
Barra melihat ekspresi kesal dari wajah Gisella, Barra merasa jika Gisella masih saja memikirkan Laura.
Dan Barra pun mencoba untuk menenangkan perasaan Gisella dia memberhentikan mobilnya dan memegang tangan Gisella.
"Gisella sudahlah jangan selalu memikirkan ucapan Laura, lebih baik sekarang kita pikirkan tentang masa depan kita bersama dengan Tiara itu yang jauh lebih baik."
Gisella pun menatap wajah Barra, yang memegang erat tangan nya.
"Apakah ini adalah kata-kata serius Kak Barra untuk kuu,? tidak akan pernah berubah walaupun apapun yang terjadi dengan rencana-rencana Kak Laura yang akan terjadi."
Gisella sangat takut sekali ketika dia sudah percaya dan berharap tiba-tiba saja Barra yang berubah pikiran nya terhadap nya.
Karena Gisella sangat yakin sekali jika Laura tidak akan pernah diam begitu saja.
"Aku janji Gisella, aku akan menikah dengan mu sayaaaaang. Dan kita akan memulai hubungan rumah tangga kita yang baru."
Gisella pun langsung tersenyum manis kepada Barra seakan dia memang percaya dengan apa yang di katakan oleh Barra.
"Sudah yaa jangan memikirkan hal yang negatif terhadap Laura, Laura pasti bahagia bersama dengan Rivan. Mereka berdua pun pasti akan menikah dan mungkin Rivan akan mempunyai rencana indah bersama dengan Laura kamu tidak usah hawatir yaa sayaaaaang."
Gisella tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika dia akan menikah dengan Kakak ipar nya sendiri, menikah sah bukan karena uang 100 juta bukan karena harus memberikan keturunan untuk nya.
"Iya Kak terimakasih banyak."
Barra pun memilih untuk pergi ke rumah nya dan ingin mengobrol tentang rencana pernikahan mereka berdua.
Barra masih belum menyalakan mesin mobil nya, dia mengeluarkan handphone nya untuk mengirimkan pesan kepada Mama Rossa.
*Mam, ajak orang tua Gisella ke rumah kita. Aku ingin sekali membicarakan tentang rencana pernikahan ku dengan Gisella bulan depan.*
Setelah mengirimkan pesan kepada Mama nya, Barra pun akhirnya melanjutkan perjalanan nya.
Barra terus saja memandangi wajah cantik Gisella dan Gisella pun hanya bisa terdiam.
Sesampainya mereka berdua di depan rumah, Gisella pun langsung turun dari mobil nya dia mencari Tiara.
Tiara pun tersenyum manis kepada Gisella ketika dia melihat wajah Ibu nya.
"Sayaaaaang, anak Ibuuu. Sini sayaaaaang ibu sangat rindu sayaaaaang."
Gisella pun menggendong Tiara dan membawa nya ke kamar, Barra mengikuti langkah kaki Gisella dia pun mengikuti Gisella ke dalam kamar nya.
Gisella membaringkan Tiara di atas tempat tidur nya dan mereka berdua pun tiduran bersama.
"Anak Papa lucu sekali."
Melihat Barra yang mencoba untuk menghampiri nya, Gisella pun langsung terbangun dari tidur nya.
"Kenapa sih harus masuk kamar juga dan pintu di tutup segala, nanti mereka berpikiran negatif terhadap kita berdua."
Gisella pun memilih untuk beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamar nya.
Gisella memilih untuk menghindari mereka berdua tapi Gisella seperti mendengar suara Ayah dan Ibu nya.
"Seperti suara Ayah dan Ibu, ada apa yaa mereka berdua ke sini. Aku pikir mereka sibuk dengan Kak Laura."
Barra pun mengendong Tiara untuk keluar rumah dan juga mengajak Gisella.
"Ayo kita pergi menemui mereka semua nya, Gisella sekarang keluarga kita sekarang berkumpul loh."
Gisella pun mengikuti apa yang di katakan oleh Barra dan dia pun berjalan menuju ke ruangan keluarga.
Ketika melihat Gisella dan Barra sudah datang dan duduk, Rossalinda pun menyampaikan kabar atas pernikahan mereka berdua.
