
Gisella terbangun dari tidurnya dia melihat Barra yang masih tertidur pulas di samping.
"Aku tidak menyangka jika aku bisa melakukan semua ini, mungkin kah ini adalah rasa cinta yang terpendam."
Gisella memilih untuk bersiap untuk mandi tapi tangan Barra yang memegang erat tangan Gisella.
Ternyata Barra yang sebenarnya sudah bangun dari tidur nya.
"Lepaskan tangan ku kaa, aku mau mandi dan bersiap untuk pergi ke pengadilan agama kan."
Tapi Barra tetap saja tidak mau melepaskan genggaman tangan tersebut dan membuat Gisella semakin gugup sekali.
"Sudahlah Kak jangan seperti ini yaa, kita berdua sudah melakukan hal yang salah."
Barra pun langsung terbangun dari tidurnya dan memandangi wajah Gisella.
"Aku akan segera menikah secepatnya dengan kamu Gisella, dan aku akan bertanggung jawab atas semua yang sudah kita lakukan semalam."
Gisella merasa sangat malu sekali tapi dia juga tidak menolak apa yang di lakukan oleh Barra kepada nya.
"Jangan di bahas lagi yaa, aku malu jadi nya. Sekarang lepaskan aku tangan nya jangan seperti ini."
Barra pun dengan tersenyum manis dia melepaskan genggaman tangan.
Dan Gisella pun langsung berlari menuju ke kamar mandi.
Ketika Gisella yang sedang mandi, Barra mencoba untuk menghubungi Mama Rossa.
*Hallo Mama, bagaimana dengan Laura. Apakah dia sudah bersiap-siap untuk segera pergi ke pengadilan agama.*
*Laura dia semalam tidur di kamar kamu. Dia sudah tidak mempunyai rasa malu yaa.*
*Mama ketuk saja pintu kamar nya, dan bilang Barra sudah menunggu mu di pengadilan agama. Aku tidak akan pulang Man aku akan langsung pergi ke sana bersama dengan Gisella.*
*Baiklah Barra, semoga saja dia mau mendengarkan perkataan Mama.*
Rossalinda pun langsung mengakhiri panggilan telephone nya.
Dan dia langsung berjalan menuju ke kamar Barra.
Rossalinda terlihat sangat emosional sekali kepada Laura.
"Lauraaaaaaa, bangun kamu yaaa. Barra menunggu kedatangan mu di pengadilan. Dia tidak akan pernah pulang kembali ke rumah ini."
Laura yang sudah cantik pun langsung membuka pintu kamar karena mendengar teriakkan kencang dari Mana Rossa.
Dengan sangat berat hati Laura pun keluar dari kamar nya dan bersiap-siap untuk pergi.
Laura merasa sangat sedih sekali ketika Barra yang sudah tidak ingin bertemu dengan nya lagi.
Laura pun memilih untuk menelephone Dokter Rivan.
*Hallo Rivan, temani aku di pengadilan. Karena sudah tidak ada lagi yang peduli terhadap ku kecuali hanya kamu seorang.*
Dokter Rivan begitu sangat bahagia sekali akhirnya Laura bisa mengatakan hal tersebut kepada nya.
"Baiklah Laura sayaaaaang, aku akan datang untuk kamu.*
Laura pun mengakhiri panggilan telephone nya.
"Apakah ini saat nya aku menerima kehadiran Rivan di hati yang sepi ini, karena percuma saja aku mengharapkan kehadiran cinta kembali dari Barra."
Laura pun mengendarai mobil nya dengan sangat perlahan-lahan sekali.
Di perjalanan menuju ke persidangan air mata Laura terus saja mengalir membasahi kedua pipinya.
"Aku tidak akan pernah terima jika Barra bersama dengan Gisella, dia bisa berpisah dengan ku tapi dia tidak boleh menikah dengan Gisella. Barra harus menikah dengan wanita lain jangan Gisella."
Laura pun merasa semakin membenci Gisella dia merasa jika Barra memang sangat tergoda kepada Gisella sampai bisa melupakan nya dirinya seperti ini semua demi Gisella.
