
Rossalinda berteriak kencang ketika melihat Laura yang tidak sadarkan diri di depan pintu kamar nya.
"Astagaaaa, Laura kamu kenapa lagi."
Rossalinda sangat panik sekali ketika melihat ada darah di kaki Laura.
"Yaa Tuhan Laura kamu pendarahan."
Para pelayan pun langsung menghampiri Laura dan membawa Laura ke dalam mobil.
Rossalinda mencari Barra dia membuka pintu kamar nya tetapi Barra tidak ada di dalam.
"Barra, kamu pergi ke mana Barra."
Rossalinda pun akhirnya membawa Laura ke rumah sakit.
"Laura, kamu bertahan yaa Laura. Seperti nya kamu yang terlalu banyak bergerak berlebihan sehingga kamu kecapean dan mengakibatkan pendarahan seperti ini."
Rossalinda terus memandangi wajah Laura yang terlihat sangat pucat sekali.
"Kenapa pikiran ku ini selalu negatif, ketika Gisella mengakhiri pernikahan kontrak ini. Dan memiliki anak nya sepenuh nya."
Rossalinda sangat takut sekali Laura mengalami keguguran karena usia kandungan Laura yang masih sangat muda sekali.
Sesampainya di rumah sakit, Dokter Rivan sangat terkejut sekali ketika harus melihat Laura masuk ke rumah sakit kembali.
"Dokter Rivan tolong Laura yaa dia tiba-tiba pingsan dan mengalami pendarahan, saya takut sekali Dokter."
Dokter Rivan pun langsung membawa Laura untuk di periksa.
"Barra kamu di mana sih, kenapa nomor handphone kamu tidak bisa di hubungi."
Rossalinda begitu sangat gelisah sekali dia tidak mau kehilangan cucu nya.
Dia sudah kehilangan cucu dari Gisella dan Barra karena sudah tidak bisa di besar kan di keluarga nya.
"Apakah ini adalah jawaban dari perlakuan Laura yang terlalu berlebih-lebihan semenjak kehamilan nya, apalagi sikap Laura yang begitu sangat tidak baik terhadap Gisella."
Rossalinda terus saja mencoba untuk menghubungi nomer handphone Barra.
Ketika Rossalinda yang sedang panik dengan kondisi Laura, Barra ternyata pergi untuk mencari Gisella.
Barra tidak bisa membohongi perasaannya jika dia begitu sangat menginginkan anak dari Gisella.
"Aku tahu jika ke dua nya adalah anak kandung ku, tapi aku tidak tega jika salah satu anak tidak mendapatkan kebahagiaan seperti anak ku dari Laura."
__ADS_1
Barra mencoba untuk datang ke Restoran yang biasa di datangi oleh Laura.
"Laura pernah bilang jika dia sering sekali datang ke sini bersama dengan Gisella, semoga saja aku bisa bertemu dengan Gisella di sini."
Ketika Barra masuk ke dalam restoran tersebut bukan Gisella yang dia lihat tetapi Rangga yang di lihat.
"Itu kan Rangga, mantan kekasih Gisella dulu. Sedang apa dia di sini yaa, seperti nya dia sedang menunggu seseorang."
Barra pun memilih untuk duduk di kursi yang jauh dari Rangga.
Barra mengeluarkan handphone nya tapi ternyata handphone Barra tidak aktif.
"Astaga, handphone bisa tidak aktif seperti ini. Semoga saja tidak ada telephone yang penting."
Barra menyimpan handphone di meja.
Dan Barra terus saja memperhatikan Rangga.
"Kenapa yaa Kak Laura tidak juga datang, apa dia sangat sibuk yaa."
Rangga pun mencoba untuk menghubungi nomer handphone Laura tapi tidak ada jawaban nya.
Barra yang di buat sangat penasaran sekali pun memilih untuk menghampiri Rangga.
"Boleh kah saya duduk di kursi ini."
Ucap Barra pada Rangga dengan tatapan mata yang tajam.
"Silahkan duduk saya tidak keberatan."
