
Laura membaca pesan dari Rivan yang mempersilahkan nya untuk datang ke Apartemen nya.
"Mereka semua hanya menyudutkan ku saja, tidak ada yang peduli kepada ku. Kecuali Rivan dia selalu ada untuk ku di saat aku yang terpuruk seperti ini."
Laura pun akhirnya pergi ke Apartemen Rivan, dan ternyata Rivan sudah mempersiapkan semuanya.
Laura pun membuka pintu Apartemen dan dia melihat Rivan yang sedang bersama dengan Kenzo.
Rivan tersenyum manis kepada Laura dan Laura pun langsung menghampiri Rivan.
Dia melihat tatapan mata Kenzo dan juga Kenzo pun tersenyum manis kepada nya.
"Laura, sampai kapan kamu ingin bersama dengan Barra yang terus menerus tidak pernah mau menghargai mu Laura."
Laura pun duduk di samping Rivan, dia memegang kepala nya. Laura terlihat sangat lelah sekali dengan permasalahan yang ada di hadapan nya.
"Laura kenyataan kamu memang tidak akan pernah bahagia bersama dengan Barra, jika kamu terus-menerus seperti ini kamu hanya akan tersiksa hidup bersama dengan Barra."
Laura menatap wajah Rivan dan Laura pun meneteskan air mata nya.
"Jika aku tidak bisa bersama dengan Barra, maka tidak akan pernah ada wanita yang bisa bersama dengan Barra. Itu adalah janji kuu di dalam hidup ku."
Rivan melihat tatapan mata Laura yang begitu sangat kosong sekali, tapi ucapan begitu sangat nyata terdengar.
"Apa maksud kamu Lauraaaaaaa,??? jangan berpikiran seperti ini. Kamu bisa masuk penjara jika kamu sampai melukai orang lain dan ingat juga kamu yang sekarang sedang hamil anak ke dua kita berdua."
Laura pun tiba-tiba saja langsung tertawa terbahak-bahak sambil melihat wajah Rivan.
"Aku tidak peduli yang paling aku bisa melenyapkan wanita yang akan bersama dengan suami kuu."
Laura pun berdiri dari tempat duduk nya, dan dia pun pergi meninggalkan Apartemen Rivan.
Rivan mencoba untuk mengejar Laura dengan masih menggendong Kenzo.
"Laura coba jangan dulu pergi, lihat Kenzo lihat dia yang begitu sangat menyukai mu Laura dia yang ingin sekali menyebut nama mu dengan sebutan Mommy."
Laura yang memang merasa mempunyai ikatan batin dengan Kenzo.
"Dia bukan anak ku tapi kenapa aku sangat mencintai nya, aku melihat dia seperti melihat anak ku yang sudah tiada dan hidup kembali di kehidupan ku."
Tapi Laura hanya memandangi wajah Kenzo saja dan Laura pun tetap ingin pergi.
"Besok adalah sidang perceraian ku, dan ingin sekali membatalkan nya. Dengan cara apa aku bisa membatalkan sidang tersebut."
Laura berjalan seperti melayang dia menangis dan terus saja menangis terkadang juga Laura tertawa dan menangis kembali.
"Aku cinta kamu BARRA aku cinta kamu."
Laura terlihat seperti orang sudah tidak normal, dia pun mencoba untuk menjalankan mobil nya.
Laura tidak fokus ketika dirinya sedang mengendarai mobil nya.
*Bruuuukkkkkk*
Laura menabrak pembatas jalan dan beruntung nya Laura yang memakai sabuk pengaman sehingga dirinya tidak tidak terluka.
Laura begitu sangat kaget sekali dan orang-orang langsung menghampiri mobil Laura.
Mereka membawa Laura ke Rumah Sakit.
Laura yang masih setengah sadar dia seperti tidak ingin terbangun kembali.
Pihak rumah sakit mencoba untuk menghubungi nomer handphone keluarga Laura.
Tapi mereka melihat wajah Laura yang pernah bersama dengan Dokter Rivan.
