Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode #210#


__ADS_3

Barra memandangi foto kebersamaan Laura dengan Rivan di mobil nya, dia semakin yakin jika mereka berdua dulu mempunyai hubungan spesial.


"Aku sangat yakin sekali mereka berdua di masa lalu mempunyai hubungan, karena tidak mungkin banyak sekali foto-foto kebersamaan mereka berdua di laci meja belajar Laura."


Barra pun memilih untuk pergi ke Rumah Sakit Sejahtera, dia ingin bertemu langsung dengan Rivan.


Barra mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali, dia merasa jika masa lalu Laura yang membuat hubungan rumah tangga mereka berdua seperti ini.


"Pantas saja mereka berdua terlihat sangat akrab sekali karena mereka berdua ternyata memang mempunyai hubungan sebelum nya, semoga saja Rivan dia mau jujur kepada kuu."


Barra pun akhirnya sampai di depan Rumah Sakit Sejahtera.


*Saya menunggu kamu di kantin Rumah Sakit Sejahtera sekarang juga, ada yang ingin di bicarakan sangat penting sekali.*


Rivan yang tinggal satu pasien lagi pun dia langsung membalas pesan dari Rivan.


*Baiklah satu pasien lagi, tunggu saja di kantin Rumah Sakit Sejahtera.*


Membaca pesan dari Rivan, Barra pun akhirnya turun dari mobil nya dan berjalan menuju ke Kantin Rumah Sakit.


Rivan pun berpikir pembicaraan apa yang akan Barra bicarakan, Rivan langsung teringat dengan Kenzo.


"Tidak mungkin jika Barra membicarakan tentang Kenzo, itu tidak mungkin terjadi."


Rivan pun fokus dengan pasien nya yang satu lagi, dia mencoba untuk tetap fokus tampa memikirkan kedatangan Barra.


Barra menunggu kedatangan Rivan dengan memainkan handphone melihat postingan Gisella tentang Tiara.


"Tiara sayaaaaang, Papa kangen nak. Papa ingin bersama dengan kamu lagi sayaaaaang."


Rivan yang sudah selesai dia lebih berjalan menuju ke kantin Rumah Sakit, dan melihat Barra yang sedang tersenyum sambil melihat handphone nya.


Rivan yang merasa sangat penasaran pun dia langsung menghampiri Barra tapi berada di belakang Barra.


Rivan melihat Barra yang sedang melihat foto-foto kebersamaan Gisella bersama dengan putri cantik nya.


Rivan pun langsung menepis pundak Barra dan membuat Barra terkejut dan menyimpan handphone nya.


"Silahkan duduk Dokter Rivan."


Rivan pun duduk saling berhadapan dengan Barra.


"Ada apa yaa,? saya jadi bergetar sekali ketika harus bertemu dengan kamu Barra."


Rivan yang mengetahui jika Barra umur nya 10 tahun lebih muda dari dirinya.


Barra pun langsung mengeluarkan foto tersebut kepada Rivan.


"Bisa jelaskan tentang foto ini,? saya tahu ini memang kenangan masa lalu tapi boleh saya tahu di balik foto kebersamaan ini ?."


Rivan merasa sangat terkejut sekali ketika Barra mempunyai foto kebersamaan nya dengan Laura ketika masa SMA.


"Kamu mendapatkan foto ini dari mana,? apakah Laura yang memberikan nya.?"


Barra tersenyum lepas ketika mendengar pertanyaan dari Rivan.


"Laura tidak mungkin memberitahu tentang foto itu, mungkin dia selama ini menyembunyikan foto-foto kebersamaan dengan mu itu yang banyak sekali dia simpan di laci meja belajar nya dulu."


Rivan terus saja memperhatikan foto kebersamaan nya bersama dengan Laura.


"Apakah kalian berdua di masa lalu mempunyai hubungan spesial, sehingga kalian berdua begitu sangat akrab sekali ketika bertemu kembali."


Pertanyaan Barra membuat Rivan terdiam, Laura pasti tidak mengetahuinya semua ini. Barra pasti secara diam-diam mengambil foto dengan.


