Gisella yang sampai menampar Fransisca."
Veronica merasa sangat ketakutan sekali karena dia tahu jika Rangga yang begitu sangat emosional sekali.
"Aku sangat berharap besar Sisca tidak ada di rumah nya, karena ini bisa membuat keluarga Sisca menjadi marah besar kepada Rangga."
Rangga melihat jika taksi tersebut sedang mengikuti nya.
"Itu pasti Mama yang sedang mengikuti aku baguslah, sekalian saja aku akhiri semua ini. Aku batalkan rencana pernikahan ini."
Rangga mempercepat laju kendaraan nya sehingga dia ingin lebih cepat sampai di rumah Fransisca.
Rangga pun akhirnya sampai di depan gerbang rumah Fransisca dia meminta untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
Satpam tersebut pun mempersilahkan Rangga untuk masuk ke dalam rumah.
Rangga begitu sangat bersemangat sekali untuk mencari Fransisca.
Ketika Rangga berjalan menuju ke rumah nya, dia melihat Sisca yang sedang berkumpul bersama keluarga nya.
Sisca merasa sangat terkejut sekali dan senang ketika Rangga datang ke rumah nya.
Seketika Sisca pun langsung berlari menghampiri Rangga.
__ADS_1