Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *177*


__ADS_3

Gisella mulai menunggu sinyal-sinyal cinta kedatangan buah hati nya.


"Ayolah sayaaaaang, ini sudah waktunya kamu lahir di dunia ini. Ibu sudah tidak sabar sekali ingin bertemu dengan kamu."


Gisella terus saja mengelus perut besar nya.


Riana pun menghampiri Gisella yang sedang duduk sambil melamun memegang perut nya.


"Gisella apakah kamu merasakan kontraksi palsu,? apa yang kamu rasakan sekarang?."


Riana memegang perut besar Gisella.


"Aku tidak merasakan apa-apa Buu, hanya gerakan aktif saja yang aku rasakan."


Gisella seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Gisella apa yang sedang kamu pikirkan,? jangan ada sesuatu yang membuat pikiran mu berat ingat kamu harus dalam keadaan tenang dalam menjalankan proses persalinan ini."


Riana merasa jika Gisella butuh seseorang di samping nya.


"Yasudah yaa sayaaaaang lebih baik sekarang kamu gerakan badan muu, kamu berjalan saja di depan rumah kita."


Gisella pun mengikuti apa yang di katakan oleh Ibu nya.


***


Laura seperti di dihantui rasa ketakutan di hadapan Barra.


"Laura, bagaimana dengan perut muu itu. Apakah sudah semakin membaik?."


Barra terus saja memperhatikan Laura.


"Iya, perut ku semakin membaik dan aku rasa ini karena kemarin aku sudah periksa kondisi perut kuu. Aku rasa obat nya sangat ajaib sekali."


Barra pun tersenyum manis kepada Laura.


"Mas, bagi jika malam ini kita makan malam bersama. Aku ingin sekali kita semakin dekat kembali."


Laura seperti ingin menebus apa yang sudah dia lakukan dengan Dokter Rivan.


"Baiklah, nanti aku kabarkan kembali yaa. Sekarang aku pergi ke kantor yaa dan jika kamu ingin pergi ke kantor kamu. Hati-hati yaa."


Setelah berpamitan untuk pergi Barra pun mencium kening Laura.


"Kamu juga hati-hati yaa Mas, semoga perkerjaan kamu di permudah."


Laura pun seperti tidak ada bersemangat untuk pergi ke kantor nya.


Laura terus saja memikirkan Dokter Rivan.


"Apa takut sekali, Rivan sampai melakukan sesuatu lagi. Aku tidak mau kehilangan Mas Barra dalam hidup kuu."

__ADS_1


Laura pun mulai bersiap-siap untuk pergi ke kantor.


Dia begitu sangat cantik sekali karena dia akan melakukan pemotretan untuk produk bedak terbaru nya.


"Aku harus segera pergi jangan sampai aku telat."


Laura pun masuk ke dalam mobil nya tapi tiba-tiba saja di atas mobil nya ada setangkai mawar merah.


Laura mengambil setangkai mawar merah tersebut.


"Seperti nya, ini bunga mawar dari Rivan. Astagaaaa Rivan tidak bisa kah kamu tidak menggangu aku."


Laura memilih untuk membuang setangkai mawar merah tersebut.


Dan orang suruhan Dokter Rivan pun melihat nya.


"Aku benci sekali dengan sikap Rivan yang seperti itu kepada kuu."


Laura masuk ke dalam mobil nya, dia seperti sudah tidak merasakan sakit di bagian perut nya.


"Luka di perut ku sudah sembuh, baiklah aku bisa fokus beraktifitas kembali."


Laura pun mengendarai mobil nya menuju ke kantor nya.


Dia mulai mempersiapkan pemotretan dan mulai mengganti baju nya.


Laura terlihat sangat cantik sekali ketika dia sendiri yang menjadi model produk kosmetik nya sendiri.



Dokter Rivan yang baru saja sampai di Rumah Sakit, dia merasa sangat bahagia sekali ketika melihat foto terbaru Laura yang di kirimkan.


