Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *188*


__ADS_3

Rivan pergi untuk mencari Laura dia begitu sangat merindukan Laura.


"Aku harus bisa membuat semua orang percaya jika aku mempunyai perasaan terhadap Gisella, dan di situ hubungan ku dengan Laura tidak akan pernah bisa terungkap oleh siapa pun."


Rivan mencoba untuk menghubungi nomer handphone Laura tapi tidak juga tidak ada jawaban.


"Nomber handphone Laura aktif tapi sepertinya dia tidak mau menjawab panggilan telephone nya."


Rivan mencoba untuk mengirimkan pesan kepada Barra.


*Tadi saya sudah melihat Gisella, saya rasa baby Tiara merindukan sosok Ayah nya. Saya akan bersama dengan Laura, agar kamu bisa santai bersama dengan baby Tiara.*


Rivan melakukan ini semua agar dia bisa bersama dengan Laura.


Barra yang membaca pesan dari Rival pun dia langsung terdiam.


"Rangga bilang Dokter Rivan mempunyai perasaan terhadap Gisella, tapi kenapa bukan dia saja yang menemani Gisella sekarang tapi aku memang sangat merindukan Baby Tiara."


Barra pun akhirnya memilih untuk pergi ke rumah Gisella.


Rivan mencari keberadaan Laura dia mencoba untuk datang ke toko yang suka di datangi oleh Laura.

__ADS_1


Sampai akhirnya Rivan bertemu dengan Laura yang sedang memilih aksesoris.


"Laura Renita, kamu sedang memilih aksesoris yaa."


Laura begitu sangat membenci kehadiran Rivan.


"Untuk apa kamu bisa ada di sini,? dan kenapa kamu masih saja menemui kuu. Bukan kah apa yang kamu inginkan sudah kamu dapatkan di malam itu."


Laura berbicara dengan nada yang sangat rendah sekali.


"Yang aku inginkan itu adalah bisa menikah bersama dengan mu Laura, kita menjadi keluarga yang sangat bahagia sekali. Dan kamu tidak akan pernah menyesal setelah kamu menikah dengan kuu."


"Laura jika bulan depan kamu telat langsung datang ke Rumah Sakit Sejahtera."


Laura seketika langsung memegang perut nya.


"Tidak aku tidak akan hamil, kalau pun aku hamil itu adalah anak suami kuu. Bukan anak kamu Rivan dan pergi sana jangan mengganggu pikiran kuu."


Laura mencoba untuk pergi tapi Rivan memegang tangan Laura.


"Barra sudah bahagia bersama dengan Gisella, karena Gisella sudah memberikan apa yang Barra inginkan. Masih kah kamu berharap cinta yang tulus dari Barra, lebih baik kita memulai kebahagiaan bersama dalam rumah tangga."

__ADS_1


Laura menggelengkan kepalanya sambil melepaskan paksa genggam erat tangan tersebut.


"Lebih baik kamu saja yang menikah dengan Gisella, jangan kamu punya pikiran jika Gisella akan bersama dengan suami kuu. Itu tidak akan pernah terjadi karena hanya aku wanita yang di cintai oleh Mas Barra."


Rivan tersenyum manis kepada Laura mendengar perkataan Laura.


"Kamu mencintai Barra dan Barra juga mencintai kamu, tapi bagaimana jika Barra mengetahui jika istri nya sudah bermalam bersama dengan lelaki lain. Di awal menolak tapi akhirnya menikmati."


*Plaaaakkkkkkk*


Laura menampar keras wajah Rivan sampai orang-orang yang ada di sekitar memperhatikan mereka berdua.


"Jaga ucapan kamu yaa Rivan, tapi percuma saja jika kamu menceritakan semuanya kepada Mas Barra. Kamu tidak mempunyai bukti yang sangat kuat sekali."


Rivan lagi-lagi tersenyum manis kepada Laura.


"Kita lihat saja nanti dengan menggunakan tes DNA, jika kamu nanti hamil dan melahirkan anak pertama kita."


Rivan benar-benar membuat Laura semakin despresi, Rivan memilih untuk pergi meninggalkan Laura.


Laura pun berteriak-teriak sambil menjambak rambut panjang nya.

__ADS_1


__ADS_2