Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *144*


__ADS_3

Barra tidak menginginkan kepergian Laura dari rumah nya, sedangkan Laura tetap ingin keluar dari rumah ini.


Pertengkaran Laura dan Barra sampai terdengar ke luar kamar dan membuat Riana berlari menghampiri pintu kamar tersebut.


Riana mencoba untuk mengetuk pintu kamar tersebut, dan mencoba untuk membuka nya tetapi pintu tersebut terkunci.


Riana mencoba untuk mencari Rossalinda tetapi Rossalinda tidak ada di kamar nya.


"Kemana ibu Rossalinda yaa kenapa dia tidak ada di dalam kamar nya, aku sangat hawatir sekali Laura dan Barra bertengkar di dalam kamar. Bukan kah tadi Laura baik-baik saja kenapa sekarang sikap nya mudah berubah-ubah."


Riana begitu sangat panik sekali dia terus mengetuk pintu kamar tersebut.


"Pokoknya aku ingin keluar dari rumah ini Mas, aku ingin keluar dari rumah ini. Aku ingin kita menjalani hidup berdua kita bisa tinggal di Apartemen."


Kesabaran Barra sudah sangat memuncak sekali dia pun dia sudah hilang kesabaran nya.


"Jika kamu ingin pergi, silahkan kamu pergi saja."


Barra berjalan menuju ke pintu kamar nya dia membuka kunci pintu kamar nya dan Riana pun sangat terkejut sekali.


Riana langsung menghampiri Laura yang sedang menangis histeris.


"Laura,? kamu kenapa Nak. Bukan kah tadi kamu baik-baik saja Laura lalu kenapa sekarang kamu jadi bertengkar seperti ini."


Laura menatap wajah Barra dia begitu sangat emosi melihat wajah suaminya itu.


"Aku ingin pergi dari rumah ini Buu, aku sudah tidak tahan lagi tinggal di rumah ini."


Riana begitu sangat terkejut sekali ketika mendengar perkataan Laura.


"Kenapa kamu tiba-tiba saja ingin pergi dari rumah ini sedangkan sekarang kondisi kandungan kamu sedang lemah seperti ini butuh istirahat yang cukup."


Laura menghapus air mata dengan tangan nya.


"Aku tertekan berada di rumah ini semenjak aku tinggal di sini, aku sudah ingin sekali keluar dari rumah ini Buu. Aku ingin mandiri."


Barra menghampiri Laura dia mencoba untuk menenangkan pikiran dan perasaan Laura.

__ADS_1


"Tapi sekarang Laura, benar kata ibu kamu sekarang harus banyak istirahat yang cukup. Jika nanti kamu sudah melahirkan kita bicarakan lagi semua ini yaa."


Barra mencoba untuk merangkul Laura untuk mengajak nya masuk ke dalam kamar tapi Laura menepis tangan Barra.


"Jika kamu masih ingin di sini silahkan saja tapi aku tetap ingin pergi dari rumah ini."


Laura pun memilih untuk pergi dan Riana melihat Barra membiarkan Laura pergi begitu saja.


Riana menatap wajah Barra yang terlihat pasrah dengan kepergian Laura.


"Biarkan saja Laura pergi Buu, mungkin itu bisa membuat nya tenang. Dan aku tahu Laura pasti pergi ke Apartemen nya."


Barra pun memegang kepala nya dia seperti sangat pusing sekali melihat kondisi rumah tangga nya.


"Barra, ibu meminta maaf atas perilaku Laura. Ibu merasa ini adalah bawaan dari kehamilan nya. Pikiran nya berubah-ubah seperti ini tapi ibu mohon yaa Barra jangan pernah meninggalkan Laura ."


Riana pun memilih untuk pergi dari rumah tersebut.


"Barra ibu pergi dulu yaa, selesai hubungan rumah tangga muu. Ibu tidak mau ikut campur karena Laura sekarang adalah tanggung jawab kamu."


Barra pun mengangguk kan kepala nya dia pun dia menyuruh supir pribadi untuk mengantarkan Riana.


