
Laura menginginkan Rossalinda segera pergi dari kantor, dia sangat tidak menyukai Mama mertua nya tersebut. Karena menurut Laura Mama Rossa lebih cinta kepada Gisella bukan dirinya.
"Laura, kamu seperti nya tidak menyukai kedatangan ku ke sini. Tapi kamu menginginkan hidup bersama dengan anak ku Barra dan itu harus kamu pikirkan lagi yaa Laura. Apa yang kamu lakukan kepada Barra dan apa yang kamu sembunyikan tampa sepengetahuan Barra pasti akan ketahuan."
Rossalinda memandangi wajah Laura dengan tatapan mata yang sangat tajam sekali.
"Barra itu sangat mencintai ku dan Barra tidak akan pernah meninggalkan, dia pasti akan selalu memaafkan aku di saat aku walaupun aku memiliki kesalahan yang besar."
Laura begitu sangat yakin sekali dengan ucapan nya itu dan mempunyai Rossalinda sampai menggelengkan kepalanya.
"Kesalahan besar apa yang kamu perbuat untuk Barra,? sekarang Barra sudah merasa sangat lelah sekali dengan sikap mu kepada dia. Hanya karena kamu yang sedang hamil anak kedua mungkin yang membuat nya bertahan hidup bersama dengan mu Laura."
Rossalinda pun memilih untuk langsung pergi dari ruangan pribadi Laura, kedatangan Rosalinda adalah yang pertama kali nya dan membuat para pegawai yang di sana menyoroti kedatangan Rossalinda.
"Aahhhhh sialan, keceplosan segala sih. Kenapa harus bilang kesalahan besar. Bagaimana kalau nanti sampai cari tahu kan gawat sekali."
Laura memegang perut nya dia pun sambil berpikir keras.
"Apa yang aku lakukan dengan Rivan, hanya kita berdua yang mengetahui nya. Rivan tidak mempunyai bukti atau rekaman video jadi sekarang tugas ku adalah membuat Rivan merasa jika aku mulai merasakan cinta nya. Aku akan berputar-putar mempunyai perasaan terhadap nya dan di situ Rivan pasti akan mengikuti apa yang aku inginkan."
Laura berniat untuk pergi kembali ke Apartemen Rivan, untuk meyakinkan bahwa dirinya itu mulai suka dengan Rivan.
Rivan yang menunjukkan bahwa dirinya yang seperti sudah lelah dengan sikap Laura dan Laura mencoba menarik hati Rivan untuk bisa memanfaatkan nya.
"Oke Laura tidak apa-apa kamu mungkin seperti wanita murahan, tapi itu hanya untuk sandiwara saja. Yang penting sekarang hati kamu hanya untuk Barra Putra dan jika Rivan merasa nyaman kembali dengan ku, aku akan mencari keberadaan Erlangga Rangga untuk mendekati Gisella. Jika Erlangga Rangga bisa bersama kembali dengan Gisella, hidup ku sangat tenang dan damai."
Laura pun memilih untuk melanjutkan pekerjaan nya, dia seperti mendapatkan semangat yang baru.
***
Barra terus saja memikirkan Gisella, ketika dia berada di Apartemen nya itu dia terus saja terbayang-bayang wajah Gisella dan juga Tiara.
"Apakah aku merindukan Tiara atau Gisella, aku tidak mengerti dengan hati ku ini yang sekarang merasa sangat nyaman sekali ketika bisa bersama dengan Gisella. Padahal aku sekarang masih bersama dengan Laura tidak mungkin aku meninggalkan Laura di saat dia sedang hamil seperti ini dan belum tentu juga Gisella mau bersama dengan ku, dan sekarang apakah rasa nyaman ini berubah menjadi rasa cinta yang tulus."
Barra terus saja memikirkan perasaan nya yang sekarang, perasaan yang tiap saat berubah-ubah perasaan yang setiap hari seperti ini sekali menjauh dari Laura.
"Jika aku sekarang hanya bisa menuduh Laura berselingkuh dengan Rivan, tampa adanya bukti-bukti yang kuat. Aku tidak bisa membuat ini menjadi alesan aku berpisah dengan Laura, jika aku mencari tahu bukan sesuatu yang mudah berurusan dengan Laura dan Dokter Rivan."
