
Rangga terus saja memperhatikan wajah Gisella.
"Gisell, kamu kenapa nangis ? mata kamu berkaca-kaca seperti itu."
Rangga menghapus air mata Gisella yang menetes di pipi nya.
Gisella pun memegang tangan Rangga ketika tangan nya menyentuh pipi nya.
"Kita tidak pernah tahu ke depan nya akan seperti apa, tapi aku berharap besar kamu dan aku bisa bahagia selalu walaupun kita tidak bisa bersama kembali."
Ucapan Gisella membuat Rangga terdiam seakan memberitahu kepada nya jika mereka berdua tidak akan pernah bersama lagi.
Rangga pun melepaskan tangan nya yang menyentuh pipi Gisella.
***
Di kediaman Keluarga Barra, Laura begitu sangat bersemangat sekali untuk bisa menyiapkan makanan untuk Barra.
Dia mulai merubah sikap nya kepada Barra dan lebih perhatian kepada Barra.
Rossalinda melihat Laura yang sangat berbeda di hari ini.
"Apakah hari ini kamu tidak berkerja,? sehingga kamu bisa menyiapkan makanan untuk sarapan pagi."
Laura tersenyum manis kepada Rossalinda.
"Hari ini aku tetap berkerja tapi setelah Mas Barra pergi ke kantor nya."
Barra pun sangat terkejut sekali ketika melihat Laura yang menyiapkan makanan.
"Selamat pagi sayang, ayo cepat kita sarapan pagi dulu yaa."
Laura menarik tangan Barra untuk bisa segera duduk dan menikmati masakan hasil nya.
"Ini pertama kali nya aku masak loh Mas, yaa walaupun hanya nasi goreng tapi aku membuat nya dengan susah payah sekali."
Barra pun langsung mencoba masakan Laura, dan ternyata rasa sangat asin sekali.
Melihat ekpresi wajah Barra, Rossalinda memilih untuk tidak mencoba masakan Laura.
"Bagaimana Mas enak banget ga masakan aku, jangan bandingkan dengan masakan Gisella dia memang dari dulu sudah sering masak sedang aku kan sibuk mencari uang untuk sekolah Gisella sampai dia lulus sarjana."
Barra merasa jika Gisella merasa sangat berhutang banyak kepada Laura sehingga dia selalu mengikuti apa yang di katakan oleh Laura.
__ADS_1
Laura pun mulai mencoba masakan nya dan dia pun seketika langsung memuntahkan makanan tersebut.
Melihat Laura muntah dia depan nya, Rossalinda memilih untuk pergi begitu saja.
Dan Laura pun merasa sangat malu sekali kepada Barra dan Mama Rossa.
"Maafkan aku yaa Mas, aku ternyata masih belum juga bisa masak untuk kamu."
Barra pun langsung berdiri dari tempat duduk nya dan mencium kening Laura.
"Aku pergi ke kantor dulu yaa,"
Barra berjalan menuju ke mobil nya yang sudah di siapkan.
"Kenapa kebaikan sikap ku perubahan sikap ku tidak di terima oleh Mas Barra, aku sangat kesal sekali dengan keadaan ini."
Laura pun bersiap untuk pergi ke kantor nya.
Barra merasa sangat penasaran sekali dia pun memilih untuk pergi ke rumah Gisella.
"Daripada aku selalu memikirkan keadaan Gisella, lebih baik sekarang datang ke rumah nya saja."
Bara dari kejauhan melihat kedua orang tua Gisella yang begitu sangat sibuk sekali.
Barra menunggu toko tersebut sampai sepi sehingga dia bisa mengobrol dengan nyaman.
Ketika toko bunga tersebut sudah kelihatan sepi.
Barra memilih untuk turun dari mobil nya dan menghampiri kedua orang Gisella.
Kedatangan Barra membuat Riana merasa sangat kebingungan sekali harus berkata apa kepada Barra jika Barra bertanya tentang Gisella apalagi sekarang Gisella sedang bersama dengan Rangga di rumah sakit.
Barra menghampiri kedua orang Gisella dan bersalaman.
