Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *196*


__ADS_3

Ketika Laura dan Dokter Rivan berada di depan Apartemen Laura.


Datanglah kiriman bucket coklat dari Barra.


Dokter Rivan tersenyum ketika Laura menerima bucket coklat tersebut, dan membuat Laura berpikir jika bucket coklat tersebut dari Dokter Rivan.


"Apakah ini dari muu,??? nah ambil kembali aku tidak butuh."


Laura memberikan bucket coklat tersebut kepada Dokter Rivan.


Dokter Rivan hanya bisa tersenyum saja ketika Laura memberikan bucket coklat tersebut kepada dirinya.


Dan beberapa menit kemudian, datang lah bucket bunga mawar merah.


Laura pun langsung mengambil nya karena dia yakin itu bucket bunga dari Barra.


Laura memegang dengan erat bucket bunga mawar merah tersebut.


"Kamu yakin tidak mau dengan bucket coklat yang sangat manis ini,? coklat -coklat manis yang bisa membuat kamu tersenyum kembali."


Dokter Rivan mencoba untuk memberikan kembali bucket coklat tersebut.


"Aku tidak mau dan aku mohon pergi sana, jangan menghawatirkan aku. Aku tidak perlu perhatian dari muu."


Laura menutup rapat pintu Apartemen nya, dia dengan tega nya membiarkan Dokter Rivan di luar.


"Oke baiklah Laura sayaaaaang, terimakasih dengan coklat manis nya."


Dokter Rivan yakin jika bucket coklat ini pemberian Barra.


Dan ketika Dokter Rivan hendak keluar dari lantai dasar dia melihat Barra yang baru saja pulang dari kantor nya.


Dokter Rivan pun langsung menghampiri Barra.


"Aku menemukan bucket coklat ini di depan pintu Apartemen Laura, aku menekan tombol bell tapi Laura tidak juga mau membuka nya."


Dokter Rivan memberikan kembali bucket coklat tersebut.


"Kenapa bucket coklat ini berada di depan Apartemen, apakah Laura menolak nya."


Barra terdiam sambil memegang bucket coklat tersebut.


"Yasudah yaa, aku pamit dulu. Semoga hubungan kalian berdua baik-baik saja."


Dokter Rivan pergi meninggalkan Barra.


Dari kejauhan Dokter Rivan melihat jika Barra yang masih saja terdiam sambil memegang bucket coklat tersebut.


"Seperti nya Barra sedang memikirkan sesuatu, aku harus membuat Barra seperti berpikir jika Laura mempunyai lelaki lain."


Dokter Rivan pun menghampiri mobil nya dan pergi dari tempat tersebut.


Barra mulai berjalan menuju ke Apartemen nya dan dia pun membuka langsung pintu dan melihat Laura yang sedang tersenyum sambil memegang bucket bunga mawar merah.


Barra memilih menyimpan bucket coklat nya, dan dia tersenyum kepada Laura.


"Sayaaaaang, terimakasih banyak yaa bucket bunga mawar merah ini. Cantik sekali dan aku suka banget."


Barra melihat wajah Laura yang begitu sangat bahagia sekali.


Barra memilih untuk berpura-pura jika bucket bunga mawar merah tersebut dari nya.


"Baguslah jika kamu menyukai nya, tapi apakah kamu tidak lebih tertarik dengan bucket coklat manis ini."


Barra mengambil kembali bucket coklat nya.


Dan Laura seketika saja terdiam dia yang sudah memberikan bucket coklat tersebut kepada Dokter Rivan.


"Kamu bertemu dengan Rivan,? kenapa bucket coklat itu bisa ada di tangan kamu Mas."

__ADS_1


Laura mulai berdiri dia seperti sangat panik sekali melihat nya.


"Yaa, Dokter Rivan bilang bucket coklat ini berada di depan pintu Apartemen kita. Dan Dokter Rivan mencoba untuk menekan tombol bell tapi kamu tidak membukakan pintu untuk nya."


Laura pun terlihat sangat panik sekali.


"Ehh tapi bagaimana kamu bisa mengetahui Dokter Rivan, sedangkan kamu sendiri tidak membuka kan pintu untuk nya Laura."


