
Gisella memandangi wajah nya di cermin dia pun juga mengelus perut nya.
"Aku tanda nya aku harus berjuang membesarkan anak ku sendiri tampa Kak Barra, aku harus menjadi ibu yang bertanggung jawab aku tidak mau anak ku kurang kasih sayang orang tua nya."
Gisella membuka jendela kamar nya dia seperti melihat Rangga yang sedang duduk di dekat rumah nya.
"Rangga, kenapa dia selalu ada di saat aku sedang seperti ini."
Gisella menutup kembali jendela kamar dan berjalan menuju ke luar rumah nya.
Di dalam rumah tidak ada siapapun semua nya sedang sibuk di toko bunga.
Gisella berniat untuk pergi menemui Rangga.
Rangga begitu sangat terkejut sekali ketika melihat Gisella yang menghampiri nya.
"Gisell, kamu ke sini menghampiri aku."
Gisella duduk di samping Rangga dan seperti ingin mencurahkan isi hati nya.
"Kak Laura, mengundang aku untuk datang di acara perayaan kehamilan nya. Di acara tersebut aku harus bisa sabar menerima apapun yang di katakan oleh Kak Laura."
Rangga terdiam ketika mendengar perkataan Gisella yang seperti harus patuh dengan Laura.
"Gisell, aku tau kamu adalah adik dan Laura adalah Kakak tapi apakah harus selalu kamu yang mengikuti apa yang dia inginkan."
Rangga seperti mulai emosi terhadap Laura.
"Aku diam semampunya aku, aku pun bisa teriak jika hati ini sudah tidak mampu."
Gisella memandangi wajah Rangga.
"Rangga kamu adalah cinta pertama kuu, kita selalu berjanji untuk terus bersama. Tapi kenyataan aku yang menghianati kamu tapi kenapa kamu masih mau ada di samping aku."
Rangga tersenyum manis Gisella, dia semakin ingin sekali membongkar apa yang Gisella sembunyikan dari nya.
"Dulu aku tidak terima di saat kamu harus meninggalkan aku, kamu menghianati kisah cinta kita. Tapi sekarang aku merasa jika kamu mempunyai alasan yang sama besar ketika kamu harus meninggalkan aku walaupun sampai sekarang aku tidak tahu alasan itu apa."
Gisella menatap wajah Rangga dia merasa sangat menyesali keputusan yang sudah dia ambil.
__ADS_1
Mungkin sekarang dia akan bahagia bersama dengan Rangga.
"Terimakasih banyak atas semua kebaikan yang sudah berikan untuk aku, aku yakin kamu pasti akan mendapatkan wanita yang terbaik untuk kehidupan kamu masa depan kamu."
Gisella berniat untuk pergi meninggalkan Rangga dia sudah tidak kuasa menahan air mata nya.
Tapi Rangga memegang tangan Gisella dengan sangat erat sekali.
"Gisella, mungkin aku adalah lelaki yang bodoh. Lelaki yang masih berharap besar dengan wanita yang sudah bersuami bahkan sedang hamil, tapi Gisella selalu kamu ingat jika perasaan ku tidak akan pernah berubah kepada kamu."
Gisella melepaskan paksa genggam erat tangan Rangga.
"Aku harus pergi Rangga, pembicaraan kita ini sangat berbahaya. Kamu tidak boleh memilih wanita yang sudah menghianati kamu, lebih baik kamu cari wanita yang terbaik untuk kamu."
Gisella pun pergi untuk kembali ke kamar nya.
Rangga terus saja memandangi Gisella sampai Gisella masuk ke dalam kamar nya.
"Aku tidak bisa melupakan kamu Gisella, aku tidak bisa. Buktinya walaupun kamu sudah menikah dan bahkan hamil aku masih mencintaimu bahkan aku mau bertanggung jawab dengan kehamilan mu ini jika suami kamu selalu mengabaikan kamu."
Rangga memilih untuk langsung pergi meninggalkan tempat tersebut dia tidak mau orang tua Gisella melihat nya.
