
Barra yang merasa terus saja memikirkan Laura, akhirnya memilih untuk jujur kepada Laura.
"Lebih baik aku beritahu Laura saja semuanya, daripada aku terus memikirkan Laura seperti ini."
Barra pergi dari hotel penginapan nya, dia menuju ke Apartemen Laura dan Laura masih saja merenung sendiri di Apartemen nya.
Laura terus saja memikirkan bisnis kosmetik nya, dia tidak tenang sebelum bisnis kosmetik nya kembali normal.
Barra berada di depan pintu Apartemen Laura, dia pun langsung masuk ke dalam dan mencari Laura.
Barra melihat Laura yang sedang melamun sambil duduk.
"Laura,? kamu baik-baik saja kan Laura."
Mendengar suara suami nya, Laura pun langsung berdiri dan melihat wajah Barra yang memar.
"Mas, kamu kenapa Mas. Kenapa dengan wajah kamu. Kamu habis bertengkar yaa Mas."
Laura terlihat sangat panik sekali melihat kondisi Barra.
"Kamu jangan hawatir yaa, aku bisa jelaskan semuanya sama kamu. Sekarang kamu tenang yaa Laura duduk lah."
Laura pun duduk dan Barra memegang tangan Laura.
"Laura, Erlangga Rangga dia sekarang adalah yang berkerja sama dengan perusahaan ku. Tapi ternyata Barra dengan penuh amarah ketika mengetahui jika Gisella menikah dengan ku dan dia tidak bisa menahan emosi nya."
Laura begitu sangat terkejut sekali ketika mendengar perkataan dari suami tersebut.
"Lalu,? bagaimana jika Rangga memberitahu hal ini kepada media massa. Dia sudah dari lama selalu saja ingin mencari tahu tentang pernikahan Gisella. Lalu siapa yang memberitahu kepada Rangga apakah Gisella yang memberitahu kan nya."
Laura mulai berpikiran negatif kembali terhadap Gisella.
"Tidak, tidak mungkin Gisella yang memberitahu kan nya."
Barra mencoba untuk menenangkan pikiran negatif Laura terhadap Gisella.
"Lalu siapa Mas,? dan sekarang bagaimana dengan nasib perusahaan kamu dan juga bisnis kosmetik aku. Semua terancam bangkrut Mas, aku tidak mau hal tersebut terjadi Mas. Ingat kita baru saja mau mempunyai anak bagaimana nasib anak kita nanti nya."
__ADS_1
Laura semakin tidak bisa mengendalikan emosi nya dia terlihat sangat bergetar.
"Laura, kamu tenang yaa. Kita bisa berbicara secara baik-baik dengan Rangga. Kita bisa bertemu dengan nya dan meminta agar Rangga merahasiakan masalah ini dari media massa."
Barra terus saja menenangkan Laura yang menangis tersedu-sedu memikirkan masa depan nya.
"Aku pusing sekali Mas, aku sangat pusing sekali Mas. Aku tidak sanggup jika kita berdua kehilangan mata pencaharian kita berdua, sedangkan Mama kamu sendiri sekarang sedang mempunyai bisnis baru nya bersama dengan Gisella."
Laura merasa tidak terima ketika Gisella dengan mudah nya mendapatkan bisnis tersebut.
"Kenapa Mama Rossa dengan sangat mudah nya memberikan bisnis tersebut kepada Gisella, sedangkan aku yang sudah bertahun-tahun bersama dengan kamu tidak pernah di berikan bisnis untuk kuuu."
Rasa kecemburuan Laura lagi-lagi terjadi kepada Laura terhadap Gisella.
"Laura, bisnis yang sekarang sedang di lakukan oleh Gisella dengan Mama itu belum apa-apa. Mereka masih mencari desain bentuk botol shampoo nya, mereka belum mencari nama untuk produk shampo nya. Dan mereka pun belum pemasaran Laura, mereka masih di dasar."
Laura berdiri dari tempat duduk nya, dia berjalan menuju ke kamar nya.
"Laura Renita,? kamu mau pergi ke mana ?."