"Kenapa diam Dokter Rivan,? jawab saja dengan jujur dan saya tidak akan mengatakan semuanya kepada Laura. Sebenarnya saya lebih memilih menayangkan kepada Dokter Rivan karena saya yakin seorang Dokter itu pasti sangat jujur sekali. Jika saya bertanya kepada Laura yang ada dia yang marah-marah kepada saya."


Rivan terus saja memandangi foto tersebut, dia tidak tahu harus berkata apa kepada Barra. Tapi Rivan mengingat kembali jika tujuan nya adalah ingin bisa bersama dengan Laura.


"Ya, aku pernah menjalani hubungan dengan Laura di saat SMA. Laura adalah cinta pertama ku dan aku pun adalah cinta pertama Laura hubungan kita berakhir karena aku yang harus melanjutkan kuliah kedokteran di luar negeri."


Barra akhirnya merasa sangat lega sekali ketika dirinya mengetahui hal itu.


"Terimakasih banyak atas kejujuran nya, saya pamit dulu kembali ke kantor yaa. Maafkan sudah menggangu waktu istirahat nya."


Barra memilih Lang pergi saja, dan membuat Rivan merasa sangat tidak nyaman sekali.


"Sekarang Barra mulai tahu jika Laura itu pernah berhubungan dengan ku, sebentar lagi pun Barra akan mengetahui jika Laura juga pernah bermalam bersama ku sampai dia hamil. Aku sangat tidak sabar sekali menunggu Laura menjadi milik kuu sepenuhnya."


Rivan pun kembali ke ruangan praktek nya, dan ketika Barra yang sudah mengetahui semuanya.

__ADS_1


Riana pun memilih untuk berbicara kepada Laura di rumah nya.


Laura terlihat sangat gugup sekali ketika dirinya melihat tatapan tajam Ibu nya.


"Laura, sebenarnya apa rencana dari kamu mengusir Gisella dari rumah ini?. Apakah kamu ingin tinggal di rumah ini bersama dengan Barra."


Laura pun tidak mungkin berbicara sebenarnya kepada ibu nya, jika begitu sangat cemburu sekali dengan Gisella yang masih bisa menjalin hubungan baik dengan keluarga Barra.


Sedangkan hubungan dirinya sangat tidak baik dengan Rossalinda.


"Aku hanya ingin Gisella menjadi perempuan yang mandiri Buu, bukan kah dia memiliki keinginan untuk menjadi singel mother. Itu tanda nya dia harus kuat dan berani tidak selalu ingin bersama dengan orang tua."


Riana tidak melihat rasa khawatiran Laura kepada Tiara, padahal jika sampai terjadi Tiara adalah anak yang akan di urus nya dengan Barra.


"Lalu, apakah kamu sebelum pernah mempunyai hubungan spesial dengan Dokter Rivan?. Baik sekarang atau pun masa lalu."


Laura seketika saja langsung memegang perut nya, ketika Ibu nya menayakan hal tersebut.


Riana pun memperhatikan wajah panik Laura sambil memegang perut nya.


"Kenapa Laura kamu langsung memegang perut mu ketika ibu, membicarakan tentang Dokter Rivan?."


Laura terlihat sangat panik sekali dia pun tetap memegang perut nya.


"Aku tidak mempunyai hubungan spesial dengan Rivan, aku dekat dengan nya karena dulu aku yang ingin menjalankan program bayi tabung bersama dengan nya. Karena aku harus bisa sering bertanya dan berkomunikasi dengan nya itu yang membuat aku dengan Dokter Rivan menjadi terlihat sangat akrab sekali Buu."


Laura mencoba untuk tenang agar ibu nya bisa mempercayai ucapan nya.


"Laura kamu sedang hamil, tidak baik kamu berbohong apalagi dengan orang tua mu sendiri. Ibu kandung mu Laura."


Laura memilih untuk terus berbohong karena Laura yang tidak mau kehilangan Barra.


