
Rossalinda menghampiri Barra ketika Barra yang sudah mengetahui semuanya.
"Sudah Mama bilang kan, kamu harus memperhatikan juga Gisella. Jangan hanya karena kamu tahu dia belum hamil dan kamu hanya perhatian kepada Laura yang sedang hamil. Sekarang kamu akan memiliki dua anak secara bersamaan."
Barra terdiam menyesali perbuatannya dan dia pun menghampiri Laura.
Wajah Laura terlihat sangat emosional sekali ketika Barra menghampiri nya.
"Laura, kamu tidak boleh bersikap seperti itu. Sekarang Gisella sedang hamil anak aku juga, anak yang dulu kamu impikan."
Laura hanya bisa terdiam saja dia seperti tidak ingin berbicara dengan Barra.
"Laura, maafkan aku tapi sekarang mungkin aku akan membagi hari ku dengan Gisella juga. Senin aku bersama mu maka malam selasa aku bersama dengan Gisella."
Melihat Laura yang hanya terdiam saja, Riana pun menghampiri Barra.
"Barra, seperti nya acara sudah selesai. Ayo antarkan Ibu pulang di sana ada Gisella kamu bisa membicarakan semua dengan Gisella."
Laura begitu sangat terkejut sekali ketika Ibu nya menyuruh Barra bertemu dengan Gisella.
"Bu, kenapa ibu menyuruh Mas Barra untuk bertemu dengan Gisella. Ibu lebih suka Mas Barra dengan Gisella dari pada dengan aku."
Ucap Laura dengan nada suara yang tinggi.
"Laura, Gisella juga butuh Barra. Dia harus mendapatkan penjelasan dari Barra kenapa Barra mengabaikan dan Rangga yang lebih perhatian kepada Gisella."
Riana mulai emosional sekali dengan sikap Laura terhadap Gisella.
"Karena Gisella itu lebih suka bersama dengan Rangga daripada dengan Mas Barra, semua sudah terlihat jelas kan. Gisella lebih nyaman bersama dengan Rangga dan mungkin juga setelah kontrak pernikahan ini selesai Rangga dan Gisella akan menikah."
Barra merasa ucapan Laura sudah sangat keterlaluan sekali, dia pun memilih untuk pergi meninggalkan Laura bersama dengan Riana.
"Ayo Buu, sebaiknya kita pergi sekarang juga. Sudah Habis kesabaran saya."
Riana dan Barra pun memilih untuk pergi meninggalkan Laura yang emosi sedang meledak-ledak.
"Acara ini menjadi sangat menyebalkan sekali, kenapa aku harus mengundang Gisella dan kenapa juga Rangga seperti pahlawan yang membela Gisella."
Laura pun memilih untuk pergi ke dalam kamar nya, dia menyudahi pesta yang sangat meriah itu.
__ADS_1
Rossalinda hanya bisa memperhatikan Laura.
"Kenapa Laura menjadi seperti ini yaa, dia begitu sangat licik sekali. Dia yang dulu memohon untuk pernikahan kontrak ini tapi setelah dia merasakannya semua nya dia pun ingin menyudahi pernikahan kontrak ini."
Rossalinda merasa sangat hawatir sekali dengan kondisi Gisella, Rossalinda takut Laura akan berbuat nekad pada kandungan Gisella.
Barra mengantarkan ibu mertua nya, sedang Laura dia merasa sangat stress sekali ketika mengetahui Gisella hamil.
Di perjalanan terlihat sekali Barra yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Barra, ibu tahu kamu pasti sangat berat sekali memberikan perhatian lebih terhadap Gisell. Kamu takut jadi menyimpan perasaan yang lebih terhadap Gisell dan Laura meninggalkan kamu."
Barra seketika memberhentikan mobilnya ketika Riana mulai memberikan nasihat kepada nya.
"Waktu kamu dengan Gisella hanya sampai bayi itu terlahir ke dunia, bisakah kamu memikirkan bagaimana perasaan Gisella. Uang 100 juta tidak mungkin mampu membuat seseorang ibu rela memberikan anak nya tapi ini semua hanya karena Gisella yang begitu sangat menyayangi Laura."
