
Dokter Rivan begitu sangat perhatian sekali kepada Laura, dia merawat Laura dengan sangat baik sekali.
Tapi tatapan mata Laura membuat Dokter Rivan tidak bisa menahan rasa ingin bersama dengan Laura.
Laura yang kelihatan sangat lemas sekali pun dia merasa jika Dokter Rivan terus-menerus mendekati nya.
"Rivan, apa yang akan kamu lakukan kepada kuu hah. Tidak Rivan jangan sampai kamu melakukan ini semua Rivan, bagaimana jika suami ku datang dan melihat apa yang sudah kita lakukan. Aku mohon Rivan jangan."
Semakin Laura menolak semakin Rivan menginginkan malam bersama dengan nya.
Laura yang begitu sangat terlihat sangat lemah sekali.
Dokter Rivan pun mematikan lampu kamar mereka dan menutup rapat mulut Laura dengan ciuman nya.
"Diam saja dan rasakan saja jangan menolak nya Laura, ini akan membuat ikatan cinta kita berdua semakin nyata dan kamu akan terus mengingat aku bukan suami kamu."
Ke dua tangan Laura di pegang sangat kuat sekali, Laura yang memang kondisi nya sangat lemah pun seperti tidak bisa berontak dengan apa yang sudah di lakukan oleh Dokter Rivan.
Mereka berdua pun menikmatinya malam bersama di Apartemen Laura.
***
Barra sampai di rumah nya, dia pun di sambut oleh Rossalinda.
Rossalinda memeluk erat Barra dia merasakan rindu yang luar biasa dengan Barra.
"Akhirnya kamu kembali pulang Nak, tapi tidak dengan istri muu. Apakah dia tidak mau masuk lagi ke rumah ini."
Rossalinda membantu Barra untuk melepaskan jas hitam nya.
"Aku tidak bersama dengan Laura tapi aku bersama dengan Gisella, hari ini aku lagi-lagi bertengkar dengan Laura dan hati menjadi baik ketika bertemu dengan Tiara. Dia membuat ku seketika melupakan segala nya."
Barra dan Rossalinda pun duduk berdampingan di ruangan keluarga.
"Rumah ini begitu sangat sepi sekali, Mama yang berharap mendapatkan cucu pertama dari muu yang bisa di ajak tinggal bersama dengan Mama di sini. Mama merasa sangat kesepian sekali Barra."
Barra merasa sangat kasihan sekali melihat Mama nya yang hanya tinggal bersama dengan para pelayan nya saja di rumah yang sangat besar ini.
Barra tidak bisa memaksa Laura untuk tinggal kembali di sini karena posisi Laura yang sekarang sedang hamil muda.
"Barra, jika kamu libur dan Gisella pun libur. Bisakah kamu membawa Gisella dan Tiara ke rumah ini. Tapi jangan sampai Laura mengetahui nya yaa dia hanya bisa membuat kerusuhan saja."
Rossalinda terlihat sangat tidak suka dengan Laura, dia tidak bisa lagi menyembunyikan nya di depan Barra.
"Lebih baik jangan di rumah ini Mam, bukan kah besok itu adalah jadwal pemotretan Gisella untuk produk shampo nya. Nanti aku akan menjemput Gisella bersama dengan Tiara."
Rossalinda pun lupa dengan jadwal tersebut.
"Astagaaaa, Mama sampai lupa. Tapi pemotretan itu kan di lakukan sekitar jam 9 atau jam 10 siang. Kamu kan pasti harus berkerja."
Barra tersenyum manis kepada Mama nya.
"Ada Melati asisten pribadi aku, begitu tidak ada rapat penting. Aku akan menyerahkan semuanya kepada dia nanti malam aku telephone dia."
Barra pun merasa sangat cape sekali dia beranjak dari tempat duduk nya dan berpamitan untuk beristirahat kepada Mama nya.
