
Rossalinda memperhatikan Laura yang nampak seperti sedang tidur, dia pun terus memperhatikan nya.
"Seperti nya dia sudah sadar dan dia sedang tertidur karena sangat kelihatan sekali."
Rossalinda yang melihat sudah jam 5 pagi, dia memutuskan untuk segera pulang saja.
"Lebih baik sekarang aku pulang, mungkin sebentar lagi orang tua Laura akan datang ke sini."
Karena melihat kondisi Laura yang sudah sadar dia pun memilih untuk langsung pergi saja.
Laura pun menyadari jika Rossalinda yang berniat untuk pergi, tapi dia tidak masih berpura-pura tidak sadar.
"Laura, semoga kamu cepat sehat kembali dan segera tuntaskan permasalahan mu dengan suami itu."
Perkataan Rossalinda terdengar jelas di telinga Laura, dan juga terdengar suara Rossalinda yang membuka pintu dan langsung menutup nya.
Karena merasa Rossalinda yang sudah pergi, Laura pun mulai membuka mata nya secara perlahan.
"Aku sedang seperti ini, masih bisa dia untuk mengatakan hal seperti itu. Astaga benar-benar dia menginginkan aku berpisah dengan Barra."
Laura melihat remote televisi di meja dia pun berusaha untuk mengambil nya.
"Aku tidak tahu di mana handphone ku, aku ingin tahu tentang pemberitaan apa yang terjadi di media."
Laura tidak menemukan pemberitaan tentang dirinya dan juga Gisella.
"Kenapa sudah tidak ada lagi pemberitaan tentang aku dan Gisella, kalau seperti ini perusahaan Gisella aman dan bisa kembali maju."
Laura pun memilih untuk mematikan saluran televisi tersebut.
"Ini sangat membuat ku bosan tapi kalau tidak seperti ini Barra tidak akan perhatian lagi dengan kuu, aku harus berpura-pura kesakitan jika ada Barra. Supaya dia menjadi kasihan kepada ku dan melupakan tentang rencana tersebut."
Laura terus saja mengelus perut besar nya, yang semakin aktif sekali.
"Maafkan Mommy yaa sayang, mommy hampir saja membuat kamu terluka sayaaaaang tapi beruntung sekali kamu sangat kuat yaa sayaaaaang."
Laura terus saja mengelus perut besar nya sampai Suster datang untuk memeriksa nya.
"Bu Laura, ternyata sudah sadar yaa."
Laura hanya tersenyum tipis kepada Suster tersebut.
"Suster, saya ingin sekali menghubungi suami saya. Tapi saya tidak tahu di mana handphone saya."
Suster pun mengingat jika handphone Laura yang di simpan di laci bawah meja.
Suster tersebut pun memberikan handphone tersebut kepada Laura.
"Ini Buu, handphone saya simpan di laci ini."
Laura pun mengambil handphone tersebut dari tangan Suster.
"Ohhh, terimakasih banyak yaa Suster."
Setelah memeriksa kondisi Laura, Suster tersebut pun pergi.
"Ini saat nya aku menghubungi Barra, dia masih harus masih bisa memperhatikan aku."
Laura pun langsung mencari nomor Barra.
Barra yang masih di Apartemen dia begitu sangat terkejut sekali ketika Laura menelephone nya.
"Laura, dia sudah sadar. Tapi kenapa Mama tidak memberitahu aku yaa."
Barra pun langsung menjawab panggilan telephone tersebut karena dia yang masih suami Laura.
*Hallo Laura ada apa yaa, pagi sekali kamu sudah menelephone aku seperti ini*.
*Mas, kenapa kamu bertanya seperti itu sih. Seharusnya kamu bahagia menayakan kabar ku. Sekarang aku sudah sadar Mas.*
*Laku jika kamu sudah sadar apakah sudah bisa datang ke sidang perceraian kita nanti siang Laura.*
*Astagaaaa, kamu sudah tidak perhatian lagi yaa sama aku Mas. Kamu sebenarnya ingin cepat berpisah dengan aku kamu ingin menikah dengan siapa sih Mas, siapa wanita yang berani mengganti posisi aku sebagai istri kamu.*
*Sesuai dengan rencana kamu, drama yang kamu buat di media sosial. Dengan Pelakor Cantik yaitu Gisella Reviska.*
Barra yang merasa sangat kesal sekali dengan Laura dia pun langsung mengakhiri panggilan telephone nya.