Barra merasa sangat binggung sekali jujur di dalam hati nya dia seperti sudah tidak mempunyai perasaan terhadap Laura.
Tapi Barra juga harus bisa bertanggung jawab atas kehamilan Laura sekarang.
"Sudahlah lebih baik sekarang yang aku lihat ada bayi yang ada di kandungan Laura, aku harus bertanggung jawab terhadap kehamilan Laura. Setelah bayi itu terlahir baru aku bicarakan tentang perpisahan ini."
Barra pun memilih untuk mencari Gisella dan juga Tiara yang sekarang tinggal bersama dengan Mama Rossa.
Gisella merasa sangat tidak nyaman sekali untuk bisa tinggal di rumah ini, apalagi jika Laura mengetahui nya.
"Aku sudah bukan lagi istri dari Kak Barra, dan aku sekarang tinggal di rumah ini kembali. Apa jadinya jika Kak Laura mengetahui ini semua nya habis lah sudah dia berbicara jahat kepada ku."
Gisella merasa jika keadaan Tiara sudah semakin membaik dia juga melihat Tiara yang di urus oleh suster yang sudah di sediakan oleh Mama Rossa.
"Begitu sangat bahagia sekali kamu Nak, memiliki Oma dan Nenek, Kakek yang sayaaaaang sekali kepada mu. Dan Mama Rossa begitu sangat baik sekali kepada ku tapi mungkin jika anak Kak Laura masih ada dia yang akan di perlakukan seperti ini."
Gisella pun menghampiri Tiara dan dia melihat Rossalinda yang menghampiri nya.
"Mama, sudah pergi kah?."
Gisella bertanya kepada Mama Rossa dengan melihat wajah Mama Rossa seperti habis menahan rasa emosi.
"Ya, Mama baru saja pulang dari kantor Laura. Mama tidak menyangka jika Laura seperti itu dia bilang Mama ke sana hanya untuk meniru produk skincare kosmetik nya saja. Dia begitu sangat takut tersaingi sekali oleh kita."
Barra mendengar perkataan Mama nya dan dia pun langsung menghampiri Mama nya yang sedang bersama dengan Gisella.
"Sudahlah biarkan saja, visual Gisella yang cantik akan lebih memikat banyak konsumen apalagi Gisella dia memiliki sifat yang baik dan tulus tidak di buat-buat seperti Laura."
Barra lebih memilih untuk mendukung Gisella dari pada Laura istri nya.
"Barra, tadi juga Mama sempat berbicara dengan Laura. Jika dia memiliki rahasia besar mungkin dia keceplosan membongkar rahasia nya sendiri di depan Mama tapi dia bilang kamu pasti akan memaafkan nya."
__ADS_1
Mendengar perkataan Mama nya, Barra semakin yakin jika rahasia besar itu adalah rahasia perselingkuhan nya bersama dengan Dokter Rivan.
"Aku tidak akan memaafkan Laura, aku sudah merasa sangat menyerah sekali untuk Laura. Aku berharap besar perubahan dari Laura tapi itu tidak pernah terjadi dan aku menyerah."
Gisella merasa sangat ketakutan sekali jika sampai Laura dan Barra berpisah, Laura akan semakin menyalahkan nya karena sikap Mama Rossa yang sangat baik sekali kepada dan juga Tiara.
"Jika kalian berdua berpisah, maka aku akan jadi tersangka kembali dalam berakhir nya rumah tangga kalian berdua. Pasti Kak Laura menyangka jika aku yang ingin mengantikan posisi nya."
Wajah Gisella terlihat sangat sedih sekali.
"Kamu memang lebih baik dari pada Laura, Gisella sejak awal Mama melihat kamu. Kamu memang jauh lebih baik dari Laura Renita."
Rossalinda begitu sangat menginginkan jika Gisella bisa bersama dengan Barra.
"Gisella, bantu aku untuk mendapatkan bukti. Agar Laura tidak selalu saja menyalahkan mu Gisella."
