
Rangga ingin sekali menemui Gisella, dia ingin mendengar penjelasan dari Gisella.
"Gisella, tidak mungkin mau menikah dengan Kakak ipar nya sendiri. Jika tidak ada ancaman atau hal mendesak nya."
Rangga kembali ke kantor milik Rossalinda atau kantor milik Gisella.
"Gisella, hari pernikahan ku di percepat oleh Mama. Dan sekarang aku sudah tahu semuanya."
Rangga ingin sekali menikah dengan Gisella, walaupun Gisell dengan mengandung anak pertama dari Barra.
"Kasihan sekali kamu Gisella, kenapa nasib mu harus seperti ini."
Rangga pun memilih untuk menunggu Gisella keluar dari kantor nya,
Rangga sudah tidak sabar ingin sekali mendengar penjelasan dari Gisell.
Gisella merasa jika dirinya sendiri di ruangan tersebut dan dia pun mengingat perkataan Laura yang sudah tidak mau lagi melihat wajah dirinya dan Mama Rossa.
"Hubungan ku semakin memburuk dengan Kak Laura, aku tidak tahu lagi harus seperti apa. Kak Laura benar-benar sudah membenci kuu."
Gisella merasa tidak bisa berkonsentrasi, dia hanya bisa menyelesaikan empat gambar saja.
"Aku pulang saja, konsentrasi ku terganggu. Aku tidak bisa memaksakan untuk berpikir keras."
Gisella pergi ke ruangan pribadi Rossalinda tapi dia tidak melihat Rossalinda di ruangan nya.
"Dimana yaa Mama Rossa, kenapa dia tidak ada di ruangan nya."
Gisella pun lebih memilih untuk mengirimkan pesan kepada Rossalinda.
*Mama Rossa, aku pulang yaa. Aku tidak bisa berpikir dan fokus untuk berkonsentrasi setelah kejadian tersebut.*
Gisella pun menyimpan kembali handphone nya di tas nya.
Dia langsung pergi menuju ke mobil pribadi yang sering menjemput nya.
Melihat Gisella keluar dari kantor, Rangga pun segera menghampiri Gisella.
Gisella begitu sangat terkejut sekali ketika mobil Rangga berhenti di hadapan nya.
"Rangga, kamu membahayakan nyawa aku."
Rangga langsung keluar dari mobil nya dan supir pribadi nya pun menghampiri Gisella.
"Gisella, aku ingin bicara dengan kamu. Aku sudah tahu semuanya."
Gisella langsung terdiam dia tidak mengerti maksud dari perkataan Rangga.
"Mbak, Gisell. Ayo kita segera pulang."
Rangga melirik kan mata nya kepada supir pribadi tersebut.
__ADS_1
"Kamu itu adalah supir pribadi suruhan Barra,? bilang pada Barra. Hari ini Gisella saya yang antar pulang."
Rangga memegang tangan Gisella tapi Gisella merasa tidak mengerti maksud dari kedatangan Rangga.
"Erlangga, kamu itu kepada sih. Ada apa ini sebenarnya."
Gisella merasa bertanya-tanya kenapa Rangga.
"Aku sudah tahu siapa suami kamu yang tidak bertanggung jawab itu, aku ingin kamu menjelaskan semuanya."
Gisella seketika langsung terkejut sekali dia pun akhirnya mau masuk ke dalam mobil Rangga.
"Pak, untuk sekarang saja saya pulang bersama dengan teman saya. Saya pasti aman bersama dengan dia."
Gisella pun masuk ke dalam mobil Rangga.
Rangga pun tersenyum manis melihat Gisella masuk ke dalam.
"Rangga, bisa kamu ceritakan apa yang kamu tahu dari tentang pernikahan kuu."
Gisella terlihat sangat penasaran sekali sampai dia terus memandangi wajah Rangga.
"Suami kamu itu Barra kan, suami Kakak kamu juga."
Rangga mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang rendah.
"Kamu tau dari mana Rangga,? siapa yang memberitahu kamu Rangga?."
"Gisella, apa yang sudah menutup hati kamu. Sehingga kamu menikah dengan Barra. Apa yang membuat kamu melakukan hal yang."