"Ini kan yang sering sekali bersama dengan Dokter Rivan di kantin Rumah Sakit, lebih baik sekarang kita hubungi saja Dokter Rivan."
Pihak Rumah Sakit pun akhirnya menghubungi nomer handphone Dokter Rivan.
*Hallo selamat malam Dokter Rivan, maaf menggangu waktu nya tapi sekarang Ibu Laura sedang berada di Rumah Sakit Sejahtera dia mengalahkan kecelakaan tunggal*
*Apaaaa, Laura mengalami kecelakaan?. Baiklah saja akan segera ke Rumah Sakit sekarang juga.*
Rivan mencoba memberikan Kenzo kepada Suster Mirna, beruntung dia yang belum pulang.
__ADS_1
Kenzo pun tiba-tiba saja langsung menagis kencang seperti merasakan apa yang sekarang sedang di rasakan oleh Laura.
"Sayaaaaang, semoga saja Mommy Laura baik-baik saja yaa. Kamu doakan yang terbaik untuk Mommy Laura."
Rivan pun langsung bergegas pergi ke Rumah Sakit, di perjalanan Rivan melihat mobil Laura yang menambrak pembatasan jalan.
"Astagaaaa Lauraaaaaaa, bagaimana dengan kondisi mu dan kehamilan mu."
Rivan begitu sangat menghawatirkan sekali kondisi Laura dan kandungan nya.
Sesampainya di Rumah Sakit, kondisi Laura yang masih belum sadar.
Rivan pun mencoba untuk menghampiri Dokter yang menangani Laura.
"Dokter bagaimana dengan kondisi Laura dan juga kondisi bayi nya, Laura adalah teman baik saya."
Rivan begitu sangat panik sekali dia tidak tahu bahwa jika Laura harus kehilangan anak nya.
"Ibu Laura mengambil luka yang tidak terlalu parah, beruntung sekali dia yang memakai sabuk pengaman sehingga kejadian sekali kandungan yang baik-baik saja."
Rivan pun menghelakan nafas panjang nya dia merasa sangat tenang sekali mendengar nya.
"Terimakasih banyak Dokter, saya akan menunggu Laura sampai dia sadar."
Rivan kembali menunggu Laura sampai kondisi nya sadar kembali, dia pun mengeluarkan handphone nya.
"Apakah aku harus memberikan kabar kepada Barra, aku merasa jika Barra yang sudah tidak peduli dengan Laura. Laura melakukan ini hanya itu menunda persidangan nya saja agar mereka tidak berpisah dan Barra kembali bersama dengan Laura."
Rivan pun terus saja memandangi Laura dari luar dia begitu sangat menghawatirkan Laura.
***
Gisella dan Tiara yang masih berada di rumah Barra. Gisella terlihat melamun sambil mengendong Tiara dan Rossalinda pun menghampiri Gisella.
"Gisell, apa yang kamu katakan di itu memang fakta yang terjadi. Kamu tidak harus memikirkan nya lagi jangan sampai kamu sakit hanya karena memikirkan permasalahan rumah tangga Laura dan Barra. Karena sekarang semua nya sudah berakhir di persidangan besok pagi."
Gisella pun langsung berpikir jika sampai Laura dan Barra berpisah maka dirinya harus bersiap-siap untuk mendapatkan banyak ancaman dari Laura walaupun dirinya tidak menikah dengan Barra.
"Mam, apapun yang terjadi dengan aku. Aku mohon lindungi Tiara yaa jaga baik-baik Tiara karena perasaan ku yang sangat tidak nyaman sekali sekarang."
Gisella pun lebih memberikan Tiara kepada Rossalinda dia memilih untuk pergi ke kamar nya.
Rossalinda pun memilih untuk menidurkan Tiara tapi ternyata Barra yang datang dan menghampiri Tiara.
"Di mana Gisella,? apakah dia belum pulang dari kantor nya."
Barra merasa sangat bahagia sekali ketika dia bersama dengan Tiara.
"Barra, Mama merasa Gisella yang merasa sangat ketakutan sekali sekarang. Mama tahu apa yang ada di pikiran Gisella sekarang jika kamu dan Laura berpisah maka Gisella yang pasti akan mendapatkan ancaman-ancaman dari Laura. Mungkin Gisella yang memang sudah sangat lelah sekali."