Gisella merasa sangat senang sekali ketika Barra yang sangat perhatian kepada nya.
"Oke baiklah Gisella, mulai besok kamu bisa masuk kembali ke kantor yaa. Biarkan Tiara bersama dengan Suster Dina, kamu harus fokus dengan pekerjaan kamu yaa bukti kan kamu bisa menggeser posisi produk skincare kosmetik milik Laura."
Gisella pun tersenyum manis kepada Rossalinda.
"Dan kamu Barra, segera pergi ke Apartemen. Jangan berlama-lama berada di rumah ini karena Gisella pasti merasa sangat tidak nyaman sekali jika kamu terlalu lama di sini."
Barra pun lebih memilih untuk menghampiri Tiara, dia pun mengendong Tiara.
"Sayaaaaang, Papa pergi dulu yaa. Nanti Papa pasti akan kembali bisa bersama dengan kamu setiap hari yaa sayang. Cepat sembuh juga yaa, mulai besok Ibu Gisell harus berkerja dan di sini bersama dengan Suster Dina dan Oma Rossa."
Barra terus saja mencium pipi dan kening Tiara, dia seperti tidak mau berpisah dengan Putri cantik nya.
Rossalinda tidak habis pikir jika dulu Gisella tidak memilih untuk mengakhiri pernikahan kontrak ini, belum tentu juga Laura mau mengurus Tiara dengan sangat baik.
Setelah merasa sangat puas sekali, Barra pun melepaskan gendongan nya. Dan memberikan Tiara kepada Dokter Dina.
"Jaga baik-baik Tiara yaa, jangan sampai dia terluka yaa. Karena Tiara itu adalah pewaris keluarga ini."
Barra dengan sangat terpaksa dia meninggal rumah nya dan pulang ke Apartemen nya.
"Hati-hati mantan suami kuu."
Gisella pun langsung tersenyum dan kembali fokus dengan Tiara.
Gisella mengambil Tiara dari Suster Dina.
"Jika aku ada di rumah ini, maka biarkan aku saja yang mengurus Tiara. Tapi di saat aku berkerja jaga Tiara baik-baik yaa."
Suster Dina membandingkan sikap Gisella dengan Laura yang sangat berbeda jauh sekali dia juga melihat jika Gisella begitu sangat lemah lembut sekali.
Suster Dina yang mengetahui semuanya berharap jika Gisella mendapatkan kebahagiaan.
Ketika Gisella sedang mengendong Tiara, tiba-tiba saja handphone nya berdering kencang sekali.
Gisella terpaksa memberikan kembali Tiara kepada Suster Dina, karena akan menjawab panggilan telephone yang masuk.
"Ibu, akhirnya ibu menghubungi ku lagi yaa."
Gisella dengan penuh semangat dia menjawab panggilan telephone dari Ibu nya tersebut.
"Hallo Ibu, bagaimana dengan kabar ibu dan ayah sekarang?.*
*Gisella sayang, kamu baik-baik saja kan Nak. Ibu dan Ayah pun baik dan sangat merindukan kamu dan juga Tiara.*
*Ibu tidak perlu hawatir, sekarang aku tinggal bersama dengan Mama Rossa dan Kak Barra lebih memilih untuk tinggal di Apartemen.*
*Syukurlah Nak, Ibu sangat hawatir sekali. Titipkan salam ibu untuk Tiara yaa sayang.*
*Iyaa Buu nanti aku sampaikan kepada Tiara.*
*Yasudah yaa Nak, ibu harus membantu Ayah di toko bunga.*
__ADS_1
Riana yang merasa sangat tenang sekali dia pun mengakhiri panggilan telephone nya.
Gisella merasa sangat senang sekali ketika dia bisa berkomunikasi kembali dengan Ibu nya.
***
Laura merasa selesai dengan pekerjaan dia berencana untuk bertemu dengan Rivan di Apartemen nya.
"Lebih baik aku langsung saja ke Apartemen Rivan, karena di sana ada Suster Mirna bersama dengan Baby Kenzo. Dan aku merasa sangat nyaman sekali bersama dengan Baby Kenzo."
