Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode #208#


__ADS_3

Riana terus saja berjalan sambil menangis mencari Gisella.


"Gisella sayaaaaang, kembali lagi Nak. Kembali tinggal bersama dengan Ibu Nak."


Riana menangisi Gisella yang pergi begitu saja.


Di perjalanan menuju ke Apartemen Gisella terus saja menangis sambil memeluk erat Tiara.


"Sayaaaaang, sekarang kita harus bisa bertahan hidup berdua. Ibu benar-benar akan menjadi singel mother untuk kamu Nak. Untuk sementara kita berdua tinggal di Apartemen yaa sayang setelah itu ibu harus mencari Baby Sister untuk kamu dan mencari tempat tinggal untuk kita semua."


Tiara pun terus saja memandangi wajah Ibu nya yang menangis dia seperti mengerti dengan apa yang terjadi dengan Ibu nya.


Sampai akhirnya mereka berdua pun sampai di depan Apartemen.


Gisella membuka pintu Apartemen tersebut tapi dia merasa seperti ada orang di dalam Apartemen tersebut.


Gisella pun berjalan menuju ke kamar dan dia melihat Barra yang sedang tertidur pulas di atas kasur.


Gisella tidak berani untuk membangunkan Barra, dia memilih membawa Tiara ke sofa dan menidurkan nya.


"Kamu tidur di sini yaa Nak, tidak apa-apa Ibu akan memeluk kamu sayaaaaang."


Gisella pun memilih untuk tidur di sofa di samping Tiara, dia memeluk Tiara sambil meneteskan air mata nya.


"Aku tidak menyangka jika Kak Laura bisa se jahat itu kepada ku, dia benar-benar membenci kuu. Tapi mungkin jika Kak Laura tidak seperti ini maka aku tidak akan dewasa untuk bisa mandiri."


Gisella terus saja memandangi wajah Tiara, dia begitu sangat kasihan sekali lagi putri cantik nya.


"Seperti nya besok aku tidak akan masuk berkerja, aku tidak mungkin bisa berkonsentrasi untuk berkerja dengan kondisi ku yang seperti ini."


Gisella pun mencoba untuk menutup mata nya, dia mencoba usaha melupakan semua nya sejenak dengan beristirahat.


Gisella merasa sangat lelah sekali sampai dia tidak menyadari Tiara terbangun suara Tiara terdengar oleh Barra.


Barra yang merasa suara itu seperti mimpi tapi terdengar sangat jelas sekali.


Barra pun terbangun dari tidur nya, dia mendengar suara itu semakin jelas.


"Seperti terdengar suara bayi, tapi di mana yaa. Tidak mungkin ada bayi di Apartemen ini."


Barra pun beranjak dari tempat tidur nya karena dia merasa sangat penasaran sekali, Barra mencoba untuk berjalan menuju ke ruangan tamu dan dia melihat ada Gisella dan juga Tiara yang tidur di sofa dengan koper di samping nya.


"Tiara sayaaaaang anak Papa."


Barra pun langsung menggendong Tiara dia membawa Tiara ke dalam kamar nya.


"Tiara sayaaaaang kamu kenapa bisa ada di sini Nak, kenapa sayaaaaang. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu dan Ibu."


Barra terus saja memeluk erat Tiara dia memang sangat merindukan Tiara.


Barra melihat Gisella yang tidur sangat pulas sekali.


"Kita jangan menggangu Ibu yang sedang tertidur pulas yaa kasihan Ibu, Papa akan membawa kan perlengkapan untuk kamu yaa."


Barra mengambil Box yang berisi susu untuk Tiara , Barra juga menyiapkan termos untuk Tiara yang ingin meminum susu formula.


"Malam ini kamu tidur bersama dengan Papa yaa, kita tidur berdua sayaaaaang malam ini. Kamu pasti sangat senang sekali yaa dan Papa juga sangat senang sayaaaaang."