"Mam, aku tidur duluan yaaa. Maafkan aku yang tidak bisa berlama-lama mengobrol bersama dengan Mama."
Barra pun berjalan menuju ke kamar nya.
"Sampai kapan rumah tangga muu akan bertahan lama dengan Laura, aku merasa sangat kasihan sekali melihat Barra. Tidak ada kebahagiaan semenjak pernikahan nya bersama dengan Laura, justru Gisella yang membuat Barra bahagia dengan kehadiran Tiara."
Rossalinda pun memilih untuk pergi ke kamar nya juga.
"Lebih baik aku pun istirahat juga, karena besok bisa bertemu dengan Gisella dan Tiara."
Rossalinda berjalan menuju ke kamar nya.
Barra membuka pintu kamar nya, dia pun memandangi foto-foto kebersamaan mereka berdua.
Barra hanya bisa tersenyum ketika foto-foto kebersamaan nya seperti menunjukkan kebahagiaan.
Barra duduk di atas tempat tidur nya sambil memandangi foto Laura.
"Laura, dulu aku berjuang untuk bisa mendapatkan muu. Ketika Mama tidak setuju dengan pernikahan kita karena usia mu yang lebih tua sepuluh tahun dari kuu. Dan aku pun tidak pernah menyangka jika aku bisa menikah dengan Gisella yang merupakan adik ipar kuu sendiri. Gisella yang seumuran dengan kuu yang bisa memberikan Tiara."
Barra mulai menghawatirkan kondisi Laura.
"Laura apakah kamu baik-baik saja,? apa aku telephone saja dia yaa."
Barra mengambil handphone nya dia berniat untuk mengetahui Laura.
Handphone Laura berdering sangat kencang sekali dan membuat Laura ingin menyelesaikan permainan nya bersama dengan Dokter Rivan.
__ADS_1
Laura mencoba untuk mendorong tubuh Dokter Rivan tapi pelukan Dokter Rivan sangat begitu erat sekali.
"Rivan aku mohon hentikan, aku sudah sangat lemas sekali."
Suara Laura terdengar sangat lirih sekali.
"Aku tidak mau menghentikan nya Laura, jika kamu menjawab panggilan telephone tersebut maka Barra akan datang ke sini dan akan melihat kita berdua."
Panggilan telephone tersebut terus saja berdering dan akhirnya pun terdiam.
"Mungkin Laura sudah tidur, biarkan dia beristirahat dan memikirkan apa sudah dia perbuat. Semoga Laura bisa lebih baik lagi."
Barra menyimpan foto Laura di atas bantal yang sering di pakai oleh Laura
Barra pun mematikan lampu kamar nya dan mulai beristirahat.
Rivan yang sudah merasa sangat puas sekali pun menyalakan kembali lampu kamar Laura.
Dia melihat mata Laura yang berkaca-kaca melihat nya.
"Rivan, kenapa kamu sangat jahat sekali kepada kuu. Kamu melakukan nya dengan aku yang sudah mempunyai suami dan kamu pun mengenal suami kuu."
Rivan memakai pakaian nya, dan dia pun menghampiri Laura.
"Laura,? pernah kamu berpikir jika rumah tangga mu tidak akan pernah bahagia sampai kapan pun kamu hanya bertengkar dengan suami muu."
Rivan memberikan pakaian Laura.
"Laura seharusnya kamu menyadari jika pernikahan muu itu seharusnya sudah selesai setelah Gisella hamil anak Barra. Kamu akan selalu saja berpikiran negatif terhadap Gisella dan Barra walaupun mereka berdua sebenarnya tidak melakukan apa-apa."
Laura terdiam ketika mendengar perkataan dari Rivan.
"Tapi aku tidak mau kehilangan suami kuu, aku tidak mau kehilangan nya. Dan aku yakin di usia empat tahun pernikahan kuu semuanya akan berubah menjadi keindahan."
Rivan tersenyum manis kepada Laura.