"Tidak Bu, aku tidak berbohong. Aku tidak mempunyai hubungan spesial dengan Rivan. Aku tidak mempunyai hubungan spesial dengan nya baik itu masa lalu atau pun sekarang."


Laura seketika langsung menundukkan kepalanya dan Riana yang sudah sangat kesal sekali pun memilih untuk pergi dari hadapan Laura.


"Seperti nya aku harus segera pergi dari rumah ini, aku tidak sampai mengatakan hal yang sebenarnya kepada Ibu."


Laura langsung berlari ke kamar nya, dia sampai lupa jika dirinya sedang hamil muda.


Laura menutup rapat pintu kamar sampai mengunci pintu kamar nya, Laura pun membuka laci meja nya.


"Aku harus lebih cepat, aku harus membakar semua foto-foto ini. Supaya tidak ada lagi yang mengungkit masa lalu kuu."


Laura memasukkan semua foto-foto tersebut kepada tas nya dan Laura pun membuka pintu kamar nya.


"Laura kamu mau pergi ke mana lagi,? kenapa kamu seperti sangat terburu-buru sekali seperti ini?."


Riana melihat Laura yang memakai tas yang sangat besar sekali, dan Laura pun seperti memeluk tas nya.


"Aku pergi dulu yaa Buu, aku ada panggilan telephone dari kantor. Seperti nya mereka sangat membutuhkan aku."


Laura berpamitan sambil bersalaman dengan Ibu dan segera pergi.


Melihat Laura yang sudah keluar dari rumah nya, Riana pun masuk ke dalam kamar Laura.


Riana melihat Laci meja yang lupa di tutup kembali oleh Laura.


"Kamu berbohong Laura, ntah kebohongan apa yang sudah kamu rencanakan sekarang. Tapi ibu tidak bisa kamu bohongi kamu pasti mempunyai masalalu bersama dengan Dokter Rivan. Karena tidak mungkin Dokter Rivan begitu sangat perhatian sekali di saat kamu sedang melahirkan anak pertama muu."


Riana membereskan barang-barang Laura dan membersihkan kamar Laura.


Laura memilih untuk membakar foto-foto, tersebut.


"Jika aku membuang nya aku takut ketahuan, lebih baik aku membakar nya nanti di jalan yang sepi."


Laura mencari jalan yang sepi dan dia pun keluar dari mobil nya, Laura membakar kenangan masa lalu nya bersama Rivan.


"Selamat tinggal masa lalu yang membuat ku resah dan gelisah, aku tidak mau lagi mengingat nya kembali."


Melihat semua foto yang sudah habis terbakar, Laura pun kembali ke dalam mobil nya.


Laura memilih untuk pergi ke kantor nya, dia ingin menghampiri asisten pribadi nya.


Laura begitu sangat bersemangat sekali dia berharap setelah rapat penting itu produk nya semakin banyak yang menyukai nya.


"Maafkan aku Gisella, tapi di dunia bisnis tidak ada yang nama nya persaudaraan kita harus belajar saing."


Laura pun sampai di kantor nya dia langsung menghampiri Asisten pribadi.

__ADS_1


Laura melihat Asisten nya yang seperti sedang menangis, dan membuat Laura menghampiri nya.


"Kenapa kamu seperti sudah menangis, apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu dan bagaimana dengan hasil persentasi nya."


Asisten pribadi Laura menceritakan semuanya kepada Laura, perkataan Gisella di hadapan banyak orang yang membuat nya sangat malu sekali.


Laura pun langsung terdiam dan menahan rasa emosional nya kepada Gisella.


"Dia benar-benar membuat ku sangat kesal sekali, dia semakin liar dan semakin berani kepada ku. Lihat saja Gisella aku akan membuat perusahaan mu bangkrut karena sikap mu sendiri."


Laura merencanakan sesuatu untuk Gisella, dan dia pun memilih untuk masuk ke ruangan pribadi nya.


Tapi handphone Laura yang tiba-tiba saja bergetar dan dia melihat pesan masuk dari Barra.


