
Gisella melepaskan paksa genggaman erat dari Barra.
Laura pun langsung terdiam dia langsung berpikir bagaimana jika dirinya pun tidak bisa hamil.
Lalu apakah Barra akan bersama dengan wanita lain selain Gisella, karena aku masih belum bisa memberikan keturunan untuk Barra.
"Gisella tunggu kamu jangan pergi begitu saja, kesepakatan kita sampai satu tahun. Sekarang belum satu bulan kamu sudah ingin mengakhiri pernikahan ini."
Laura menghampiri Gisella merasa berdua pun saling bertatapan wajah.
"Kamu tidak boleh seperti itu Gisella, kamu harus sesuai dengan perjanjian yang kita sudah lakukan. Kamu sudah betanda tangan di kertas perjanjian itu kan."
Gisella tersenyum manis kepada Laura.
"Kak, coba Kakak bayangan ada di posisi aku bagaimana rasanya. Ketika Kakak yang awalnya memohon kepada aku sampai akhirnya aku dengan sangat terpaksa mengikuti apa yang Kakak inginkan, tapi sekarang setelah aku menikah dengan Kak Barra sikap Kakak menjadi berubah."
Barra hanya bisa terdiam dan mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Maksud Kakak kamu itu harus nya sadar diri, jangan selalu ingin terus dengan Mas Barra karena Mas Barra itu sepenuhnya punya Kakak."
Gisella langsung tersenyum manis ketika mendengar perkataan Laura.
"Oh, jadi Kakak masih membahas masalah aku dan Kak Barra bermalam di villa. Jadi itu penyebab dari kecemburuan Kakak sikap Kakak berubah karena itu, oke sekarang aku tahu."
Barra langsung menghampiri mereka berdua.
"Gisella, aku mohon kamu jangan akhir pernikahan kontrak ini. Aku yang memohon kepada kamu bukan Laura."
Barra sampai bersujud di hadapan Gisella.
"Jangan seperti itu kaa, aku tidak mau Kakak sampai seperti itu berdiri lah."
Laura merasa sangat marah sekali melihat perlakuan Barra terhadap Gisella.
Laura pun memilih untuk pergi dia tidak tahan melihat perlakuan Barra kepada Gisella.
Melihat Laura pergi, Rossalinda kembali menghampiri Gisella.
"Kamu jangan akhir pernikahan kontrak ini yaa, kamu akan Mama sewakan apartemen untuk kamu tinggal di sana. Karena Mama sangat yakin sekali dengan melihat perubahan bentuk tubuh kamu yang sekarang kamu tidak lama lagi pasti akan hamil anak Barra."
Rossalinda memegang tangan Gisella.
"Lupakan uang 100 juta itu, Mama tidak mau masa depan kamu tidak secantik wajah kamu. Apapun yang kamu inginkan akan Mama laksanakan."
__ADS_1
Gisella merasa sangat tersentuh sekali dengan perlakuan baik Mama Rossa kepada nya.
Bahkan sebelum nya dia tahu jika Mama Rossa tidak bersikap baik seperti ini kepada Laura.
"Aku, harus membicarakannya ini semua dengan Ibu dan Ayah. Karena aku sudah berbicara dengan mereka berdua dengan niat ku ini."
Rossalinda membelai rambut panjang Gisella.
"Wajah kamu sangat pucat sekali, kamu sakit yaa."
Gisella langsung memegang kedua pipinya.
"Aku sudah sembuh dan baru pulang dari rumah sakit, sekarang aku rasa aku harus pergi secepatnya."
Barra memegang Gisella ketika Gisella hendak berpamitan untuk pulang.
"Aku antarkan kamu pulang, dan kita bicarakan semuanya dengan Ayah dan Ibu."
Laura yang melihat kedekatan Barra dan Gisella dari balik pintu kamar nya dia langsung menangis.
"Kenapa Mas Barra begitu sangat sayang dengan Gisella, dia begitu sangat perhatian sekali dengan Gisella. Lihat saja jika sampai aku hamil maka perhatian dan kasih sayang hanya untuk aku saja."
Laura menutup rapat pintu kamar nya bahkan mengunci nya.
"Mas Barra pasti tidak akan pulang ke sini dia memilih untuk bercinta bersama dengan Gisella."