"Laura, kamu sangat cantik sekali dan aku ingin memiliki muu. Kamu tidak akan pernah menolak kehadiran mu setelah kamu mengetahui apa yang aku sembunyikan selama ini."


Dokter Rivan terus saja meminta orang suruhan nya untuk mengikuti terus Laura.


Laura merasa sangat puas sekali ketika dia melihat hasil dari pemotretan nya.


"Hasil nya sangat bagus sekali dan aku sangat menyukai nya."


Laura mencoba untuk mengirimkan hasil pemotretan tersebut kepada Barra.


Tapi karena Barra yang terlalu sibuk dia tidak sempat untuk melihat kiriman foto tersebut.


***


Riana memilih Gisella yang sedang berjalan-jalan santai mengelilingi halaman rumah nya.


Dia memilih untuk menghubungi nomber handphone Barra.


Barra yang sedang sibuk pun, langsung menjawab panggilan telephone dari Ibu mertua nya.

__ADS_1


"Seperti nya panggilan telephone ini sangat penting sekali."


Barra pun langsung menjawab panggilan telephone tersebut.


*Hallo Buu, ada apa yaa Buu?.*


*Barra, maafkan ibu yang menggangu waktu kamu yang sedang sibuk untuk berkerja. Tapi ibu ingin sekali di saat Gisella melahirkan nanti kamu bisa ada di samping Gisella untuk menemani Gisella yang berjuang untuk melahirkan anak pertama kamu.*


*Apakah sekarang Gisella sudah merasa tangan-tangan untuk melahirkan Buu,? jika sudah saya akan segera pergi ke sana.*


*Belum, Gisella belum merasakan apapun. Tadi pagi dia kelihatan seperti sedang memikirkan sesuatu sambil memegang perut besar nya.*


*Yasudah Buu, jika Gisella mulai merasakan tanda-tanda untuk melahirkan langsung saja hubungi saya yaa Buu. Saya pasti akan menemani Gisella.*


*Baiklah Barra, terimakasih banyak yaa.*


*Iya Buu tidak apa-apa itu memang sudah tanggung jawab saya, sebagai ayah dari anak yang sekarang di kandung oleh Gisella.*


Riana pun mengakhiri panggilan telephone nya, dia menghampiri Gisella.


"Aku sangat bahagia sekali ketika aku bisa menemani Gisella di saat dia melahirkan nanti, maafkan aku Gisella aku yang kurang perhatian di saat kamu sedang mengandung anak kita."


Barra kembali berkerja dia merasa mempunyai semangat baru.


"Barra sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Papa, aku tidak percaya akhirnya ini terjadi kepada kuu."


Barra mengabaikan foto yang di kirimkan oleh Laura.


"Mas Barra lagi apa sih, sampai aku kirim foto pun tidak dia lihat sama sekali."


Laura menyimpan handphone nya dia menunggu balasan pesan dari suami nya tersebut.


Dan tiba-tiba saja handphone nya bergetar, Laura langsung mengambil handphone nya tersebut.


Tapi ternyata itu bukan balasan pesan dari Barra melainkan dari Dokter Rivan.


*Kamu begitu sangat cantik sekali Laura*



*Kecantikan kamu tidak pernah berubah dari sejak dulu, aku akan terus mengagumi muu.*


Laura merasa sangat kesal sekali kenapa bukan suami nya tetapi orang lain yang memuji nya.


"Ahhhhhhh, aku merasa tidak bersemangat sekali. Aku memang harus banyak meluangkan waktu bersama dengan Mas Barra. Tapi jangan sampai Rivan mengirimkan pesan di saat aku sedang bersama dengan Mas Barra itu sangat bahaya sekali untuk rumah tangga kuu."


Laura memikirkan tempat mana yang akan dia datangi dengan suami nya.


Laura menginginkan tempat yang sangat romantis sekali untuk mereka berdua.


"Aku harus membuat Mas Barra bahagia di makan malam romantis bersama dengan kuu, aku harus membuat Mas Barra tidak bisa melupakan makan malam tersebut."

__ADS_1


Laura mulai mencari restoran yang mewah untuk acara malam ini.


__ADS_2