__ADS_1
"Barra, dia membuat ku kesal sekali. Dia benar-benar tidak menghargai perasaan ku."
Laura semakin takut kehilangan Barra dan dia juga tidak ingin Barra menikah dengan Gisella.
"Aku tidak akan pernah membiarkan mereka berdua menikah, tidak akan pernah terjadi."
Laura semakin membenci Gisella, dia benar-benar tidak akan pernah memaafkan Gisella jika sampai dia menikah dengan Barra.
Gisella baru memberitahu orang tua nya, jika Laura yang sedang di Rawat di Rumah Sakit.
Dan akhirnya kedua orang tua mereka pun pergi ke Rumah Sakit.
"Seperti nya aku juga harus melihat kondisi Kak Laura, walaupun mungkin hanya dari balik pintu karena dia tidak mungkin ingin bertemu dengan kuu."
Gisella bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Sakit setelah itu dia juga harus pergi ke kantor nya juga.
Ketika Gisella yang sudah siap dia juga mengendong Tiara untuk dia berikan kepada Suster Dina. Gisella melihat Mama Rossa yang seperti nya baru pulang dari Rumah Sakit.
Mama Rossa terlihat sedang duduk dan seperti masih sangat mengantuk sekali, Gisella pun menghampiri Mama Rossa.
"Mam, bagaimana dengan kondisi Kak Laura sekarang?. Apakah dia sudah sadar dan baik-baik saja ?."
Gisella duduk di samping Mama Rossa sambil mengendong Tiara.
"Mama rasa Laura baik-baik saja dan kondisi dia sudah sadar, Gisella Mama pergi ke kamar dulu yaa. Mama ingin mandi dan bersiap-siap juga untuk bisa datang ke kantor mu juga."
Suster Dina menghampiri Gisella dan mengendong Tiara.
"Sayaaaaang, Ibu berangkat kerja dulu yaa. Tapi seperti nya ibu harus ke Rumah Sakit dulu kamu baik-baik yaa jangan rewel yaa sayang."
Setelah berpamitan dengan Tiara, Gisella pun berjalan menuju ke mobil nya dengan supir pribadi nya.
"Pak, antarkan saya ke Rumah Sakit Sejahtera yaa."
Gisella berharap dia bisa bertemu juga dengan kedua orang tua nya, di perjalanan Gisella seperti melihat mobil Dokter Rivan.
"Seperti nya mobil yang ada di depan ku itu adalah mobil nya Dokter Rivan, kenapa dia datang se pagi ini yaa. Biasanya juga dia memulai jadwal praktek nya itu sekitar jam 11 siang. Apa mungkin dia ingin bertemu dengan Kak Laura yaa."
Gisella pun terus memperhatikan mobil Dokter Rivan dan dia pun meminta kepada supir pribadi untuk menjaga jarak dari mobil tersebut jangan terlalu dekat.
Gisella melihat Suster yang turun dengan membawa anak kecil.
"Anak itu lagi untuk apa dia di bawa ke Rumah Sakit yaa, sebenarnya itu anak siapa yaa."
Gisella membiarkan Dokter Rivan dan Suster nya masuk terlebih dahulu ke dalam, setelah melihat mereka masuk baru lah Gisella turun dari mobil nya.
Gisella berjalan secara perlahan-lahan dia pun mengikuti langkah kaki Dokter Rivan dan juga Suster tersebut.
Dan ternyata mereka berdua pun masuk ke dalam satu ruangan.
"Apakah itu adalah ruangan milik Kak Laura, dan mereka pun masuk dengan membawa anak kecil itu."
