Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode #200#


__ADS_3

Barra mencoba untuk mendekati dirinya dengan Gisella, hal tersebut membuat Gisella merasa sangat gugup sekali.


Gisella tidak mau diam ketika Barra terus menatap wajah nya.


"Kamu cantik sekali Gisella."


Ucap Barra sambil membelai rambut panjang Gisella.


Gisella pun hanya bisa tersenyum manis saja sambil menggeserkan badan nya.


"Gisella, ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Ini mengenai Laura tapi sebenarnya Laura menginginkan ini menjadi rahasia kita berdua saja."


Gisella yang sebelumnya menjaga jarak dengan Barra dia langsung mendekati Barra.


"Rahasia pernikahan kalian berdua,? atau rahasia apa yang kalian berdua sembunyikan."


Gisella terlihat sangat penasaran sekali.


"Laura sebenarnya sekarang sedang hamil anak ke dua, mungkin usia kandungan masih 6 Minggu masih sangat muda sekali. Laura menginginkan rahasia tentang kehamilan karena dia tidak mau terulang seperti sebelumnya dia terlalu berlebih-lebihan dengan kehamilan pertama."


Barra menarik nafas panjang nya dia seperti sangat lelah sekali.


"Sekarang aku merasa ingin menyerah tapi Laura memberikan lagi kejutan kehamilan nya, kemarin aku melihat ada yang memberikan bucket bunga mawar merah untuk Laura. Aku sempat berpikir negatif terhadap hal tersebut."


Gisella seketika langsung terdiam ketika dia jika Laura yang bisa hamil dengan cepat sekali.


"Di saat aku mulai merasa lelah dengan pernikahan ini, aku selalu saja teringat dengan perjuangan kita dalam ingin menjadi seperti sekarang."


Gisella melihat mata Barra yang berkacamata ketika dia bercerita semua nya kepada dirinya.


Gisella tidak percaya jika Barra bisa berpikiran menyerah dengan sikap Laura, Gisella berpikir yang membuat Barra mau bertahan bersama dengan Laura karena Barra yang terlalu cinta kepada Laura.


"Kak Barra, aku sangat salut sekali dengan Kakak yang masih mau bertahan bersama dengan Kak Laura. Tapi sekarang aku merasa Kak Laura semakin galak sekali aku mulai merasakan ketakutan sekali ketika tadi melihat tatapan mata Kak Laura."


Barra memegang tangan Gisella dia tersenyum kembali dengan Gisella.


"Gisella, mau kamu sekarang sebagai teman berbagi cerita. Walaupun ini harus kita rahasiakan dari Laura, tapi aku memang butuh sekali teman untuk berbagi cerita."


Gisella menganggukkan kepalanya sambil tersenyum juga kepada Barra.


"Iyaa Kak, aku mau kok jadi teman curhat Kak Barra. Aku akan menjaga setiap semua cerita yang Kak Barra ceritakan."


Barra merasa sangat senang sekali dia akhirnya memiliki teman curhat.


"Gisella, bagaimana dengan Rangga. Apa dia masih menggangu kamu?."


Gisella langsung memegang kepalanya.


"Aku pusing sekali dengan Rangga, dia seharusnya sudah menikah tapi aku tidak datang ke acara pernikahan. Semoga saja dia tidak menggangu kuu lagi."


Barra merasa sangat bersalah sekali dia adalah orang yang membuat Gisella dan Rangga berpisah.


"Tapi apakah kamu masih mempunyai perasaan terhadap Rangga,? dia itu adalah cinta pertama kamu kan Gisella tapi sangat susah untuk di lupakan apalagi kamu berpacaran sejak sekolah SMA sampai Lulus Kuliah."


Gisella seketika menundukkan kepalanya dia seperti sedang berpikir sejenak.


Barra mengusap pundak Gisella, Barra tahu jika Gisella begitu sangat sedih sekali.


"Jujur saja di awal pernikahan sampai aku datang ke acara pertunangan nya, aku masih ingin bisa bersama dengan dia. Tapi ketika aku yang selalu di datangi oleh Tante Veronica dan Fransisca aku pun mulai sadar diri dan ketika kelahiran Tiara aku sudah tidak lagi ingin bersama dengan Rangga."


