
Gisella terbangun dari tidurnya dia sangat kaget sekali ketika melihat Barra yang sudah tidak ada di samping nya.
"Astaga, aku mengabaikan Kak Barra pergi."
Gisella melihat handuk putih yang berada di samping nya.
"Seperti nya handuk ini di siapkan Kak Barra untuk aku, dia sangat perhatian sekali."
Gisella pun beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi memakai handuk yang sudah di siapkan oleh Barra.
Gisella memandangi wajah nya di depan cermin.
"Gisella jangan ada lagi ucapan untuk mengakhiri pernikahan kontrak ini, kamu kembali bersama dengan Kak Barra. Ini tandanya kamu bersedia untuk bisa hamil dan memberikan anak kamu untuk Kak Laura dan Kak Barra, sesuai dengan perjanjian sebelumnya."
Gisella membayangkan hal tersebut ketika nanti dia hamil dan melahirkan anak tersebut.
"Aku tidak boleh sedih begini, aku masih bisa melihat tumbuh kembang anak kuu. Jika nanti dia di rawat oleh Kak Laura."
Gisella pun mulai mencuci wajah nya dan mencoba untuk tidak memikirkan ke arah sana.
Setelah selesai membersihkan badan nya, Gisella melihat ATM yang di berikan oleh Barra kepada nya.
"Apakah ini benar-benar serius, bagaimana jika Kak Laura mengetahui nya dia pasti marah besar sama aku."
Gisella memilih menyimpan ATM tersebut ke dalam dompet nya.
Dia pun membuka gorden jendela kamar nya, dia melihat pemandangan yang sangat indah sekali.
"Sampai kapan aku harus terkurung di dalam Apartemen ini, seperti nya aku harus selalu menunggu Kak Barra di saat aku akan keluar dari Apartemen ini."
Gisella duduk di sofa dia melupakan sesuatu.
"Yaa Tuhan, aku lupa memberikan kabar kepada Ibu."
Gisella memilih untuk mengirimkan pesan kepada Ibunya.
"Lebih baik aku mengirimkan pesan saja, karena pasti ibu sangat sibuk sekali di Toko Bunga."
*Buu, aku sekarang sedang berada di Apartemen. Apartemen yang di siapkan oleh Mama Rossa untuk aku, Buu maafkan aku yang sering berubah-ubah kata. Sekarang aku sangat yakin jika akan meneruskan pernikahan kontrak ini sampai akhir perjanjian.*
Riana yang membaca pesan dari Gisella pun merasa sangat heran sekali.
"Seperti nya Gisella luluh kembali dengan perkataan manis Laura, apapun pilihan Gisell aku sebagai seorang ibu akan selalu mendukung nya."
__ADS_1
Riana pun membalas pesan tersebut.
*Yang terbaik untuk kamu sayang, ibu akan selalu mendukung kamu Nak. Apapun yang terjadi.*
Gisella pun tersenyum manis ketika membaca balasan pesan dari ibunya.
"Terimakasih banyak atas semua yaa Buu, Ibu selalu mendukung apapun keputusan aku. Semoga saja ini yang terbaik untuk aku."
Gisella pun memilih untuk menghabiskan waktu nya dengan menonton drama Korea kesukaan nya.
***
Laura merasa tidak fokus untuk menjalankan tugas nya di kantor.
Pikirkan terus saja tertuju pada Barra dan Gisella.
"Aku merasa sangat tidak nyaman untuk berpikir, aku ingin sekali bisa bertemu dengan Dokter Rivan. Aku ingin konsultasi kembali dengan dia tapi itu sangat tidak mudah aku hanya bisa berkonsultasi di saat dia libur.'
Laura semakin bersemangat sekali untuk menjalankan program kehamilan nya.
"Kamu harus semangat Lauraaa, kamu pasti bisa Laura kamu harus berjuang keras demi dua garis."
Laura memulai kembali pekerjaan nya, ketika dia sudah menyemangati diri nya sendiri.