Barra pun semakin di buat aneh dengan sikap Laura.


"Aku sebelum membuka pintu aku melihat dulu dari cctv, jadi aku tidak mau membukakan pintu tersebut."


Barra mendekati Laura tapi Laura tidak berani menatap wajah Barra.


"Apa yang membuat kamu bersikap seperti ini kepada Dokter Rivan,? bukan dia yang membantu kamu untuk bisa menjalani program kehamilan."


Bibir Laura pun terlihat bergetar ketika dia mau menjawab pertanyaan dari Barra.


"Hmmmmm, yaa karena menurut aku Rivan tidak bisa menyelamatkan bayi kita. Dia membuat bayi kita meninggal Mas."


Laura mencoba untuk meyakinkan suami nya tersebut.


"Kematian bayi kita itu sudah takdir bukan kesalahan Dokter Rivan, tapi coba kamu bisa mengikuti saran yang di berikan oleh Dokter Rivan. Mungkin semua tidak akan terjadi seperti ini, selama kamu hamil apa yang di larang oleh Dokter Rivan selalu kamu langgar kan Laura."


Laura merasa jika sikap Barra menjadi berubah dia berani untuk marah-marah kepada Laura.


"Mas, sekarang kamu berani yaa marah-marah seperti ini sama aku. Padahal sekarang ini aku sedang hamil anak kedua kamu loh seharusnya kamu lebih sayang dan perhatian lagi sama aku."


Barra tersenyum manis kepada Laura.


"Seharusnya kamu yang merubah sikap egois dan selalu merasa paling benar. Kamu sekarang sedang hamil anak kedua sikap kamu harus jauh lebih baik lagi."


Barra lebih memilih untuk meninggalkan Laura begitu saja dan membuat Laura begitu sangat emosional sekali.


Laura mengambil bucket bunga mawar merah dan melemparkan nya kepada Barra.


*Brrukkk*


Barra membalikkan badannya dan melihat bucket bunga tersebut yang Laura lemparkan.


"Percuma kamu memberikan aku bunga tapi kamu marah-marah kepada kuuu."


Barra pun mengambil bucket bunga mawar merah tersebut dan memberikan nya kepada Laura.


"Aku tidak pernah memberikan bucket bunga mawar merah ini untuk kamu Laura, yang aku berikan kepada kamu adalah bucket coklat yang kamu simpan di depan pintu Apartemen."


Barra yang merasa sangat kesal sekali dia memilih untuk pergi meninggalkan Apartemen tersebut.


Laura pun mereka sangat kaget sekali dan mencari bucket coklat tersebut.


"Lalu bucket bunga mawar merah ini dari siapa,? jika bukan dari Mas Barra."


Laura melihat bucket coklat tersebut sudah berada di tempat sampah.


"Ahhhhhhh, ini pasti dari Rivan. Dia benar-benar membuat aku kesal dan marah besar."


Laura merusak bucket bunga mawar merah tersebut dengan penuh emosional.


Laura benar-benar di buat kesal oleh sikap Rivan yang semakin meresahkan nya.


"Rivan kamu benar-benar membuat rumah tangga ingin berakhir, sangat jahat sekali Rivan. Kamu sudah membuat aku ketakutan dengan kehamilan kuu ini yang aku pun tidak tahu bayi yang aku kandung ini adalah anak siapa."


Laura menangis histeris di depan pintu Apartemen nya.


Bunga-bunga berserakan di hadapan nya.


Laura merasa sangat sedih sekali dengan apa yang di rasakan oleh nya.


Laura memegang perut nya, dia membayangkan bagaimana jika anak yang ada di kandungan ini adalah anak Rivan.

__ADS_1


"Laura kamu harus berpikir positif, bayi ini adalah bayi suami kamu bukan bayi dari lelaki yang lain. Karena aku lebih banyak berhubungan dengan suami kuu bukan dengan Rivan."


Laura mencoba untuk meyakinkan diri nya sendiri dia tidak mau harus terus-menerus memikirkan bayi tersebut.