Riana hanya terdiam ketika mendengar perkataan tersebut dari mulut Barra.


Laura merasa sangat tidak tengang sekali pikiran, seperti apa yang di katakan Barra. Laura memilih untuk pergi ke Apartemen nya.


"Aku akan lebih tenang hidup sendiri di Apartemen kuu ini, ini sangat tidak masuk akal sekali. Berawal dari perkataan Mas Barra yang menginginkan Gisella untuk mengantikan posisi ku di perusahaan ku sendiri. Bisa-bisa nya dia punya pikiran seperti itu."


Laura sampai di depan gedung Apartemen dia pun langsung turun dari mobil nya.


Jarak Apartemen dengan rumah nya itu hanya 20 menit saja sehingga Laura tidak perlu waktu lama untuk sampai di Apartemen tersebut.


Laura berjalan dengan sangat cepat sekali dia ingin segera sampai di pintu Apartemen nya.


Laura pun masuk dan dia merasakan seperti udara yang segar, udara kebebasan untuk nya.


"Aku seperti terbebas dari penjara, sejak awal pernikahan aku memendam perasaan muak ini ketika aku harus berhadapan dengan Mama Rossa. Sejak awal Mama Rossa memang sudah tidak menyukai kuu tapi aku tetap bertahan demi keutuhan rumah tangga kuu ini."

__ADS_1


Laura membaringkan tubuhnya dan dia pun mulai memikirkan perkerjaan nya.


"Bagaimana dengan kondisi perusahaan sekarang tampa ada aku di sana yaa, hmmmm aku tidak mau perusahaan ku bangkrut begitu saja. Aku tidak mau kehilangan perusahaan ku ini."


Laura pun mencoba untuk beristirahat dan menenangkan pikiran dan perasaan nya.


"Seperti aku harus sering berkonsultasi dengan Dokter Rivan, aku harus bisa menjaga kesehatan ku dengan sangat baik sekali. Dokter Rivan pasti akan mengerti perasaan ku saat ini."


Laura pun mencoba untuk menghubungi nomer handphone Dokter Rivan, dia ingin bertemu dengan nya sore hari ini.


"Apakah sekarang dia sedang sibuk praktek yaa, yasudah lebih baik aku mengirimkan pesan saja."


Laura merasa sangat nyaman dan tenang ketika dia mengungkapkan perasaan nya kepada Dokter Rivan.


Laura merasa hanya Dokter Rivan yang mengerti di setiap perasaan hati nya.


Laura pun mulai mengetik pesan kepada Dokter Rivan.


*Dokter maafkan aku yang selalu mengganggu waktu istirahat Dokter, tapi bisakah nanti sore kita bertemu di cafe yang biasa kita datangi. Aku merasa butuh teman untuk mendengarkan isi hati ku sekarang.*


Laura merasa sangat lega sekali ketika sudah mengirimkan pesan tersebut untuk Dokter Rivan.


"Semoga saja Dokter Rivan bisa dia mempunyai waktu untuk kuu."


Laura menyimpan kembali handphone nya dia menunggu balasan pesan dari Dokter Rivan.


"Semoga saja kandungan kuu ini kuat dan sehat selalu aku tidak mau harus selalu masuk ke rumah sakit lagi."


Laura terus mengelus perut nya dia pun membayangkan pikiran yang terbaik untuk anak nya nanti.


"Apapun akan Mommy lakukan untuk kamu anak ku, apapun yang kamu minta akan Mommy berikan untuk kamu sayang. Sehat dan kuat di perut Mommy sampai saat nya kita berdua bertemu di dunia ini."


Laura merasa sangat bahagia sekali ketika dia mengelus perut nya sambil membayangkan kebahagiaan bersama dengan anak nya nanti.


"I love you sayaaaaang, Mommy ingin bertemu dengan kamu."


Kita Laura mengelus perut nya dan tiba-tiba saja handphone nya bergetar.

__ADS_1


Dan Laura pun langsung mengambil handphone nya tersebut.


__ADS_2