"Sekarang kita yang sudah berkumpul di sini yang sebelumnya juga adalah keluarga dan sekarang juga masih keluarga. Saya berencana ingin menikah kan Gisella dengan Barra secara resmi bukan karena apapun tapi karena mereka yang saling mencintai dan juga karena mereka yang ingin membesarkan putri cantik nya Tiara."
Mata Gisella begitu sangat berkaca-kaca ketika mendengar perkataan tersebut.
"Saya sebagai orang tua Gisella, sebagai ibu kandung dari Gisella. Sangat senang sekali dengan rencana pernikahan ini karena sudah sangat banyak sekali pengorbanan dan air mata yang Gisella teteskan dari sebelum dia menikah dengan Barra, setelah dia hamil dan sekarang pun dia masih saja menjadi korban perasaan Laura."
Barra terlihat begitu sangat bahagia sekali ketika mendengar rencana pernikahan nya bersama dengan Gisella.
"Tapi ini kita rahasiakan saja dulu yaa karena memang masih sangat lama sekali, dan jangan sampai Laura mengetahui nya. Ini sangat bahaya sekali jika Laura sampai tahu rencana pernikahan ini."
__ADS_1
Mereka semua pun setuju untuk merahasiakan pernikahan Gisella dan juga Barra.
Gisella pun langsung berlari menghampiri ke dua orang tuanya dengan tangisan kebahagiaan.
Pelukan erat Gisella pun membuat kedua orang tuanya menagis juga.
***
Ketika Gisella dan Barra yang sedang bahagia karena akan segera menikah.
Laura terus saja menagis di dalam mobil Dokter Rivan, dia terus saja menangis histeris dan membuat Kenzo yang juga berada di dalam mobil yang sama pun dia ikut menagis.
"Ini semua tidak adil, dengan begitu mudah nya aku bisa sampai berpisah dengan suami yang aku perjuangkan dari dulu."
Dokter Rivan hanya bisa mendengarkan perkataan Laura karena dia yang sedang fokus menyetir mobil.
"Aku masih tidak mau kehilangan Barra, apalagi dia yang semakin dekat dengan Gisella. Mereka berdua tidak boleh sampai bersama apalagi sampai menikah aku bisa despresi."
Dokter Rivan begitu sangat menghawatirkan dengan kandungan Laura, karena dia yang terus-menerus berteriak-teriak sambil menagis.
"Laura, jangan seperti ini. Coba kamu lihat Laura. Kamu menagis Kenzo pun juga ikut menangis kasihan sekali dia."
Laura pun seketika langsung terdiam ketika dia mendengar tangisan histeris Kenzo ketika dia juga menangis, tangisan yang seperti saat ketakutan sekali.
Laura pun langsung seketika terdiam begitu saja.
Dan dia juga tidak mau menangis di hadapan Kenzo.
"Maafkan Mommy yaa sayang, mommy sangat kesal sekali dan juga sedih sayaaaaang."
Mereka pun akhirnya sampai di Apartemen, Dokter Rivan yang begitu sangat sabar sekali sekali dengan Laura.
"Ayo kita turun dan hapus air mata mu Laura, sekarang kamu tinggal di Apartemen ku. Karena kamu sudah tidak mungkin bisa tinggal bersama dengan kedua orang tua mu, apalagi sampai tinggal sendiri di Apartemen itu sangat bahaya sekali."
Dokter Rivan membuka kan pintu mobil untuk Laura dia yang sebenarnya lelaki yang sangat sabar sekali terhadap Laura tapi Laura yang hanya cinta kepada Barra.
"Suster Mirna, saya fokus dengan Laura yaa. Suster Mirna fokus dengan Kenzo. Karena Mental Laura sedang terganggu sekali saya sangat hawatir Laura melakukan hal yang tidak wajar. Saya pun tidak akan pergi ke Rumah Sakit sekarang."
Dokter Rivan memegang erat tangan Laura sampai di depan Apartemen nya.
"Suster Mirna, sekarang kamu bisa pulang untuk beristirahat. Nanti saya hubungi lagi yaa. Saya ingin sekali Laura menghabiskan waktu nya bersama dengan Kenzo. Agar dia tetap bisa selalu sadar diri."
