
Laura terlihat sangat gugup sekali dan sangat tegang wajah nya.
"Gisella, apakah Tiara sedang sakit?."
Dokter Rivan mencoba untuk mencairkan suasana.
"Iyaa, Tiara sakit dia demam dan aku langsung membawa Tiara ke Dokter Specialis Anak seperti anjuran dari Dokter Rivan."
Laura terus saja minum dia mencoba untuk menenangkan diri nya sendiri.
Laura begitu sangat ketakutan sekali dia takut.
"Hmmmmmm, seperti nya aku harus pergi. Aku harus menyelesaikan program ikan untuk produk terbaru aku."
Laura mencoba untuk pergi tapi Barra memegang tangan Laura.
"Kamu mau kemana Laura,? tadi kamu terlihat sangat bahagia sekali. Tapi kenapa kamu jadi berubah sikap menjadi seperti ini setelah kedatangan aku dan Gisella."
Laura pun merasa salah tingkah, dia merasa di posisi serba salah.
"Duduklah, kita mengobrol sama-sama di sini oke."
Laura pun terpaksa untuk duduk kembali bersama dengan Barra, Rivan dan Gisella.
"Laura apakah kamu datang ke sini untuk memeriksakan hasil dari kandungan kamu, bersama dengan Dokter Rivan?."
Laura pun merasa kebingungan sekali untuk menjawab nya, dan Rivan pun mencoba untuk membantu Laura.
"Laura lebih memilih untuk memeriksa kandungan nya kepada Dokter Arman, Laura datang ke sini untuk berkonsultasi masalah kandungan nya saja."
Laura seperti bisa bernafas lega ketika Rivan membantu dirinya menjawab pertanyaan dari Barra.
"Oh, bukan kah kamu bilang sudah tidak percaya lagi dengan Dokter Rivan. Aku masih sangat ingat sekali ucapan kamu itu Laura."
Barra memegang tangan Laura yang terlihat sangat bergetar sekali.
"Hmmmmm, iya itu dulu. Tapi sekarang aku rasa tidak perlu lagi untuk membenci Rivan karena kehilangan anak itu sudah takdir yang sudah terjadi."
Gisella merasa jika Laura memang banyak sekali berbohong kepada Barra.
"Oh seperti itu, jadi sekarang kalian berdua sedang menjalani hubungan yang seperti dulu. Supaya hubungan kalian berdua menjadi jauh lebih baik lagi dan dekat."
Rivan pun semakin yakin jika Barra yang sudah mengetahui hubungan nya dengan Laura.
Rivan merasa jika Barra sedang memancing Laura saja.
Rivan merasa sangat menyukai sekali apa yang sedang di lakukan oleh Barra.
Rivan merasa jika hal bisa membuat hubungan dengan Laura semakin dekat dan Barra bisa segera pisah dengan Laura.
"Kak Barra, aku ingin pulang yaa. Kasihan Tiara dia sedang demam sampai ketiduran di pangkuan ku seperti ini."
Gisella berdiri dari tempat duduk nya dan Barra pun juga ikut berdiri mengikuti Gisella.
"Mas Barra, kamu mau kemana Mas?. Kenapa kamu juga ikutan seperti mau pergi."
Laura memegang tangan Barra seperti menahan Barra untuk pergi bersama dengan Gisella.
"Laura, aku akan mengantar kan Tiara. Tiara adalah anak kuu. Karena di saat Gisella hamil Tiara aku lepas tanggung jawab dan sekarang adalah waktunya aku untuk membalas semua nya untuk Gisella."
Laura pun seketika langsung emosional sekali dengan perkataan Barra.
"Mas, kamu kenapa sih. Masih saja selalu seperti itu kepada Gisella. Kamu terlalu berlebih-lebihan dalam memperlakukan Gisella. Tiara itu hanya alesan kamu untuk bisa bersama dengan Gisella."
Barra tersenyum manis kepada Laura ketika mendengar perkataan Laura.