Membicarakan tentang Rangga membuat Gisella mengingat kembali masa lalu nya.


"Yasudah lupakan saja yaa, sekarang kamu itu adalah wanita yang hebat dengan karir muu Gisella. Kamu pasti memiliki pasangan yang terbaik untuk kehidupan kamu."


Barra melihat jam yang ads di handphone nya, dia melihat jika sekarang sudah jam 7 malam.


"Gisella, ayo kita pulang. Tiara membutuhkan kamu dan kita berikan hadiah ini untuk Tiara."


Gisella dan Barra pun bersiap-siap untuk pergi.


Gisella memang merasa sangat rindu sekali dengan Tiara.


Di perjalanan Gisella pun mulai berpikir jika nanti Kak Laura sudah melahirkan anak nya, Barra tidak akan bisa seperti ini dengan Tiara.


Kasih sayang Barra akan full kepada anak ke dua nya.


Tapi Gisella mencoba untuk tidak membayangkan hal tersebut, dia yakin Barra tidak akan pernah melupakan Tiara.


"Kak Barra, sesudah pulang dari rumah. Kak Barra akan kembali bersama dengan Kak Laura? maksud aku pulang ke Apartemen kalian?."


Barra menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Tidak Gisella, aku akan pulang ke rumah. Kasihan Mama. Demi Laura aku harus meninggalkan Mama di rumah yang sebesar itu."


Gisella pun hanya tersenyum tipis saja.

__ADS_1


Handphone Gisella berdering kencang ternyata panggilan telephone dari Ibu nya.


Gisella dengan sangat cepat menjawab panggilan telephone tersebut.


*Hallo Buu, ada apa yaa Buu. Aku sekarang sedang perjalanan untuk pulang.*


*Gisell, Tiara rewel sekali seperti nya dia sangat merindukan kamu. Ayo cepetan pulang.*


*Tiara rewel, maafkan aku yaa Buu. Iya sebentar lagi aku sampai*


Barra langsung memberhentikan mobilnya dia langsung mengambil handphone Gisella.


*Tiara sayaaaaang, jangan menagis yaa Nak. Ibu dan Ayah sebentar lagi pulang yaa sayaaaaang. Sabar yaa sayang.*


Seketika Tiara pun yang sedang menangis dia langsung berhenti ketika mendengar suara Barra.


Barra pun memilih untuk mengakhiri panggilan telephone dia menjalankan mobil nya dengan sangat cepat sekali.


"Kak Barra, hati-hati jangan terlalu cepat sekali seperti ini menjalankan mobilnya. Aku sangat ketakutan sekali nih."


Gisella sambil memegang sabuk pengaman nya.


"Ibu Gisell, anak kita sedang menunggu kedatangan kita. Jadi kita harus cepat-cepat sampai kasihan Tiara."


Lagi-lagi Gisella merasakan sikap tanggung jawab dari Barra.


"Terimakasih Tuhan, dia begitu sangat bertanggung jawab terhadap anak nya. Walaupun dia bukan suami kuu lagi tapi aku sangat merasa sangat senang sekali ketika dia yang mencintai anak nya."


Suara hati Gisella di dalam lubuk hati yang paling terdalam.


Mereka pun akhirnya sampai di depan rumah orang tua Gisella.


Barra dengan sangat cepat sekali membuka bagasi mobil nya, dan Gisella pun membantu Barra untuk mengambil semua barang-barang yang di beli oleh Barra untuk Tiara.


Mereka berdua pun terlihat sangat sibuk sekali dengan barang-barang bawaan mereka masing-masing.


Sampai akhirnya Barra pun menyimpan barang-barang bawa an nya dan langsung mengendong Tiara yang sedang menangis sangat kencang sekali.


Tiara seakan mengadu kepada Barra, dan Barra pun mencoba untuk menenangkan Tiara.


"Jangan menangis sayaaaaang, ini ada Papa yaa sayaaaaang. Papa yang selalu di rindukan sama Tiara yaa sayang."