***
Laura lebih memilih untuk datang ke Apartemen Dokter Rivan karena masih terlalu pagi.
__ADS_1
Dengan perut nya semakin membesar Laura pun turun dari mobil nya dan berjalan menuju ke depan kamar Apartemen Dokter Rivan.
Ketika Laura hendak menekan tombol bell, Dokter Rivan sudah membukukan pintu karena melihat dari cctv.
"Masuklah, tenang kan dulu hati dan perasaan mu."
Laura yang sebenarnya sedang sedih tapi dia melihat Kenzo yang terus saja memperhatikan nya, seakan ingin sekali di gendong oleh Laura.
Laura pun menyadari nya dan dirinya pun langsung mengendong Kenzo walaupun perut nya yang sudah sangat besar sekali.
"Laura, apakah kamu siap untuk menjalankan sidang perceraian ini dengan sangat ikhlas."
Laura tersenyum manis sambil memandangi wajah Kenzo.
"Aku sudah tidak punya lagi pilihan, aku harus berpisah karena Barra dia benar-benar sudah tidak mempunyai perasaan terhadap ku."
Dokter Rivan begitu sangat bahagia sekali akhirnya mereka berdua akan bersama dengan ikatan pernikahan yang indah.
"Tapi aku tidak akan pernah menerima jika Barra menikah dengan Gisella, itu hanya membuat ku sakit sekali melihat nya. Dan jika hal tersebut tetap terjadi aku tidak pernah melihat Gisella kembang mungkin aku akan berbuat nekad terhadap Gisella."
Wajah Laura penuh rasa dendam nya terhadap Gisella, dia mungkin akan menghabis nyawa Gisella.
"Apa maksud rencana mu ini Laura terhadap adik kandung mu sendiri, jangan berbuat bodoh sehingga bisa membuat kamu masuk ke dalam penjara."
Laura tersenyum manis sambil mencium pipi tembem Kenzo.
"Tidak peduli aku masuk ke penjara asalkan Barra kehilangan Gisella untuk selamanya."
Dokter Rivan melihat Laura yang benar-benar akan melaksanakan nya jika hal tersebut terjadi.
Dokter Rivan pun.,memilih untuk menceritakan semuanya kepada Barra karena dia tidak mau Laura harus masuk ke dalam penjara. Karena tinggal selangkah lagi mereka berdua akan bersama setelah Dokter Rivan yang sudah menyelamatkan Bryan Leonal bayi Laura.
"Sudahlah lebih baik sekarang kita bersiap untuk dapat ke pengadilan agama, berikan Kenzo pada Suster Mirna."
Suster Mirna pun mencoba untuk mengendong Kenzo dari pangkuan Laura tapi Kenzo seperti tidak mau dia masih ingin bersama dengan Laura.
Ikatan batin yang sangat kuat sekali mungkin Kenzo yang merindukan Mommy nya.
"Sayaaaaang, Mommy Laura pergi sebentar yaa. Tidak lama ko sayaaaaang. Nanti Mommy Laura janji akan kembali untuk menemui Kenzo."
"Suster Mirna, masukkan barang-barang milik Kenzo ke tas yaa. Seperti nya Kenzo akan kita bawa tapi berjanji lah kamu biasa menjaga Kenzo yaa karena dia yang tidak mungkin aku bawa ke dalam ruangan persidangan."
Laura begitu sangat bahagia sekali ketika dia mendengar hal tersebut.
"Terimakasih banyak Rivan, aku tidak tahu tapi Kenzo akan membuat aku lebih semangat lagi dalam proses persidangan ini."
Laura pun langsung keluar dari Apartemen Dokter Rivan berjalan menuju ke luar dengan mengendong Kenzo.
"Sayaaaaang sebenarnya Mommy Laura merasa sangat sakit sekali karena lihat nih perut Mommy yang sudah semakin besar dan sekarang gendong Kenzo yaa. Nanti Kenzo punya teman yaa anak Mommy Laura dan kalian berdua juga adalah anak Mommy Laura."
