
Barra hanya bisa menangis sambil memikirkan perasaan Laura dan dia pun juga belum memberitahu kepada keluarga Laura.
"Bagaimana dengan keluarga Laura, awal nya ingin memberikan kabar baik tapi seketika berubah menjadi seperti ini."
Barra yang berniat untuk memberikan kejutan kepada keluarga Laura atas kelahiran anak pertama nya tapi ternyata kejutan tersebut menjadi tangisan.
Dokter Rivan memilih untuk meninggalkan Barra, dia tidak kuasa melihat Barra yang terus menerus menangis.
"Kenapa harus seperti ini, kenapa aku hanya bisa melihat aku hanya beberapa jam saja. Nak Papa masih ingin bersama dengan kamu sayaaaaang. Papa hanya memandangi kamu dari jarak jauh, Papa belum bisa memeluk erat tubuh kamu yang mungil itu."
Pada akhirnya Barra mencoba untuk menghubungi keluarga Laura, dengan tangan yang bergetar Barra memilih untuk mengirimkan pesan kepada Gisella.
*Gisella, bisakah kamu sekarang datang ke rumah sakit sejahtera bersama dengan Ibu dan Ayah.*
Gisella yang membaca pesan tersebut pun, dia langsung merasa tidak enak perasaan nya.
"Kenapa lagi dengan Kak Laura yaa, apa yang terjadi dengan dia. Baru saja satu bulan dia pulang dari rumah sakit sekarang dia berada di rumah sakit lagi."
Gisella yang sebenarnya akan bersiap-siap untuk pergi ke kantor pun dia memilih untuk pergi ke rumah sakit bersama dengan keluarga nya.
Gisella pun langsung pergi ke toko bunga untuk menghampiri kedua orang tuanya.
Gisella melihat kondisi toko bunga yang banyak sekali dengan pembeli.
Tapi Gisella merasa jika pesan ini sangat penting sekali, dia pun mengabaikan banyak nya pembeli di toko bunga.
"Ayah, Ibu. Aku mendapatkan pesan dari Kak Barra. Dia bilang kita harus pergi ke rumah sakit sejahtera, seperti nya terjadi sesuatu lagi dengan Kak Laura."
Gisella memberikan handphone nya kepada ibu nya untuk membaca pesan tersebut.
Mereka pun terpaksa menutup toko bunga walaupun sedang banyak pembeli.
"Gisella, ada apa lagi dengan Laura. Kenapa ibu seperti bergetar mendengar nya."
Mereka pun langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
Barra mencoba untuk memberanikan diri dia menghampiri Laura.
Barra melihat wajah cerah dan bahagia di wajah Laura untuk bisa menyambut buah hati nya.
"Bryan sayang anak mommy,"
Barra menghampiri Laura dia memeluk erat Laura dengan tangisan yang membasahi pundak Laura.
__ADS_1
Laura merasa sangat kebingungan sekali ketika melihat suami menangis padahal tadi dia begitu sangat bahagia sekali.
"Mas, jangan terlalu erat memeluk nya. Luka operasi ku masih sangat sakit sekali."
Barra pun melepaskan pelukan erat nya, dan Barra memandangi wajah Laura.
"Kamu yang sabar yaa Laura, kamu yang kuat yaa Laura. Yakin setelah ini akan ada pelangi yang indah untuk kehidupan kita berdua dan aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu."
Laura semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh suaminya tersebut.
"Apa maksud perkataan kamu ini Mas, Apaaaa."
Suara Laura terdengar sangat kencang dan bergetar.
"Tuhan, hanya menitipkan Bryan satu jam saja di dunia ini. Dia sudah tidak bisa hidup bersama dengan kita berdua."
Seketika nafas Laura serasa sesak sekali dia seakan kesulitan untuk bernafas.
Laura menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil tersenyum.
"Kamu jangan berbohong Mas, aku tahu bukan ibu yang baik. Tapi aku mohon jangan pernah berkata seperti itu kepada kuuuuu, Aku tidak suka yaa Mas, kamu berbohong."