Rangga yang menginginkan kehadiran Laura tapi dia yang harus bertemu dengan Barra.
"Kamu sedang menunggu seseorang Rangga,? apakah kamu sedang menunggu Gisella."
Pertanyaan Barra membuat Rangga semakin mencurigai nya.
"Tidak, tidak Gisella. Karena saya akan segera bertunangan dengan wanita pilihan orang tua saya."
Mendengar perkataan Rangga membuat Barra merasa sedikit senang karena tidak ada lagi yang menggangu Gisella.
"Oh seperti itu yaa, karena Gisella yang kenyataan nya sudah memiliki suami dan juga sedang hamil juga."
Rangga tersenyum tipis kepada Barra.
"Bukan kah Gisella sudah mengakhiri pernikahan ya itu kata Gisella sendiri, dan menurut saya suami Gisella itu adalah suami yang tidak ada rasa tanggung jawab nya. Ketika Gisella sedang hamil dia tidak ada untuk Gisella dan sekarang dia malah membuang Gisella begitu saja."
__ADS_1
Barra merasa terpancing emosi nya ketika mendengar perkataan tersebut.
"Kenapa kamu bisa semudah itu mengatakan jika suami Gisella tidak bertanggung jawab, mungkin dia perhatian di saat kamu tidak melihat nya."
Rangga seketika tertawa lepas ketika mendengar perkataan dari Barra.
"Yaa, mungkin saja seperti itu. Tapi aku ingin tahu wajah suami Gisella. Wajah lelaki bodoh yang sudah mengabaikan Gisella, saya pun jujur saja walaupun Gisell sudah menikah dan hamil tapi saya masih cinta dengan Gisella."
Barra tidak mungkin melampiaskan kekesalan nya kepada Rangga, karena dia tidak mau Rangga sampai tahu jika dia suami Gisella sebenarnya.
"Dan sesuatu yang sangat unik sekali yaa, di saat Gisella hamil Kak Laura juga langsung hamil yaa."
Barra merasa dirinya harus segera pergi dari tempat tersebut, karena semakin lama dia berada di sana semakin emosi dia mendengar perkataan dari Rangga.
"Baiklah Rangga, lebih baik kamu fokus saja dengan pertunangan kamu yaa. Jangan pernah memikirkan lagi Gisella karena hanya akan membuat pertunangan kamu menjadi gagal."
Barra pun beranjak dari tempat duduk nya.
"Rangga saya pamit dulu yaa, handphone saya tidak aktif. Saya hawatir akan banyak panggilan telephone masuk ke handphone saya."
Barra pun langsung pergi begitu saja dan membuat Rangga terus saja memandangi nya.
"Apa mungkin benar seperti pikiran ku ini jika Barra adalah suami Gisella, tapi aku belum punya bukti nya. Aku tidak tenang jika belum tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Rangga terus saja memandangi handphone tidak ada balasan pesan dari Laura.
"Seperti nya Kak Laura hanya mempermainkan ku saja, dia tidak datang ke sini."
Rangga pun memilih untuk pergi dari tempat tersebut.
Barra sampai di depan rumah nya, dia pun langsung di beritahu kabar jika Laura pingsan dan mengalami pendarahan.
Seketika Barra pun kaget dan dia langsung kembali masuk ke dalam mobil nya untuk pergi ke rumah sakit.
Barra begitu sangat ketakutan sekali ketika mendengar Laura yang mengalami pendarahan di usia kandungan nya yang masih sangat muda sekali.
"Laura, kenapa kamu selalu membuat aku hawatir sekali. Kenapa kamu sampai bisa mengalami pendarahan."
Barra seketika langsung berpikiran negatif terhadap Laura.
Barra sangat takut sekali kehilangan janin yang ada di kandungan Laura.
Penantian panjang Barra dan Laura selama ini dengan kehadiran anak di dalam rumah tangga nya.
Barra mencoba untuk menenangkan perasaan dan pikiran dia mencoba untuk selalu berpikiran positif terhadap kondisi kehamilan Laura walaupun Barra belum melihat kondisi Laura sekarang seperti apa.
__ADS_1