"Dan, kamu juga yaa Gisella. Kamu itu tidak tahu malu sekali yaa. Kamu sudah tidak ada lagi hubungan dengan Mas Barra tapi masih saja selalu ingin bersama dengan Mas Barra."
Laura melampiaskan kekesalannya kepada Gisella.
"Gisella itu adalah mantan istri kuu, bukan mantan selingkuhan kuu. Jadi dia jauh lebih terhormat dari wanita yang suka berselingkuh."
Seketika Laura pun langsung terdiam ketika mendengar perkataan Barra.
Barra pun memilih untuk menarik tangan Gisella untuk pergi dari tempat tersebut.
"Rivan apa maksud dari perkataan Barra, kenapa dia membahas tentang perselingkuhan seperti itu. Apakah ini adalah sindiran untuk kita berdua?."
Wajah Laura terlihat sangat panik sekali.
"Rivan, kamu harus meyakinkan Barra jika kita berdua itu tidak ada hubungan apa-apa."
Laura menarik-narik lengan Rivan dia ingin Rivan menjelaskan kepada Barra.
__ADS_1
"Laura untuk apa aku harus memberikan penjelasan kepada Barra, itu sama jika mengakui jika kita berdua memiliki hubungan."
Rivan mencoba untuk menenangkan Laura.
"Sudahlah Laura, kamu jangan kelihatan panik seperti ini. Kamu harus tenang dalam berbicara coba kamu tadi tidak berbicara seperti itu kepada Gisella. Mungkin Barra tidak akan berkata seperti itu kepada kamu."
Laura memegang kepalanya dia merasa sangat pusing sekali.
"Aku pusing mual dan seperti ingin muntah."
Laura pun langsung berlari mencari toilet.
"Kandungan yang sangat kuat sekali berbeda dengan yang sebelumnya, dia adalah anak ku. Anak pertama ku."
Rivan memilih untuk pergi menghampiri Laura.
***
Barra masuk ke dalam mobil nya bersama dengan Gisella, Barra terlihat sangat kesal sekali melihat Laura dengan Barra.
"Lauraaaaaaa, kenapa kamu bisa melakukan ini semua di belakang ku. Sangat menyakitkan sekali."
Barra pun hanya bisa melampiaskan kekesalannya di dalam mobil.
"Kak Barra, apakah ini tanda bener-bener jika Kak Laura itu memang mempunyai hubungan spesial dengan Dokter Rivan tapi aku rasa itu karena sesuatu hal."
Barra memilih tidak langsung mengendarai mobil nya dia pun memilih untuk mengendong Tiara.
"Ini sudah sangat jelas sekali Gisella, aku akan menunggu proses persalinan anak ku yang ke dua. Setelah itu aku akan berpisah dengan Laura."
Gisella pun begitu sangat terkejut sekali ketika Barra yang selalu mengikuti apa yang di katakan oleh Laura seketika dia langsung berubah dan ingin berpisah dengan Laura.
"Gisella, maafkan Laura yang selalu saja melampiaskan kekesalannya terhadap kamu yaa. Semoga saja Laura bisa berubah lebih baik lagi ke depan nya."
Barra yang merasa sudah mulai membaik perasaan dia pun langsung memberikan Tiara kepada Gisella.
Tapi lagi-lagi Barra melihat Laura yang sedang bersama dengan Rivan.
Terlihat sekali Rivan yang sedang merangkul Laura untuk masuk ke dalam mobil Laura.
"Seperti nya, Kak Laura itu sedang mual muntah deh Kaa. Terlihat sekali dia yang terus memegang mulut nya dengan tangan nya."
Barra pun langsung mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali dan memberikan klakson panjang pada mobil Laura.
"Rivan, itu mobil Barra. Dia pasti berpikir negatif terhadap kita berdua."
Laura pun langsung menangis di hadapan Rivan.
"Laura aku merasa sangat lelah sekali dengan semua perkataan kamu Laura, percaya saja semua nya pasti akan indah pada waktunya. Kamu dan aku akan bersama selama nya."
Laura semakin di buat sedih oleh perkataan Rivan.