Barra menidurkan Tiara di kasur nya dia terus saja memperhatikan wajah Tiara, Barra juga yang mengantikan Pampers dan membuatkan susu formula untuk Tiara.


Ketika Barra yang begitu sangat bahagia sekali ketika bisa bersama dengan Tiara.


Beda lagi dengan Laura yang sekarang sedang berada di rumah orang tua nya.


Riana merasa sangat sedih sekali ketika dia tidak bisa menahan Gisella untuk pergi, dan dia semakin sangat emosional sekali ketika dia melihat wajah Laura.


"Senang kamu Laura,? Gisella sekarang sudah pergi dengan anak bayi yang masih dua bulan. Sekarang ibu tidak tahu Gisella pergi ke mana ini sudah larut malam."


Riana menangis di hadapan Laura.


"Buu, tadi Gisella bilang kan jika dia akan pergi ke Apartemen yang sudah di berikan oleh Mama Rossa kepada nya waktu dia baru menikah. Luar biasa sekali tidak Gisella dengan sangat mudah nya dia sudah mendapatkan sebuah Apartemen tanpa harus berkerja keras."


Riana begitu sangat kesal sekali dengan sikap Laura.


"Lalu apa maksud dari kedua kamu ke rumah ini,? apakah hanya untuk mengusir adik kamu saja? jahat sekali yaa kamu Laura kamu cantik tapi hati kamu licik sekali. Lebih baik kamu pergi sekarang juga kembali ke tempat mu ingat kamu sudah mempunyai suami kan."


Riana memilih untuk meninggalkan Laura, dia pergi ke kamar nya.

__ADS_1


"Ayah kenapa ibu begitu sayang sekali dengan Gisella, dia tidak menyukai ku bahkan aku yang sekarang sedang hamil muda pun di suruh pergi dari rumah ini."


Laura meminta simpatik dari Ayah nya karena dia tahu hanya Ayah nya yang sayang kepada nya.


"Yasudah Nak, kamu istirahat saja di kamar kamu yaa. Abaikan saja ucapan ibu mu itu karena dia yang seksi sedang memikirkan Gisella."


Laura pun tersenyum manis kepada Ayah nya, dia memeluk erat Ayah nya.


"Terimakasih banyak yah Ayah, aku sangat sayang sekali dengan Ayah. Hanya Ayah yang mengerti aku dan perhatian kepada kuu."


Laura pun langsung masuk ke dalam kamar nya.


"Aku tidak mungkin, membenci Laura. Walaupun sikap nya yang memang sangat jahat sekali kepada Gisella tapi aku pun tidak mungkin harus membenci Laura karena dia juga adalah anak kandung kuu."


Laura masuk ke dalam kamar nya, dia merasa sangat merindukan sekali kamar tidur nya.


"Ahhhhhhh, nyaman sekali kamar ini. Mungkin aku akan menghabiskan beberapa hari di rumah ini, sejenak melupakan permasalahan yang ada di pikiran ku ini."


Laura menghampiri meja belajar nya dia pun duduk sambil membuka laci meja belajar nya.


Laura menemukan foto-foto kebersamaan bersama dengan Rivan ketika mereka berdua masih berpacaran dulu.


"Rivan memang adalah cinta pertama ku, dan Aku juga adalah cinta pertama Rivan. Tapi sekarang aku yang sudah memiliki Barra walaupun usianya 10 tahun lebih muda dari ku tapi aku sangat mencintai nya sampai kapanpun."


Laura memilih untuk menyimpan kembali foto tersebut dia merasa aman menyimpan foto tersebut di dalam laci karena tidak ada yang berani masuk ke dalam kamar nya.


Semua barang-barang yang ada di kamar nya pun masih tertata rapi seperti dulu.


Laura sama sekali tidak memiliki rasa menyesal atau bersalah ketika dia sudah mengusir Gisella dari rumah.