Barra mencoba untuk mengejar Laura tapi Laura memilih untuk menutup rapat pintu kamar nya, sehingga Barra tidak bisa masuk ke dalam kamar Laura.
Laura membanting kan barang-barang yang ada di hadapannya, Laura juga melemparkan botol kosmetik nya ke kaca tempat dia ber make up.
Barra yang mendengar teriakkan kencang Laura pun langsung mengetuk pintu kamar Laura.
"Laura kamu sedang apa,? apa yang sedang kamu lakukan Laura. Kamu harus bisa mengendalikan emosi kamu Lauraaaaaaa, ingat kamu sekarang sedang hamil."
Laura tidak memperdulikan perkataan suami nya, dia terus saja melemparkan barang-barang yang ada di hadapannya.
Barra terus saja mengetuk pintu kamar tapi Laura tetap saja tidak mau membukakan pintu kamar nya.
Setelah merasa puas melampiaskan kekesalan nya, Laura pun berdiri di depan cermin yang sudah hancur oleh botol kosmetik nya.
"Laura, semua ini jangan sampai terjadi. Aku harus menemui Gisella. Aku harus bicara kepada Gisella biarkan dia yang bicara dengan Rangga."
Laura merasa hanya Gisella yang bisa meluluhkan hati Rangga.
"Yaaa, aku harus menemui Gisella sekarang juga. Aku harus bertemu dengan Gisella."
__ADS_1
Laura berlari dan membuka pintu kamar nya.
"Laura, kamu mau pergi ke mana Laura?. Ini sudah larut malam sekali Laura kamu jangan pergi sendirian seperti ini."
Laura mengabaikan perkataan suami nya dia terus saja berjalan menuju ke pintu keluar.
"Mau pergi ke mana dia,? apakah dia akan bertemu dengan Rangga atau dengan Gisella yaa."
Barra masuk ke dalam kamar nya sudah sangat berantakan sekali.
"Astaga Laura, apa yang sudah dia lakukan dengan kamar ini. Percikan kaca-kaca ini sangat bahaya sekali."
Barra memilih untuk membersihkan kamar nya, karena ini bila terinjak oleh Laura bisa sangat bahaya sekali.
"Akan aku bereskan kamar ini terlebih dahulu, setelah itu aku akan menyusul Laura."
Laura masuk ke dalam mobil nya, dia dengan penuh emosional sekali.
"Gisella, kamu yang bisa menyelamatkan perusahaan Mas Barra. Kamu harus membantu perusahaan Mas Barra."
Di perjalanan menuju rumah orang tua nya, bayangan Laura adalah kebangkrutan perusahaan suami nya.
Gisella sampai di depan rumah orang tua nya, dia melihat ibu dan ayah nya masih berada di toko bunga nya.
"Aku tidak boleh terlihat cemas di hadapan ibu dan ayah, dan ibu dan ayah tidak boleh tahu tentang permasalahan ini."
Laura mengambil cermin dia melihat wajah dan mata nya yang kelihatan habis menangis.
Laura memilih untuk memakai bedak dan eyeshadow serta lipstik yang sangat cerah sekali.
Setelah selesai bermake-up tebal Laura baru berani keluar dari mobil nya dan menghampiri kedua orang tuanya.
Kedatangan Laura membuat kedua orang tuanya sangat terkejut sekali.
"Laura,? apa sedang terjadi sesuatu di rumah tangga mu. Dan kamu semalam ini sudah pergi dari mana dengan make-up yang sangat tebal sekali seperti ini."
Riana menghampiri Laura yang terlihat sangat gugup sekali untuk menjawab pertanyaan dari Ibu nya.
"Aku baru saja makan malam romantis bersama dengan Mas Barra, kita ingin semakin dekat dalam hubungan pernikahan ini."
__ADS_1
Laura terpaksa berbohong kepada orang tua nya, karena dia tidak mau membuat mereka hawatir dengan masalah yang sedang dia hadapi.
Riana terus saja memandangi wajah Laura yang terlihat sangat gelisah sekali.