Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (112)


__ADS_3

Setelah mengatakan hal tersebut kepada Rangga, Gisella pun langsung duduk terdiam dengan tatapan mata yang kosong.


Rangga memilih untuk duduk di samping Gisella.


Gisella melirikan mata nya kepada Rangga.


"Apakah setelah kamu mengetahui ini semua, kamu akan langsung pergi dari kehidupan ku Rangga. Karena aku ini hanya seorang wanita bayaran yang di bayar untuk bisa melakukan pernikahan kontrak."


Rangga masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Gisella.


"Aku tidak akan pernah menjauhi kamu Gisella, karena aku tau kamu itu adalah wanita yang baik. Aku mengenal kamu bukan satu atau dua bulan saja. Kita bersama dari SMA sampai lulus kuliah. Jadi jika sampai kamu melakukan nya pasti ada alasan nya."


Gisella merasa jika Rangga memang begitu sangat tulus sekali kepada nya, dia masih bersama dengan nya. Walaupun Gisella sudah memberitahu semua kepada Rangga.


"Rangga, aku berharap besar kamu bisa mendapatkan wanita yang sangat sempurna untuk kamu. Wanita yang bisa membuat kamu bahagia di sepanjang hidup kamu."


Rangga memang belum bisa melupakan Gisella, dia masih mencintai Gisella.


Rangga tidak mengerti perasaan semakin besar kepada Gisella setelah Gisella berkata sesungguhnya kepada Rangga.


"Kamu jangan pernah merasa sendiri yaa Gisella, aku akan selalu ada untuk kamu. Mendukung semua yang kamu inginkan yaa, aku adalah sahabat kamu."


Rangga menjulurkan tangan nya untuk bersalaman dengan Gisella.


"Aku berjanji Gisella, jika memang kamu ingin berjuang untuk bisa menjadi singel mother. Semoga itu menjadi pilihan yang terbaik untuk kamu dan anak yang berada di dalam kandungan mu ini."


Rangga mengelus perut Gisella dan berharap Gisella dan anak nya bisa berbahagia selamanya.


"Terimakasih banyak atas semua kebaikan kamu yaa Rangga, aku janji jika suatu saat kamu sedang menyukai seseorang wanita aku pasti akan membantu kamu untuk bisa mendapatkan wanita tersebut."


Gisella tersenyum manis kepada Rangga dan Rangga pun menarik tangan Gisella.


Rangga mengajak Gisella untuk membeli kan ice cream untuk nya, dan Rangga pun membelikan balon merah berbentuk love.


"Rangga, untuk apa kamu membeli balon love merah seperti ini."


Sambil memegang ice cream, Gisella dan Rangga pun memegang balon merah berbentuk love tersebut.


"Sekarang kamu pejamkan mata kamu dan kata kan semua keinginan kamu Gisella, setelah itu kamu lepaskan balon tersebut terbang ke udara."


Gisella pun mengikuti apa yang di katakan oleh Rangga, walaupun dengan wajah yang tersenyum seperti tidak percaya dengan apa yang sedang dia lakukan.


Rangga memperhatikan Gisella dia merasa banyak sekali harapan yang Gisella ucapan di dalam hati nya.

__ADS_1


Gisella pun dengan perlahan melepaskan balon merah tersebut dengan berharap semua pasti akan indah pada waktunya.


Gisella melihat Rangga yang masih memegang balon merah nya.


"Hey Erlangga kenapa kamu masih memegang balon merah tersebut, apa kamu tidak mempunyai harapan di dalam kehidupan mu."


Rangga hanya bisa tersenyum manis kepada Gisella.


"Apa yang aku harapkan sudah ada di hadapan ku ini, yaitu kamu Gisella Revisks. Aku berharap kamu akan selalu bahagia di sepanjang kehidupan muu."


Rangga pun langsung melepaskan balon merah tersebut terbang ke udara.


****


Laura memilih untuk pergi ke hotel dari pada ke rumah nya.


Laura merasa sangat pusing sekali menghadapi semua ini.