Barra begitu sangat kesal sekali dia sampai memilih untuk meninggalkan Laura, padahal posisi Laura sedang hamil muda.


Barra pun terdiam di dalam mobil nya saja, dia mencoba untuk menenangkan perasaan nya.


"Jika aku kembali ke Apartemen maka aku akan kembali emosional kepada Laura, sekarang aku mulai tidak bisa mengontrol emosi kuu kepada Laura."


Barra memilih untuk pergi dari pada dia ribut kembali dengan Laura.


Barra pun memilih untuk pergi menemui Tiara.


"Hanya dengan bertemu dengan Tiara hati ini seperti nya merasa sangat tenang dan senang, semakin ke sini rumah tangga kuu semakin tidak merasa kan kebahagiaan."


Barra pun memilih untuk membelikan sesuatu untuk Tiara.


Ketika Barra yang mencoba untuk membahagiakan dirinya sendiri, Laura langsung memilih untuk menghubungi nomer handphone Gisella.


"Mas Barra pasti sekarang menuju ke rumah Ibu, dia pasti ingin bertemu dengan bayi Gisella. Ini tidak bisa di biarkan aku harus menghubungi nomer handphone Gisella."


Gisella sedang bersiap-siap untuk pulang dia melihat handphone yang bergetar dan berdering.


"Siapa yaa yang menelephone kuu, hmmmm Kak Laura. Dia pasti menelephone untuk marah-marah kepada kuu."


Gisella pun menarik nafas panjang nya sebelum dia menjawab panggilan telephone dari Kakak nya.


***Hallo Kak Laura, apa apa yaa telephone aku.


*Gisella suruh Mas Barra pulang sekarang juga.*


*Mas Barra,? di kantor ku tidak ada yang bernama Mas Barra.*


*Sudahlah Gisella bukan waktu nya untuk becanda seperti ini, pokoknya Kakak tidak mau tahu yaa suami Kakak harus pulang sekarang juga.*


*Aku masih di kantor kaa, aku belum pulang. Jadi aku nggak tahu di rumah ada Kak Barra atau tidak**.


Laura memilih untuk mengakhiri panggilan telephone nya.


"Di akhiri begitu saja panggilan telephone nya, kapan rumah tangga nya bahagia yaa."


Gisella pun menyimpan handphone nya, dia bersiap-siap untuk pergi.


"Kalau sampai Kak Barra berada di rumah, bagaimana yaa. Apakah Kak Laura akan marah-marah lagi kepada kuu, yasudahlah biarkan saja."


Gisella yang merasa sudah terbiasa dengan sikap Kakak nya dia merasa santai untuk menghadapi permasalahan yang ada.


"Aku ingin sekali membelikan sesuatu untuk Tiara, baju-baju pink yang sangat lucu sekali."


Gisella memilih untuk berhenti di toko perlengkapan bayi.


Dia begitu sangat bersemangat sekali untuk bisa membelikan sesuatu kepada Tiara dengan gajih pertama nya.


Tapi ternyata Gisella bertemu dengan Barra dan membuat Gisella pun sangat terkejut sekali.


Barra menghampiri Gisella dan Gisella memilih untuk berjaga jarak dengan Barra.


"Gisella, aku berniat untuk pergi menemui Tiara. Boleh kan aku sangat merindukan sekali Tiara."


Gisella pun tersenyum dan dia menyadari jika Barra sedang mempunyai masalah dengan Laura.


Gisella merasa jika Tiara adalah yang membuat hati Barra menjadi tenang.


"Boleh saja karena Tiara juga kan anak Kak Barra, aku tidak akan pernah melarang nya. Jika Kak Barra ingin bertemu dengan Tiara."


Barra merasa sangat bahagia sekali ketika dirinya di perbolehkan untuk bisa bertemu dengan Tiara setiap saat.


"Terimakasih banyak Gisella, kamu sangat baik sekali yaa. Aku berniat untuk membelikan semua mainan ini untuk Tiara."

__ADS_1


Gisella begitu sangat terkejut sekali ketika melihat banyak nya mainan yang di belikan Barra untuk Tiara.


__ADS_2