Tiara pun terus saja memandangi wajah Barra, seakan dia sudah mengenal wajah Papa nya.


Gisella mencoba untuk mengambil Tiara dari gendongan Barra, tapi Tiara menolak nya dia seperti tetap ingin bersama dengan Barra.


Gisella terus saja mencoba untuk membawa Tiara dari gendongan Barra.


"Yasudah Gisella, biarkan saja dia tertidur nanti baru aku akan pulang setelah Tiara tertidur pulas di pelukan kuu."


Gisella memilih untuk pergi dari kamar nya, dia menutup rapat pintu kamar nya.


Gisella keluar dari kamar nya dia duduk di sofa ruang tamu.


Riana menghampiri Gisella, dia duduk di samping Gisella.


"Tiara sudah merasakan keberadaan Barra di samping nya, Tiara sudah tahu jika Barra adalah Papa nya."


Riana memeluk Gisella dari sambil dia merasa sangat sayang sekali dengan Gisella.


"Gisella, tadi ibu melihat Kakak muu di depan halaman rumah kita. Dia hanya berdiri di depan mobil nya. Tapi di saat Barra datang Laura menghampiri mobil Barra tapi Barra memilih untuk pergi."


Gisella tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya terjadi kepada Ibu nya, dia takut sekali keceplosan membongkar rahasia Laura yang sedang hamil muda.


"Aku tidak tahu buuu, biarlah itu urusan rumah tangga mereka. Aku malas mendengar ocehan mulut Kak Laura yang menyakitkan."


Terdengar suara Barra membuka pintu kamar Gisella.


Gisella pun langsung terbangun dari tempat duduk nya dan segera menghampiri Barra.


"Tiara sudah tidur sangat pulas sekali, pipi nya sudah sangat tembem sekali gemes."


Gisella pun membuka pintu kamar dia melihat Tiara yang sudah tertidur pulas sekali.


"Terimakasih yaa Kak padahal sebenarnya Kak Barra itu pasti sangat cape sekali, tapi mau melakukan semua ini."


Barra tersenyum manis kepada Gisella.


"Yasudah yaa, aku pulang dulu yaa Gisella. Jaga baik-baik Tiara yaa."


Barra pun langsung meninggalkan Gisella dia berpamitan dengan Riana.


"Barra hati-hati yaa, semoga saja Laura tidak mengetahui kamu sering melihat Tiara. Karena jika Laura mengetahui nya dia pasti akan marah-marah lagi kepada Gisella."


Barra menganggukkan kepalanya sambil pergi.

__ADS_1


Riana pun mengantar Barra sampai ke depan rumah nya.


Barra masuk ke dalam mobil nya, dia memilih untuk menginap di rumah orang tua nya.


***


Laura menunggu kedatangan Barra, dia sampai berdiri di depan pintu Apartemen nya.


"Aku menghubungi Mas Barra tapi dia tidak juga datang dan kenapa dia memilih untuk pergi di saat aku menghampiri mobil nya."


Laura terus saja memandangi handphone nya yang tidak ada terus balasan dari suami nya.


"Seperti nya, Mas Barra marah kepada kuu dan dia pun menyadari tentang bucket bunga mawar merah itu. Ahhhhhh Rivan kamu memang sangat membuat aku marah."


Laura mengambil handphone dia dia berniat untuk menelephone Rivan.


"Hahhhh, dia membuat aku sangat kesal sekali."


*Hallo Rivan, heh Rivan semua karena kamu yaa. Gara-gara kamu yang mengirimkan bucket bunga mawar itu membuat suami curiga.*


*Laura, kamu adalah wanita yang sangat anggun sekali bisakah kamu berbicara dengan suara yang lemah lembut tidak berteriak-teriak kencang seperti ini.*


*Aku tidak perlu bersikap anggun kepada kamu Rivan, jika sampai suami ku mencurigai kuu maka kamu harus bertanggung jawab.*


*Laura sayaaaaang, dari awal kita melakukan nya pun. Aku akan bertanggung jawab terhadap apa sudah kita berdua lakukan.*


*Sudah yaa Rivan, sekarang suami aku sampai tidak pulang ke Apartemen. Aku tidak mau kehilangan suami kuu yaa aku tidak mau.*


Mendengar Laura bilang jika Barra tidak ada di Apartemen nya, Rivan langsung tersenyum dia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa bertemu dengan Laura.