"Baiklah Laura, kamu akan tertidur pulas di sini dan jangan lupa untuk menonaktifkan handphone kamu supaya tidur mu lebih menyenangkan tanpa pengganggu."


Sebelum tidur Laura memilih untuk mengunci pintu kamar nya, dia juga mematikan lampu kamar dan menarik selimut untuk bersiap tidur pulas.


Dimas mencoba untuk menghampiri Riana di kamar, dia melihat Riana yang masih saja menangis.


"Buu, kita tahu ini adalah kesalahan Laura. Perlakuan Laura terhadap Gisella memang sudah sangat keterlaluan sekali tapi sekarang Laura sedang hamil anak kedua. Mungkin sikap Laura yang seperti karena dia yang merasa despresi ketika kehilangan anak pertama nya."


Dimas terus saja mencoba untuk menenangkan perasaan Riana.


Riana pun memilih untuk langsung tidur dia tidak sanggup untuk terus berkata-kata dengan suami nya.


~Ke esokan hari nya~


Barra merasa sangat lelah sekali dia kurang tidur karena membuatkan susu formula untuk Tiara dan juga mengganti pempers Tiara.


"Ternyata lelah sekali menjadi Bapak rumah tangga, tapi tidak apa-apa semua demi kamu sayang."


Ketika Barra Ingin memejamkan mata nya sebentar terdengar suara tangisan Tiara yang seperti nya meminta susu.


Seketika Barra pun langsung terbangun dan segera membuat kan susu formula untuk Tiara.


Gisella terbangun dari tidur pulas nya dan dia melihat Tiara yang tidak ada di samping nya.


"Tiara sayaaaaang kamu di mana Nak."


Gisella pun langsung mencari Tiara dia takut Tiara terjatuh ke lantai.


"Tiara tidak ada di lantai, Astaga Tiara kamu di mana sayaaaaang."


Gisella pun tersenyum berlari menuju ke kamar nya, dan dia melihat Barra yang sedang memberikan susu formula kepada Tiara dengan mata terpejam.


"Tiara, ternyata kamu semalam bersama dengan Papa kamu Nak."


Gisella yang melihat Tiara memejamkan mata nya dia pun langsung memilih untuk mandi dan bersiap-siap untuk memasak sarapan pagi untuk Barra.


Gisella merasa seperti menjadi seorang istri kembali dia dengan penuh semangat dan kecepatan kilat untuk mandi.


"Aku tidak perlu berlama-lama untuk mandi ,aku harus secepatnya menyiapkan sarapan pagi untuk Kak Barra."


Tiara melihat Barra dan juga Tiara yang masih tertidur pulas, dia merasa sangat bahagia sekali ketika melihat kebersamaan mereka berdua.


Setelah sarapan nya sudah selesai, Gisella pun baru berani untuk membangunkan Barra.


Gisella menepuk-nepuk pundak Barra dengan sangat lembut sekali.


"Kak Barra, bangun sekarang sudah jam 7 pagi. Nanti bisa telat masuk ke kantor nya."

__ADS_1


Barra pun malah menarik tangan Gisella dan membuat Gisella terjatuh di pelukan Barra.


Barra memeluk erat tubuh Gisella, dia begitu sangat menikmati pelukan erat tersebut.


Gisella hanya bisa terdiam saja ketika Barra memeluk nya.


Dan Barra mencium aroma Parfume yang berbeda dia pun langsung membuka mata nya dan terkejut sekali ketika Gisella yang di peluk.


Barra pun langsung melepaskan pelukan nya, dia merasa sangat malu sekali kepada Gisella.


"Maafkan aku yaa Gisella, seperti nya aku harus langsung pergi mandi."


Barra pun segera pergi ke kamar mandi, dan Gisella mengendong Tiara sambil membereskan tempat tidur nya.


Gisella menunggu Barra di meja makan dengan mengendong Tiara.


Barra pun datang menghampiri Gisella, dia juga melihat Tiara yang tersenyum manis kepada dirinya.


