
Laura terbangun dari tidur nya dia melihat Dokter Rivan yang selalu ada di samping bukan Barra suami nya.
Laura merasa luka yang ada di perut nya semakin membaik dan tidak terasa.
"Kenapa Mas Barra tidak melihat kuu, sedang apa dia rumah. Apa jangan-jangan dia sedang bersama dengan Gisella berduaan."
Laura selalu saja berpikiran negatif terhadap Gisella dan Barra.
Dokter Rivan merasa jika Laura terbangun dari tidur nya.
"Laura kamu kenapa,? apa ada rasa sakit yang kamu rasakan?."
Laura hanya terdiam saja dia memandangi wajah Dokter Rivan.
"Kenapa kamu selalu berada bersama dengan ku, kenapa bukan suami ku yang ada di samping kuu."
Laura merasa sangat risih sekali ketika Dokter Rivan yang semakin dekat dengan nya.
"Barra masih berada di rumah untuk mempersiapkan pengajian untuk anak muu Laura, dan sekarang kalau bukan aku siapa lagi yang menemani kamu."
Laura menerima alasan Dokter Rivan, dia memang merasa tidak ada yang menemani nya.
"Kapan aku bisa pulang dari sini, aku rasa luka ini sudah membaik. Aku ingin secepatnya pulang ke rumah ku."
Dokter Rivan sangat hawatir sekali jika Laura pulang dia akan menyusun rencana-rencana nya.
"Lusa kamu sudah bisa pulang Laura, sekarang kamu istirahat kan saja dulu diri kamu yaa. Dan ini masih larut malam lebih baik kamu kembali beristirahat, besok adalah jadwal praktek ku mungkin kamu akan di temani oleh ibu kamu."
Laura pun langsung berpikir jika besok adalah jadwal praktek Dokter Rivan, maka Gisella akan ada di rumah sakit ini.
"Jangan berpikiran negatif terhadap Gisella, dia sudah tidak akan lagi menjalani cek kehamilan di sini. Jadi tetap lah diam di dalam ruangan mu ini."
Dokter Rivan sudah bisa membaca jalan pikiran Laura.
"Kamu mencoba untuk melindungi Laura sekarang,? kamu berpihak kepada Laura sekarang?."
Laura mulai tidak suka dengan Dokter Rivan.
"Laura Renita, apa yang membuat kamu benci kepada Gisella?. Kamu kehilangan anak mu itu bukan karena Gisella jadi stop selalu menyalahkan Gisella di setiap permasalahan yang ada di hidup kamu. Semua akan melindungi Gisella bukan hanya aku saja karena Gisella tidak bersalah."
Laura lebih memilih untuk menarik selimut nya dia sudah tidak mau mendengarkan perkataan orang-orang yang mencintai Gisella.
__ADS_1
Melihat Laura yang menarik selimut sampai menutupi wajahnya, Dokter Rivan pun memilih untuk pergi.
Melihat Dokter Rivan pergi Laura pun kembali terbangun dari tidur nya.
"Apakah Rivan itu memiliki perasaan terhadap Gisella, seperti nya dia mencintai Gisella. Baguslah kalau seperti itu, aku tidak akan lagi ketakutan untuk kehilangan Mas Barra."
Laura pun tersenyum lebar dia melanjutkan kembali tidur nya.
Dokter Rivan memilih untuk pulang ke Apartemen nya, dia harus menyiapkan tugas-tugas nya besok.
Di perjalanan menuju ke Apartemen nya dia terus saja memikirkan Laura.
"Aku selalu saja hawatir dengan kondisi Laura, dia selalu saja ada di pikiran kuu."
Dokter Rivan sampai di depan pintu Apartemen nya dan dia pun membuka pintu tersebut.
Dia berjalan menuju ke kamar nya dan mengambil foto yang di simpan di pinggir tempat tidur nya.
Foto tersebut adalah foto Laura, Dokter Rivan terus saja memandangi foto Laura.