"Bahagia jika kamu bisa merubah sikap muu yang egois, dan aku yakin lama-lama Barra pun akan merasa lelah dengan sikap mu yang sekarang."
Rivan pun langsung pergi meninggalkan Laura ketika dia sudah mendapatkan kepuasan bersama dengan Laura.
Laura terdiam melamun sambil menarik selimut yang membungkus tubuh nya.
"Semua yang di katakan oleh Rivan itu salah, Barra tidak akan pernah menyerah untuk kuu. Perjuangan cinta kepada ku itu sangat luar biasa sekali. Aku dan Barra tidak akan pernah bisa berpisah walaupun anak yang ada di dalam kandungan ku ini bukan anak nya."
Laura mencoba untuk merahasiakan tentang kehamilan ini dengan Rivan.
Laura memilih untuk mempertahankan kehamilannya, dia tidak mau menyakiti anak yang tidak bersalah.
"Bodoh aku yang sudah menelephone Rivan dan mengatakan tidak ada Barra di Apartemen ini, jika tidak menelephone Rivan mungkin malam ini tidak akan seperti ini. Aku mungkin memang harus mengendalikan emosi kuu lagi."
Laura pun memakai pakaian nya dia takut besok pagi Barra datang.
Laura merapihkan tempat tidur nya, walaupun sebenarnya dia masih merasakan pusing.
"Untung saja aku tidak mual muntah di hadapan Rivan, sehingga dia tidak curiga dengan kuu."
Laura yang merasa sangat lelah sekali dia pun beristirahat.
~~Keesokan harinya ~~
Gisella bangun lebih pagi dari sebelumnya, dia terlihat sangat sibuk sekali karena akan menjalani pemotretan.
Gisella menyangka jika pemotretan tersebut akan dilaksanakan pada pukul 08:00 pagi.
Ketika Gisella yang sedang sibuk menyiapkan semuanya.
Handphone pun bergetar tanda ada pesan masuk.
Gisella langsung membaca pesan tersebut yang ternyata dari Mama Rossa.
*Gisella pemotretan akan di laksanakan jam 10 siang, kamu santai saja yaa. Nanti Barra yang akan menjemput kamu bersama dengan Tiara. Mama sangat ingin sekali bertemu dengan Tiara.*
Setelah membaca pesan tersebut Gisella seperti merasa bisa bernafas lega.
*Baiklah Mam, terimakasih banyak atas informasinya.*
Gisella pun bisa bersantai sejenak dia bisa sarapan sambil bermain-main dengan Tiara.
Ketika Gisella yang menikmati pagi hari bersama dengan Tiara.
Barra terlihat sangat sibuk sekali dia seperti mengejar waktu.
"Barra, ini masih jam 7 pagi dan kamu sudah sangat rapih sekali. Bukan kah kamu tidak pergi ke kantor hari ini."
__ADS_1
Barra meminum segelas Coffe yang sudah di sediakan di meja.
"Aku mau ke Apartemen Mam, aku mau melihat Laura. Semalam aku telephone dia tapi tidak di jawab panggilan telephone kuu, aku menghawatirkan nya."
Rossalinda merasa sangat tidak senang sekali ketika Barra ingin bertemu dengan Laura.
"Ingat yaa Barra, kamu hari sudah berjanji akan menjemput Gisella dan Tiara untuk pemotretan produk shampo terbaru Gisella. Jangan sampai ketika kamu bertemu dengan Laura dia melarang muu dan kamu membatalkan nya. Sudah tidak ada lagi pikiran positif untuk perempuan itu hanya negatif lah yang selalu Mama pikirkan tentang Laura."
Barra yang melihat Mama nya sedang emosi dia memilih untuk pergi tidak berpamitan terlebih dahulu dengan Mama nya.
"Hmmmmm, lihat saja kalau sampai Laura tidak mengijinkan Barra menjemput Gisella."