"Akan kah, aku bisa bertahan hidup bersama dengan Mas Barra. Seperti janji yang ingin bersama dengan sampai akhir hayat."


Laura memegang perut nya dan besok pun adalah hari kontrol kandungan nya.


"Berjuang bersama dengan mommy yaa sayang, kita harus jalani hidup ini bersama-sama."


"Ketika aku merasa sendiri sekarang di sini ada anak aku yang akan menemani di kehidupan ku."


Laura merasa mempunyai penyemangat hidup yang baru.


"Mulai sekarang aku harus fokus dengan kandungan ku dan mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya permasalahan ini, aku pun harus bangkit dari keterpurukan ku ini."


Laura pun langsung beristirahat dia memejamkan mata nya, Laura ingin sedikit melupakan permasalahan hidup nya.


***


Barra memilih untuk pulang lebih awal dia pun ingin memberikan kejutan kepada Laura.


Barra ingin membelikan sesuatu untuk Laura seperti sebelumnya dia memberikan cincin untuk Gisella.


"Semoga saja Laura menyukai nya, walaupun setiap apa yang aku berikan tidak pernah di pakai."


Barra pun pergi ke suatu tempat dan membungkus nya berbentuk love.


"Laura pasti sangat cantik sekali ketika dia memakai ini."

__ADS_1


Setelah mendapatkan apa yang dia harapkan, Barra pun dengan penuh semangat dia masuk ke dalam mobil nya dan berharap untuk bisa bertemu dengan Laura.


Barra sampai di rumah dia melihat rumah yang sangat sepi sekali dia pun tidak melihat Ibunya.


"Mama tidak ada dan Laura juga tidak kelihatan, apa Laura pergi ke kantor yaa."


Sebelum Barra membuka pintu kamar nya dia memilih untuk menghampiri pelayan nya.


"Mbakkk, apakah Laura hari ini dia pergi ke kantor?."


Tanya Barra kepada pelayan yang sudah lama berkerja di sana.


"Bu Laura seperti nya tidak pergi ke kantor Pak, seperti dia pergi ke suatu tempat."


Barra pun memilih untuk kembali berjalan menuju ke kamar nya, setelah mendengar perkataan dari pelayan nya.


"Pergi ke mana yaa Laura, apa dia sedang bertemu dengan Dokter Rivan yaa. Dia kan sering pergi untuk berkonsultasi."


Barra pun membuka pintu kamar nya, dan dia sangat terkejut sekali ketika melihat foto pernikahan yang ada di kasur nya.


"Kenapa foto pernikahan bisa ada di atas kasur seperti ini yaa dan seperti nya foto ini terjatuh sampai terbagi dua seperti ini."


Barra mencoba untuk menyatukan kembali foto pernikahan tersebut.


"Apa yang sebenarnya terjadi yaa, apakah Laura yang melakukan nya atau memang foto pernikahan tersebut terjatuh sendiri."


Barra memilih untuk menyimpan kembali foto pernikahan tersebut dan mengganti bingkai nya dengan yang baru.


"Untuk sementara saja, nanti pasti akan ku ganti dengan yang lebih bagus dari ini."


Barra duduk di atas kasur nya dan dia mengambil handphone nya untuk menghubungi nomer handphone Laura.


"Nomber handphone nya aktif tapi kenapa Laura tidak menjawab nya yaa, apakah Laura sedang sibuk yaa."


Barra mencoba kembali untuk menghubungi nomer handphone Laura tapi masih saja tidak ada jawaban nya.


"Lebih baik aku mengirimkan pesan saja, jika pesan pasti akan dia baca."


*Laura, kamu sekarang sedang berada di mana?. Aku di sini menunggu kedatangan kamu di rumah.*


Setelah selesai mengirimkan pesan Barra menyimpan kado tersebut di dalam lemari pakaian Laura.


Barra yang merasa sangat lelah sekali pun memilih untuk beristirahat di kamar nya.

__ADS_1


__ADS_2