"Rivan bisakah kamu membuat aku jauh lebih baik lagi,? Kenapa kamu hanya membuat permasalahan ini semakin rumit seperti ini."
Rivan memandangi wajah Laura yang sedang panik.
"Laura, kamu yang membuat permasalahan ini menjadi rumit. Sejak awal kita berhubungan aku sudah bersedia untuk bertanggung jawab atas apa yang suka kita berdua lakukan. Tapi kamu tetap saja ingin bersama dengan Barra dan sekarang semua sudah terbongkar. Barra sudah mengetahui semuanya kamu masih berharap bisa bersama dengan Barra."
Rivan pun memilih untuk keluar dari mobil Laura.
"Aku pergi Laura, selesaikan saja sesuai dengan keinginan mu dan rencana mu."
Rivan yang sudah merasa sangat pusing sekali dengan sikap Laura.
"Rivan jangan, kamu jangan pergi Rivan. Kamu harus tetap bersama dengan aku."
Laura keluar dari mobil nya, dia mencoba untuk mengejar Rivan.
"Rivan jangan pergi seperti ini, jangan biarkan aku sendirian."
Laura memohon kepada Rivan agar tetap bisa bersama dengan Laura.
"Laura bisakah kamu membuang sikap egois mu itu,? Laura bisakah kamu menghargai perasaan ku yang setia menemani mu. Laura aku ini ingin menikah dengan mu tapi kamu ingin aku bisa membuat kamu kembali dengan suami mu. Laura apakah hati mu sudah tidak ada."
Rivan memilih untuk meninggalkan Laura begitu saja, dan Laura pun merasa sangat sedih dan merasakan kesendirian nya.
"Aku sudah tidak punya siapa pun, dan harus aku akui jika Rivan itu adalah orang yang selalu ada di samping ku selama ini."
Laura pun masuk ke dalam mobil nya, dia mengendarai mobil nya dengan air mata yang mengalir deras di pipi nya.
***
Barra memilih untuk membawa Gisella dan Tiara ke rumah Mama Rossa.
__ADS_1
Gisella pun hanya bisa terdiam saja ketika dirinya di bawa ke rumah Mama Rossa.
"Gisella, sampai Tiara sembuh kamu tinggal bersama dengan Mama Rossa yaa. Aku sangat menghawatirkan sekali dengan kondisi Tiara yaa, karena kamu di Apartemen yang hanya berdua saja."
Gisella pun turun dari mobil Barra, dia pun berjalan menuju ke dalam rumah.
Rossalinda begitu sangat bahagia sekali ketika melihat Gisella dan Tiara datang ke rumah nya.
"Gisella dan Tiara untuk sementara akan tinggal di sini dan aku yang akan tinggal di Apartemen sendirian."
Rossalinda pun memperhatikan wajah Barra yang kelihatan sangat emosional sekali.
"Ada apa Barra,? Kenapa kamu lebih memilih untuk tinggal di Apartemen sendiri. Kamu bagaimana dengan Laura kalian berdua pisah ranjang?."
Barra pun menghampiri Mama nya dia tidak mau jika Mama nya mengetahui Laura yang selingkuh.
"Aku ingin menyendiri Mam, Mungkin dengan ini hubungan ku dengan Laura bisa baik-baik saja."
Rossalinda merasa jika Barra menyembunyikan sesuatu dengan nya.
"Mbak-mbak tolong siapkan kamar untuk Gisella yaa, rapikan kamar nya dan harus bersih yaa kamar karena Tiara dia sedang sakit yaa. Antarkan Gisella menuju ke kamar nya."
Gisella pun pergi meninggalkan Barra yang seperti ingin berbicara serius dengan Barra.
"Barra, Mama tidak suka yaa kamu menyembunyikan sesuatu dengan Mama. Barra kamu harus berkata jujur dengan Mama, apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahan mu dengan Laura."
Barra pun duduk di samping Mama Rossa dia kelihatan sangat lelah sekali sampai menyenderkan kepalanya ke tembok.
"Aku merasa lelah untuk melanjutkan pernikahan ku dengan Laura, tapi aku juga mengingat kembali Laura yang sekarang sedang hamil anak ke dua kuu."