Suster Mirna pun mengikuti apa yang di perintahkan oleh Dokter Rivan, dia memberikan Kenzo kepada Dokter Rivan dan langsung pergi dari Apartemen tersebut.
Dokter Rivan mendengar kembali tangisan dari kamar dan dia pun langsung masuk ke dalam kamar tersebut dengan menggendong Kenzo.
"Laura lihat Kenzo, dia sedih jika melihat kamu sedih Laura. Jika sampai kamu memiliki pikiran sudah tidak ada lagi yang peduli dengan kamu. Lihat ada Kenzo bayi tampan yang begitu sangat mirip dengan mu."
Laura pun menghapus air mata nya dan dia pun mengendong Kenzo dengan penuh senyuman.
Dokter Rivan memegang perut besar Laura, dia merasakan gerakan yang sangat aktif sekali.
"Bersyukur sekali yaa, anak kita sangat aktif sekali dan kuat. Walaupun Mommy nya yang selalu saja menangis dan menangis seperti ini."
Dokter Rivan merasa sangat bahagia sekali ketika melihat Laura yang sudah berpisah dengan Barra dan sekarang waktunya untuk dirinya membahagiakan Laura dengan cara nya sendiri.
"Terimakasih banyak yaa Kenzo, kamu selalu saja membuat Mommy bahagia. Kamu selalu membuat Mommy kuat dan tegar kamu adalah Anak Mommy."
Laura terlihat begitu sangat bahagia sekali karena ikatan batin mereka berdua yang sangat kuat sekali.
Ikatan batin antara ibu dan anak nya, yang terpisah tapi akhirnya bisa bersama kembali.
Kenzo pun lagi-lagi tertidur pulas di pelukan Laura dan Laura pun tersenyum manis kepada Kenzo dan lebih memilih untuk tetap mengendong Kenzo.
Laura melihat Dokter Rivan yang seperti sangat lelah sekali.
"Rivan, jika kamu ingin kembali ke Rumah Sakit. Silahkan pergi saja jangan memperdulikan aku karena aku sekarang sedang bersama dengan Kenzo."
Dokter Rivan mencoba untuk menyembunyikan rasa lelah nya dia tersenyum manis kepada Laura.
"Laura, lebih baik sekarang kamu istirahat bersama dengan Kenzo yaa. Hari ini aku tidak ke Rumah Sakit, tidur lah kamu pasti sangat cape dan lelah sekali."
Dokter Rivan pun memilih untuk meninggalkan Laura bersama dengan Kenzo.
__ADS_1
Laura pun seketika langsung terdiam ketika Dokter Rivan pergi dari kamar nya dan menutup rapat pintu kamar.
Laura merasa sangat bersalah sekali dengan Dokter Rivan, dia yang begitu sangat baik sekali kepada nya. Dia masih mau menerima kehadiran nya walaupun Laura yang selalu saja menyebutkan nama Barra.
"Rivan begitu sangat baik sekali kepada ku, ternyata sikap Rivan dari dulu sampai sekarang dia tidak berubah selalu saja mengalah untuk ku."
Laura memilih untuk menghampiri Dokter Rivan yang ternyata sedang duduk bersandar di sofa sambil memegang kepala nya.
"Kasihan sekali Rivan, dia pusing karena sikap ku yang seperti ini kepada nya."
Laura pun memilih untuk duduk di samping Dokter Rivan dan Dokter Rivan pun sangat terkejut sekali ketika melihat kehadiran Laura.
"Rivan, aku minta maaf atas perilaku aku dengan kamu yaa. Dan terimakasih banyak kamu yang selalu saja sabar dalam menghadapi semua sikap ku ini. Ternyata hanya kamu yang bisa menerima kehadiran ku."
Laura pun langsung memeluk erat tubuh Dokter Rivan, ini mungkin adalah pelukan yang sangat tulus sekali dari Laura kepada Dokter Rivan.
Dokter Rivan pun merasakan pelukan hangat yang di berikan oleh Laura kepada nya, dan Laura pun melepaskan pelukan erat nya.