Gisella rasa memang sudah waktunya untuk dia bicara jujur kepada Rangga.
"Aku melakukan pernikahan kontrak, dan sekarang aku sudah mengakhiri pernikahan kontrak tersebut."
Gisella merasa sedikit tenang ketika Rangga akhirnya mengetahui semuanya.
"Aku menikah dengan Kak Barra, karena untuk menyelamatkan rumah tangga nya. Karena dia yang belum bisa mendapatkan keturunan."
Gisella pun meneteskan air mata nya.
"Dan sekarang Kak Laura sudah hamil, jika Kak Laura tidak hamil. Maka anak ini harus di berikan kepada Kak Laura, aku berikan uang 100 juta."
Rangga langsung memberhentikan mobilnya secara tiba-tiba, karena sangat terkejut sekali.
"Gisella kamu bukan wanita yang seperti itu, melihat uang dan langsung menghalalkan segala cara."
Gisella menghelakan nafas panjang nya.
"Kak Laura yang terus memaksa aku untuk melakukan nya, untuk menikah dengan Kak Barra tapi sekarang Kak Laura malah menjadi membenci aku."
Rangga sangat kasihan sekali melihat Gisella, Gisella yang menjadi korban keegoisan Laura.
__ADS_1
"Gisella, kamu melakukan ini semua hanya karena Kak Laura?. Egois sekali dia."
Gisella menghapus air mata di pipi nya.
"Rangga, sekarang kamu sudah tahu semuanya. Dan aku mohon jangan sampai banyak orang tahu tentang pernikahan kontrak ini. Karena itu pasti akan berpengaruh terhadap perusahaan milik Kak Barra."
Rangga pun hanya bisa terdiam saja dia merasa sudah puas ketika dia sudah memukul Barra.
"Baiklah Gisell, semua aku lakukan karena kamu."
Gisella tersenyum manis kepada Rangga.
"Terimakasih banyak Rangga, sekarang antarkan aku ke rumah ku. Aku ingin beristirahat di rumah."
Rangga mengikuti apa yang di katakan oleh Gisella.
Rangga pun tiba-tiba saja memegang tangan Gisella.
"Maafkan aku Gisella, ternyata kamu tidak menghianati aku. Gisella aku masih mencintaimu sampai sekarang."
Gisella melepaskan genggaman tangan Rangga.
"Rangga, ini tidak mungkin terjadi. Aku sekarang sedang hamil. Dan kamu sekarang sedang menyiapkan pernikahan kamu dengan Fransisca. Jadi sudah lah mungkin kisah cinta kita berakhir sampai di sini."
Rangga menarik paksa Gisella sehingga membuat mereka berdua saling berpelukan.
"Aku sangat merindukan mu Gisella, aku mau menerima kehadiran anak itu. Walaupun bukan anak aku, aku berjanji akan membuat kamu bahagia mencoba membuat kamu bahagia."
Pelukan Rangga yang sangat erat sekali membuat Gisella pun hanya bisa menangis di pundak Rangga.
Gisella tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi dia hanya bisa menangis di pelukan Rangga.
Rangga melepaskan erat tersebut dan memandangi wajah Gisella yang basah karena air mata nya.
"Kamu tidak pantas di perlukan seperti ini Gisella, kamu harus di perlakuan seperti putri."
Gisella pun mulai menjaga jarak dengan Rangga.
"Sudah yaa Rangga sudah, kita tidak bisa bersama kembali. Tidak akan ada kebahagiaan yang kita rasakan jika cinta kita di tentang orang tua."
Gisella memegang tangan Rangga dan tersenyum.
"Kamu pasti bahagia dengan wanita pilihan orang tua kamu, dia adalah wanita yang terbaik. Biarlah kita melukis sendiri kisah cinta kita masing-masing."
Rangga tidak bisa menahan besar nya rasa cinta nya terhadap Gisella.
"Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan lukisan cinta itu bersama dengan kamu Gisella Reviska."
Gisella terdiam ketika Rangga yang masih ingin selalu bersama dengan nya.
Gisella pun memegang perut nya, sambil memandangi wajah Rangga yang terus saja memohon kepada nya.
__ADS_1
Rangga menjalankan kembali mobil nya untuk mengantarkan Gisella pulang.