"Astaga, kenapa aku bisa seperti ini. Sekarang aku lebih memikirkan Gisella daripada Laura, sedangkan dulu aku tidak pernah sampai seperti ini dengan Laura."
Barra mencoba untuk mengirimkan pesan kepada istrinya tersebut, dia ingin bisa berbuhungan baik kembali dengan Laura.
"Sikap Laura yang membuat aku menjadi berubah seperti ini, semoga saja aku bisa menjalani hubungan baik dengan Laura."
*Sayang, maafkan yang sudah terjadi sebelumnya. Hari ini bagaimana kalau kita makan siang bersama.*
Membaca pesan dari Barra, Laura pun langsung melemparkan handphone nya.
"Setelah dia sudah bermalam bersama dengan Gisella dia langsung berubah seperti ini, pasti supaya aku luluh dan membiarkan mereka selalu bersama. Tidak itu tidak akan pernah terjadi ketika nanti aku sudah hamil kamu tidak boleh lagi bertemu dengan Gisella, kamu hanya fokus dengan istri dan anak muu."
Laura mengabaikan pesan singkat dari suaminya tersebut, dia memilih untuk mengirimkan pesan kepada Dokter Rivan.
Barra yang menunggu balasan pesan dari Laura pun merasa sikap Laura semakin keterlibatan.
"Laura tidak membalas pesan dari kuu, baiklah aku yang akan pergi ke kantor Laura."
Barra memilih untuk pergi ke kantor Laura, dia ingin sekali menemui istrinya tersebut.
__ADS_1
Ketika Barra sampai di depan kantor Laura dia pun langsung berjalan menuju ke ruangan pribadi Laura.
Dan membuka pintu tersebut melihat Laura yang sedang asik memainkan handphone nya.
"Kenapa pesan kuu tidak kamu balas."
Barra merebut handphone Laura dan menyimpan nya.
"Aku tidak mau membalas nya aku malas untuk membalas nya."
Laura mencoba untuk menghindari Barra tapi Barra memeluk erat Laura dari belakang.
"Jangan seperti ini terus, aku cape jika kita terus menerus bertengkar seperti ini."
Laura mencoba melepaskan paksa pelukan erat dari Barra.
"Aku sekarang sedang berjuang untuk bisa program kehamilan Mas, aku butuh dukungan kamu dan kebersamaan berdua tapi kamu malah memilih untuk lebih sering bersama dengan Gisella."
Barra mencoba untuk menenangkan perasaan Laura.
"Iyaa maafkan aku ini kesalahan aku tapi aku mohon kamu jaga sikap kamu Laura, ingat dulu kamu sampai bersujud di hadapan Gisella hanya untuk pernikahan ini."
Barra mencoba untuk mengingat kembali masa-masa Laura yang memaksa Gisella dengan penuh perjuangan.
Tapi Laura merasa tidak terima dengan perkataan tersebut dia memilih untuk pergi meninggalkan suaminya sendiri di ruangan nya.
Barra tidak tahu harus bagaimana lagi bagi merubah sikap Laura kembali seperti dulu.
"Kenapa kamu jadi berubah seperti ini Laura, berikan kenyamanan kepada suami mu ini. Sehingga aku tidak memilih selalu ingin bersama dengan Gisella karena sikap nya yang membuat ku nyaman."
Laura memilih untuk pergi menemui kembali Dokter Rivan.
"Untuk saat ini yang aku butuhkan adalah bersama dengan Dokter Rivan, aku harus banyak meluangkan waktu kuu bersama dengan Dokter Rivan. Aku nggak boleh seperti terus aku nggak mau program kehamilan ku ini gagal hanya karena emosional ku yang tidak stabil."
Laura pun dengan sangat cepat langsung meninggalkan kantor nya, dia tidak mau Barra diam-diam mengikuti mobil nya.
Melihat Laura yang meninggalkan begitu saja, Barra pun memilih untuk pergi makan siang sendiri.
"Setiap aku melihat sikap Laura yang seperti membuat aku selalu teringat dengan Gisella."
Barra menghela nafas panjang nya dia begitu sangat kesal sekali.
__ADS_1