
Rangga terus saja memandangi Laura sampai akhirnya Dokter Rivan pun datang untuk Laura.
"Itu adalah Dokter Specialis Kandungan yang menangani Gisella, ternyata Kak Laura pun memakai Dokter yang sama tapi kenapa mereka seperti sangat akrab sekali yaa."
Laura merasa sangat tenang sekali ketika dirinya bertemu dengan Dokter Rivan.
"Aku merasa sangat terpuruk sekali, aku sampai saat belum bisa menerima kehamilan Gisella. Yaa aku tahu dulu aku sangat menginginkan nya tapi setelah aku sekarang hamil aku merasa jika Gisella tidak perlu hamil jika aku bisa mengatur waktu akan ku ulangi waktu tersebut."
Dokter Rivan hanya bisa tersenyum kepada Laura.
"Tapi sekarang sudah terlambat Laura dan kita sudahi pembahasan tentang pernikahan kontrak ini. Kenyataan sekarang Gisella sudah hamil dan itu adalah keinginan kamu Laura, seharusnya kamu jangan mempermasalahkan selalu ini hanya membuat rumah tangga kamu bermasalah jika selalu saja membahas tentang masalah ini."
Laura pun terdiam dan dia pun memang merasa jika permasalahan di rumah tangga adalah masalah pernikahan kontrak yang selalu di bahas.
"Lalu aku harus bagaimana sekarang, sejujurnya aku tidak mau mengurus anak dari Gisella. Karena aku pun ingin fokus dengan anak kandung ku sendiri."
Dokter Rivan pun terkejut ketika mendengar perkataan Laura.
"Laura,? apa maksud kamu?. Kamu tidak mau mengurus anak dari Gisella ? lalu kamu akan membiarkan Gisella mengurus anak nya sendiri saja?."
Laura memegang perut nya dan menarik nafas panjang nya.
"Ya, aku tidak mau menerima kehadiran anak itu. Aku tidak bisa jika nanti aku harus berbagi cinta dengan yang lain, aku hanya ingin fokus dengan anak ku saja."
Dokter Rivan pun langsung memegang kepalanya dia merasa pusing dengan sikap Laura.
"Laura kamu jangan seperti ini, kamu jangan membuat beban kepada Gisella. Dia harus membesarkan anak nya sendiri."
Dokter Rivan mencoba untuk menenangkan pikiran Laura agar Laura bisa melupakan rencana nya tersebut.
"Laura, coba kamu pikirkan yaa. Mungkin sekarang kamu merasa benci dengan Gisella karena kamu takut Gisella menjadi istri Barra. Barra meninggalkan kamu demi Gisella, tapi coba kamu pikirkan lagi semua terjadi karena rencana kamu Laura. Jadi sudahlah sekarang berusaha bersikap baik dengan Gisella yaa."
Laura langsung berdiri dari tempat duduk nya, dia memilih untuk pergi begitu saja.
Dokter Rivan membiarkan Laura pergi dia tidak mencegah nya sama sekali.
Laura merasa Dokter Rivan berada di pihak Gisella.
"Laura seperti nya salah paham, jika dia terus seperti ini bagaimana dengan kondisi kehamilan nya. Ini sangat bahaya sekali."
__ADS_1
Melihat Dokter Rivan sendiri Rangga pun menghampiri Dokter Rivan.
Rangga langsung duduk di hadapan Dokter Rivan.
Dokter Rivan memperhatikan wajah Rangga dia seperti pernah melihat wajah Rangga.
"Saya Rangga Erlangga, saya yang mengantar Gisella periksa kandungan. Dan juga yang berpura-pura menjadi suami Gisella di acara kehamilan Kak Laura."
Dokter Rivan seketika langsung mengingat Rangga.
"Ya, saya ingat. Dan sebernarnya kamu siapa Gisella. Kenapa kamu sangat dekat sekali dengan Gisella."
Dokter Rivan semakin penasaran sekali dengan Rangga.