Barra pun mengerti ketika berada di posisi Gisella, Laura yang selalu saja menyalahkan Gisella.
"Ketika di rumah orang tua nya, aku berkata kepada Gisella tentang sebuah pernikahan. Aku dan Gisella bisa bersama kembali tapi Gisella yang lebih mempunyai perasaan terhadap kandungan Laura. Jika aku bersama dengan Gisella aku akan lebih melindungi Gisella dari Laura dengan ikatan sebagai suami dan istri."
Barra merasa sangat yakin sekali dengan keinginan nya untuk menikah dengan Gisella.
"Aku merasa ikatan kuat yang kita kita bersama dengan Tiara, dan besok aku berharap besar Laura yang bisa datang ke sidang perceraian perdana kita."
Barra yang merasa sangat tidak sabar sekali untuk menunggu hari esok.
"Barra, menurut Mama kamu jangan terlalu cepat untuk memikirkan rencana pernikahan mu dengan Gisella karena Laura juga yang sedang hamil anak ke dua mu dan benar juga apa yang di katakan oleh Gisella."
Gisella keluar dari kamar nya dan dia melihat kedatangan Barra, Gisella melihat Barra yang memilih untuk pulang hanya untuk melihat Tiara dan setelah itu Barra kembali ke Apartemen nya.
"Jika aku di takdir kan bisa bersama dengan Kak Barra seperti nya semua hanya demi Tiara saja, tapi aku tidak mau ketika aku bersama dengan Kak Barra kita di buat berpisah kembali oleh Kak Laura."
Gisella pun memilih untuk menghampiri Tiara yang sedang mengendong Tiara, Gisella tersenyum manis kepada Barra.
"Ayo sayang kita tidur yaa Nak, kasihan Papa dia butuh beristirahat yaa."
Gisella pun langsung membawa Tiara ke dalam kamar nya dan Barra pun terus saja memandangi wajah Gisella.
Rossalinda pun mengajak Barra untuk keluar dari rumah nya untuk bersantai di luar rumah.
Mereka pun mengobrol tentang bagaimana kelanjutan dari semua ini.
__ADS_1
"Barra setelah kamu bercerai dengan Laura, dan kamu yang memiliki dua anak dari wanita yang berbeda. Dan wanita tersebut pun adalah Kakak dan Adik kandung, Barra kamu harus bisa bersikap adil dan baik dengan ke dua anak mu itu."
Barra pun langsung terdiam dia merasa jika dia yang begitu sangat sayang sekali dengan Tiara, mungkin karena Tiara yang yang merupakan anak pertama nya.
"Aku sangat menginginkan anak pertama ku dari Laura, sampai aku harus mengabaikan Tiara ketika masih berada di dalam kandungan nya. Di kehamilan Laura yang ke dua ini perasaan ku yang sangat datar sekali dengan anak itu apabila dengan perselingkuhan Laura dengan Dokter Rivan. Membuat aku berpikir negatif terhadap kehamilan aku."
Rossalinda mengerti apa yang di maksud oleh Barra tapi sayang nya, Barra yang tidak mempunyai bukti perselingkuhan itu.
"Sekarang lebih baik kita tunggu saja sampai anak itu terlahir ke dunia, dan setelah itu kita lakukan test DNA tanpa sepengetahuan Laura. Dan walaupun ini terdengar sangat jahat sekali tapi ini agar kamu tidak selalu berpikir negatif terhadap Laura."
Barra pun memilih untuk pergi kembali ke Apartemen nya tapi tiba-tiba saja ada panggilan telephone masuk dari Rivan.
"Ada apa Dokter Rivan, malam-malam menelephone aku seperti ini. Sangat menggangu sekali."
Barra mengabaikan panggilan telephone tersebut.
"Jawab saja panggilan telephone tersebut, bisa saja itu sangat penting sekali Barra. Jangan seperti ini ayo jawab panggilan telephone itu."