Dokter Rivan merasa sangat tidak tega melihat Laura yang begitu sangat sayang sekali kepada Kenzo.
"Aku berjanji Laura, jika kamu mau menikah dengan ku. Aku akan memberitahu kamu jika Kenzo itu adalah Bryan Leonal, anak pertama mu yang terlahir prematur dan berjuang hidup."
Dokter Rivan pun dan Suster Mirna menghampiri Laura.
"Kita pakai mobil aku saja yaa Laura, yang lebih besar."
Laura pun mengikuti apa yang di katakan oleh Dokter Rivan dan Dokter Rivan pun yang sudah menyiapkan pengacara untuk Laura.
Di perjalanan menuju ke tempat persidangan, teringat bayang-bayang masalalu di mana Barra yang berjuang keras untuk meyakinkan cinta nya kepada Laura.
Karena umur Barra yang sangat muda sekali dia sudah berani untuk mengajak nya menikah.
Dokter Rivan terus saja memperhatikan wajah Laura yang terkesan berubah-rubah.
"Sudahlah Laura kamu jalani saja yaa, aku yakin pasti akan ada yang terbaik untuk kamu di masa depan."
Mereka pun akhirnya sampai di depan gedung tersebut dan Laura pun langsung memberikan Kenzo kepada Suster Mirna.
"Jaga baik-baik Kenzo yaa, aku sangat sayang sekali kepada nya."
Ketika Laura turun dari mobil nya, dia pun langsung di serbu oleh para wartawan tapi Laura yang tidak ingin banyak bicara.
__ADS_1
Melihat Laura yang sudah masuk ke dalam gedung tersebut, datanglah Barra bersama dengan Gisella.
Para wartawan pun begitu sangat terkejut sekali ketika Barra yang mengandeng tangan Gisella. Seakan memperkuat jika Gisella itu adalah memang si Pelakor Cantik.
Banyak nya pertanyaan-pertanyaan wartawan yang mengatakan bahwa Gisella adalah Pelakor Cantik membuat Barra mengajak Laura untuk berlari menuju ke gedung tersebut untuk menghindari para wartawan.
Dan akhirnya Laura melihat kedatangan Barra dengan mengandeng mesra Gisella, hal tersebut tidak hanya membuat Laura dan juga Dokter Rivan terkejut tapi juga kedua orang tuanya Gisella sendiri dan Rossalinda yang juga datang ke ruangan pengadilan tersebut.
Gisella menatap wajah Barra yang memang seperti sangat serius sekali kepada nya sampai dia masih bisa memegang tangan nya di depan banyak orang.
Seketika air mata Laura pun jatuh membasahi pipinya ketika Barra yang lebih memilih adik kandung nya sendiri bukan dirinya.
"Sudah yaa Laura kamu harus fokus yaa, ingat Barra yang sudah menyakiti muu."
Dokter Rivan pun mencoba untuk memberikan semangat untuk Laura.
Dan akhirnya sidang pun di mulai, dengan proses yang cukup lama dan serius akhirnya Barra dan Laura pun resmi bercerai.
Pengorbanan besar nya cinta mereka harus berakhir begitu saja karena sesuatu yang sudah di lakukan Laura di belakang Barra.
Sebuah penghianatan cinta yang paling sempurna untuk Barra dengan sikap egois besar Laura dan ketika sidang di nyatakan selesai Laura pun langsung berlari untuk menghampiri Gisella.
Melihat Laura yang mau menghampiri Gisella, Barra pun segera datang dan menahan tangan Laura yang hendak menampar pipi Gisella.
"Tidak seperti ini Laura, kamu tidak boleh menyakiti Gisella. Karena sekarang ada aku yang akan melindungi Gisella."
Seketika Laura seperti merasakan sesak di dada nya mendengar Barra yang begitu membela Gisella.
"Aku tidak akan pernah membiarkan kalian berdua untuk menikah, karena aku sudah mempunyai rencana walaupun mungkin aku akan masuk penjara pun aku tidak peduli."
Laura pun memilih langsung pergi dan kata-kata Laura membuat Gisella langsung terdiam dia akan di celaka kan oleh Kakak kandung nya sendiri.