Gisella akhirnya mau pulang bersama dengan Barra.
Melihat Gisella yang baru saja sembuh dari sakit nya membuat Barra sangat kasihan sekali melihat Gisella.
Barra terus saja memandangi wajah Gisella dia takut Gisella kembali sakit.
"Gisell, kamu baik-baik saja kan?."
Tanya Barra sambil memegang kening Gisella.
"Aku baik-baik saja Kak, aku hanya sedikit pusing saja Kok."
Gisella memegang kepalanya sambil menyederkan kepalanya.
"Yasudah nanti kita beli vitamin daya tahan tubuh untuk kamu yaa, kamu sekarang dalam proses pemulihan."
Gisella hanya terdiam sampai akhirnya Gisella pun tertidur pulas di mobil Barra.
__ADS_1
"Lagi-lagi dia tertidur pulas di mobil, kasihan sekali kamu Gisella. Masa depan mu hilang begitu saja hanya karena sikap Kakak kamu sendiri, aku tidak akan pernah lepas tanggung jawab aku akan membuat masa depan mu sukses seperti Kakak kamu."
Barra begitu sangat kasihan kepada Gisella tapi Laura melihat nya jika Barra begitu sangat mencintai Gisella.
Barra berhenti sejenak dia membeli multivitamin untuk Gisella, sesuai dengan janjinya.
"Bagaimana cara aku membawa Gisella dia sedang tidur seperti tapi aku juga harus menjelaskan semuanya kepada orang tua Gisella."
Barra melihat ada Rangga yang sedang mengobrol dengan ayah nya Gisella di toko bunga.
"Mantan kekasih Gisella, kenapa dia harus ada di saat yang tidak tepat seperti ini. Dia pasti curiga jika aku keluar dari mobil sambil membawa Gisella."
Barra mengambil handphone Gisella dia mengirim pesan kepada Ibunya dengan nomber handphone Gisella.
"Kalau aku mengirim pesan pakai nomber handphone Gisella pasti ibu akan langsung membaca nya."
*Buu, ini saya Barra. Sekarang saya sedang bersama dengan Gisella di dalam mobil tapi keadaan Gisella sedang tertidur pulas, ketika saya mau turun dari mobil saya melihat ada Mantan Gisella di toko bunga.*
Riana yang membaca pesan singkat tersebut pun langsung keluar dari rumah.
"Erlangga kenapa sih dia sering sekali berada di sini, lalu bagaimana dengan Gisella. Jika Erlangga melihat Gisella bersama dengan Barra turun dari mobil."
Riana pun mencari cara bagaimana mengatasi nya.
"Tidak ada cara lain, lebih baik Barra membawa Gisella tidur di penginapan saja."
*Barra, jangan bawa Gisella turun dari mobil kamu yaa. Lebih baik kalian tidur di penginapan saja.*
Riana lupa dengan keinginan Gisella yang ingin mengakhiri pernikahan kontrak bersama dengan Barra.
Membaca pesan dari Riana pun Barra langsung membawa Gisella pergi.
"Oke baiklah, ini tandanya aku langsung membawa Gisella ke Apartemen pribadi nya sesuai dengan keinginan Mama."
Ketika melihat mobil Barra yang sudah pergi, Riana pun langsung mengingat nya.
"Astagaaaa, kenapa aku biarkan mereka berdua bersama lagi. Sedangkan Gisella datang ke rumah Barra untuk mengakhiri kontrak pernikahan nya."
Riana pun menghela nafas panjang dan dia menghampiri Rangga.
"Erlangga Rangga, kenapa kamu sering sekali datang ke sini. Kamu tidak takut Mama mu marah, tolong yaa jangan terlalu sering datang ke sini apalagi di saat Gisella berjauhan dengan suaminya. Nanti dapat omongan negatif dari tetangga bagaimana kasihan Gisella."
Rangga pun langsung meninggalkan tempat tersebut dia berpamitan kepada Riana.
__ADS_1
"Maafkan aku yaa Tante, baiklah aku pergi sekarang juga."
Riana merasa tidak tega harus berbicara seperti itu kepada Rangga tapi ini juga demi menjaga rahasia Gisella.