Laura pun membereskan barang-barang yang ada di dalam kantor nya, dan dia berjalan menuju ke luar kantor.
Laura menginginkan Rivan bisa memanfaatkan nya atas perlakuan nya bersama dengan Rivan, Laura tidak mau jika Rivan marah kepada nya.
Jika Rivan marah maka Rivan tidak akan membantu nya.
Laura masuk ke dalam mobil nya dan tiba-tiba saja di perjalanan dia ingin sekali membelikan sesuatu untuk Kenzo.
"Kenapa aku begitu sangat sayang sekali kepada Kenzo, padahal dia bukan siapa-siapa aku tapi aku langsung menyanyangi nya."
Laura pun pergi ke toko baju dia membeli banyak sekali baju untuk Kenzo, dan seketika Laura ingat dengan Bryan anak yang sudah tiada.
"Jika Bryan masih hidup mungkin dia lucu dan sangat tampan seperti Kenzo."
Laura segera membayar semua nya dan masuk kembali ke mobil nya.
Laura tidak mengerti kenapa dia begitu sangat sayang sekali dengan Kenzo sedangkan Tiara itu adalah anak dari Gisella dan Barra.
Tapi Gisella begitu sangat dingin kepada anak Gisella.
Laura begitu sangat cepat sekali berjalan menuju ke Apartemen Rivan, dan dia menekan tombol bell.
Suster Mirna di perintahkan oleh Dokter Rivan, jika Laura datang untuk melihat Kenzo maka ijinkan dia untuk masuk ke dalam.
"Silahkan Nona Laura, silahkan masuk ke dalam."
Laura masuk dengan membawa banyak hadiah untuk Kenzo.
"Di mana Kenzo, aku ingin sekali melihat nya dan aku membawa kan banyak hadiah untuk Kenzo."
Laura pun langsung di antar oleh Suster Mirna ke kamar Kenzo, Laura pun tersenyum manis bahagia melihat Kenzo.
Laura langsung mengendong Kenzo dan mencium kening nya.
"Kenzo sayaaaaang, Tante Laura datang sayaaaaang. Tante Laura bawa hadiah banyak untuk kamu sayaaaaang. Ntah kenapa Tante Laura begitu sangat merindukan kamu."
Suster Mirna pun memilih untuk memberitahu kepada Dokter Rivan jika di Apartemen ada Laura.
*Dokter Rivan, Nona Laura sedang bersama dengan Kenzo di Apartemen ini. Nona Laura membawa banyak sekali hadiah untuk Kenzo.*
Suster Mirna mengirim pesan tersebut kepada Dokter Rivan dan Dokter Rivan begitu sangat senang sekali ketika Laura semakin dekat dengan Kenzo.
"Laura, kamu harus semakin dekat dengan Kenzo. Dan dengan itu kamu akan bisa masuk ke dalam perangkat kuu."
Mendengar kabar Laura yang sedang berada di Apartemen nya, Rivan pun memilih untuk segera pulang untuk bisa bertemu dengan Laura.
"Tunggu aku Laura sayaaaaang, aku akan segera datang. Semua sangat mendukung sekali ketika jadwal praktek ku sudah berakhir kamu datang ke Apartemen ku."
Dokter Rivan memilih untuk membelikan bucket bunga mawar merah untuk Laura.
Dokter Rivan pun dengan sangat cepat sekali dia sampai di depan Apartemen nya.
"Suster Mirna, seperti nya Kenzo merasa sangat haus sekali. Tolong buatkan Susu formula untuk Kenzo yaa seperti dia juga sangat mengantuk sekali."
Laura terlihat sangat perhatian sekali kepada Kenzo.
Tanpa menekan tombol bell, Dokter Rivan masuk ke dalam Apartemen.
Dokter Rivan melihat Laura yang sedang bermain dengan Kenzo, Dokter Rivan melihat Laura yang sangat bahagia sekali.
__ADS_1
"Laura bahagia sekali dengan Kenzo, karena Kenzo itu adalah Bryan. Anak kandung Laura dengan Barra."
Dokter Rivan tersenyum manis melihat kedekatan Laura dan juga Kenzo.