Barra merasakan semangat baru di pagi hari ketika melihat senyuman manis dari Tiara.


"Kak Barra, maafkan aku yaa. Semalam Kak yang mengurus Tiara dan membuat Kak Barra pasti sangat lelah sekali karena kurang tidur."


Gisella menudukan kepala nya dia merasa sangat bersalah sekali.


"Gisella, kenapa kamu membawa Tiara Malam-malam ke Apartemen ini. Apakah kamu tidak akan lagi tinggal di rumah Ayah dan Ibu."


Gisella merasa dia tidak harus mengatakan semuanya kepada Barra, karena pasti akan membuat Barra memarahi Laura. Gisella mengingat jika Laura yang sedang hamil muda.


"Aku ingin belajar mandiri, karena dari semenjak aku hamil dan melahirkan aku tinggal bersama dengan Ayah dan Ibu aku merasa sangat kasihan sekali dengan ibu karena aku yang selalu merepotkan orang tua ku."


Barra merasa tidak percaya dengan perkataan Gisella, Barra memilih untuk pergi ke rumah Ayah dan Ibu di saat dia pulang dari kantor.


"Dan seperti nya aku juga tidak pergi ke kantor hari ini, karena belum ada yang menjaga Tiara."


Barra seketika merasa sangat kasihan sekali melihat Gisella dan juga Tiara.


"Kamu hati-hati yaa di Apartemen, jaga baik-baik Tiara yaa. Tiara Ayah pergi dulu berkerja yaa sayang."


Barra menghampiri Tiara dan mengendong nya.


"Jangan rewel yaa sayang kasihan ibu."


Barra memberikan kembali Tiara kepada Gisella dan Gisella pun mengambil tangan Barra dia mencium tangan Barra.


"Hati-hati yaa pergi ke kantor nya, semoga di berikan kelancaran dan kemudahan dalam pekerjaan nya."


Barra seperti merasakan rumah tangga yang sesungguhnya, di siapkan sarapan dan di doakan ketika dia pergi ke kantor.


Barra pun memilih untuk langsung pergi dia merasa sangat takut terbawa perasaan yang lebih dengan Gisella.


"Gisella aku merasa sangat nyaman sekali ketika bersama dengan Gisella, dia sangat menghormati ku. Walaupun setatus ku ini hanya mantan suami nya."


Barra merasa pagi yang cerah yang berbeda dengan hari-hari nya sebelumnya.


Laura baru terbangun dari tidur pulas nya, dia pun langsung memilih untuk mandi dan pergi sarapan pagi.


Laura begitu sangat merindukan sarapan pagi buatan Ibu nya, dan ternyata memang benar Ibu nya sudah menyiapkan sarapan pagi untuk nya.


Laura begitu sangat bahagia sekali dia menikmati sarapan pagi nya.


"Aku sangat rindu sekali seperti ini semua nya membuat ku merasa sangat nyaman sekali."


Ketika selesai sarapan pagi Laura pun memilih untuk keluar dari rumah nya, dia melihat tanaman bunga-bunga yang bermekaran sangat indah sekali.



Suasana yang sangat indah sekali ketika dia berada di rumah nya.


"Bunga-bunga yang sudah sangat indah sekali, aku merasa sangat bahagia sekali. Aku merasa malas untuk kembali ke aktivitas ku."


Laura memilih untuk berjalan menuju ke toko bunga milik nya, dia melihat Ibu nya yang masih saja melamun sambil menangis.


Laura merasa jika ibu nya yang masih saja memikirkan Gisella.


"Buu, sudah lah jangan seperti ini. Selalu saja memikirkan bagaimana. Ibu itu terlalu berlebih-lebihan dengan Gisella, ibu terlalu memanjakan Gisella dan membuat Gisella susah untuk mandiri bahkan menjadi seorang yang sukses."


Riana memilih untuk pergi dia mengabaikan ucapan Laura.

__ADS_1


__ADS_2