"Dia mengirimkan pesan untuk kuu, apakah dia akan marah-marah dengan kuu."


Laura pun membuka pesan singkat dari Barra.


*Nanti malam kita makan malam bersama, sekitar pukul 9 malam, kita bicarakan semuanya di sana tentang rumah tangga.*


Laura pun merasa jika Barra ingin membicarakan tentang rumah tangga mereka yang selalu saja banyak permasalahan.


"Aku harus datang agar bisa memperbaiki hubungan rumah tangga agar tetap terjalin harmonis kembali."


***Baiklah Mas, aku pasti akan datang ke sana. Kamu berikan saja alamat nya kepada ku.


*Kita akan pergi bersama-sama, kamu pasti akan pergi ke salon kecantikan langganan mu kan. Aku akan mengantarmu ke sana sekarang juga**.


Laura begitu sangat terkejut sekali ketika membaca pesan tersebut.


"Ini tanda nya Mas Barra akan bersikap baik dengan aku dan ini tanda nya tidak akan ada perdebatan diantara kita berdua."


*Baiklah Mas, sekarang aku menunggu kedatangan mu di depan kantor.*


Seketika saja Laura melupakan permasalahan nya bersama dengan Gisella, Laura terlihat sangat bersemangat sekali dan wajah pun cerah bersinar.


Laura dengan setia menunggu kedatangan suaminya dan akhirnya Barra pun datang.


Laura langsung menghampiri Barra, dan masuk ke dalam mobil Barra.


Barra bersikap seperti biasanya dia tersenyum manis kepada Laura.


"Terimakasih banyak yaa Mas, kamu sangat baik sekali."


Laura terus saja memandangi wajah suaminya dan Barra pun memberhentikan mobilnya di sebuah salon kecantikan langganan Laura.


"Kamu cari-cari dulu pakaian yang akan kamu pakai yaa, dan setelah itu kamu langsung ke salon kecantikan. Karena jarak pun sangat dekat sekali kan."


Laura begitu sangat bersemangat sekali, Laura memeluk erat suami nya.


"Aku bahagia dan anak kita pun pasti sangat bahagia juga, karena semua tergantung ibu nya."


Laura meletakkan tangan Barra ke perut nya, tapi Barra hanya tersenyum saja.


Laura pun mulai memilih pakaian yang akan dia pakai, Barra hanya mendampingi nya saja.


Laura memilih Barra untuk memilih gaun untuk nya dan Barra pun Memilih gaun putih untuk Laura.


"Sekarang aku ke salon kecantikan dulu yaa Mas, aku harus cantik kan."


Barra pun mengambil tas Laura dan Laura begitu sangat terkejut sekali.


"Biarkan aku yang memegang tas mu, supaya kamu lebih fokus saat di salon nya."


Laura pun merasa tenang karena dia sudah memblokir nomor handphone Rivan dan Laura pun memberikan tas nya kepada Barra.


Melihat Laura yang sudah sibuk dengan kecantikan nya, Barra pun mengambil handphone Laura.


Dia mencari nomor handphone Rivan tapi tidak dia temukan, dan akhirnya Barra memasukkan kembali nomor handphone Rivan membuka blokir nya.


Barra pun mengirimkan pesan kepada Rivan.


*Rivan malam ini datang makan malam bersama ku, ada yang akan kita bicarakan tentang hubungan kita yang dahulu. Kamu tidak usah membalas pesan dari ku karena nomber handphone ku sudah aku blokir. Agar Mas Barra tidak mengetahui nya. Sekarang aku akan mengirim alamat nya.*


Setelah mengirimkan alamat, Barra langsung menghapus pesan tersebut dan kembali memblokir nomor handphone Rivan.


Rivan begitu sangat terkejut sekali ketika membaca pesan singkat dari Laura.


"Seperti nya Laura sudah memutuskan dengan siapa dia akan melanjutkan hubungan rumah tangga nya."

__ADS_1


Rivan pun tersenyum manis ketika membaca pesan tersebut.


__ADS_2