Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *172*


__ADS_3

Riana datang ke rumah sakit dengan membawakan makanan dan buah-buahan.


Tapi ternyata bukan Risna yang pertama kali datang melainkan Dokter Rivan.


Melihat Riana yang sudah datang Dokter Rivan pun memilih untuk langsung pergi dari ruangan Laura.


"Akhirnya ibu sudah datang kalau begitu saya permisi karena jadwal praktek saya sebentar lagi akan di mulai."


Dokter Rivan pun segera pergi dan Riana pun merasa jika sikap perhatian Dokter Rivan sangat berlebihan sekali kepada Laura.


"Laura, kamu sudah sehat dan bagaimana dengan luka di perut kamu itu."


Laura merasa jika luka tersebut sudah tidak terlalu sakit.


"Aku sudah bisa pulang besok Buu, tapi kenapa yaa Mas Barra belum datang lagi ke sini. Apakah ibu melihat Mas Barra dengan Gisell?."


Laura mulai kembali berpikiran negatif terhadap Gisella.

__ADS_1


"Tidak ada, hari adalah jadwal pemeriksaan kandungan Gisella dia pergi dengan Pak Robby supir pribadi nya."


Riana mencoba untuk membukakan buah-buahan untuk Laura.


"Laura, kamu jangan selalu berpikir negatif terhadap Gisella. Dia sebentar lagi akan menjalani proses persalinan jangan bikin dia banyak pikiran yaa."


Laura pun memakan buah yang sudah ditentukan kupas oleh ibu nya.


"Bagaimana aku tidak selalu berpikir negatif terhadap Gisella, dia adalah pemenang nya. Dia berhasil mempertahankan kandungan nya dan itu akan membuat keluarga Mas Barra bahagia sekali karena menyambut kelahiran cucu pertama mereka."


Riana lebih memilih untuk diam saja ketika Laura sudah berbicara dengan nada yang tinggi dan emosi.


Riana memegang tangan Laura dia menatap wajah Gisella dengan sangat serius sekali.


"Laura, apakah kamu tidak merasakan hal yang beda dari Dokter Rivan kepada mu?. Dia begitu sangat perhatian sekali dengan kamu dan menurut ibu itu sangat berlebih-lebihan sekali."


Laura pun langsung terdiam ketika mendengar kata dari ibu nya sambil dia pun berpikir.

__ADS_1


"Aku rasa sikap nya biasa-biasa saja seperti biasa nya, wajarlah dia mungkin sedikit lebih perhatian karena dia yang membantu aku untuk menjalankan program kehamilan ini kan. Mungkin dia merasa sangat bersalah karena dia tidak bisa menyelamatkan anak ku."


Walaupun jawaban dari Laura sangat logis sekali tapi tetap saja Riana merasa aneh dengan sikap Dokter Rivan yang seperti mempunyai maksud tertentu.


"Buuu, aku merasa sangat bosan sekali di dalam kamar ini. Aku keluar dengan menggunakan kursi roda."


Riana pun mengikuti apa yang di inginkan oleh Laura, dia mendorong Laura untuk keluar dari kamar nya.


Laura merasa kan kembali kesegaran ketika dirinya keluar dari rumah sakit.


"Semoga saja ini adalah yang terakhir kali nya, aku masuk ke dalam rumah sakit. Aku merasa sangat lelah sekali ketika aku harus berjuang tapi perjuangan ku sia-sia, aku tetap tidak bisa mempertahankan bayi kuu."


Laura pun kembali merasakan kesedihan di hati nya ketika dia mengingat kembali anak nya.


"Laura kamu sekarang sedang membuka lembaran yang baru, lembaran yang jauh lebih baik lagi. Ibu yakin setelah kejadian ini kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya bersama dengan keluarga kamu."


Laura pun tersenyum manis kepada ibu nya.

__ADS_1


"Semoga saja yaa buuu, setelah ini sudah tidak ada lagi air mata yang jatuh di pipi ku ini. Aku akan bahagia sekali."


Laura pun memegang tangan Ibu nya sambil tersenyum bahagia.


__ADS_2