*Kamu tidak mungkin kehilangan Barra, jika kamu sampai kehilangan Barra aku yang akan menggantikan posisi Barra. Aku akan menjadi kan ratu, kamu tidak pernah bahagia bersama dengan Barra. Karena bagaimana pun juga Barra itu pernah berhubungan dengan Gisella dan itu tidak akan bisa di lupakan.*


Laura memilih untuk mengakhiri panggilan telephone nya


"Rivan benar-benar membuat aku marah-marah dia selalu saja membahas tentang Gisella."


Laura pun merasakan sangat pusing sekali dia juga merasa sangat mual muntah sekali.


Laura pun lari ke kamar mandi, dia merasakan mual muntah.


"Barra tidak ada di Apartemen nya, itu tandanya Laura hanya sendirian di Apartemen. Oke Laura aku akan datang ke Apartemen muu."


Rivan pun langsung bersiap-siap untuk pergi ke Apartemen Laura.


Laura terus saja merasa kan mual muntah sampai dia merasa sangat lemas sekali.


"Ahhhhhhh, aku sangat tidak kuat sekali. Kenapa kehamilan ku yang ke dua seperti ini sih. Berbeda jauh dengan kehamilan ku yang pertama kuat bisa beraktivitas dengan baik."


Laura mencoba untuk berdiri dan berjalan menuju ke kasur nya, dia sudah sangat lemas sekali.


Sampai Laura merasa tidak berdaya di atas tempat tidur nya.


Laura memejamkan mata nya tapi dia seperti mendengar suara bunyi bell, Laura tidak kuasa untuk berjalan menuju ke pintu.


Dia hanya bisa berteriak-teiak saja dengan suara nya yang bergerak.


"Mas Barra, langsung masuk saja Mas. Nggak usah pencet tombol bell."


Rivan seperti mendengar suara Laura tapi dia tidak mendengar nya dengan sangat jelas.


"Itu seperti suara Laura, tapi kenapa suara nya tidak jelas yaa. Biasanya kalau Laura sudah berteriak itu sangat powerfull sekali."


Rivan mencoba untuk membuka pintu Apartemen nya dan dia berjalan menuju ke kamar Laura.


"Pintu Apartemen nya tidak di kunci, seperti nya Laura sekarang sedang berada di ruangan tertentu. Mungkin dia sangka Barra yang datang."


Rivan mencoba untuk mencari Laura, dan dia melihat pintu kamar yang terbuka.


"Pintu kamar nya terbuka, apakah Laura sedang berada di dalam kamar nya."


Rivan pun berdiri di depan pintu kamar Laura, dia melihat Laura yang memejamkan mata nya sambil memegang kepalanya.


Melihat kondisi Laura yang sangat memprihatikan, Rivan pun langsung menghampiri Laura.


Dia melihat kondisi Laura yang sudah sangat lemas sekali.


"Laura, kamu baik-baik saja kan. Kamu terlihat sangat lemas seperti ini apa kamu tidak makan seharian?."


Laura sebenarnya tidak menginginkan kehadiran Rivan di samping nya, ini hanya membuat hubungan nya semakin tidak baik dengan Barra.


Tapi Laura juga tidak mau sampai di bawa ke rumah sakit, maka Rivan akan mengetahui kehamilan nya.


"Rivan, aku mohon lebih baik kamu pergi saja. Bagaimana jika suami ku mengetahui kamu yang sedang berada di kamar seperti ini."


Laura menangis di hadapan Rivan dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk berteriak-teriak kepada Rivan.

__ADS_1


"Aku akan membuat kan kamu minum hangat yaa, kamu ini sangat pucat sekali Laura. Aku tidak tega meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini."


Rivan pun memilih untuk pergi ke dapur.


__ADS_2