Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (108)


__ADS_3

Laura memilih untuk diam di dalam kamar nya dia tidak keluar dari kamar dan membuat Rossalinda merasa sangat hawatir sekali.


"Kenapa Laura masih saja belum bangun, dia tidak pergi ke kantor hari ini."


Rossalinda memilih untuk mengetuk pintu kamar Laura.


"Laura, kamu baik-baik saja kan. Kamu kenapa tidak keluar dari kamar."


Laura dengan wajah lesu nya dia pun membuka pintu kamar nya.


"Aku baik-baik saja kok Mam, aku hanya ingin menyendiri di kamar."


Rossalinda melihat Laura yang tidak seperti biasanya.


"Laura, seperti nya kamu masih memikirkan tentang foto pernikahan kamu yang terjatuh itu kan. Sudah yaa kamu berpikir positif saja dan ingat kamu sekarang sedang hamil."


Rossalinda membuka pintu kamar Laura.


"Aku mandi dulu yaa Mam."


Laura memilih untuk mandi agar terlihat lebih segar.


Rossalinda pun menunggu Barra yang tidak juga datang.


"Seperti nya Barra langsung pergi ke kantor nya, dia tidak pulang dulu."


Rossalinda menghampiri Laura yang sedang mandi dia berdiri di depan pintu nya.


"Selesai mandi Mama tunggu di meja makan yaa, kamu harus sarapan pagi walaupun kamu diam di rumah."


Rossalinda pun pergi dan menunggu Laura di meja sarapan.


Laura merasa sangat tidak nyaman sekali pikiran selalu saja negatif.


"Jika memang hal itu terjadi aku harus menerima kenyataan nya, jika mungkin aku harus berjuang keras sendiri."


Selesai mandi Gisella pun memakai baju yang di pernah di belikan oleh Barra.


"Aku baru menyadari setiap pemberian dari Mas Barra jarang sekali aku pakai."


Laura pun tampak sangat cantik sekali dia pun berjalan menuju ke meja makan.



Tatapan mata Laura terlihat sangat kosong dan Rossalinda pun mencoba untuk bertanya kepada Laura.

__ADS_1


"Laura, kamu jangan seperti ini. Kamu terdiam kamu melamun dengan tatapan mata yang kosong seperti itu. Itu sangat tidak baik loh Laura."


Laura pun mencoba untuk menenangkan pikiran dengan meminum segelas air putih.


"Aku baik-baik saja Mam, aku baik-baik saja."


Laura memastikan kondisi nya baik-baik saja agar Rossalinda tidak hawatir.


"Kamu masih memikirkan Gisella,? karena Gisella juga sekarang sedang hamil. Kamu takut Barra jauh lebih perhatian kepada Gisella daripada kamu."


Laura terdiam mendengar perkataan tersebut dia pun memilih untuk menundukkan kepalanya.


"Laura, Gisella bersama dengan Barra hanya sampai Gisella melahirkan anak pertama Barra setelah itu Gisella akan pergi dari kehidupan kalian berdua."


Rossalinda melihat Laura yang masih belum menerima kenyataan tersebut.


Laura berharap jika Gisella tidak hamil agar kontrak pernikahan tersebut bisa segera selesai karena kehamilan Laura.


"Bagaimana jika Gisella bisa membuat Mas Barra jatuh cinta kepada nya,? dan lebih memilih Gisella dari pada aku. Itu yang aku takutkan Mam."


Laura pun seketika langsung menangis di hadapan Rossalinda.


"Kamu yang merencanakan pernikahan kontrak ini kan,? dan kamu memilih Gisella karena kamu percaya kalau Gisella tidak akan seperti itu. Laura coba berikan kepercayaan kepada Gisella dan bicara dengan nya baik-baik tidak seperti ini."


Laura merasa selalu tersalahkan dia pun langsung memilih untuk pergi dari rumah.


Laura memilih untuk masuk ke mobil nya, dia masih saja menagis di sepanjang perjalanan.


"Aku pun tidak menginginkan pernikahan kontrak seperti ini, kalau tidak karena aku yang tidak mau kehilangan suami ku. Dan aku pun tidak pernah menyangka jika akhirnya aku bisa hamil."


