Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (76)


__ADS_3

Ranian dan suaminya sangat kasihan sekali melihat Gisella.


"Cepat sehat kembali sayaaaaang, kamu putri ibu yang paling kuat yang paling tangguh ayo Nak buka mata kamu sayaaaaang."


Riana terus mengelus rambut panjang Gisella.


"Buu, sudah yaa jangan menangis seperti itu di hadapan Gisell. Gisell baik-baik saja dia hanya butuh waktu istirahat saja."


Ayah Gisella mencoba untuk menenangkan perasaan istri nya.


"Ibu menangis bukan karena itu, ibu menangis karena sangat kasihan sekali melihat Gisella yang harus berjuang keras sendiri. Di saat dia seperti ini harus ada suaminya di samping nya tapi itu tidak mungkin bisa karena Gisella hanya di nikahi untuk memberikan keturunan saja."


Tangisan Riana semakin tidak bisa terkendali sampai suaminya pun memeluk erat tubuh Riana.


"Kita jangan menunjukkan air mata di hadapan Gisella, kita harus memberikan semangat untuk Gisella karena dia masih punya masa depan yang cerah setelah kejadian ini semua."


Gisella mulai tersadar dia merasa sangat pusing sekali dan pandangan mata nya pun terlihat sangat buram seperti ketika dirinya melihat wajah ke dua orang tuanya.


"Gisell, jangan di paksakan untuk bangun Nak. Kondisi kamu masih sangat lemes sekali yaa."


Riana membaringkan tubuh Gisella kembali.


"Terimakasih banyak ibu, kepala ku sangat pusing sekali Buu."


Gisella terus saja memegang kepala nya yang kesakitan.


"Yaudah, kamu istirahat saja yaa. Kamu jangan memikirkan apapun yaa."


Gisella pun mencoba untuk memejamkan mata nya kembali.


"Buu, ayah pulang dulu yaa. Toko bunga juga harus di buka kota sekarang sudah lumayan banyak pelanggan nya."


Ayah Gisella berpamitan kepada istri nya dan menghampiri Gisella.


"Cepat sembuh yaa anak kuu, kamu adalah wanita yang kuat."


Gisella pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Iya Ayah, aku pasti akan sembuh. Aku juga tidak mau berlama-lama di sini."


Melihat ayah nya pergi Gisella pun mencoba untuk menenangkan pikiran nya yang terus saja memikirkan bagaimana jika Laura hamil dia akan menanggung beban sendiri.

__ADS_1


"Gisella apakah bulan ini kamu sudah telat datang bulan,? apakah sakit ini adalah pertanda jika kamu sedang hamil muda."


Pertanyaan Riana membuat Gisella sangat terkejut sekali.


"Aku tidak telat datang bulan Buu, jadi adalah sakit biasa bukan sakit karena kehamilan."


Riana merasa sangat lega sekali ketika mendengar perkataan tersebut.


"Gisella, kenapa ibu jadi berpikir lebih baik kamu tidak hamil. Karena melihat sikap Kakak kamu yang seperti itu membuat ibu sangat kasihan sekali kepada kamu."


Apa yang di pikirkan oleh Riana seperti yang di pikiran oleh Gisella.


"Bagaimana yaa buu, aku pun berpikir seperti itu juga. Aku merasa Kak Laura itu seperti mempermainkan ku saja, sikap yang tiba-tiba saja berubah membuat aku binggung."


Riana membelai rambut panjang Gisella sambil tersenyum manis.


"Yasudah yaa sayaaaaang, kamu sekarang istrirahat saja yaa. Kamu tidak sendirian ada ibu dan ayah yang menemani kamu."


Gisella merasa sangat beruntung sekali mendapatkan orang tua yang begitu sayang sekali kepada nya


***


Di sisi lain Barra terus saja memikirkan Gisella, dia seperti merasakan ada sesuatu dengan Gisella.


Barra hanya terdiam saja dia tidak menjawab pertanyaan Laura, pikiran hanya tertuju pada Gisella.


"Mas, sebelum kita honeymoon kita pergi dulu ya ke Dokter Specialis Kandungan."