Gisella semakin penasaran sekali dia ingin sekali mendengarkan apa yang mereka bicarakan dengan Laura.
Kedatangan Dokter Rivan dan juga Kenzo membuat Laura merasa sangat bahagia sekali.
"Kenzo, kamu membawa Kenzo ke sini."
Laura yang masih merasa sakit di bagian kepala karena bentur dia pun masih mencoba untuk menggendong Kenzo.
Melihat kebersamaan Laura dan juga Dokter Rivan, Suster Mirna memilih untuk keluar dari ruangan tersebut.
Suster Mirna memilih untuk menunggu di luar dan itu membuat Gisella tidak bisa masuk mendengar apa yang di bicarakan oleh Dokter Rivan dan juga Laura.
"Ahhhhhhh, kenapa Suster itu diam di depan pintu ruangan tersebut. Membuat aku yang semakin penasaran sekali tapi aku tidak bisa masuk ke dalam."
Gisella pun hanya bisa memandangi dari jarak jauh.
Di dalam ruangan, Dokter Rivan begitu sangat bahagia sekali ketika melihat Laura yang sedang bersama dengan Kenzo.
"Laura ketika kamu pergi dari Apartemen, Kenzo terus saja menangis. Apalagi setelah mengetahui kamu kecelakaan dia sampai menangis histeris sekali dia seperti merasakan apa yang kamu rasakan."
Laura pun memandangi wajah Kenzo yang begitu sangat menggemaskan sekali.
"Iya, aku pun tidak mengerti kenapa aku juga merasa sangat nyaman sekali ketika aku bersama dengan Kenzo. Dia seperti anak ku sendiri dan Kenzo terlihat sangat nyaman sekali ketika berada di dekapan ku, dia membuat aku melupakan sedetik permasalahan yang ada."
Dokter Rivan pun semakin mendekati diri nya dengan Laura.
__ADS_1
"Kita akan bahagia bersama Laura jika kita bisa menikah, kamu akan bisa bersama dengan Kenzo selama nya."
Laura pun seketika terdiam ketika mendengar perkataan dari Dokter Rivan, kenapa dia sampai berbicara seperti itu.
"Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu,? memang sebenarnya Kenzo ini anak siapa Rivan."
Dokter Rivan langsung mengambil Kenzo dari pangkuan Laura.
"Kenzo akan menjadi anak kita berdua, begitu juga dengan anak yang ada di dalam kandungan kamu yang sebentar lagi akan terlahir di dunia ini."
Dokter Rivan pun langsung membawa Kenzo keluar dari ruangan Laura dan Dokter Rivan memberikan Kenzo kepada Suster Mirna.
"Seperti nya, aku tidak bisa ikut kembali ke Apartemen. Kamu langsung pulang saja yaa bersama dengan Kenzo, aku memilih untuk menunggu di ruangan ku saja."
Suster Mirna pun dengan sangat hati-hati dia pun membawa Kenzo untuk keluar dari Rumah Sakit.
"Kenzo sayaaaaang, bagaimana sudah bertemu dengan Mommy Laura. Kamu pasti senang sekali kan sayaaaaang."
Gisella mendengar dengan sangat jelas sekali perkataan Suster itu kepada Kenzo.
"Mommy Laura,??? kenapa mommy Laura. Itu anak Kak Laura kah bersama dengan siapa yaa. Ahhhh kenapa ini sangat membuat ku kebingungan sekali yaa."
Gisella lebih memilih untuk menunggu kedatangan orang tua nya yang ternyata sudah berada di depan ruangan Laura.
Orang tua Laura yang sebenarnya sangat kecewa sekali dengan sikap Laura, tapi mereka pun masih memiliki perasaan terhadap Laura.
Ayah Laura, Dimas dia menghampiri Laura dia melihat Laura yang di pernah di bagian kepala nya.
"Laura, kenapa ini semua bisa terjadi Ayah begitu sangat menghawatirkan sekali kondisi kamu Laura . Apalagi kamu yang sekarang sedang hamil besar seperti ini, beruntung sekali dia begitu sangat kuat sekali."
