Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *168*


__ADS_3

Dokter Rivan mengantarkan Gisella sampai di depan mobil nya.


"Gisella lebih baik kamu jangan keluar rumah sendirian, lebih baik kamu diam saja di rumah. Sampai kondisi Laura membaik."


Dokter Rivan membukakan pintu mobil dan Gisella pun masuk ke dalam mobil tersebut.


"Aku akan menjadi diri aku, aku tidak akan pernah pergi sendirian."


Dokter Rivan pun menutupkan kembali pintu mobil tersebut.


"Hati-hati di jalan Gisella."


Gisella hanya tersenyum sambil melambaikan tangan nya saja.


"Kenapa Kak Laura menjadi seperti itu yaa, dia ingin anak ku ini pun ikut tiada. Apakah dia tidak mempunyai perasaan bagaimana mungkin dia bisa berbuat seperti itu."


Gisella terus memegang perut nya, dia mulai merasakan kecemasan.


"Pak, kita pergi ke kantor dulu yaa sebentar. Aku ingin mengambil keras-keras hasil gambaran ku untuk aku bawa pulang."


Supir pribadi tersebut pun mengikuti apa yang di perintahkan oleh Gisella.


Dia mengantar Gisella ke dalam kantor tersebut, di sana Gisella membawa semua barang-barang nya.


"Bu Gisell, kenapa barang-barang Bu Gisell di bawa semua nya. Apakah Bu Gisell akan pergi?, bukan kah Bu Gisell itu adalah pemilik dari perusahaan ini."


Gisella terkejut sekali ketika mendengar perkataan tersebut.


"Aku pemilik perusahaan ini,? tidak bukan aku. Perusahaan ini milik Bu Rossalinda, dan aku di sini hanya berkerja saja."


Gisella pun langsung meninggalkan tempat tersebut.


"Ada-ada saja pegawai itu , mana mungkin perusahaan ini milik aku."


Supir pribadi Gisella menghampiri nya dan membawakan semua barang-barang yang di bawa oleh Gisella.


"Terimakasih banyak yaa."


Gisella mengabaikan perkataan pegawai tersebut dan Gisella pun sampai di depan rumah nya.


Gisella melihat ada mobil merah dan putih di halaman rumah nya.


"Itu kan mobil nya Fransisca dan yang putih itu mobil siapa yaa, Fransisca membawa siapa dia pasti ingin membahas tentang aku yang menampar nya."

__ADS_1


Gisella pun turun dari mobil nya dia menghampiri mobil tersebut dan mereka keluar.


"Sudah ku duga Sisca dan Tante Veronica, dia pasti mengadu pada Tante Veronica."


Gisella dengan berani dia menghampiri mereka berdua.


"Gisella, apa yang sudah kamu lakukan kepada Fransisca. Kenapa kamu tiba-tiba saja menampar pipi Sisca."


Fransisca langsung mendekati Veronica seperti meminta perlindungan.


"Tante itu kan wanita yang berpendidikan tinggi sekali, Tante jangan langsung terbawa emosional begitu saja ketika mendengar apa di katakan oleh Sisca. Saya tidak mungkin menampar Sisca kalau dia tidak membuat saya marah besar kepada nya."


Veronica pun langsung menatap wajah Sisca dan Sisca pun menundukan kepala nya.


"Sisca apa yang sudah kamu katakan kepada Gisella, sehingga dia marah kepada kamu dan menampar kamu?."


Sisca hanya bisa terdiam saja dia tidak berani menjawab pertanyaan dari Veronica.


"Tante, saya ini sedang hamil besar dan akan segera melahirkan anak. Saya tahu saya tidak punya suami tapi saya tidak pikiran untuk bisa kembali bersama dengan Rangga. Apalagi saya berniat untuk pergi bersama dengan Rangga, perkataan Sisca sangat merendahkan diri saya dan saya sangat sakti hati sekali."


Veronica langsung menatap wajah Sisca.


"Yasudah yah Tante, saya sangat cape sekali. Apalagi sekarang keluarga saya sedang berduka cita atas meninggalnya anak dari Ka Laura. Maaf saya mau masuk ke dalam rumah."


