Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *159*


__ADS_3

Laura seakan ingin secepatnya bertemu dengan Gisella, dia pun akhirnya meminta ijin untuk pergi ke dalam rumah.


"Buuu, aku ingin bertemu dengan Gisella. Ada suatu hal yang ingin aku bicarakan dengan Gisella."


Riana merasa curiga dengan Laura ketika Laura ingin bertemu dengan Gisella.


"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan adik kamu Laura,? jangan sampai kamu meminta hal yang tidak masuk akal kembali kepada Gisella?."


Laura mencoba untuk menenangkan perasaan ibu nya, agar Ibu nya tidak berpikiran negatif terhadap nya.


"Tidak Buu, aku hanya ingin mengobrol biasa saja dengan Gisell. Sekarang aku mau menemui Gisell di kamar nya yaa Buu."


Laura berjalan menuju ke kamar Gisella, dia berjalan dengan tergesah-gesah sekali.


Riana terus saja memperhatikan Laura, dia merasa tidak percaya dengan ucapan Laura.


Laura berada di depan pintu kamar Gisella, dia mengetuk pintu kamar Gisella.


"Gisella, buka kan pintu kamar muu. Ini Kak Laura."


Gisella langsung terkejut ketika mendengar suara Laura.


"Kak Laura,? ada apa yaa dia ke sini."


Gisella pun langsung beranjak dari tempat tidur nya, dia membuka pintu kamar nya.


Dan mempersilahkan Laura untuk masuk ke dalam kamar nya.


"Terimakasih banyak Laura, kamu sudah mau menerima kehadiran Kakak di sini."


Gisella hanya tersenyum tipis kepada Laura.


"Gisella, kamu tahu semuanya kan. Tentang pernikahan kontrak kamu yang sudah di ketahui oleh Rangga dan itu sangat membahayakan sekali untuk perusahaan milik Mas Barra. Dan bukan hanya itu Rangga melakukan kekerasan fisik dengan Mas Barra dan membuat wajah Mas Barra menjadi memar dan itu sangat menyakitkan sekali."


Gisella terdiam dan dia merasa perasaannya tidak baik setelah mendengar perkataan Laura.

__ADS_1


"Gisella aku rasa jika kamu yang bicara secara langsung dengan Rangga, dia pasti akan mau mendengarkan perkataan kamu. Karena bagaimana pun juga Rangga itu masih menyimpan rasa cinta kepada kamu walaupun kamu yang sudah menikah dan hamil besar."


Laura semakin mendekati dirinya kepada Gisella, dan mulai bicara dengan suara perlahan-lahan dengan adik tersebut.


Gisella memilih untuk mundur ketika Laura yang semakin mendekati tubuh nya dengan nya.


"Gisella, bukan kah kalian berdua itu saling mencintai dan sekarang setatus kamu itu adalah sudah bukan istri dari Mas Barra. Kenapa kamu tidak kembali saja dengan Rangga maka itu akan membuat Rangga jauh lebih bahagia. Kamu dan Rangga bersatu kembali di ikatan pernikahan yang sah."


Ketika mendengar perkataan tersebut Rania langsung membuka pintu kamar tersebut.


*Plaaaakkkkkkk*


Riana menampar pipi Laura dengan sangat keras sekali dan membuat Laura merasa sangat kesakitan sekali.


Laura memegang pipi nya sambil memandangi wajah ibu nya tersebut.


Laura tidak percaya jika ibu nya bisa melakukan hal tersebut kepada dirinya.


Hal tersebut membuat Gisella sangat terkejut sekali ketika melihat Ibu nya menampar Laura di hadapan nya.


Riana begitu juga emosional sekali dengan Laura sampai dia tidak bisa mengendalikan emosi nya yang meledak-ledak di hadapan kedua putri kandungnya.