Laura melirikan mata nya kepada Ibu nya, dia tahu jika Ibu nya yang lebih memihak kepada Gisella.
"Aku sangat sedih sekali Ayah, tadi pagi aku menelephone Mas Barra dan dia masih saja membahas tentang perceraian kita berdua dan Mas Barra bilang dia Benar-benar akan menikah dengan Gisella."
Laura menagis histeris di hadapan Ayah nya dia meluapkan semua perasaan hati nya di hadapan Ayah nya.
"Bukan kah itu seperti yang kamu inginkan Laura, Suami mu menikah dengan adik kandung mu sendiri. Karena kamu yang sudah mengatakan jika Gisella itu adalah seorang Pelakor Cantik, hati-hati dalam berbicara dan seperti nya apa yang kamu rencanakan itu akan menjadi kenyataan."
Riana begitu sangat kesal sekali dengan Laura.
"Laura, ibu pun tidak menyangka bahwa kamu juga yang seperti nya merencanakan kecelakaan ini agar kamu tidak jadi perceraian dengan Barra. Semudah itu kah kamu mempertaruhkan nyawa mu hanya untuk rencana ku supaya berhasil."
Riana pun memilih untuk keluar dari ruangan Laura dan Laura hanya bersama dengan Ayah nya.
"Ayah aku tidak merencanakan kecelakaan ini, kecelakaan ini bukan keinginan ku. Aku tidak mau mengalami kecelakaan ini."
Ketika Laura yang mencoba untuk menyakinkan Ayah nya, Gisella mencoba untuk menghampiri Suster yang sedang bersama dengan Kenzo.
"Aku ingin sekali mengejar Suster itu, aku sangat penasaran sekali dengan anak itu."
Gisella pun akhirnya bisa mengejar Suster tersebut.
"Maaf sebelumnya, perkenalkan saya Gisella Reviska. Saya adalah adik kandung dari Laura Renita dan saya tadi mendengar jika anak lelaki ini bernama Kenzo dan dia menyebut Mommy kepada Kak Laura itu maksud nya bagaimana yaa. Apakah Kenzo ini adalah anak Kak Laura yang meninggal? dan dia masih hidup??."
Suster Mirna merasa sangat ketakutan sekali ketika Gisella langsung mempertahankan hak tersebut kepada nya.
"Maaf, Ibu Gisella saya tidak bisa menjawab pertanyaan dari Ibu. Saya di suruh oleh Dokter Rivan untuk segera pergi ke Apartemen."
Suster Mirna memilih untuk langsung masuk ke dalam mobil nya, terlihat sekali wajah nya yang sangat panik sekali.
Gisella pun semakin di buat penasaran dengan Laura dan juga Dokter Rivan.
"Masalah kehamilan Kak Laura yang belum juga bisa terungkap dan sekarang, aku menemukan lagi ke aneh-aneh an dengan siapa itu Kenzo. Apakah Kenzo itu adalah Bryan jika sampai benar bagaimana hal ini bisa terjadi lalu siapa yang ads di dalam peti itu. Apakah kosong karena permintaan yang tidak mau membuka peti mati itu karena alesan tidak tega."
Gisella pun memilih untuk kembali ke dalam mobil nya dia pun seperti ingin sekali menceritakan hal ini kepada Barra.
"Aku ingin sekali menceritakan hal ini kepada Kak Barra, tapi ini memang tidak masuk akal jika aku menceritakan nya. Apakah lebih baik aku yang mencari tahu sendiri yaa siapa Kenzo itu."
Gisella pun menyenderkan tubuhnya ke kursi belakang mobil nya.
"Pak, pergi ke kantor saya yaa Pak."
Di perjalanan Gisella terus saja memikirkan Kenzo.
"Sayang sekali aku tidak melihat wajah Kenzo ketika dia bayi, tapi wajah bayi selalu berubah-ubah tapi aku yakin Kak Barra pasti mengenal wajah anak nya sendiri."
Gisella pun memegang kepala nya yang terasa sangat pusing sekali.
__ADS_1