Barra semakin terdiam ketika mendengar hal tersebut, pengorbanan Gisella begitu sangat besar sekali untuk Laura.
"Maafkan saya Buu, saya akan lebih bersikap baik dengan Gisella. Maafkan saya yang terlalu takut kehilangan Laura sampai saya melupakan kewajiban saya sebagai suami Gisella."
Barra menundukkan kepalanya dia terlihat sangat berat menghadapi semua nya.
"Barra, jika nanti anak mu dua-duanya terlahir jangan ada perbedaan antara mereka berdua. Karena mereka berdua butuh perjuangan."
"Tuhan begitu sangat baik sekali dia memberikan aku dua malaikat yang akan lahir secara bersamaan, dan aku akan selalu mencintai nya."
Riana tersenyum manis kepada Barra dan Barra pun melanjutkan perjalanan nya.
Ketika mereka sampai di depan rumah, Barra merasa hawatir jika Gisella tidak mau melihatnya.
Barra sangat ketakutan sekali jika Gisella membenci nya.
"Barra, masuk langsung saja ke kamar Gisella."
Barra pun mengikuti apa yang di perintahkan oleh ibu mertua nya.
Barra mencoba untuk mengetuk pintu kamar Gisella.
Dan Gisella pun langsung membuka pintu kamar nya tersebut.
__ADS_1
"Kak Barra,? kenapa Kak Barra bisa ada di sini."
Barra langsung masuk ke dalam kamar Gisella dan menutup rapat pintu kamar nya.
Gisella merasa sangat terkejut sekali ketika melihat Barra yang ada di hadapannya.
"Kak Barra, kenapa ada di sini. Kak Laura bisa marah besar jika Kak Barra bersama dengan aku sekarang."
Barra langsung memeluk erat tubuh Gisella, dan Gisella pun hanya bisa terdiam.
Barra melepaskan pelukan erat nya dia pun tiba-tiba saja memandangi perut Gisella dan mengelus nya.
"Sayaaaaang, maafkan Papa yaa. Papa baru tahu kehadiran kamu di perut Ibu kamu di saat usia kandungan mu sudah 8 Minggu. Kamu berjuang terus yaa sama Ibu jangan bikin ibu kamu muntah-muntah kasihan ibu yaa, jadilah anak yang kuat seperti ibu kamu yaa sayang maafkan Papa yaa."
Barra mencium perut Gisella dan tersenyum manis sambil memandangi nya.
Melihat apa yang sudah di lakukan oleh Barra, Gisella tidak kuasa menahan air mata nya.
Dia akhirnya merasakan perhatian seorang suami di saat istri nya sedang hamil.
Barra menghapus air mata Gisella dan membuat Gisella semakin terdiam.
"Gisella, terimakasih kamu sudah memberikan aku keturunan dengan sangat cepat sekali."
Gisella menggangukan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Iyaa Kak, aku pun tidak menyangka akan secepat ini bisa hamil. Maafkan aku yang tidak bisa langsung memberitahukan kepada Kakak karena aku tidak mau Kak Laura sedih karena aku pikir Kak Laura masih dalam program kehamilan."
Barra hanya bisa terdiam ketika dia melihat hati Gisella yang lebih lembut dari Laura, Barra tidak menyangka jika Gisella masih bisa memikirkan perasaan Laura sedangkan Laura sudah membuat perasaan Gisella hancur.
"Gisella, besok kamu kembali ke Apartemen yaa. Kakak berjanji akan selalu ada walaupun tidak setiap hari ada di samping kamu."
Gisella menggangukan kepalanya sambil tersenyum manis kepada Barra.
"Apapun yang Kakak perintahkan aku pasti akan mengikuti nya, aku akan mencoba untuk menjadi seorang istri yang baik walaupun hanya sementara."
Barra memegang tangan Gisella dia memasukkan cincin putih ke jari Gisella.
Gisella pun sangat terkejut sekali ketika Barra memberikan cincin kepadanya.
__ADS_1
"Ini hanya sedikit hadiah untuk kamu Gisella, kamu yang tidak pernah memakai untuk yang ada di ATM."
Gisella pun terlihat sangat senang sekali ketika mendapatkan cincin putih tersebut.