Rossalinda mencoba untuk menenangkan pikiran Barra.
"Apa yang membuat kamu merasa lelah sekarang, sedangkan kamu sendiri sudah mengetahui sikap Laura seperti apa dari dulu hingga sekarang sikap egois nya tidak berubah menjadi lebih baik."
Barra masih belum bisa mengatakan hal yang sebenarnya kepada Mama nya, karena Barra tidak mau membuat Mama syok ketika mendengar jika Laura berselingkuh dengan Dokter Rivan.
"Aku tidak bisa menjelaskan nya Mam, mungkin aku memang sudah sangat lelah sekali Mam. Dan sekarang aku ingin fokus dengan Tiara anak perempuan pertama ku."
Rossalinda pun memilih untuk pergi ketika dia sudah mendengar penjelasan dari Barra.
"Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu saja di kamar kamu yaa, jika nanti kamu sudah segar kembali baru kamu pergi ke Apartemen."
.
Rossalinda menepuk pundak Barra dan segera pergi meninggalkan Barra.
***
Laura memilih untuk pergi ke kantor nya, karena dia memang harus melakukan proses iklan untuk produk terbaru nya.
Asisten pribadi Laura menghampiri Laura dia mengatakan jika perbedaan produk shampo milik Gisella dengan produk skincare kosmetik milik Laura hanya berbeda 30% .
"Bu, bagaimana ini kita 30% lagi produk shampo milik Bu Gisell akan mengalah kan produk skincare kosmetik kita."
Laura pun langsung melihat hasil nya.
"Apasih yang membuat produk shampo milik Gisella itu di sukai para konsumen, padahal jika kita lihat semua biasa dari penampilan nya pun sederhana tidak seperti produk kita yang sangat mewah sekali."
Laura mencari apa yang membuat produk shampo milik Gisella di lihat menarik di hadapan konsumen.
"Mungkin karena wajah Bu Gisell yang sangat cantik sekali Buu, itu yang membuat produk shampo nya ramai di sukai banyak konsumen."
Laura pun merasa tidak terima dengan jawaban Asisten pribadi nya tersebut.
"Maksud nya Gisella itu cantik sedangkan saya tidak,? Saya itu adalah Kakak kandung dari Gisell. Dia mungkin yang umur masih muda saja dan mungkin saja mereka menyangka jika Gisella itu masih gadis padahal kenyataan nya Gisella yang sudah mempunyai anak."
Laura terus saja berpikir bagaimana cara dia untuk membuat produk shampo milik Gisella tidak memiliki konsumen dan bangkrut.
Laura yang sedang sangat sibuk sekali dia merasa sangat terkejut ketika melihat ada Mama Rossa di hadapan nya.
Mama Rossa yang bilang kepada Barra dia ingin pergi ke kamar Gisella tapi ternyata dia pergi ke perusahaan Laura.
Laura begitu sangat hawatir sekali jika Mama Rossa mendengar rencana nya yang ingin membuat perusahaan nya bangkrut.
"Mama Rossa, silahkan duduk Mam. Aku sangat terkejut sekali melihat Mama yang datang ke perusahaan ku ini. Karena semenjak aku menikah dengan Mas Barra, Mama tidak pernah sama sekali peduli dengan perusahaan ku ini."
Rossalinda tersenyum manis ketika mendengar perkataan Laura dan dia juga mendengar semua pembicaraan Laura dengan Asisten pribadi nya.
"Laura, kamu adalah seorang wanita yang sangat hebat sekali yaa. Kamu bertahun-tahun mengelola bisnis kosmetik ini yaa."
Rossalinda pun berjalan melihat-lihat poster iklan setiap produk baru milik Laura.
"Kedatangan Mama ke sini untuk apa yaa, untuk melihat-lihat produk ku yang best seller. Tapi jangan sampai Mama datang ke sini hanya untuk meniru produk ku untuk produk selanjutnya milik Gisella."
__ADS_1
Perkataan Laura membuat Rossalinda merasa sangat sakit sekali.