"Bu, bagaimana kabar Gisell?. Entah kenapa saya selalu memikirkan Gisell seperti membayangkan sesuatu hal yang terjadi pada Gisella."
Riana langsung menarik nafas panjang nya.
"Gisella, baik-baik saja dan sekarang dia sedang berada di rumah teman sekolah nya. Karena dia sangat rindu sekali bertemu dengan teman sekolah nya dulu."
Mendengar perkataan Riana, Barra seperti tidak percaya dengan apa yang di katakan nya
Barra merasa Bu Riana sedang berbohong kepada nya, tapi Barra tidak bisa berlama-lama karena dia pun harus pergi ke kantor nya.
__ADS_1
"Sebelum nya saya minta maaf ya Buu, tapi saya mohon sekali jika terjadi sesuatu dengan Gisella mohon memberitahu kepada saya. Karena saya wajib tanggung jawab kepada Gisella."
Barra pun langsung pergi begitu saja dan membuat Ayah Gisella bertanya kepada Riana.
"Kenapa ibu berbohong sama Barra, benar kata Barra jika Gisell itu sekarang adalah tanggung jawab Barra. Dia baik sekali loh buu dia bertanggung jawab terhadap Gisella."
Riana pun langsung menjelaskan semuanya kepada suaminya.
"Sekarang Gisell kan sedang bersama dengan Rangga, jika Barra kita beritahu dia pasti akan marah ketika Gisella sedang bersama dengan Rangga dan begitu juga Laura dia pasti akan marah besar kepada Gisella. Ibu kasihan sekali dengan Gisell yang seperti di musuhi oleh Laura padahal ini semua bukan kesalahan Gisell."
Ayah Gisella pun mengelus rambut istrinya tersebut.
"Kita berdoa saja Buu, semoga akan ada keindahan antara Laura dan Gisella. Kita yakin kan semuanya akan indah pada waktunya."
Riana pun menangis di pelukan suaminya sambil memikirkan nasib Gisella.
***
Rangga begitu sangat setia menemani Gisella, dia benar-benar menikmati momen kebersamaan mereka.
"Gisella, jika mungkin kita berdua memang tidak berjodoh semoga saja nanti anak kita yang berjodoh yaa. Anak kamu perempuan dan anak aku lelaki coba bayangkan pasti sangat indah sekali."
Gisella tersenyum ketika mendengar perkataan tersebut.
"Memang kapan kamu akan menikah nya,? jika jarak pernikahan kita jauh ya tidak mungkin itu terjadi. Dan siapa tau anak kita berdua sama-sama perempuan dia bisa bersahabat dengan baik kan."
Rangga pun langsung menghelakan nafas panjang nya sambil memandangi wajah Gisella.
"Jika mungkin aku harus menunggu kamu, aku mau menunggu kamu Gisella. Walaupun setatus kamu sudah pernah menikah."
Ketika Rangga yang mulai berbicara serius dengan Gisella datang Dokter yang akan memeriksa Gisella.
Melihat Dokter tersebut Rangga pun langsung keluar dari ruangan Gisella.
"Gisella bagaimana sekarang kondisi kamu,? apakah masih pusing dan lemas. Kamu harus banyak makan dan istirahat yaa dan jangan banyak pikiran."
Gisella pun merasa dirinya jauh lebih baik dari sebelumnya, dia sudah tidak merasa pusing lagi dan lemas karena Rangga terus menyuruh nya untuk makan.
"Wah, kondisi kamu sudah sangat membaik sekali Gisella. Seperti karena ada nya suami kamu yaa yang setia menemani kamu, yasudah besok pagi seperti nya kamu sudah bisa pulang yaa. Ingat jangan lupa makan yang banyak dan istirahat yang cukup."
Dokter tersebut pun langsung meninggalkan Gisella.
"Syukurlah, aku sudah bisa pulang besok. Aku memang sudah tidak betah di sini aku ingin beraktifitas kembali, seperti nya aku harus mulai mencari pekerjaan aku tidak mungkin hanya diam saja di rumah."
__ADS_1
Gisella pun mengambil handphone nya.