Barra hanya bisa menangis di hadapan Laura, dia sudah tidak bisa lagi berkata-kata kepada Laura.
Melihat wajah Rossalinda seketika saja Laura merasa marah besar kepada Mama mertua tersebut.
"Ini kah yang di inginkan oleh Mama, Mama yang sebenarnya tidak menginginkan kehadiran anak dari rahim kuuu. Mama yang lebih menginginkan anak dari rahim Gisella."
Suara Laura terdengar sangat kencang dan bergetar kembali.
"Apa maksud ucapan kamu itu Laura,? di saat sudah kehilangan anak muu. Kamu masih bisa berbicara seperti itu, seharusnya kamu itu introspeksi diri kamu sendiri. Kalau bukan karena egois an kamu itu mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi."
Laura melemparkan barang-barang yang ada di hadapannya dia menyuruh untuk Rossalinda pergi.
"Pergiiiiiiiiiiiii, aku tidak mau melihat kamu. Pergiiiiiiiiiiiii."
Baraa mencoba untuk menenangkan Laura.
"Mam, aku mohon untuk sekarang ikuti apa yang di katakan oleh Laura."
Rossalinda pun langsung memilih untuk meninggalkan ruangan tersebut.
Laura merasakan sakit di area bekas operasi nya, karena dia yang terlalu banyak bergerak.
__ADS_1
"Sakit Mas, sakit perut kuu perih sekali."
Melihat istrinya kesakitan Barra pun langsung memanggil Dokter untuk segera menangani Laura.
Barra keluar dari ruangan Laura dan dia pun melihat keluarga Laura datang.
Riana langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Laura.
Barra melirikan mata nya kepada Gisella, dia terus memandangi wajah Gisella.
"Laura mengambil kontraksi palsu kembali, tapi kali ini dia harus melahirkan anak nya secara prematur dengan cara operasi Caesar. Tapi ternyata bayi hanya bisa bertahan hidup selama satu jam saja."
Riana seketika langsung tidak sadar diri ketika mendengar hal tersebut, Gisella pun langsung memegang perut nya.
Barra dan Ayah Gisella pun langsung membawa Riana yang terjatuh pingsan.
Gisella pun terdiam seakan tidak percaya dengan apa yang sudah dia dengar tadi.
"Bayi Kak Laura tidak bisa terselamatkan, lalu bagaimana sekarang dengan kondisi Kak Laura."
Gisella pun mencari ruangan Laura, dia hanya bisa melihat Laura yang terus saja berteriak-teriak berontak kepada suster yang menjaga nya.
Gisella hanya bisa melihat dari kaca pintu ruangan tersebut, dia merasa sangat tidak tega melihat kondisi Laura.
"Kak Lauraaaaaaa, kenapa harus seperti ini. Kenapa harus seperti akhir dari segalanya."
Gisella tidak kuasa menahan air mata nya, dia melihat Kakak nya terus saja menangis sambil menanyakan di mana anak kuu.
Rossalinda menghampiri Gisella, dia membelai rambut panjang Gisella.
"Lebih baik kamu jangan dulu bertemu dengan Laura, karena dia pasti akan menyalakan kamu sama seperti Mama yang di salahkan oleh Laura."
Rossalinda membawa Gisella untuk duduk, dia juga tidak mau jika kandungan Gisella bermasalah.
"Gisella, kamu tenang yaa. Kamu atur nafas kamu. Buat kamu senyaman mungkin kondisi kamu."
Gisella merasakan gerakan yang luar biasa yang dia rasakan di perut nya.
"Bayi yang ada di perut kuu bergerak sangat aktif sekali tidak seperti biasa nya, apa karena dia tahu jika ibu nya sedang sedih."
Gisella terus mengelus perut besar nya sambil menangis.
Rossalinda merasa sangat hawatir sekali jika Gisella bertemu dengan Laura.
__ADS_1
Rossalinda hawatir Laura bisa berbuat nekad pada kandungan Gisella.