Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *139*


__ADS_3

Barra memilih untuk pergi ke kamar Laura dia ingin membicarakan hal tersebut.


Di ruangan itu hanya ada Rossalinda dan Riana.


"Bu Riana sebernarnya saya sangat menghawatirkan perjanjian yang sudah kita lakukan kembali dengan Gisella. Gisella yang memilih untuk mengakhiri pernikahan kontrak dan tidak akan memberikan anak nya lagi, perjanjian itu dengan mudah nya di setujui oleh Laura tanpa di pikiran terlebih dahulu."


Riana pun hanya mendengarkan perkataan dari Rossalinda.


"Bagaimana jika sesuatu terjadi pada kandungan Laura, pengorbanan dia sia-sia saja menikah kan suami nya dengan Gisella merasa tidak bisa mendapatkan anak tersebut."


Rossalinda terlihat sangat menghawatirkan sekali kandungan Laura.


"Bu, itu sudah jadi keputusan Laura. Dan apapun yang terjadi anak Gisella tetap milik Gisella tidak akan di serahkan kepada Laura. Saya bukan membela Gisella tapi semua sudah ada perjanjian nya."


Riana pun memilih untuk meninggalkan ruangan tersebut.


"Saya permisi dulu yaa, saya belum menghubungi Gisella. Untuk memberitahu jika saya menginap di rumah ini."


Riana memilih untuk keluar dari ruangan tersebut dia mencari tempat yang aman untuk menghubungi Gisella.

__ADS_1


Riana memilih keluar dari rumah tersebut, Riana pun menghindari ada nya para pegawai.


Riana pun mulai mengeluarkan handphone nya.


***Gisella sayaaaaang, kamu sekarang sedang ada di mana Nak.


*Aku sekarang sedang menuju ke rumah murid ku Buu, ada apa yaa Buu? apakah ibu sudah pulang?.*


*Gisella, maafkan ibu yaa Nak. Seperti nya ibu harus menginap untuk beberapa hari di sini. Laura menginginkan kehadiran ibu di samping nya.*


*Hmmmmmm, yasudahlah Buu tidak apa-apa. Mungkin memang Kak Laura ingin bersama dengan ibu, karena dari awal dia menikah dia langsung pindah ke rumah itu.*


*Iya Buu, ibu tidak perlu menghawatirkan kondisi aku. Aku pasti baik-baik saja kok ibu. Aku dan bayi yang ada di kandungan ku ini pasti sangat kuat sekali.*


*Yasudah yaa Nak kalau begitu, ibu akhiri panggilan telephone ini.*


*Iya Buu**.


Riana pun mengakhiri panggilan telephone dengan Gisella.

__ADS_1


Riana merasa sangat tidak nyaman sekali berada di rumah mewah ini.


"Semoga saja ibu baik-baik saja yaa, karena ibu pasti sangat tidak nyaman sekali tinggal di sana. Sama seperti aku dulu walaupun rumah itu sangat mewah tapi tetap saja rumah sendiri yang paling di rindukan."


Gisella mulai bersiap-siap untuk segera mengajar di turun dari taksi nya dan berjalan menuju ke rumah salah satu murid nya.


Riana sudah di halaman depan rumah tersebut, di mana di sana ada kursi yang di simpan di bawah pohon rindang.


"Bagaimana yaa kelanjutan dari cerita Gisella dan Laura, apakah aku akan mendapatkan cucu secara bersamaan dari kedua putri cantik kuu. Semoga saja semua menjadi keindahan di keluarga ku ini."


Riana selalu berharap besar yang terbaik untuk ke dua putri cantik nya.


Riana pun menginginkan kebahagiaan kepada Gisella, dia menginginkan Gisella mempunyai suami yang bisa menerima kehadiran anak nya dan juga setatus nya sekarang.


Rossalinda memperhatikan Riana yang seperti nya sedang memikirkan ke dua putri nya.


"Aku rasa dia lebih pusing dari aku, aku yang hanya memikirkan Laura saja. Sedangkan Riana dia harus memikirkan Laura dan Gisella."


Rossalinda pun memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah nya.

__ADS_1


__ADS_2