Laura pun menghentikan mobil nya secara tiba-tiba dia tidak mungkin mengendarai mobil dengan kondisi seperti ini.


"Aku yang bodoh, aku yang sangat bodoh sekali melerakan suami ku menikah dengan adik kandung ku sendiri. Dan sekarang penyesalan ku sudah terlambat, aku harus bisa mencoba menerima kenyataan ini."


Laura menarik nafas panjang nya dan dia pun melanjutkan perjalanan nya.


"Aku tidak tahu aku harus pergi ke mana sekarang, aku ingin sekali pergi ke rumah ayah dan ibu tapi di sana ada Gisella. Aku harus pergi ke mana untuk bisa menenangkan pikiran ku ini."


Laura memberhentikan kembali mobil nya dia mencari handphone nya.


"Lebih baik aku hubungi Dokter Rivan saja, aku ingin bertemu dengan nya saja."


Laura mencoba untuk menghubungi nomer handphone Dokter Rivan.


"Hmmmmmm, semoga saja Dokter Rivan tidak sibuk dan tidak ada jadwal praktek hari ini."

__ADS_1


Laura terus saja menghubungi nomer handphone Dokter Rivan tapi tidak juga ada jawaban nya.


"Seperti nya Dokter Rivan sedang sibuk sekarang, aku merasa sangat tenang jika sudah meluapkan semua perasaan ku ini. Rivan adalah teman terbaik ku di saat kuliah dulu."


Laura pun memilih untuk turun dari mobil nya dia melihat ada Restoran di depan.


"Lebih baik aku makan sesuatu dulu, kasihan sekali bayi ku ini. Maafkan mommy yaa sayaaaaang mommy lupa makan."


Laura pun keluar dari mobil nya dia lagi-lagi melihat Rangga.


"Astagaaaa, kenapa aku harus bertemu dengan Rangga di saat aku seperti ini."


Laura berniat untuk pergi tapi dia sudah merasa sangat lapar sekali.


"Yasudah Laura, abaikan saja apapun yang dia tanyakan kepada muu."


Laura pun duduk dan memesan makanan, Laura merasa Rangga yang tidak melihat kehadiran nya.


Ketika Laura mulai menunggu makanan yang dia pesan tiba-tiba saja handphone nya bergetar.


"Pesan masuk dari Dokter Rivan."


Laura tersenyum ketika mendapatkan pesan tersebut.


****Ada apa yaa Laura, saya baru selesai dari ruangan operasi.*


*Maafkan aku yaa, menggangu sekali. Aku hanya ingin berkonsultasi dengan Dokter Rivan karena aku takut apa yang aku alami sekarang berpengaruh terhadap kondisi kehamilan ku.*


*Yasudah sekarang kamu sedang ada di mana saya ke sana sekarang***.*


Laura pun langsung mengirimi lokasi nya sekarang.


"Semoga saja Dokter Rivan bisa segera datang dan Rangga segera pergi dari restoran ini."


Laura pun langsung menikmati makanan yang sudah datang, kehamilan Laura berbeda dengan kehamilan Gisella.


Laura bersikap seperti biasanya, dia tidak merasakan mual muntah seperti di alami oleh Gisella.


Sehingga membuat Laura bebas untuk beraktivitas.


Rangga memperhatikan Laura, dia tidak berani untuk menghampiri Laura.


"Apa yang sedang di lakukan oleh Kak Laura di restoran ini yaa selain makan padahal ini adalah jam kerja Kak Laura."


Rangga tidak pernah menyerahkan untuk mengetahui apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh keluarga Laura dan Gisella.

__ADS_1


"Aku hanya ingin tahu siapa sebenarnya yang dari Gisella, kenapa aku tidak pernah bisa melihatnya dan kenapa tatapan mata Barra yang begitu sangat terkejut sekali ketika mendengar Gisella hamil."


Rangga terus saja memantau Laura dia pun berpura-pura memainkan handphone nya agar Laura tidak mencurigai nya.


__ADS_2