Veronica pun sangat malu sekali di hadapan Gisella.


"Sisca, kamu membuat Tante malu ayoo kita pergi dari sini."


Mereka pun pergi dari rumah Gisella dan Gisella membalikkan badannya melihat mereka berdua yang langsung pergi.


"Aku bisa membesarkan anak ku sendiri, walaupun tanpa ada seorang suami di sisi ku."


Gisella masuk ke dalam rumah nya dan langsung pergi ke dalam kamar nya.


***


Barra membicarakan tentang Laura dengan Mama nya.


"Mam, bagaimana dengan Laura yang sekarang. Dia terlihat sangat despresi berat kehilangan anak nya, aku sangat takut sekali kondisi akan menjadi semakin parah."


Rossalinda pun mulai memikirkan bagaimana cara nya.


"Barra, bagaimana jika kamu adopsi bayi di pantai asuhan. Bayi laki-laki agar bisa mengobati perasaan Laura, tapi tetap saja yang harus meneruskan perusahaan kita dan yang mewarisi harta kekayaan kita adalah anak kandung kamu yaitu anak dari kamu dan Gisella."

__ADS_1


Barra merasa tidak setuju dengan apa yang di sarankan oleh Mama nya, karena tidak semudah itu untuk bisa mengadopsi seorang bayi yang sesuai dengan keinginan kita.


"Tidak Buu, aku rasa tidak perlu untuk mengadopsi seorang bayi."


Barra pun semakin merenungkan kembali apa yang harus dia lakukan kepada Laura.


"Kalau begitu buat Laura berubah dengan secara perlahan-lahan, buat dia baik dengan Gisella tapi tulus dari hati nya. Maka Laura pun pasti bisa untuk mengurus anak Gisella juga sesuai dengan keinginan dulu seperti itu."


Barra pun memikirkan apa yang di katakan oleh Mama nya.


"Bagaimana jika Laura ingin memiliki anak itu seutuhnya, tidak sesuai dengan perjanjian yang sudah di sepakati. Aku tidak mau Gisella selalu mengalah untuk Laura, aku sangat kasihan sekali melihat Gisella dia selalu saja jadi korban Laura."


Rossalinda hanya bisa berharap besar dari Gisella.


"Perusahaan itu sudah Mama berikan atas nama Gisella, Mama sangat yakin sekali ketika Gisella sudah melahirkan anak nya dia akan berjuang untuk perusahaan tersebut sehingga menjadi perusahaan yang maju."


Handphone Barra pun tiba-tiba saja langsung berdering kencang.


"Dokter Rivan, ada apa dia menelephone. Apa yang sudah terjadi dengan Laura."


Barra pun langsung menjawab panggilan telephone tersebut.


***Dokter Rivan, ada apa yaa. Laura baik-baik saja kan?. Maafkan saya yang terlalu sibuk sehingga mengabaikan Laura.


*Barra lebih baik kamu fokus saja dengan Gisella karena Laura mengatakan jika dia akan membuat anak Gisella seperti anak nya. Laura sangat nekad sekali, saya mohon jangan pikirkan dulu Laura tapi utama kan keselamatan Gisella.*


*Astagaaaa Lauraaaaaaa*


*Yasudah yah, hanya itu yang mau saya sampaikan dan juga akan menyarankan Gisella untuk pindah Rumah Sakit**.


Dokter Rivan pun mengakhiri panggilan telephone nya, dia berada di depan pintu kamar Laura.


Dokter Rivan masuk ke dalam ruangan tersebut dan melihat Laura yang sudah tertidur pulas.


Dia tersenyum manis sambil membelai rambut panjang Laura.


Barra yang mengetahui rencana Laura dia semakin merasa sangat pusing sekali.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Mam, Laura semakin tidak masuk akal dia semakin nekad dia berniat untuk mencelakakan akan Gisella."


Rossalinda seketika langsung panik mendengar perkataan tersebut.


"Laura berniat untuk mencelakakan kandungan Gisella, kenapa Laura jadi begitu sangat jahat sekali."

__ADS_1


Barra terus saja memegang kepala nya dia merasa sangat tidak tenang sekali.


__ADS_2