Barra tetap saja terdiam dan akhirnya Rossalinda yang mengambil handphone Barra.
*Hallo Dokter Rivan ada apa yaa, ini saya Rossalinda. Mama nya Barra*
*Apakah saya bicara bicara dengan Barra*
*Bicarakan langsung saja dengan saya nanti saya sampaikan kepada Barra*
*Baiklah, Laura mengambil kecelakaan tunggal dia menabrak pembatas jalan dan sekarang Laura yang sedang di Rawat di Rumah Sakit Sejahtera kondisi Laura yang masih belum sadar*
Seketika Rossalinda merasa sangat terkejut sekali dengan apa yang dia dengar, Rossalinda sampai memejamkan mata nya.
Dan Barra pun langsung mengambil handphone nya tapi Rivan sudah mengakhiri panggilan telephone nya.
"Ada apa Mam, apa yang di katakan oleh Dokter Rivan kepada Mama. Sampai Mama seperti ini Mam."
Rossalinda mencoba untuk mengatur nafas nya dia juga memegang tangan Barra dengan sangat erat sekali.
"Laura mengalami kecelakaan tunggal dan sekarang dia tidak sadar diri, Laura di rawat di Rumah Sakit Sejahtera."
Barra seketika langsung terdiam ketika mendengar perkataan tersebut, kenapa Laura yang selalu saja berbuat yang membahayakan nyawa nya demi tidak ingin bercerai dengan nya.
Rossalinda melihat ekspresi wajah Barra yang seperti sangat kecewa sekali dengan sikap Laura.
"Sudah Barra, lebih baik kamu langsung ke Rumah Sakit Sejahtera. Lihat kondisi Laura ingat dia yang sedang hamil."
Rossalinda mencoba untuk membujuk Barra agar segera pergi ke Rumah Sakit.
"Kenapa harus seperti ini, kenapa Laura selalu melakukan hal yang bodoh hanya untuk agar rencana nya berjalan dengan lancar."
Barra pun dengan sangat terpaksa dia pergi ke Rumah Sakit.
"Barra, kamu juga harus berhati-hati yaa menjalankan mobil nya. Ingat kamu harus mencintai diri kamu sendiri."
Barra yang penuh emosi dia mengendarai mobil dengan kecepatan yang tinggi.
"Laura, kenapa hidup mu penuh dengan drama sekali. Sampai kapan kamu akan seperti ini selalu tapi hati ini tetap ingin berpisah walaupun apapun yang terjadi aku tidak ingin bersama kembali dengan kamu."
Barra pun merasa jika Laura yang sebelumnya sudah bertemu dengan Dokter Rivan.
"Kenapa Dokter Rivan yang menghubungi kuu, kenapa bukan pihak dari rumah sakit."
Barra pun akhirnya sampai di Rumah Sakit dan dia mencoba untuk mencari ruangan Laura.
Ketika Barra sampai di depan ruangan Laura dia melihat Dokter Rivan yang terus saja melihat kondisi Laura dari balik kaca pintu.
"Bagaimana dengan kondisi Laura sekarang."
Mendengar suara Barra, Dokter Rivan pun langsung membalikkan badannya.
"Kondisi Laura yang belum sadar tetapi beruntung sekali Laura yang memakai sabuk pengaman sehingga kandungan baik-baik saja, kandungan Laura di seperti nya di lindungi."
Barra pun tersenyum tipis sambil memandangi wajah Dokter Rivan.
"Seperti nya kamu sangat perhatian sekali yaa dengan Kandungan Laura yang ke dua ini, kamu pasti sangat bahagia sekali kandungan Laura yang baik-baik saja."
Mendengar perkataan Barra, Dokter Rivan memilih untuk pergi dia tidak mau terpancing nya dan membuat keributan di rumah sakit.
__ADS_1
"Dia pergi begitu saja, sebaiknya tidak harus melakukan test DNA. Mengunggu saja pengakuan langsung dari mereka berdua. Itu jauh lebih mudah."
Barra pun mengeluarkan handphone nya dia memberitahu kepada pengacara bahwa sidang perceraian untuk besok di tunda terlebih dahulu.