"Kamu tidak punya hati Laura, kamu hanya memikirkan kebahagiaan mu saja. Tapi tidak memikirkan perasaan adik muuu, pernah kamu berpikir ketika Gisella sudah melahirkan nanti tidak ada sosok suami yang ada di samping nya. Karena kamu yang egois melarang Barra untuk dekat dengan Gisella, walaupun kedekatan itu bukan untuk Gisella tapi untuk bayi yang ada di kandungan Gisella bayi Barra juga."


Laura pun merasa sangat kesal sekali ketika dia di perlakukan seperti itu oleh ibu kandung nya sendiri.


"Buuu, Gisella sudah di berikan sebuah bisnis perusahaan oleh Mama Rossa. Di saat sekarang posisi bisnis kosmetik skincare aku sedang mengalami penurunan, dia lebih peduli terhadap Gisella dari pada aku buuuu."


Laura begitu sangat emosional sekali dengan ibu nya.


"Pantaslah Bu Rossa melakukan hal tersebut kepada Gisella, karena anak yang di kandung Gisell itu adalah cucu pertama nya. Sudahlah Laura ibu tidak suka dengan sikap kamu yang seperti ini, lebih baik sekarang kamu pergi saja jika kehadiran kamu hanya untuk membuat adik kandung sakit hati dengan ucapan kamu."


Riana membukakan pintu kamar Gisella agar Laura bisa segera pergi dari kamar Laura.


"Oh, setelah ibu menampar pipi ku ini dan ibu membela Gisella. Sekarang ibu mengusir aku dari rumah ini?, oke baiklah aku akan pergi dari rumah ini."

__ADS_1


Laura pun keluar dari kamar Gisella, Gisella hanya terdiam saja ketika ibu dan Kakak nya bertengkar di hadapan nya.


Riana langsung menghampiri Gisella dan memeluk erat Gisella.


"Gisella, jangan kamu pikirkan apa yang di katakan oleh Laura. Abaikan saja ucapnya yaa."


Gisella melepaskan pelukan erat dari ibu nya, dan dia pun duduk di atas tempat tidur nya.


Dengan wajah yang melamun memikirkan perkataan Laura.


"Kenapa Kak Laura jahat sekali terhadap aku yaa buuu, apakah dia bukan wanita sehingga dia tidak punya perasaan sama sekali ketika dia sedang berbicara dengan aku."


Gisella terlihat sangat sedih sekali, dia menangis histeris sambil menutup wajahnya.


Riana merasa sangat sedih sekali ketika melihat Gisella yang terus-menerus menangis.


"Gisella kamu yang sabar yaa sayang, kamu yang kuat yaa sayaaaaang."


Riana mencoba untuk menenangkan Gisella tapi tangisan Gisella yang semakin kencang.


Riana pun hanya bisa terdiam saja ketika Gisella yang sedang menangis meluapkan semua perasaan nya.


Riana membuka gorden jendela kamar Gisella, dia melihat Laura yang sedang menangis mengadu kepada Ayah nya.


"Biarlah dia meluapkan semua perasaan hati nya kepada Ayah nya, karena aku sangat emosional sekali dengan apa yang sudah dia ucapkan kepada Gisella."


Riana memilih untuk menutup rapat kembali gorden jendela kamar nya, dan duduk di kursi Gisella.


"Semudah itu kah Kak Laura menyuruh aku untuk menikah kembali dengan Rangga, dia tidak tahu jika keluarga Rangga yang sudah membenci kuu yang sudah tidak mau melihat wajah ku apalagi menerima kehadiran ku di dalam keluarga dan ini karena pernikahan kontrak ini. Rencana pernikahan kontrak yang di buat oleh Kak Laura sendiri."


Riana mengusap pundak Gisella dia seperti tidak bisa mengucapkan hal apapun.


"Aku tidak suka dengan Kak Laura Buu, aku tidak ingin bertemu lagi dengan Kak Laura Buu. Aku sudah banyak sakit hati dengan sikap dan perkataan Kak Laura."


Gisella benar-benar merasa sangat sakit hati dengan apa yang sudah di lakukan oleh Laura kepada nya.

__ADS_1


__ADS_2