Barra pun masuk ke dalam mobil nya, dia merasakan hal yang berbeda dengan dirinya.
"Biasanya jika kita berdua dengan seperti ini, aku selalu memberikan hadiah kepada Laura. Tapi kenapa sekarang aku seperti sangat malas sekali untuk memberikan hadiah untuk Laura."
Barra di perjalanan menuju ke Apartemen Laura, sedangkan Laura baru terbangun dari tidurnya.
"Aku harus cepat-cepat membersihkan badan ku ini, ini sangat kotor sekali."
Ketika Laura masuk ke dalam kamar mandi dia menatap wajah nya di cermin.
"Masih kah aku pantas bersama dengan suami kuu,? maafkan aku Mas. Aku janji ini yang terakhir kali nya, aku tidak akan lagi menghianati kamu."
Laura terus saja membasuh wajah nya, dia seperti ingin melupakan apa yang sudah dia lakukan dengan Rivan di malam itu.
Tapi bayangan wajah Rivan yang terus-menerus ada di pikiran Laura.
Laura memilih untuk berlama-lama berada di kamar mandi.
Dia seperti ingin sekali merendam di air hangat dengan mencium aroma terapi lilin yang dia nyala kan.
Barra berada di depan pintu Apartemen dia langsung membuka nya dan ternyata pintu Apartemen tidak terkunci.
"Laura sangat ceroboh sekali semalam seperti nya pintu ini tidak dia kunci."
Barra menuju ke kamar nya dia melihat kamar yang begitu sangat rapih sekali tidak seperti biasa nya.
Barra mengetahui jika Laura berada di dalam kamar mandi.
Barra memilih untuk menunggu Laura selesai mandi.
Ketika Laura selesai mandi dia melihat rambut Laura yang basah habis di keramas.
Seketika Laura langsung terkejut ketika melihat Barra yang sudah ada di dalam Apartemen.
"Rambut kamu basah sekali Laura."
Tangan Laura bergetar sambil memegang rambut nya.
Laura pun menundukan kepala nya, dia tidak berani menatap wajah Barra.
"Iyaa Mas, aku akan memakai hairdryer dulu. Agar rambut aku kering."
Laura terlihat sangat gugup sekali tidak seperti biasa nya.
Barra berpikir jika pagi ini dia akan bertengkar kembali dengan Laura.
"Laura, aku pergi ke kantor dulu yaa. Kamu jangan lupa untuk memeriksa kehamilan muu. Belajar dari pengalaman yang sebelumnya."
Barra memilih langsung pergi dia tidak menghampiri Laura.
Laura pun langsung memegang perut nya, dia merasa sangat ketakutan sekali.
"Kenapa sikap Mas Barra menjadi berubah yaa, dia pergi begitu saja. Biasa nya sebelum dia pergi ke kantor dia mencium kening kuu."
Laura pun melamun sambil mengeringkan rambut nya.
Laura pun memilih untuk bersiap-siap untuk pergi ke kantor nya.
"Lebih baik sekarang aku pergi ke kantor saja, dan aku akan mencari Apartemen yang baru. Aku sudah tidak mau lagi tinggal di Apartemen ini."
Laura yang sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor dia membuka pintu Apartemennya nya.
Dan di depan pintu Apartemen nya ada bucket bunga warna putih.
"Mawar putih siapa ini yaa, aku tidak mau mengambil nya. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama."
Laura mengabaikan mawar putih tersebut di depan Apartemen nya.
Laura masuk ke dalam mobil nya, dia mengambil handphone nya terlebih dahulu.
Dia mendapatkan informasi dari asisten pribadi nya.
__ADS_1
*Buu, hari ini adalah pemotretan perdana produk shampo milik ibu Rossalinda yang di pimpin oleh Ibu Gisella Reviska. Mereka kabar nya menggunakan tema natural.*
Laura seketika terdiam ketika membaca pesan tersebut.