"Saya adalah mantan kekasih Gisella, Gisella meninggalkan saya secara tiba-tiba. Dia menikah dengan lelaki lain tapi aneh nya sampai sekarang saya tidak tahu siapa suami dari Gisella."
Dokter Rivan tersenyum dia merasa kedatangan Rangga hanya ingin menanyakan informasi tentang Gisella.
"Kenapa kamu menanyakan hal pribadi seperti itu kepada saya, lebih baik kamu tanyakan saja kepada Gisella."
"Saya merasa suami Gisella bukan suami yang bertanggung jawab, jika dia tidak mau bertanggung jawab terhadap Gisella maka saya yang akan bertanggung jawab dan saya yang akan membahagiakan Gisella."
Rangga pun memilih untuk pergi dari tempat tersebut dan berjalan menuju ke mobil nya.
Dokter Rivan pun tersenyum kembali ketika dirinya mengetahui kisah cinta dari Gisella.
"Gisella, ternyata ada sosok lelaki yang masih menunggu kehadiran kamu. Dia tidak tahu sekarang kamu sedang berjuang untuk membahagiakan seseorang yang tidak dia cintai."
Dokter Rivan pun memilih untuk pergi dari restoran tersebut.
Laura memilih untuk datang ke rumah orang tua nya, dia ingin bertemu dengan Gisella.
"Aku ingin menemui Gisella, aku ingin berbicara dengan dia."
Laura begitu sangat emosional sekali, sampai dia mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali.
Laura pun memejamkan mata nya ketika dia melihat Gisella dan ke dua orang tuanya sedang mengobrol di toko bunga.
__ADS_1
"Mereka sedang berkumpul ini saat nya aku akan bicarakan semuanya kepada mereka."
Laura pun turun dari mobil nya dia memakai kacamata hitam nya dia tidak mau terlihat sudah habis menangis.
Melihat Laura yang turun dari mobil nya membuat Gisella langsung gelisah, dia merasa sangat tidak nyaman sekali ketika dia melihat kedatangan Laura.
Riana memegang tangan Gisella sambil tersenyum manis kepada Gisella seakan pertanda semuanya akan baik-baik saja.
"Aku takut Buu, aku takut tidak bisa sabar dan emosional ku keluar."
Laura masuk ke dalam toko bunga milik nya tersebut.
"Gisella kamu di sini,? dan apakah semalam Mas Barra pun ke sini."
Laura duduk di samping Gisella dia memaksa untuk tersenyum kepada Gisella.
"Ya, Kak Barra ke sini karena dia pun juga ingin melihat istrinya dan juga anak yang masih ada di dalam kandungan dia pun ingin memberikan perhatian."
Laura terkejut ketika melihat Gisella yang sudah mulai berani kepada nya.
"Oh, seperti itu yaa. Dan apakah malam ini juga Mas Barra akan bersama dengan kamu?."
Gisella pun langsung tersenyum tipis kepada Laura.
"Kak Barra pasti pulang kok kaa, karena untuk apalagi dia berlama-lama bersama dengan aku karena apa yang di inginkan oleh Kak Barra sudah aku berikan kan."
Laura merasa sangat emosional sekali melihat wajah Gisella.
"Baguslah Gisella, kamu masih ingat dengan posisi kamu sebagai apa."
Riana merasa sangat sedih sekali ketika melihat Gisella dan Laura yang tidak seperti dulu lagi.
"Laura, Gisella tidak akan pernah merebut Barra dari kehidupan kamu. Umur Gisella pun masih sangat muda sekali dia bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari Barra."
Laura memandangi wajah ibu nya dia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh ibu nya.
"Laura, ibu tahu kamu sangat mencintai Barra. Tapi Gisella pun pasti sadar diri jadi ibu mohon jangan lagi bersikap seperti ini kepada Gisella, Ingat Gisella itu bukan pelakor tapi Gisella seperti ini karena kamu yang memaksanya."
__ADS_1
Gisella mencoba untuk menenangkan Ibu nya yang sedang emosional sekali kepada Laura.