"Mama Rossa, seperti nya Mama Rossa datang ke Apartemen dan melihat aku yang tidak ada di sana."
Gisella pun membaca pesan dari Mama Rossa.
*Gisella, kamu kenapa tidak ada di Apartemen. Mama membawakan makanan untuk kamu di sini.*
Gisella pun membalas pesan singkat tersebut.
*Maafkan aku Mam, sekarang aku sedang berada di rumah ayah dan ibu. Karena aku di undang oleh Kak Laura agar datang di acara pesta kehamilan nya. Aku akan datang bersama dengan ayah dan ibu.*
Rossalinda merasa sangat kesal sekali ketika membaca pesan dari Gisella yang membicarakan tentang Laura.
"Laura apa maksud dari acara perayaan kehamilan tersebut, hanya ingin untuk sombong dan membuat hati Gisella terluka. Tapi beruntung nya Gisella sudah hamil sebelum Laura."
Rossalinda yang baru saja keluar dari mobil nya, melihat rumah nya sudah di hias dengan sangat indah sekali.
"Astaga Laura, ada saat nya hal terjadi tapi bukan di saat awal kehamilan seperti ini. Tapi di saat usia kehamilan 4 bulan atau 7 bulan. Aku merasa ini sangat berlebih-lebihan sekali."
__ADS_1
Rossalinda datang dan menghampiri Laura yang juga sedang ikut mendekorasi rumah nya.
"Laura, kenapa kamu punya pikiran seperti ini. Membuat perayaan kehamilan yang sangat berlebih-lebihan sekali seperti ini. Sedangkan kehamilan kamu masih 6 Minggu."
Laura memilih untuk mengabaikan semua perkataan Rossalinda dia terus saja fokus untuk mendekorasi.
Rossalinda mencari Barra dia ingin sekali bertemu dengan Barra.
"Barra, kenapa kamu membiarkan istri mu bersiap seperti ini. Mama tidak menyangka ini acara seperti acara pertunangan sangat ramai sekali."
Barra mencoba untuk menjelaskan kepada Mama Rossa.
"Laura seperti ini karena dia begitu sangat bahagia sekali, akhirnya dia bisa hamil setelah penantian panjang Mam. Wajarlah jika dia ingin membagikan momen nya tersebut."
Rossalinda sampai memegang kepalanya.
"Tapi itu ada waktu nya Barra, di saat nanti usia kandungan Laura sudah 4 bulan atau 7 bulan."
Barra hanya bisa terdiam saja ketika dirinya mendengar perkataan dari Mama.
"Sudahlah, kalian berdua sama saja tidak ada yang mau mendengarkan perkataan Mama."
Rossalinda memilih untuk pergi menuju ke kamar nya.
Barra pun tidak bisa berkata-kata apa-apa kepada Laura karena menurut Barra ini sangat wajar sekali.
Barra menghampiri Laura dia melihat Laura yang sangat sibuk sekali.
"Laura lebih baik kamu istrirahat saja yaa di kamar, kamu jangan terlalu cape serahkan semua ini kepada semua pegawai dekorasi ini."
Laura seperti nya tidak mau dia ingin semua konsep sesuai dengan yang dia inginkan.
"Aku seperti yang aku inginkan Mas, coba lihat indah sekali kan dengan di hiasi bunga-bunga yang hidup terasa sangat harum sekali Mas."
Laura benar-benar ingin yang terbaik untuk acara nya ini, sampai dia menginginkan bunga yang hidup dan sangat banyak sekali.
"Jika anak ini terlahir dia akan menjadi anak yang sangat beruntung sekali, dia tidak akan merasakan perjuangan hidup. Dia cukup menikmati hasil dari perjuangan sukses kedua orang tuanya."
Laura tersenyum manis sambil membayangkan begitu sangat bahagia sekali ketika dia melihat anak nya nanti hidup dengan berkecukupan bahkan kesempurnaan hidup nya nanti bersama dengan dirinya
__ADS_1