Barra hanya terdiam saja dan membuat Laura merasa sangat kesal sekali.


"Mas, kamu kenapa sih diam terus. Apa yang sedang kamu pikirkan kamu memikirkan siapa sih."


Laura menatap sinis wajah suaminya.


"Barra sedang memikirkan Gisella, karena Gisella juga adalah tanggung jawab nya."


Laura terkejut ketika mendengar perkataan tersebut, pintu kamar yang terbuka membuat Rossalinda masuk ke dalam kamar mereka.


"Untuk apa memikirkan Gisella, sebelum nya kita berdua bertemu dengan Gisell. Dan dia dalam keadaan sehat."


Rossalinda memandangi wajah Barra terlihat sangat lesu sekali.

__ADS_1


"Oh, iya Mam. Aku berniat untuk honeymoon kembali bersama dengan Mas Barra dan setelah itu aku akan menjalani program bayi tabung."


Laura terlihat sangat bergembira sekali ketika dirinya mengatakan hal tersebut kepada Rossalinda.


Rossalinda melihat wajah Laura yang begitu sangat bersemangat sekali.


"Kenapa baru sekarang kamu mempunyai rencana seperti itu, di saat suami mu sudah menikah dengan adik kandung mu sendiri."


Laura hanya bisa terdiam ketika Rossalinda bertanya seperti itu kepada nya.


"Laura, aku tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran mu itu. Kamu yang menyarankan pernikahan tersebut tapi sekarang kamu berubah seperti, apa kamu tidak kasihan dengan Gisella."


Rossalinda begitu sangat emosional sekali dengan Laura.


"Terserah apa saja yang akan kalian lakukan berdua, tapi ingat selalu Barra jika Gisella itu juga adalah istri kamu kontrak pernikahan kalian berdua belum selesai kamu tidak mengabaikan Gisella begitu saja. Kamu juga harus mempunyai waktu berdua bersama dengan Gisella dan kamu Laura tidak berhak untuk melarang Barra untuk bersama dengan Gisella karena ini semua nya adalah keinginan kamu juga kan."


Rossalinda meninggalkan Laura dan Barra.


Ekspresi wajah Laura tiba-tiba saja berubah begitu saja, dia pun langsung menghampiri Barra.


"Apakah benar apa yang di katakan Mama Rossa, kamu sedang memikirkan Gisella sekarang?. Apa yang kamu pikirkan hah karena Gisella pulang bersama dengan Rangga Erlangga mantan nya dan kamu merasa sangat cemburu melihat itu semua ?."


Barra memandangi wajah Laura dengan tatapan mata yang sangat tajam.


"Apakah kamu tidak mempunyai perasaan yang hawatir terhadap Gisell,? aku yang hanya sebatas suaminya saja merasa sedang ada sesuatu yang terjadi dengan Gisell."


Barra benar-benar ingin sekali menemui Gisella.


"Gisella baik-baik saja Mas, kenapa kamu terlalu berlebih-lebihan sekali sih. Ingat yaa Mas setelah satu tahun berlalu Gisella sudah bukan lagi menjadi istri kamu tapi dia kembali menjadi Adik Ipar kamu."


Barra mengabaikan perkataan Laura dia berniat untuk segera pergi tapi Laura menarik tangan Barra dan segera mengunci pintu kamar nya agar Barra tidak keluar dari kamar nya.


"Stop Mas stoooop."


Teriak Laura kepada suaminya tersebut.


Laura memeluk erat suaminya tersebut dengan nafas yang tidak beraturan.


"Jangan pergi Mas, temani aku Mas malam ini. Aku mohon jangan pergi aku ingin memperbaiki hubungan kita Mas."


Pelukan hangat yang di berikan oleh Gisella tidak membuat Barra luluh hatinya.

__ADS_1


"Lepaskan pelukan erat ini Laura aku tidak bisa bernafas, oke aku tidak pergi malam ini aku akan menemani muu."


Laura pun melepaskan pelukan erat nya dan tersenyum manis kepada suaminya dia merasa menang.


__ADS_2