Barra memandangi wajah Gisella dan secara tiba-tiba saja Gisella langsung berlari menarik tangan Laura.
"Ahhhhhhh, sakit sekali Gisella lepaskan tangan mu ini."
Laura melihat wajah Gisella yang sudah begitu sangat marah sekali.
"Aku tahu di depan ada banyak sekali wartawan dan Kak Laura pasti berniat untuk bicara besar di depan mereka, dan di situ juga aku akan mengatakan tentang pernikahan kontrak ini di depan para wartawan tersebut."
Gisella melepaskan genggaman tangan nya kepada Laura, tangan Laura pun terlihat sangat merah sekali karena Gisella yang menggenggam dengan sekuat tenaga nya.
"Berani yaa kamu mengancam Kakak sendiri, tidak tahu diri sekali yaa kamu Gisella. Kamu ingat siapa yang membiayai kamu sekolah sampai bisa seperti ini?. Aku Gisella Kakak kandung kamu."
Barra dan Dokter Rivan pun langsung menghampiri Gisella dan juga Laura.
"Iyaa aku tahu Kak Laura yang membiayai aku sekolah sampai aku bisa kuliah di universitas terbaik, tapi apakah karena itu Kak Laura bisa melakukan apapun kepada aku. Perceraian ini tidak akan pernah terjadi jika bukan Kakak yang berselingkuh dengan Dokter Rivan yang merupakan cinta pertama Kakak di masa SMA. Apakah itu yang nama cinta,? cinta yang menghianati perasaan suami nya sendiri. Aku rasa Kakak ini selalu saja ingin di Ratu kan walaupun kesalahan besar yang Kakak lakukan."
Barra pun memilih untuk Gisella untuk menyudahi pertengkaran nya dengan Laura begitu juga dengan Dokter Rivan.
Rossalinda yang melihat mereka ber empat pun hanya bisa terdiam sambil memikirkan bagaimana mungkin mereka itu ternyata sudah memiliki pasangan masing-masing yang sudah di takdir kan.
"Sekarang Laura sudah berpisah dengan Barra, dan sekarang apa yang akan di lakukan Laura terhadap Gisella. Apakah Laura akan berubah nekad terhadap Gisella karena dia pernah bilang jika dia tidak bisa memiliki Barra maka tidak ada seorang pun juga yang bisa memiliki nya."
Keluarga Gisella dan Laura merasa sangat malu sekali ketika melihat ke dua putri cantik nya yang selalu tidak pernah bisa berdamai.
Gisella masuk ke dalam mobil Barra begitu juga dengan Laura yang masuk ke mobil Dokter Rivan.
Tapi Barra seperti melihat ada bayi yang sedang di gendong oleh Suster di dalam mobil Dokter Rivan.
Barra terus saja memperhatikan nya karena kaca belakang mobil nya yang terbuka.
"Gisella, siapa bayi yang ada di dalam mobil Dokter Rivan. Bayi siapa itu seperti seumuran dengan Tiara."
Gisella pun merasa lebih baik dia menceritakan kepada Barra.
"Aku pun merasa sangat aneh sekali dengan anak lelaki itu, Dokter Rivan begitu sangat sayang sekali dengan anak itu Kenzo nama nya dan Kak Laura pun di panggil Mommy Laura oleh Suster Mirna yang mengurus Kenzo."
Barra pun merasa ingin sekali mencari tahu tentang anak itu dia seperti ingin sekali melihat wajah anak tersebut.
"Kak Laura pun begitu sangat dekat sekali dengan Kenzo, apa mungkin karena Kenzo anak lelaki dan membuat Kak Laura teringat dengan Kenzo jadi dia begitu sangat sayang sekali kepada Kenzo."
Gisella melihat ekpresi wajah Barra yang terlihat seperti sedang berpikir.
__ADS_1
"Kenapa aku jadi ingat mencari tahu tentang anak lelaki itu padahal dia bukan siapa-siapa aku."
Barra memilih untuk menyalakan mesin mobil nya.