"Laura, maafkan aku yang dulu meninggalkan mu untuk kuliah di luar negeri bertahun-tahun untuk menjadi seorang Dokter Specialis Kandungan seperti ini. Laura aku mempunyai impian bisa bersama dengan kamu setelah aku pulang dari luar negeri tapi ternyata kamu yang sudah mempunyai suami, tapi sekarang takdir berkata lain ternyata aku bisa bersama dengan kamu kembali Laura. Walaupun dengan jalan yang seperti ini."
Dokter Rivan hampir saja meneteskan air mata tapi Laura Langsung menghapus nya.
"Kamu adalah seorang Dokter yang sangat hebat, aku bangga sekali kepada kamu. Apalagi kamu adalah Dokter Specialis Kandungan terbaru."
Dokter Rivan pun memegang tangan Laura dan mencium nya.
"Laura, aku ingin sekali bisa segera menikah secepatnya dengan mu. Setelah kamu melahirkan anak kita ini sayang dan aku janji aku akan selalu membuat kamu bahagia."
Laura seperti berada di masa-masa indah bersama dengan Dokter Rivan di saat mereka berdua sedang sekolah.
"Oke, sekarang kita lupakan semua ini. Sekarang lebih baik kita bicarakan tentang bisnis skincare kosmetik mu Laura bagaimana."
Laura pun menghela nafas panjang nya ketika di tanya kembali dengan bisnis kosmetik nya.
"Penjualan yang tidak stabil, mungkin karena kasus ini. Seharusnya pabrik milik Gisella itu bangkrut karena pemberitaan ini karena Gisella ada pelakor cantik penyebab berpisah rumah tangga ku ini."
Dokter Rivan merasa jika tidak mudah untuk Laura melupakan nya semuanya.
"Yasudah yaa Laura, sekarang kamu masuk kembali ke kamar dan beristirahat yaa".
Laura menarik tangan Dokter Rivan yang seperti akan pergi untuk masuk ke dalam kamar nya.
Tapi Laura membuat Dokter Rivan memandangi wajah Laura dengan jarak yang sangat dekat sekali dan Laura pun langsung mencium bibir Dokter Rivan.
Seketika Dokter Rivan pun sangat terkejut sekali dengan apa yang sudah Laura lakukan dengan dirinya.
Dokter Rivan melihat Laura yang memejamkan mata nya sambil menikmati permainan bibir nya dengan Dokter Rivan.
Setelah merasa cukup puas, Laura pun melepaskan ciuman nya tersebut dan tersenyum manis kepada Dokter Rivan.
"Aku istirahat dulu yaa, kamu juga sana masuk kembali ke kamar kamu."
Laura meninggalkan Dokter Rivan dan Dokter Rivan pun dia langsung berjalan menuju ke kamar untuk beristirahat.
Laura masuk ke dalam kamar nya dia melihat Kenzo yang tertidur pulas sekali.
"Sayang sekali aku dengan anak ini, apa ya penyebab Rivan mengadopsi Kenzo. Apakah karena kedua orang tuanya Kenzo yang sudah meninggal dunia, ahhhh sayaaaaang kasihan sekali kamu Nak."
Laura merasa jika dirinya yang tidak mengantuk sama sekali.
"Aku sangat kesulitan sekali untuk tidur, lebih baik aku menonton berita di televisi. Ada berita apa yaa."
Laura sangat penasaran sekali akhirnya dia pun lebih mencari tentang drama-drama, tapi tiba-tiba saja dia melihat berita tentang dirinya.
Laura pun mengencangkan volume televisi tersebut.
Dan dia melihat ketika semua orang yang bilang jika memang Barra yang lebih pantes dengan Gisella.
Di dalam berita acara tersebut pun juga sampai membandingkan fisik Gisella yang masih sangat indah karena Laura yang 10 tahun lebih tua dari Barra.
"Ini tidak bisa di biarkan, lihat saja Gisella. Kamu akan pergi untuk selamanya."
Laura berkata seperti sambil memegang gunting besar di tangan nya, dan Laura pun memasukkan gunting tersebut ke dalam tas milik nya.
__ADS_1
"Walaupun sekarang aku bersama dengan Rivan, tapi aku tidak mau kamu menikah dengan Barra. Lebih baik kamu pergi untuk selamanya Gisella."
Laura begitu sangat yakin sekali dengan rencana jahat yang akan dia lakukan kepada Gisella.