"Aku menyukai mu sejak kita masih berada di SMA, kamu adalah cinta pertama ku dan aku juga adalah cinta pertama mu Laura."
Tapi hubungan mereka berdua harus berakhir karena Dokter Rivan yang harus melanjutkan kuliah kedokteran di luar negeri.
"Apakah kamu bisa menjadi milik ku kembali Laura,? bisa menemani kamu di hari-hari mu itu adalah sebuah kebahagiaan untuk kuu."
Dokter Rivan pun terus memandangi foto Laura.
"Untung saja Barra tidak tahu dengan masalah ini, jika dia tahu aku dan Laura pernah berpacaran mungkin dia tidak akan pernah mau membiarkan Laura seharian di rumah sakit bersama dengan kuu."
Barra terus saja memandangi foto Laura hingga dirinya tertidur.
Keesokan harinya ~~~
Riana bersiap untuk pergi ke rumah sakit untuk menemani Laura.
"Nak, ibu pergi yaa. Kasihan Dokter Rivan dia selalu menjaga Laura."
Riana pun bergegas pergi meninggalkan Gisella.
__ADS_1
"Hari ini adalah jadwal aku untuk cek kandungan tapi Dokter Rivan memberikan aku alamat rumah sakit yang baru, dan kenapa tiba-tiba saja aku merasa takut yaa untuk pergi. Sedangkan Kak Laura masih berada di rumah sakit."
Gisella pun mulai untuk bersiap-siap untuk pergi dia pun mengutamakan untuk sarapan pagi terlebih dahulu.
"Gisella kamu jangan takut yaa ada supir pribadi kamu yang akan menemani kamu, dan aku akan mengajak Pak supir untuk mengantarkan ku sampai ke dalam."
Gisella yang sudah siap dia keluar dari rumah nya dan berpamitan kepada Ayah nya.
"Ayah, aku cek kandungan dulu yaa."
Suara Gisella terdengar sangat lemas sekali dan tidak bersemangat.
"Hati-hati yaa sayang, semoga saja kandungan kamu selalu sehat yaa."
Gisella pun bersalaman dengan Ayah nya dan berjalan menuju ke mobil nya.
Gisella merasa sangat aneh sekali biasa nya ketika dirinya ada di depan mobil, supir pribadi tersebut keluar dan membukakan pintu mobil untuk nya.
Tapi sekarang dia tidak keluar dari mobil nya, pikiran Gisella pun seketika langsung negatif dia membayangkan orang jahat di dalam mobil nya tersebut.
"Ahhhhhhh, kenapa di saat suasana hati ku seperti ini selalu saja ada yang mencurigakan."
Gisella pun cemberut dan memilih untuk diam saja di depan mobil nya tersebut.
Gisella tidak berani masuk ke dalam mobil nya.
Sehingga membuat nya hanya bisa terdiam saja sambil memperhatikan mobil nya tersebut.
"Kenapa Pak supir juga tidak mau keluar dari mobil sih, Astagaaaa. Apa di dalam mobil tersebut kosong yaa tidak ada orang nya."
Gisella mencoba untuk memberanikan diri untuk melihat kondisi mobil nya dari kaca jendela mobil tersebut.
Tapi ketika Gisella mulai mengintip dari balik kaca mobil tersebut, tiba-tiba saja jendela mobil tersebut terbuka dan membuat Gisella sangat terkejut sekali ketika melihat orang yang ada di dalam mobil tersebut.
"Kak Barra,? kenapa Kak Barra yang ads di dalam mobil ini."
Barra pun membuka kan pintu mobil nya untuk Gisella, dan Gisella pun masih saja tetap diam.
"Ayo masuk ke dalam mobil, Dokter Rivan sudah memberikan alamat rumah sakit baru untuk kamu periksa sekarang."
Barra menarik tangan Gisella dan Gisella pun dengan terpaksa masuk ke dalam mobil tersebut.
__ADS_1
Gisella terlihat sangat malu-malu sekali dia hanya menundukkan kepalanya saja.